
Kini sepasang orang tua itu sudah memasuki ruang tunggu di poli kandungan. Keduanya mendudukan diri untuk menunggu giliran.
Bang Age masih menunjukan wajah kesalnya dari pertemuannya dengan wanita yang sempat mengejar-mengejarnya dulu. Apalagi wanita itu sudah menyinggung mendiang istrinya, membuat darahnya semakin mendidih.
"Udah lah bang! Wajahnya jangan ditekuk terus!" Titah Siska namun tak diindahkan suaminya.
"Ck!" Siska berdecak seraya membalikan tubuhnya, hingga membelakangi suaminya. "Ya udah kita pulang aja! Gak usah konsultasi, gak usah buka puasa!" Tuturnya kesal dan hendak berdiri, namun sang suami menghentikan pergerakannya.
"Jangan! Maafin abang!" Sesalnya, namun Siska tetap bergeming.
Bang Age menghembuskan nafasnya kala menyadari kesalahannya yang sudah mendiamkan sang istri hanya karena hal yang seharusnya Ia abaikan.
Ia dekap sang istri dari belakang seraya meletakan kepala dibahunya. "Maafin abang sayang! Abang salah." Ucapnya.
"Bang lepasin! Malu ih!" Ucapnya seraya menggerakan bahunya. Namun bang Age hanya menggelengkan kepalanya.
Siska sedikit meringis menahan malu, kala atensi orang-orang mengarah padanya. "Bang lepasin dong! Malu ituh" Bisik Siska.
"Nggak! Sebelum kamu maafin abang!" Tolaknya.
Siska menghembuskan nafasnya pasrah. "Iya! Iya aku maafin! Udah lepasin!" Bujuk Siska dan akhirnya dilepaskan suaminya.
"Maafin abang ya! Abang salah. Gak seharusnya abang terpancing emosi. Dia hanya bagian masalalu abang. Mengenai kesetiaan, hanya kamu yang bisa rasain. Seberapa besar abang cinta dan sayang sama kamu!" Tuturnya membuat Siska tersenyum.
"Bukan salah abang gak setia sama kak Icha. Gak ada yang salah! Karena cinta gak pernah salah." Tutur Siska.
"Ini udah menjadi takdir Tuhan. Kita hanya bisa mengikuti alur nya aja!" Lanjutnya membuat keduanya tersenyum.
.
Setelah melakukan berbagai konsultasi dengan dokter kini keduanya sudah berada didalam mobil untuk pulang.
"Mau beli dulu sesuatu?" Tanya bang Age yang tengah fokus dengan kemudi didepannya.
"Gak ah bang! Ntar aja. Udah pegel banget nih tanganku" Balasnya dan disambut senyuman sang suami serta usekan dikepalanya gemas.
Tak berselang lama kijang besi yang ditumpangi keduanya sudah terparkir apik dihalaman rumah. Keduanya turun setelah sang suami mengambil alih bayi cantiknya dari gendongan sang istri.
"Huh!!" Siska merebahkan diri di sofa kamar meregangkan otot tangan dan bahunya yang terasa kaku karena seharian menggendong putri kecilnya.
__ADS_1
Hingga Ia merasakn pijatan lembut dipundaknya dari tangan kekar suaminya. "Cape ya?" Tanyanya dan dijawab anggukan oleh sang istri.
"Kasihan istri imutku! Coba berbalik sana, biar abang pijitin!" Titahnya.
Siska mebelokan badannya hingga membelakangi suaminya. Membiarkan tangan kekat itu merileks kan otot-ototnya. Ia begitu menikmati sentuhan nyaman dipundak dan punggungnya, hingga sentuhan itu beralih membuatnya merasakan sensasi berbeda.
"Bang!!"
"Hmmm!"
"Kenapa ini juga mesti dipijit sii?" Tanyanya kala merasakan tangan sang abang yang tengah memijit pelan dua buah semangkanya.
"Kan biar gak kaku. Biar lancar juga miminya!" Alibinya.
"Tapi- Emmhhh" Siska sampai tak meneruskan ucapannya kala tangan suaminya semakin aktif bermain disana. Hingga Ia melantunkan suara sexy yang sudah lama tak didengar suaminya.
Bang Age semakin bersemangat, Ia tarik kain atas tubuh sang istri dan melemparnya kesembarang arah. Bibirnya berjalan enyusuri punggung putih sang istri. Membuka kunci dari wadah semangkanya dan melepasnya.
Tangannya kembali menangkup dua buah semangka yang meluber digenggamannya dan merematnaya pelan membuat Siska semakin melayang.
Bang Age menyambar bibir sang istri dari samping, menyesap dan me lu matnya lembut. Mengabsen setiap inci didalamnya. Lama keduanya berpagut, merasakan manis dari setiap sesapannya.
Ia lepaskan pagutannya dan beralih posisi kehadapan istrinya. Mendorong pelan tubuh sang istri dan mengukungnya. Ia tarik kaos yang melekat ditubuh sispeknya dan membuangnya. Kemudian kembali menyambar bibir yang memabukan itu, dengan tangan yang terus bermain didua semangaknya.
Bibirnya kembali berjalan menyusuri kulit putih area ceruknya. Memberika gigitan-gigita kecil hingga meninggalkan maha karyanya juga disana.
Tangan bang Age kembali bergerak membuka sisa kain yang melekat ditubuh sang istri. Hingga kain itu sudah lepas dan berhambur tak beraturan.
Ia jamah lembah basah yang sudah lama tak Ia sapa. Menyentuhnya lembut membuat si empunya men de sah hebat.
"Bangghh!!"
Suara itu semakin membakar gejolak didalam dadanya. Gairahnya semakin membuncak. Ia tarik kain terakhir ditubuh bagian bawahnya. Hingga si junior yang sudah berdiri tegak terpampang jelas dimata Siska.
Tiba-tiba bayangannya kembali pada pembahasan tragedi empat puluh hari bersama gerup reseh. Ia samapi menelan salivanya kuat-kuat. Keringat dingin tiba-tiba menjalari tubuhnya.
Sementara Siska tengah dalam ketegangannya. Bang Age tengah mencari benda yang sempat Ia beli diapotek rumah sakit. Benda yang menjadi rekomen dari sang dokter tadi. Ia lupa dimana tadi menyimpannya.
"Sayang kamu lihat si kokom gak?" Tanyanya dan sukses membuyarkan ketegangan sang istri.
__ADS_1
Siska bangkit dari tidurnya dengan kedua alis yang bertautan mendengar sang suami yang menyebutkan nama tetangga sebrang rumahnya.
"Abang ngapain nanyain si kokom?" Tanya Siska curiga.
"Abang kan butuh dia." Jawabnya dengan tangan yang sibuk mencari sesuatu di saku jaketnya.
Siska menganga dengan bola mata yang hampir saja keluar. Ia berdiri dan berkacak pinggang. Ia hampiri suaminya yang tengah berjongkok dilantai. Ia tarik telinganya membuat sang suami menoleh dan meringis.
"Aww! Aww! Sayang. Kenapa kuping abang ditarik?" Pekiknya.
"Abang yang kenapa? Kenapa nanayin si kokom, hah?" Cecar Siska dengan mata nyalang menatap suaminya.
"Kan kita butuh dia yang!" Jawabnya.
"Ihh abang jahat!" Pekik Siska memukuli bahu suaminya.
"Aduh! Sayang berhenti! Kamu kenapa sih?" cegat bang Age yang merasa shok dengan perlakuan sang istri yang tiba-tiba.
"Abang yang kenapa? Tega banget sama aku. Kurang aku apa coba? Udah mah bohay gini, abang malah pengen si kokom yang tipis itu." Cerocos Siska dengan air mata yang sudah berlinang.
"Abang jahat! Ngeselin!!" Pekiknya dengan terus melayangkan pukulannya.
Bang Age yang baru ngeuh, akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan istrinya. Ia cekal kedua tangan yang terus memukuli bahunya. "Eehh bentar dulu, kamu salah paham!"
"Apanya yang salah! Jelas-jelas abang butuh si kokom buat apa?" Cecarnya dengan pipi yang sudah basah dengan buliran hangat dari matanya.
"Ya buat kita, buat-"
"Tuh kan, abang ngeselin!" Ucapnya dengan isak tangis semakin kencang.
"Ya ampun! Abang belum selesai ngomong. Jangan nangis dulu, dengerin abang!" Titahnya namun Siska masih terisak.
Bang Age hendak meraih tangan istrinya namun ditepisnya, bang Age kembali mencari sesuatu yang akhirnya ketemu dari saku celananya.
"Nih!" Ia memperlihatkan benda itu kehadapan sang istri, hingga membuat Ia menghentikan tangisnya namun dengan raut wajah kebingungan.
"Ini apa?" Tanya Siska.
"Ini tuh si kokom! Buat lindungi si junior, biat gak bocor!" Jelas bang Age dan sukses membuat sang istri melongo dengan mata mengerjap cepat. Lalu didetik berikutnya mereka pun tergelak.
__ADS_1
*****************
Ayo gaiss, masih mau up nih! Kencengin lagi jempolnya😊