
Pagi ini sepasang suami istri itu masih anteng dibalik selimutnya. Tak ada gangguan seperti biasanya membuat mereka asyik mengarungi dermaga mimpinya.
Sang timom yang biasa bangun diwaktu tahrim, sekarang mendadak kesiangan. Ia melupakan dua rakaat kewajibannya karena lelahnya bertempur semalaman.
Sampai mentari sudah nampak cerah, keduanya masih enggan membuka mata. Bahkan suara dering ponsel pun tak keduanya hiraukan.
Hingga entah didering keberapa, Siska berhasil membuka matanya perlahan. Menetralkan matanya agar dapat beradaptasi dengan cahaya cerah yang menyilaukan indera penglihatannya.
"Ya ampun! Jam berapa ini?" Cicitnya seraya mengucek matanya.
Ia raih layar pipih yang tak mau berhenti berbunyi dari atas nakas. Ia mencoba melihat siapa penelpon yang dengan gigihnya berhasil membangunkannya.
"Rangga?" Ia memghembuskan nafasnya kala tau siapa yang menelpon. "Pasti anak-anak."
Ia celingukan terlebih dahulu mencari piyamanya yang entah hilang kemana. Hingga Ia hanya melihat kaos suaminya. Tanpa berfikir panjang, Ia raih kaos hitam yang tergelatak dibawah nakas dan segera memakainya. Ia cepol rambutnya asal, lalu menekan icon hijaunya.
"Timom!!" Pekikan keras dari sang putri membuat dirinya tersenyum manis.
"Haii sayang?" Sapa balik Siska.
"Timom ana?" Tanyanya.
"Masih dikamar. Kenapa hem?"
"Hayi ini kita mau jayan-jayan pucak gunun. Mau mandi anet. Timom mau itut nda?" Jelasnya seraya bertanya.
"Emm.. Ikut gak ya?" Goda Siska.
"Itut timom! Acyik." Balasnya membuat Siska tertawa.
"Ya deh, ntar timom sama Papih nyusul ya!" Timpal Siska. "Oh ya, tadi malam dede rewel gak?" Tanyanya.
"Nda don! Kan ada om." Balas balita cantik yang sudah rapih itu. Pastilah putri kesayangannya sudah cantik oleh ibu atau Mamihnya. Pikirnya.
"Beneran bobo sama om?" Tanya Siska.
"Iya cama om yey cama aka juda." Balasnya.
"Gak mimipi lagi kan?" Tanya Siska lagi.
"Nda don! Kan ada om. Aku na mbo campe padi." Balasnya membuat Siska terkekeh. Kalau saja dekat, ingin rasanya menciumi pipi chuby itu.
__ADS_1
"Dede udah wangi ya? Dimandiin siapa? Sama nenek apa sama mimih?" Tanyanya lagi.
"Bukan. Dede mandi na cama om!" Sangkalnya membuat Siska shok.
"Hah? Apa? Sama om? Kok sama om de?" Cecarnya.
Entah kenapa, membayangkan putrinya yang mandi sama om nya membuat dirinya merasa khawatir. Mengingat sang adik yang sudah besar, tentu ada rasa takut yang menjalari pikiran ibu dua anak itu.
Balita disebrang sana hanya mengangguk dengan senyum yang merekah membuat sang timom menganga lebar.
"Serius? Ya ampun!" Ia menutup mulutnya merasa tak percaya. "De, mana nenek? Timom mau ngomong sama nenek? Kasih hp nya ya!" Pintanya.
"Nda ada. Nenek agi macak cama mimih." Jawabnya.
"Ya udah kasih dulu bentar!" Titahnya. Namun Kia sepertinya malah pergi begitu saja meninggalkan layar yang masih menyala dan menampakan dirinya itu.
"De? De?" Panggilnya.
Terdengar grasak grusuk dari sebrang sana, hingga terpampang jelas pemuda si pemilik layar pipih itu.
"Eh Ga! Kenapa pada biarin dede mandi sama Rei sii? Terus itu mamih sama ibu pada kemana? Kalian tuh bener-bener ya? Rei itu udah besar." Omelnya, namun Rangga disana hanya terdiam tak menimpalinya.
Dan kali ini, itu benar-benar tak berpengaruh untuk Rangga. Ia malah tak ingin melihatnya sama sekali. Ia ditampar dan disadarkan kembali pada kenyataan bahwa sampai kapanpun tak akan ada kesempatan untuk dirinya. Ia benar-benar harus mengakui wanita dihadapanya adalah saudaranya.
"Woy! Bengong aja lu. Gue lagi ngomong nih!" Omelnya lagi hingga sukses membuat Rangga terkesiap.
"Iya! Iya ini gue denger." Balasnya.
"Terus kenapa kalian biarin dede mandi sama Rei sih?" Tanya Siska frustasi.
Rangga mengehembuskan nafasnya panjang. Saudaranya itu bene-bener overprotektif pada putra putrinya. "Coba lu denger dulu penjelasan gue! Jangan main nyerocos aja!" Ucapnya.
"Ya udah! Cepetan jelasin!" Titah Siska.
"Dede gak mandi sama Rei, mereka cuma bermain air bersama dalam bathup. Mandinya ya sama mimihnya." Jelas Rangga.
"Huhh~ Syukur deh!" Ucap Siska menghembuskan nafasnya panjang seraya mengusap dadanya.
"Makanya gak usah lebay! Nanya kok sama bocah, mana tau dia jujur atau nggak!" Omel Rangga balik.
"Ya kan, biasanya bocah tuh paling jujur. Beda sama orang dewasa yang banyak bohongnya. Jangankan sama orang lain, sama dirinya sendiri aja masih suka bohong." Penuturan Siska membuat Rangga terdiam merasa tersiindir.
__ADS_1
"Kenapa diem? Lu kesinggung?" Tanyanya membuat Rangga gelagapan.
"Apa sih lu?" Sangkalnya.
"Dengerin gue baik-baik ya!" Titah Siska dengan serius.
"Gue tau, lu masih menyimpan rasa itu dengan apik. Gue juga tau lu masih berharap gue sama abang gak baik-baik aja. Tapi lu harus ingat satu hal, itu takan merubah apapun. Dan akan berakhir percuma." Tuturnya, membuat Rangga terdiam.
"Hanya satu pesan gue. Bukalah hati lu buat cewek lain. Lihat mereka! Banyak yang pantas buat jadi pendamping lu dan lu bisa bahagiain dia." Lanjutnya.
Rangga masih terdiam disebrang sana, terlihat jelas Ia tengah mencerna ucapan saudaranya. Hingga sang suami yang diam-diam mendengar obrolan sang istri, menarik tubuh itu kedalam dekapannya dan sukses membuat Siska menjerit kaget hingga Hp nya terjatuh.
Rangga yang melihat layar itu menampakan langit-langit dan suara canda tawa dari dua manusia yang entah tengah melakukan apa disebrang sana, hanya mengembuskan nafasnya panjang.
Ia tutup panggilannya dan membanting benda pipih dari tangannya ke atas sofa disampingnya. Ia usap wajahnya kasar seraya menyenderkan kepalanya disana. Ia kembali mencerna ucapan saudaranya. Dan terus bertanya dalam hatinya. 'Benarkah? Dirnya masih belum membuka hatinya untuk perempuan lain?'
Hingga suara notif pesan didapatinya. Ia raih kembali benda yang sempat Ia banting dengan teganya, lalu mengusap layarnya untuk melihat siapa yang mengirimnya. Seringai terlihat jelas dari wajahnya kala Ia membaca pesan tersebut.
Ia mencari sebuah nama dikontaknya, dan menekan panggilannya. Lalu menempelkan benda itu kedepan telinganya.
"Kita putus!"
Hanya dua kata yang Ia sampaikan pada orang disebrang sana. Lalu kembali membantingnya setelah memutuskan panggilannya. Entah kenapa dua kata itu membuat hatinya sedikit tenang.
"Benar kata lu Sis, gue harus buka hati gue buat orang lain. Dan gue akan membukanya buat orang yang tepat!" Tuturnya tersenyum. Lalu pergi kembali kekamarnya.
*
Sementara itu kedua manusia yang masih sibuk bercanda diatas kasur yang berantakan, masih enggan untuk meninggalkan tempat rebahan yang begitu menenangkan disana.
"Yakin masih mau cemburu?" Goda Siska dan dijawab gelengan suaminya yang tengah melesakan wajahnya diceruk favoritnya.
"Kenapa?" Pertanyaan Siska sukses membuat suaminya terbangun dengan menumpu bobot tubuhnya dengan sebelah tangannya agar tak menindih tubuh dibawahnya.
Tangannya terulur membelai wajah cantik istrinya dengan senyum yang selalu membuat hati Siska bergetar.
"Biarpun banyak pria yang memujamu. Tapi mereka takan bisa menyentuhmu!"
*****************
Jangan lupa jejaknya yaa gaiss!!!
__ADS_1