
Tak terasa waktu pun semakin sore, kini mereka pun sudah pulang dari tempat nyaman yang sangat sulit untuk mereka tinggal. Bang Age dan Siska beserta para bocilnya pulang kerumah ayah Dedes.
"Bu!" Sapa Siska mengangetkan ibu yang tengah mengaduk sup.
"Isshhh kamu ya, ngagetin aja!" Omel ibu dan disambut kekehan Siska yang tengah mengambil air dari kulkas.
"Tadi ada siapa bu? Kok pulang duluan?" Tanya Siska.
"Ituh ada orang pindahan. Mau laporan sama sekalian ngurus surat KK dan dokumen-dokumen lainnya juga." Balas ibu dan disambut oh ria serta anggukan Siska.
"Eh! Kamu tau gak?" Tanya Ibu.
"Nggak!" Kekehnya.
"Ishh kamu tuh!" Ibu sampai mengeplak lengan putrinya hingga Siska tergelak.
"Iya! Iya apa?" Tanyanya.
"Ternyata yang pindah itu, gadis yang kemarin yang waktu ketemu dipemandian itu loh." Jelas Ibu.
"Gadis? Yang kemarin motoin kita?" Tanya Siska dan diajawab anggukan sang ibu.
"Iya. Namanya Hanna, dia sama bundanya. Bu Dini namanya. Mereka pindah kesini karena ternyata bundanya itu pindah tugas didesa ini." Jelas ibu.
"Emang ibunya kerja apa?" Tanya Siska.
"Ibunya seorang guru. Dia ngajar di SMA, katanya." Balas ibu dan dijawab anggukan Siska.
"Eh! Satu lagi."
"Apa?" Tanya Siska menaikan satu alisnya.
"Ada yang aneh loh sama Rangga. Kek nya ya, dia suka deh sama gadis itu." Balas Ibu.
"Oh ya?" Tanya Siska sedikit terkejut. Pasalnya baru kemarin saudaranya itu memutuskan cewek sampai Ia juga ikut dalam drama panjang mantan pacarnya itu. Dan sekarang? Semudah itukah move on? Pikirnya. Namun ada rasa bersyukur juga dalam hatinya kala mantan fans ynah kini jasdi saudaranya bisa dengan cepat mendapatkan tambatan hatinya.
"He'em!" Jawab ibu seraya mematikan kompornya dan menyendok sedikit air supnya dengan sendok dan membawanya kedepan mulut putrinya.
Siska menerima suapan itu dan menelannya. "Ya ampun bu! Pake sayur napa? Masa airnya doang?" Protes Siska.
"Namanya juga nyicipin. Kalo mau sama sayurnya, itu namanya ngenyangin. Makan deh jadinya." Balas ibu membuat keduanya tertawa.
__ADS_1
Disela tawa mereka, Rei datang menghampiri keduanya. "Bu!" Panggilnya.
"Iya sayang. Kenapa?" Tanya ibu seraya membelai sayang rambut putranya itu.
"Aku mau ajak Dede buat main, tapi aku cari dedenya dikamar gak ada." Jelasnya.
"Oh dede sama Aka, ikut Papihnya ambil barang yang ketingggalan dirumah ibu." Timpal Siska dan dijawab anggukan bocah tampan yang sudah terlihat rapih itu.
Ketika Rei mandi, kedua bocah kecil itu malah ribut ikut menaiki motor matic yang hendak dikendarai sang Papih. Akhirnya Siska pasrah dan membiarkan keduanya pergi bersama suaminya.
"Gimana udah siap belum?" Tanya bang Age ketika menghampiri sang istri yang tengah packing.
"Belum bang!" Balasnya namun sang suami malah menaikan satu alisnya, merasa dibuat heran ketika melihatnya sudah selesai dengan aktifitasnya.
"Bukannya ini udah beres ya?" Tanya bang Age heran.
"Packing beres sih. Tapi hati belum siap." Balas Siska terkekeh.
Jujur dirinya masih menikamti liburannya, dan pertemuan singkatnya bersama sang ibu. Ada perasaan belum rela keluar dari zona nyamannnya ini.
Bang Age yang mengerti segera mendekat dan duduk disamping istrinya. Ia tarik tubuh sang istri, membawanya kedalam dekapannya seraya membelai lembut surai hitam panjangnya.
"Jangan sedih dong! Tiap weekend kan kita kesini. Lagian yaa, hampir tiap hari kamu VC an sama ibu." Tuturmya membuat Siska menaikan satu alisnya.
"Lah terus?" Tanyanya.
"Aku masih betah disini, karena kita bisa bebas dari cctv." Balasnya membuat sang suami tertawa.
"Kamu tu yaa!" Keduanya semakin tergelak kala sang suami mencubit hidungnya gemas.
*
Sementara itu para bocah tengah berada dikamar sang om. Sebelum keberangkatannya, sang om sengaja mengajak keduanya untuk bermain terlebih dahulu di kamarnya.
"Aku nda mau puwang. Mau cama om!" Lagi-lagi rengekan seperti itu sudah menjadi alunan lagu kala perpisahan menghampiri mereka.
Kia yang begitu manja pada sang om, tentu tak ingin berpisah dengannya. Entahlah bersama sang om, tak seperti bersama kakaknya. Mungkin karena dengan sang om, tak bisa bersama setiap hari layaknya dengan sang kakak. Membuat gadis kecil itu harus menahan kerinduan kala berpisah darinya.
"Jangan gitu dong, dede harus pulang! Kan mau masuk PAUD. Katanya kepengen sekolah? Ntar weekend kita ketemu lagi. Kita main lagi." Bujuk Rei.
Kia yang sedari tadi menempel dipelukan omnya dengan menyenderkan kepala dibahunya, enggan untuk melepaskanya.
__ADS_1
"Tapi dede macih penen main cama om!" Rengeknya lagi.
"Kalo kita main terus, kita gak bisa sekolah. Terus kapan dede pinternya? Katanya mau pinter kek om. Biar cepet masuk sekolah bareng om?" Rei terus berusaha membujuk ponakannya itu.
"Iya de. Bener kata om. Ntar kita kesini lagi minggu depan. Kita main lagi, kita minta papih buat beliin banyak blok buat disusun bareng deh." Aska ikut membujuk sang adik.
"Ntar om juga turutin semua mau dede ya, mau boneka-bonekaan juga gak papa. Ya!" Bujuk Rei lagi.
Akhirnya balita cantik itu melepaskan dekapannya dan menaikan satu jari kelingkingnya dihadapan sang om.
"Janji ya. Om mau main boneta cama aku!" Ucapnya dan dijawab anggukan serta senyum dari Rei. Tak lupa Ia juga menyambut kelingking itu untuk dikaitkan dengan miliknya.
Senyumpun terukir manis dari wajah cantik dengan lelehan air mata yang membanjiri pipi chuby nya itu.
"Sayang om!" Ia mendaratkan ciumannya diseluruh wajah omnya hingga membuatnya tertawa kegelian.
"Udah de udah!" Ucapnya menghentikan aksi ponakannya.
Ia tangkup kedua pipi chuby itu. "Iya! Om juga sayaaaannngg banget sama dede. Jangan nakal ya ntar kita ketemu lagi!" Ucapnya. Kemudian mendaratkan bibirnya pada dahi ponakannya, mengecupnya sayang. Lalu kedua bocah tampan itu pun tergelak melihat tingkah gadis kecil mereka.
Ternyata hal itu menjadi pusat perhatian Siska yang berdiri diambang pintu. Melihat pemandangan itu, Ia merasa aneh sendiri. Kasih sayang yang diberikan adik sambungnya pada sang putri, terlihat seperti bukan kasih sayang seorang saudara atau om pada ponakan pada umumnya. Hal itu justru terlihat mengganjal dimata ibu dua anak itu.
Namun dengan segera Ia menepis hal negatif itu. Mencoba berfikir positif, bahwa semuanya berjalan seperti biasa.
Ia pun masuk, berpamitan pada Rei dan mengajak putra dan puttinya untuk meninggalkan kamar untuk bersiap-siap. Mereka pun berkumpul diruang tamu untuk mengantarkan mereka pulang.
"Baiklah, kalian hati-hati ya!" Pesan ayah Dedes ketika mereka bergantian bersalaman dan diiyakan mereka.
Setelah melalui drama perpisahan tadi kini mobil pun melesat meningglkan kediaman sang ayah. Suasana yang biasanya rame, mendadak hening. Si pelaku keributan mendadak kalem kali ini.
Semua orang disana tampak keheranan. Mamih sampai bertanya pada sang cucu yang berada dipangkuannya.
"Dede kenapa? Kok diem aja? Dede sakit?" Cecar Mamih.
"Iya dede cakit!" Balasnya membuat semua orang panik.
"Ya ampun! Apa yang sakit, de?" Tanya Mamih khawatir.
"Dicini." Balasnya, seraya menepuk dadanya. "Dede cakit paksa puwang!" Lanjutnya. Seketika tawa orang dewaasa itu pecah, mendengar penuturan nyeleneh sang bocah
**************
__ADS_1
Ini bocah, mirip siapa sih?🤣🤣
Jangan lupain jejaknya yaa😍