
"Lepasin! Sakit!" Seorang gadis terus meringis seraya memberontak untuk melepaskan diri, dari cekalan pria yang tengah menyeret pergelangan tangannya.
"Aaakkh!!"
Tubuhnya terhempas keatas bangku panjang, hingga terduduk disana.
"Apa maksud lu kek gitu?" Tanya Rangga.
Silvi tersenyum sinis seraya kembali berdiri. "Lu nanyain maksud gue. Harusnya lu sadar, kenapa gue lakuin itu?" Teriaknya.
Sepertinya emosinya benar-benar sudah tak dapat dikendalikannya. Tatapan membara menghunus tajam pada lelaki yang begitu Ia puja. Hingga Ia siap meledakannya.
"Dua kata? Dengan entengnya lu mutusin gue dengan dua kata itu. Lu waras gak sih? Gue cewek Ga! Gue punya perasaan. Lu anggap apa gue?" Tanyanya dengan mencekal kemeja depannya.
"Lu jelasin sama gue, kurangnya gue dimana? Harus sesabar apa gue ngehadapin lu? Lu mikir gak sih, gimana jadi gue? Sakit Ga!" Ucapnya semakin lirih seraya menepuk-nepuk dadanya.
Sakit didadanya membuatnya mengeluarkan air mata, yang terus berdesakan berlomba keluar dari ujung matanya.
"Biar lu gak terus-terusan sakit. Lepasin gue!" balas Rangga.
Silvi yang menunduk, langsung mendongakan wajahnya seraya tersenyum sinis. "Cih! Ngelepasin lu! Gak akan! Lu hanya milik gue Rangga. Milik gue!" Teriaknya.
"Baiklah! Serah lu. Buat gue kita udah selesai." Balasnya seraya melepas cengkraman tangan Silvi dibajunya.
"Lu gak bisa kek gitu, lu harus jelasin apa alasan lu putusin gue!" Teriaknya, ketika Rangga hendak meninggalkannya.
Rangga kembali berbalik dan mendekat. "Oh iya, gue hampir lupa!" Ucapnya.
Ia ambil layar pipih dari saku celananya dan memperlihatkan layar itu kehadapan gadis didepannya. Dan hal itu sukses membuat sang gadis membelakakan matanya.
Rangga tersenyum seraya mengembalikan ponselnya kedalam saku. "Gue cuma mau berterima kasih sama cowok lu, udah nunjukin siapa diri lu sebenarnya." Tuturnya.
"Dan sorry, sampai sekarang gue gak bisa buka hati gue buat lu!" Lanjutnya. "Sebaiknya lu juga tanyain lagi hati lu. Untuk siapa hati lu itu? Karena kalo memang itu buat gue, lu gak akan lakuin itu."
Setelah mengatakan itu Rangga pergi begitu saja meninggalkan Silvi ynag ambruk diatas bangku. Ia benar-benar tak menyangka hubungannya dengan teman yang selalu ada untuknya hingga terjadi friendzone, bisa diketahui Rangga.
Ia menangis menyesali apa yang terjadi, apalagi memory nya terputar pada kejadian dimana Ia begitu tergoda oleh temannya sendiri, hingga Ia harus kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Sekarang Ia benar-benar tak akan bisa memperbaiki itu.
__ADS_1
Sementara itu, Rangga tersenyum bahagia kala beban dalam hatinya bisa Ia tumpahkan. Ternyata uji coba mencintai seseorang itu takan pernah berhasil. Sekuat apapun Ia mencoba, sekeras apapun Ia berusaha, itu tetap nihil. Nyatanya cinta bukan untuk ajang coba-coba. Namun setidaknya Ia sudah memberi kesempatan untuk penggemar beratnya, menjadikan dirinya piala untuk dipamerkan pada teman-temannya.
Ia mulai memantapkan diri, untuk membuka hatinya bagi siapapun yang siap singgah dan berjalan bersamanya. Hingga tiba-tiba tabrakan tubuh membuyarkan lamunannya.
Brukk!!!
"Awww!!" Ringis seorang gadis yang memegang pan tatnya yang sukses menyium tanah.
"Maaf! Gue gak sengaja!" Sesal Rangga, mengulurkan tangannya dan hendak memabantu.
"Gak perlu, gue bisa sendiri." Balasnya mengeplak tangan pria didepannya.
Ia bangun dan berdiri seraya menepuk jeansnya yang kotor kena tanah yamg sedikit basah.
"Omegaat!! Celana gue!" Pekiknya kala meraba celananya yamg sedikit basah.
"Lu bisa ati-ati gak sih? Punya mata gak? Orang lagi diem, main tabrak aja! Gak nyadar apa badan lu segede gaban?" Cerocos gadis mungil yang sepertinya masih anak SMA itu.
Rangga tersenyum mendengar celotehan gadis itu. Gadis kedua yang tak bilang Ia tampan, pas pertama bertemu.
"Ya ampun dek, kamu kenapa?" Tanya seorang pria yang datang menghampirinya seraya melihatnya bolak balik.
"Ya ampun! Makanya hati-hati."
"Maaf! Gue gak sengaja nabrak dia." Sesal Rangga.
"Gak papa." Balasnya tersenyum.
"Ayo bang! Pasti yang lain udah nunggu." Ajak si gadis menggandeng tangan pria yang Ia sebut abang itu dan berlalu meninggalkan Rangga disana.
Rangga menggelengkan kepalanya mengingat cerocosan gadis tadi, hingga senyum tipis terbentuk dari bibirnya lagi.
*
Sementara itu Ayra dan Lia kembali membawa para bocah menuju kolam air hangat setelah mengajak mereka jajan terlebih dahulu.
"Kak! Gimana caranya ngadepin anak-anak kek gini? Kalo aku nih ya, lama-lama bisa waras." Celotehan Lia sukses membuat Ayra tergelak.
__ADS_1
Sahabat kakak iparnya ini, benar-benar somplak tingkat dewa. Ayra sampai mengeluarkan air matanya saking enaknya tertawa.
"Jadi kamu milih gak waras?" Tanya Ayra disela tawanya.
"Ya lagian kalo tiap hari kek gitu, aku auto naik darah terus kali kak!" Balas Lia.
Ia yang memiliki putri cantik yang tak bawel, tentu merasa aman dan damai. Tak seperti putri sahabatnya dan putri wanita disisinya yang serba ingin tau, dan begitu cerewet. Menurutnya hari-harinya pastilah berat. Gak nyadar aja, dirinya juga begitu cerewet. Untunglah suaminya sesabar Ivan.
Saat para bocil itu sampai disebuah warung. Dapat dipastikan kedua bocah cantik yang super bawel itu mencecar Mama Ay dengan berbagai pertanyaan, mengenai apa yang terjadi pada timom dan gadis yang mereka klam akan menjadi onty nya itu. Dengan hati-hati Ayra mencoba mengalibi mereka, kalau semuanya cuma prank buat konten. Tentu saja para bocah yang masih polos itu percaya begitu saja.
Dan hal itu yang membuat Lia begitu kagum pada sosok Ayra yang bisa menghadapi anak-anak super bawel itu. Tak tau aja dia, Ayra kadang tak sanggup menghadapi mereka. Apalagi kalo putra putrinya sudah beradu argumen, keluar sudah asap dari kepalanya. Namun sebagai ibu yang baik, Ia berusaha bijak didepan anak-anaknya.
"Namanya juga anak-anak, bagus itu. Bawel itu tandanya anak pinter!" Balas Ayra.
"Jadi maksud kakak, anakku gak pinter gitu?" Tanyanya sedikit tersinggung.
"Ya gak gitu juga. Anak itu kan punya karakternya masing-masing." Timpal Ayra namun ibu satu anak itu masih cemberut.
"Udah ah ayo! Tuh anak-anak udah pada didepan!" Ajak Ayra yang tak mau menanggapi wanita disampingnya itu.
Kedua ibu itupun berlalu memperceapt langkahnya untuk menyusul para bocah yang sudah jauh dari matanya. Hingga mereka sampai dan bergabung disana.
Ternyata para bapak pun sudah ikut nyemplung disana. Merekapun tak menyia-nyiakan momen itu dan segera mengambil gambar dengan berbagai gaya untuk mengabadikannya dan mempostingnya dimedia sosial.
Siska menyuruh seorang gadis untuk mengambil gambar mereka dan diiyakan si gadis. Hingga semua sudah siap, si gadis masih terdiam dan memperhatikan dulu orang didalam layar itu.
"Kak! Kek nya ini kurang etis deh!" Ucapnya setengah berteriak, karena memang jaraknya yang sedikit jauh.
"Hah?! Kenapa emang?" Tanya Siska.
"Ada yang ngalangin pemandangan." Balasnya membuat mereka celingukan mencari apa yang dimaksud gadis itu.
"Emang paan?" Tanya Siska heran, begitupun dengan yang lainnya.
"Hey baju coklat? Menyingkirlah! Kau menghalangi pemandangan." Teriak sang gadis, hingga atensi mereka bealih pada sipelaku.
****************
__ADS_1
Tunggu satu lagi, ntar malam yaa🤭
Ayo ramaikan! Jejaknya jangan lupa yaa! Kalo boleh dikomen dong, kesepian nih mak othor😂