Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 55 Baper


__ADS_3

Suasana kamar yang dihias sedemikian rupa mendadak membuat bulu kuduk ibu meremang. Taburan kelopak bunga yang ditabur berbentuk love ditengah ranjang kingsize nya membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Padahal ini bukan pertama untuknya bahkan dulu mendiang sang suami selalu memberi kejutan hal manis seperti itu untuknya.


Mungkin karena ini pertama kalinya lagi setelah beberapa tahun, ibu menjadi gugup karenanya. Akhirnya untuk menetralkan degup jantungnya, ia mencoba mengirim pesan pada putrinya. Mengingat pria yang beberapa jam lalu sudah menghalalkannya tengah membersihkan diri didalam kamar mandi, membuat Ia leluasa untuk mengotak atik Hpnya.


Lama Ia bergulat dengan benda pipih ditangannya, hingga tak menyadari seseorang yang baru keluar dari kamar mandi. Pembahasan tentang malan pertama bersama sang putri membuat Ia tak menyadari suaminya sudah duduk disampingnya dengan berpakaian lengkap, bahkan ikut menyimak isi pesannya.


"Itu karena dia masih perawan." Tuturnya membuat ibu benar-benar terlonjak, hingga Hp yang Ia pegang terjatuh.


"Astagfirulloh! P-pak!" pekik ibu dengan gugup.


"Apa?" Tanya pak kades dengan senyum menggodanya, membuat wajah ibu memerah seketika.


Ia berdehem keras untuk menghilangkan rasa canggungnya. Lalu Ia berjongkok ingin mengambil Hp nya yang tadi terjatuh, namun didahului suaminya. Hingga membuat Ia gelagapan, takut-takut sang suami melihat chat yang menurutnya memalukan bersama putrinya itu.


Pak kades hendak melihat isi didalamnya, membuat ibu dengan cepat mengambil Hpnya dari tangan suaminya. Namun gerakannya kalah cepat dengan sang suami.


"Pak! Jangan dilihat! Sini in hpnya!" Larang ibu dengan mencoba mengambilnya. Namun pak kades dengan sengaja menjauhkannya.


"Emangnya kenapa? Ada rahasia?" Tanya pak kades. Padahal tanpa bertanya Ia sudah tau isi dari percakapam istri dan putrinya yang nyeleneh membuat Ia sekuat tenaga menahan tawanya.


"Ng-nggak!" Jawabnya gugup. "Saya mohon balikin!" Titahnya masih berusaha mengambilnya, namun sang suami malah menyembunyikannya dibalik punggungnya.


Hingga tangan ibu sukses bertengger memeluk perutnya.


Deg


Tiba-tiba suasana menjadi hening. Entah apa yang keduanya rasakan. Yang jelas gejolak muda tengah melanda keduanya. Lama keduanya terdiam dengan mata yang saling terkunci, menyelami degupan jantung yang seirama dari keduanya.


Tanpa mengucapakan kata lagi, pak kades mulai menyerang sang istri. Mencoba berbuka puasa dengan yang manis-manis sebagai. Lama untuk keduanya tak merasakan sentuhan dari lawan jenisnya membuat gejolak itu kian membuncah.


Hingga membuat penghuni kamar sebelah menjadi tergugah untuk mengetahui kegiatan yang tengah keduanya lakukan.


"Ngapain sii?" Tanya bang Age pada sang istri yang tengah menempelkan telinga dan tangannya didinding, persis seperti cicak.


"Suuuuttt!" Siska memberi kode dengan menempelkan jarinya didepan bibir untuk menyuruh suaminya diam.


"Emang kedenger?" Tanya bang Age heran dan ikut mendekat kearah tembok.

__ADS_1


"Kedenger lah!" Tutut Siska. "Dulu waktu kecil aku sering denger suara aneh dari balik dinding ini. Eh pas dah gede baru tau itu suara apa." Lanjutnya hingga sentilan mendarat mulus dijidatnya.


"Kamu tuh, nakal banget ya! Masa nguping orang tua yang lagi cari pahala? Dosa itu." Omel bang Age dengan mengusap jidat yang tadi disentilnya.


"Isshh abang mah!" Protes Siska mengerucutkan bibirnya merasakan sakit dijidatnya. "Aku kan cuma anak kecil yang serba ingin tau. Mana tau itu suara merdu yang suka bikin candu." Lanjutnya hingga membuat suaminya terkekeh.


Kan kan, Ia jadi rindu suara candu sang istri yang sudah satu minggu ini tak Ia dengar. Larangan dokter untuk pemulihan sang istri, memaksa Ia harus berpuasa selama dua minggu. Dengan berat hati Ia mencoba menahan si junior yang merindukan martabak kacang spesialnya.


Bahkan hanya sebatas pembahasan seperti ini saja mampu membuat si junior berdiri tegak.


"Yang!" Rengeknya dengan manja pada sang istri yang sudah kembali fokus dengan tembok didepannya.


"Apa?" Tanyanya dengan menaikan satu alisnya dengan kuping yang sudah kembali menempel.


"Ini gimana?" Tanya bang Age melirik kearah bawah sana, membuat Siska melakukan hal yang sama.


Siska cekikikan melihat sesuatu yang lempeng dibalik celana dibawah sana. "Ya udah sii bang, tinggal bengkokin aja!" Celetuknya membuat sang suami berdecak kesal.


"Ck! Gak peka banget sii. Ini tuh udah ngasih sinyal." Ucap bang Age dengan wajah memelasnya.


"Sinyal nya gak nyampe bang! Belum 4G, masih H+. Jadi sabar dulu ya bang!" Timpal Siska.


"Gak bisa bang mati lampu." Timpalnya lagi.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Ini sebenarnya yang gak nyambung siapa coba?


Bang Age mendekat, melingkarkan tangannya diperut sang istri yang membelakanginya. Kemudian menenggelamkan wajah diceruknya.


"Ishhh abang!" Rengek Siska, namun suara sexy itu membuat sang suami semakin menggila. Tangannya sudah bertengger didua buah kesayangannya. Bibirnya terus berjalan menyusuri ceruk nan memabukan untuknya itu.


"Abanghh!" Siskapun mengikuti suara sexy yang keduanya dengar dari kamar samping.


Ternyata suara meresahkan dari balik dinding itu mampu membuat keduanya baper. Keduanya ikut terlena seiring apa yang dilakukan pasanagan pengantin baru disana.


"Banghh! Jangaan!" Ucap Siska mendayu, hingga tak didengar sang suami yang tengah melahap buah favoritnya.


Bibirnya bilang jangan, namun tangannya semakin melesakan kepala sang suami, untuk meraup lebih dalam kucup buahnya.

__ADS_1


Bang Age beralih meraup benda kenyal yang kian hari kian manis itu. Melesakan lidahnya lebih dalam untuk mengabsen setiap inci rongga mulutnya.


ia menggendong tubuh ramping istrinya membawanya keatas kasur. Merebahkannya dengan hati-hati tanpa melepas pagutannya.


Hingga Ia ingin melepas sisa kain bagian bawahnya, karena yang atas sudah Ia buka terlebih dahulu. Namun tangan Siska menghadang, mrnghentikan aksinya.


"Udah bang! Jangan diterusin!" Pekiknya. Namun sang abang masih ngeyel tak menghiraukan larangan sang istri.


"Bang ihh!!" Siska menahan celana yang hendak suaminya tarik. Hingga aksi tarik menarik pun tak dapat keduanya hindari.


"Yaang! Dikit aja yaa!" Rengeknya.


"Apanya?"


"Nyobainnya."


"Gak bisa gitu dong bang. Inget kata bu bidan, minimal dua minggu. Tahan seminggu lagi." Tuturnya.


"Terus gimana ini nasibnya si junior?" Tanya bang Age frustasi membuat Siska cekikikan.


Ia bukan gak kasihan sama si junoir, bahkan martabaknya juga ikut berdenyut merasakn hal yang sama. Namun apalah daya, martabaknya masih setengah matang belum siap makan.


Ia tangkup wajah yang menyelam di antara dua buahnya. Hingga Ia melihat wajah murung yang tengah menahan sesuatu yang kian menyesakan dibawah sana.


"Bang! Tahan ya! Aku bukan gak mau, malah pengen. Tapi kan martabaknya belum siap, kasihan kalo kena obrak abrik junior. Ntar malah gak bisa dimakan lagi." Tuturnya menarik kedua ujung bibir sang abang agar memaksanya tersenyum.


Bang Age menghembuskan nafasnya pasrah dan mencoba tersenyum meski berat. Ia bangkit dari tidurnya dan terlihat mencari sesuatu didalam laci nakas.


"Abang cari apa?" Tanya Siska heran.


"Cari headset." Balasnya.


"Buat apa?" Tanyanya semakin heran.


"Buat menghindari suara meresahkn ynag bikinel menyesakan, dari balik tembok sana."


***************

__ADS_1


Yuk gaiss ramaikan lagi😉 Jangan lupa jejaknya yaa! Udah hari senin lagi, mau malak vote boleh dong🤣🤣


__ADS_2