
Hari pernikahan ibu dan pak kades pun tiba. Banyak tamu yang menghadiri acara bersejarah ini. Bagaimana tidak? Pak kades yang begitu populer dengan ketampanannya dan status sosial paling dihormati didesanya, menjadi nilai lebih untuk melengkapi status dudanya. Hingga Ia begitu diincar para single terutama para JAHE.
Sekarang saja para JAHE sudah siap dengan penampilannnya yang cetar membahana. Bukan untuk menyaksikan acara sakral yang akan segera digelar. Namun, untuk bersiap-siap menjadi pengantin pengganti. Takut-takut calon mempelai wanitanya tak siap atau kabur. Dengan senang hati salah satu dari mereka akan menggantikannya. Bahkan mereka sudah menyiapakan alat pengocokan, untuk siapa yang beruntung bisa menjadi pengantin pengganti. Ini para jendes bener-bener ya? Bikin tepok jidat!
**
"Bu!" Sapa Siska membuka pintu kamar sang ibu dan nenghampirinya.
Ibu tersenyum melihat putrinya yang sudah kembali menampilkan senyumnya.
"Sini!" Ibu menepuk kasur disebelahnya, mengajak putrinya untuk duduk disampingnya ditepi ranjang.
Siska menuruti dan duduk dikasur yang ditepuk sang ibu. Siska tersenyum bahagia, melihat ibunya yang begitu cantik dengan balutan kebaya putih yang membungkus tubuh rampingnya. Diusianya yang baru memasuki kepala empat, ibu masih terlihat begitu muda dengan polesan wajah khas pengantin kekinian. Ibu yang jarang sekali menggunakan make up, tentu membuatnya begitu pangling dimata siapapun.
"Ibu cantik sekali!" Puji Siska. "Bener gak sii ini ibunya aku?" Pertanyaan Siska seolah meledek sang ibu, hingga membuatnya berdecak.
"Ck! Kamu tuh. Ya ini ibu lah. Emang siapa coba?" Tanya ibu.
Siska tersenyum dan mendekap sang ibu dari samping. "Aku sayang ibu!" Lirihnya dengan tak kuasa menahan air matanya. Hingga air itu lolos begitu saja.
Ibu mengelus tangan sang putri ysng bertengger dibahunya. "Ibu lebih sayang kamu! Maafin ibu ya, ibu gak maksud buat khianati ayah." Tutur ibu sendu.
Siska yang mendengar suara ibu yang sudah parau, segera melepaskan dekapannya dan menggenggam kedua tangannya. "Ibu jangan nangis! Gak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah menjadi kehendak-Nya." Tuturnya dan diangguki ibu
"Berbahagialah bu! Sudah cukup selama ini ibu berkorban untuk membahagiakan aku dan mengesampingkan kebahagiaan ibu sendiri." Tutur Siska membuat sang ibu mendekapnya erat.
"Siapa bilang selama ini ibu gak bahagia? Kamu adalah kebahagiaan ibu. Hanya kamu satu-satunya yang menjadi alasan ibu terus kuat." Balas ibu. Keduanya saling mendekap menyalurkan rasa sayang tanpa batas, yang tak dapat diukur dengan apapun.
"Udah! Sekarang ibu siap-siap pak kades. Eh! Ganti ya. Ayah kades maksudnya!" Kekeh Siska membuat ibu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Udah, Ayah aja atau bapak. Gak usah pake kadesnya." Timpal ibu ikut terkekeh.
"Ya deh!" Timpal Siska membuat keduanya tertawa kecil.
"Etthh satu lagi bu." Cegat Siska pada ibu yang hendak bangun.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Ibu seraya menaikan alisnya seeblah.
"Inget! Aku gak pengen ya punya adik." Peringat Siska membuat sang ibu tergelak. Bagaimana mungkin diusianya saat ini. Bisa memiliki momongan lagi? Pikirnya.
"Ya gak lah. Kamu aja cepatan hamil lagi. Masa ibu gendong anak? Gendong cucu dong!" Timpal ibu membuat Siska tersenyum.
Setelah lama keduanya berbincang. Kini keduanya sudah keluar kamar, sesaat setelah seseorang memanggil sang mempelai wanita untuk segera turun.
Senyum tersungging dari bibir keduanya. Bahkan mereka tak terlihat seperti ibu dan putrinya. Tapi lebih terlihat seperti kakak dan adiknya. Semua mata terpukau melihat penampilan ibu yang benar-benar berbeda dari biasanya. Kini Ia terlihat bagai seorang gadis lagi. Bahkan si calon mempelai pria tak berhenti menatapnya dan enggan mengedipkan matanya.
Hingga suara pak penghulu menyadarkan konsentrasinya. Membuat semua orang disana menjadi riuh. Tingkah pak kades benar-benar mengundang gelak tawa mereka. Pak kades yang terkenal begitu perfeksionis, berbanding terbalik, tatkala kebucinan menyambangi dirinya.
Acara dimulai begitu khidmat. Hingga kata sah membuat bulir dari ujung mata Siska luruh. Setetes tangis bahagia, karena sang Ibu akan memulai kehidupan barunya.
Bang Age yang duduk disampingnya. Mendekap pundaknya, kala tau sang istri tengah mengungkapkan rasa bahagianya. "Kita harus siap-siap!" Bisiknya ditelinga sang istri.
"Siap-siap apa?" Tanya Siska heran.
"Ntar malam kita kebanjiran." Tuturnya dan sukses membuat keduanya cekikikan.
"Bukan kebanjiran." Sangkal Siska.
"Kita kepanasan!" Timpal Siska hingga keduanya kembali cekikikan.
"Kepanasan gak bisa ngikutin ya." Tutur bang Age dan diiyakan Siska.
Ditengah canda tawa keduanya, yang seolah melupakan sekitarnya. Aska menghampiri keduanya. "Timom!" Panggilnya seraya ingin mendudukan diri dipangkuan timomnya.
Siska mengangkat tubuhnya dan mendudukannya diatas pangkuannya. "Iya, sayangnya timom." Siska menciumi gemas pipi gembilnya. "Kenapa hem?" Tanyanya.
"Dede Sen yu!" Ajaknya.
"Kenapa gak dede aja? Kan deket tuh." Tanya Siska seraya menunjuk adik iparnya dengan dagunya.
"Janan dede. Nda boweh!" Ucpanya seraya menggelengkan kepala dan jari telunjuknya. "Aka! Dedena dede Sen." Lanjutnya membuat kedua orang tuanya tertawa kecil.
__ADS_1
Ternyata sekarang putranya gak mau dipanggil dede, pengennya dipanggil aka. Panggilan dede Ia sematkan pada adik sepupu cantiknya yang masih bayi.
"Iya deh iya. Dede udah besar ya, udah jadi Aka." Ucap Siska menoel hidungnya dan dijawab cengiran Aska. Hingga gigi yang masih belum jangkep itu terlihat begitu menggemaskan.
Siska sampai nenciumi pipi bulatnya gemas. Hingga Aska tergelak. Untung saja acara sakral sudah selesai. Tinggal menandatangi surat-surat dan buku nikahnya.
Setelah melakukan serangkaian acara, kini para tamu pun sudah pulang silih berganti. Begitupun para JAHE yang sudah pulang lebih awal sebelum acaranya selesai dengan memabawa hatinya yang patah.
Tinggalah pasangan pengantin baru dan sepasang pengantin lama yang masih terlihat selalu manis. Sedangkan Mamih dan Papihnya ikut dengan Ayra dan bang Ar ke rumah menantunya itu. Bu Anita dan ayah Arshad sudah pulang ke kota terlebih dahulu. Mengingat sang Ayah akan mengadakan rapat.
Aska sendiri memilih ikut menginap bersama Pipih dan Mimihnya diruamh Mama Ay. Apalagi memang disana ada bayi cantik yang membuat Aska betah bersamanya.
Hingga tinggalah keduanya didalam kamar. "Yang tidur yuk!" Ajak bang Age.
"Bentar lagi." Timpalnya.
"Ngapain sii, udah malam?" Tanya bang Age yang melihat sang istri sibuk dengan benda pipih ditangannya.
Bang Age yang penasaran melihat kelincahan kedua jempol sang istri, menjadi kepo sendiri. Ia dekati sang istri. Mendudukan dirinya diatas sofa disamping istrinya seraya menengokan wajahnya kelayar itu.
"lagi apa sii?" Tanya bang Age lagi.
Siska langsung menjauhkan hp nya dari wajah suaminya. "Ihh abang kepo!" Ledeknya.
"Ngapain ayo! Jangan-jangan." Selidiknya menatap sang istri seperti tengah curiga.
"Paan sih bang. Aku gak ngapa-ngapain. Ini tuh dari ibu." Elak Siska.
"Ibu? Ngapain?" Tanya bang Age keheranan.
"Mau nanyain sesuatu." Balas Siska.
"Apa?" Tanyanya semakin penasaran.
"Rasanya malam pertama." Balasan Siska kembali membuat keduanya tergelak.
__ADS_1
************
Maaf yaa up nya alon-alon. Sibuk lagi akunya🙈 Jangan bosen-bosen buat nunggu up nya yaa🙏 Terus jejaknya jangan ketinggalan😉