
Suara cekikikan dimalam gelap gulita yang terdengar membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya pasti berdiri, bukanlah dari atas pohon yang rindang, bukan pula suara mak kunkun yang tengah bergelayun. Melainkan suara wanita disebuah kamar yang gelap, yang hanya diterangi lampu temaram tengah melakukan uji coba.
Sepasang pengantin baru itu tengah mencoba gamis malam yang tadi mereka beli. Karena tak ingin mengganggu tidur kedua balitanya mereka menggunakan kamar samping untuk mengadakan fashion show dadakan.
"Bang! Yang bener aja, masa aku berpenampilan kek gini? Geli ah!" Protes Siska cekikikan, ketika dirinya mencoba lingery berwarna hitam.
Bang Age yang tengah duduk tersenyum dan menarik tubuh sang istri keatas pangkuannya. "Gak papa! Abang suka." Jawabnya dengan menyerang dada terbukanya.
Siska menagkup pipi suaminya dan mengarahkan untuk menatapnya. "Isshh Abang! Aku gak nyaman pake nya. Piyama aja deh!" Tawarnya, namun sang suami menggelengkan kepalanya dan hendak kembali melesakan wajahnya hingga Siska kembali meangkupnya.
"Hot pants! Gimana?" Tawarnya lagi namun sang suami masih tetap menggelengkan kepalanya membuatnya berdecak.
"Udah ini udah bagus! Ntar kalo mau pindah ke anak-anak kamu ganti pake piyama." Tutur bang Age.
"Ck! Ribet banget dah bang. Apa bedanya coba?" Tanya Siska.
"Bedanya abang lebih tertantang." Timpal bang Age terkekeh.
"Tertantang ngapain?" Goda Siska.
"Tertantang buat ngobrak ngabrik martabak spesial." Jawab bang Age membuat mereka cekikikan.
"Udah ah ketawa mulu, jadi kek mak kunkun aku." Ucap Siska.
"Ya udah kita mulai aja!" Ajak bang Age.
"Ngapain?" Goda Siska.
"Buat kamu ngempor!"
Tanpa basa basi lagi bang Age sudah melayangkan serangan demi serangan. Untung saja Siska murid yang cepat tanggap. Dengan kilat Ia bisa mengimbangi serangan demi serangan suaminya.
Bang Age menarik kain tipis itu hingga robek, membuat Siska kembali protes. "Abang kenapa dirobek sii?"
"Biarin. Udah tugasnya dia kudu dirobek, ngalangin tangan abang soalnya." Timpal bang Age.
"Kalo buat dirobek, ngapain harus dibeli abang! Ihh mubazir kan. Buang-buang duit!" Protes Siska. Seketika jiwa emak-emak dasterannya keluar.
"Gak papa sayang! Emang udah gitu nasibnya." Timpal bang Age.
"Tapi sayang tu duit, ya ampun!"
Bang Age tak memperdulikan protesan istrinya lagi. Gairahnya sudah memuncak, meminta untuk segera dituntaskan.
Berbagai pemanasan keduanya lakukan. Menikmati malam, menyatukan rasa. Bahkan gaya baru yang disarankan sang adik akan mereka coba. Hingga Siska sudah siap berada diatas suaminya.
__ADS_1
Namun Ia hanya diam, membuat sang suami keheranan. "Kamu kenapa? Kok gak gerak?" Tanya bang Age.
"Aku bingung bang mesti ngapain? Katanya nona manis makan pisang? Terus aku gimana makannya?" Tanyanya membuat sang suami menganga dengan mengedipkan matanya berkali-kali.
"Maksudnya nona manis tu martabak kamu makan pisang abang gitu. Ini tuh udah dilahap. Full malah." Timpal bang Age dan dijawab oh ria oleh istrinya.
"Nih! Masa gak kerasa?" Tanyanya lagi seraya menggerakan sesuatu didalam sana membuat Siska menggigit bibir bawahnya.
"Terus akunya ngapain?" Tanya Siska lagi.
"Ya kamunya nari lah diatas abang!" Titahnya.
"Tarian kek gimana? Nge dance gitu?" Tanyanya lagi membuat sang abang menepuk jidatnya.
"Ya ampun! Aku punya istri polosnya kebangetan."
"Isshhh abang! Aku kan belum tau." Protesnya.
"Makanya belajar!"
"Ajarin!" Ucapnya dengan manja membuat sang suami tersenyum.
"Kamunya gerak, ikutin nalurinya! Ntar juga bisa." Titah sang abang dan dijawab anggukan istrinya.
Siska mulai menggerakan tubuhnya, bergoyang syalala diatas suaminya. Bang Age tak tinggal diam, Ia pun memakan buah yang berayun didepannya. Pergerakan yang awalnya lambat kian cepat, kala sesuatu didalam sana seakan meledak.
"Udah yuk bang! Takut anak-anak bangun." Ajak Siska seraya menghapus kucuran keringat didahi suaminya.
"Bentar biarin dulu kek gini." Bang Age masih mengeratkan dekapannya pada sang istri.
"Ntar mereka bangun bang! Takutnya pada jatoh." Bujuk Siska.
Bang Age menghembuskn nafasnya pasrah. "Kek nya kita mesti honeymoon deh!" Ucapnya seraya melepaskan dekapannya dan menumpu sebelah tangannya.
"Gak perlu bang!" Tolak halus Siska.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Kasihan sama dede. Gak tega aku harus tinggalin dia." Tutur Siska membuat suminya tersenyum bahagia. Ternyata istrinya ini benar-benar mencintai bukan hanya dirinya saja namun juga sosok balita yang menjadi putranya.
Bang Age tersenyum dan mengelus pipi mulus sang istri. Menyelipkan anak rambut yang menjuntai disana. "Kamu tau?"
"Hem? Apa?" Tanya Siska.
"Kalo saja ada kata yang lebih tinggi dari kata terima kasih. Abang akan mengatakan hal itu untuk kamu wanita sempurna yang sudah begitu ikhlas menerima abang dengan putra abang."
__ADS_1
Siska tersenyum dengan penuturan suaminya itu dan berhambur memeluk tubuh tegap itu, menenggelamkan wajahnya didada bidang nan nyaman suaminya. Begitupun bang Age, Ia elus surai nan hitam milik sang istri dan menciumi pucuk keplaanya bertubi-tubi.
"Hanya satu yang belum aku dengar dari abang?"
"Apa?"
"Kata cinta. Sampai sekarang aku belum denger abang ngungkapin hal itu sama aku." Tuturnya seraya melukis sesuatu diidada suaminya dengan telunjuknya.
"Emang iya? Perasaan udah." Timpal bang Age.
"Kapan?" Tanya Siska mendongak dan menaikan satu alisnya, merasa tak pernah ada pengungkapan dari suaminya.
"Emmm.." Bang Age berfikir sejenak. "Lupa!" Tuturnya dan langsung dapat timpukan didadanya dari sang istri.
"Ihhh abang mah gak romantis. Aku tuh pengen denger abang bilang. "I love you!" gitu kek nya belum pernah deh."
"Yang pentingkan abang udah buktiin semua itu sama kamu." Tututnya seraya menarik hidungnya gemas.
"Tapi pengen!" Rengek Siska.
"Pengen apa? Nambah?" Godanya.
"Issshh abang mah. Kalo itu beda lagi." Timpal Siska.
"Ya udah nambah dulu yuk!" Ajaknya.
"Ngggak! Sebelum abang bilang kata-kata cinta sama aku." Tolak Siska. "Aku kan sama kek perempuan lain, pengen dapat pengakuan bukan cuma perlakuan." Tuturnya menunduk.
Bang Age tersenyum. Bukan Ia tak mengerti akan hal itu, Ia tau wanita mana saja ingin diperlakukan manis oleh pasangannya, ingin dimanja juga olehnya. Ia tangkup wajah yang cantik dengan guratan sendu itu, lalu Ia arahkan padanya.
"Kamu tau? Abang bukan gak mau ngungkapin kata-kata cinta seperti itu. Abang gak ingin ngumbar-ngumbar kata manis, tapi kamu gak bisa merasaknnya. Apa yang abang lakuin lebih dari kata yang abang ungkapin." Tuturnya dan masih membuat mata indah sang istri menunduk.
"I Love you!" Bisiknya merdu.
Tiga kata yang mampu membuat wajah cantik itu kembali mengukir lengkung senyum manis dibibirnya. Kata yang selalu Ia harap dengar dari pemilik hatinya, kini sempurna Ia dengar. Hingga Ia sembunyikan rona bahagia itu didada bidang yang selalu membuatnya nyaman berada disana.
"Lah kok ngumpet? Gak dibales nih?" Goda bang Age dan dijawab gelengan kepala olehnya.
"Aku bahagia bang!" Cicitnya.
Bang Age tersenyum mendengar cicitan itu. Ia belai surai hitam itu penuh kasih sayang.
"Kalo ada kata yang lebih bermakna dari kata bahagia. Itulah kata yang akan abang ungkapkan padamu." Balasnya.
**************
__ADS_1
Mon maaf readers🙏 kita pindah jam tayang ya😊 Soalnya kalo up malam tu agak drama, susah sekali buat lolos😪
Jangan lupa like dan komennya kencengin yaa! Ramaikan kolom komentarnya! Terus, terus yang punya vote boleh kasih mak othor ya, sama bunga-bunga juga boleh🤭