
Tak berselang lama kuda besi yang dikendarai keduanya sampai disebuah taman. Bukan indojuli seperti yang keduanya katakan pada sang timom, namun malah berbelok ketempat yang sudah mereka rencanakan dari awal.
Kini keduanya sudah mendudukan diri disebuah bangku panjang dibawah pohon rindang. Sungguh pemandangan suasana yang begitu menyejukan disiang hari. Namun tidak dengan sang gadis, yang hanya terdiam dengan wajah tak bersahabat.
Susana sejuk tak dapat mendinginkan hatinya yang tengah kepanasan. Bagaimana tidak? Membayangkan sang pacar yang bakal dijodohkan oleh kakeknya, bahkan mungkin langsung dinikahkan. Membuat darahnya mendidih seketika.
Rei yang mengerti kekhawatiran sang pacar, segera menggenggam sebelah tangannya dan membawanya kedepan bibirnya, mengecup punggung tangannya.
Cup!
Kecupan hangat dari bibir sexy itu, ternyata mampu mengukir senyuman manis dari sang gadis. Rei menangkup dagu sang gadis dengan sebelah tangannya. Dan menyenderkan kepala gadisnya dibahunya.
"Jangan khawatir, kita akan lewati ini bersama! Kita berhak menentukan jalan kita sendiri." Ucapnya dengan genggaman tangan kian erat.
"Percayalah! Hanya kamu yang akan menjadi pendampingku." Lanjutnya.
Kia tersenyum mendengar itu. Ia semakin melesakan kepala dibahu pacarnya dengan senyum yang menggembang diwajah cantiknya. Begitupun Rei, Ia pun semakin mengembangkan senyumnya. Kali ini hatinya semakin mantap untuk maju, dan memperjuangakannya bagaimanpun caranya.
"Tapi ya om!" Kia menegakan tubuh seraya melihat kearah sang pacar. "Kalo misalnya dia lebih cantik dari aku gimana?" Tanyanya.
"Ya gak gimana-gimana." Balasnya sekenanya.
__ADS_1
"Kok gak gimana-gimana sih? Terus om bakal mau gitu sama dia?" Selidik Kia diringi decakan kesal dari bibir mungilnya.
Rei terseyum, lalu merangkul bahu gadisnya. "Jangan berpikiran yang tak seharusnya kamu pikirin. Tadibkan om udah bilang kita akan melewati ini bersama. Terserah mereka mau menjodohkan kita sama siapa. Yang jelas, akhirnya kita akan tetap bersama." Tutur Rei.
Senyuman manis pun terukir dari bibir mungil sang gadis dengan pelukan erat yang Ia lekatkan ditubuh kekar pacarnya. Rei membalasnya tak kalah erat. Sekejap Ia merasakan kehangatan dari pelukan gadismya, hingga otaknya kembali berpikir. Benarkah Ia juga hendak dijodohkan? Seperti sang pacar, Ia pun memikirkan hal yang sama dengannya. Hingga berbagai kecemasan terus bersarang diotaknya.
Keadaan akan semakin sulit, seandainya mereka terus menyembunyikan hubungannya. Namun kapan waktu yang pas untuk mengungkapkannya? Dan bagaimana cara Ia memulainya? Pikirnya.
"Om!!"
Sapaan sang gadis sukses membuanya terlonjak. "Hem?" Balasnya sedikit gelagapan.
"Lihat deh disana, rame banget! Kek nya lagi ada acara deh, kita ikutan yuk!" Ajak Kia seraya menunjukan kerumunan orang orang ditengah lapangan sana.
**
"Untuk merayaakn hari valentine yang spesial ini. Kita mengadakan game untuk acara amal. Dan acara ini diperuntukan untuk pasangan saja ya. Mau pasangan kekasih, atau pun suami istri juga boleh." Tutur sang MC yang nemandu acara tersebut.
"Para jomblo mohon maaf untuk minggir dulu ya!" Lanjutnya membuat orang orang ikut riuh. Terutama para jomblo yang tersinggung.
"Oke gaiss! Ajak pasangan kalian. Siapa yang mau ikut? Silahkan daftar segera." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Yuk om, kita ikutan! keknya seru deh." Ajak Kia.
"Jangan deh, ntar game nya aneh-aneh lagi. Lagian kita disuruh pulang cepet kan." Tolak Rei beralibi.
Pasalnya Ia tak ingin ikut acara aneh seperti itu. Mengingat ini adalah pacaran pertamanya, terlalu malu untuknya mengumbar hal-hal romantis bersama sang pacar. Namun sesuai dugaan, Kia pastilah memaksanya.
"Ayolsh om ini pasti seru, ya! Ya!" Rengeknya dengan bergelatut manja dilengan sang pacar.
"Tapi de-"
"Om please!!" Ucapnya seraya menangkup tangannya seraya memohon disertai bola mata yang berbinar.
Rei menghembuskan napasnya panjang, melihat hal itu tentu membuat Ia tak tega. Ia pun hanya menganggukan kepalanya dan pasrah mengikuti keinginan gadisnya.
Kia bersorak kegirangan dan mulai mendaftarkan diri pada panitia disaana. Hingga Ia pun mendapatkan nomor antriannya.
Kia kembali kesisi sang pacar dengan wajah sumringah. Tentu hal itu terekam jelas oleh netra pacarnya. Rei tersenyum melihat itu dan mendaratkan tangammya dikepala sang gadis. 'Sesederhana itukah kebahagiaanmu?' Batinnya.
*****************
Jejakmya jangan ketinggalan yaa🤗 Ramaikan kolom komentarnya oke!
__ADS_1