
Ckiiitttttt!!!!
Suara decitan mobil begitu memekik, dapat dipastikan pedal rem diinjak begitu dalam. Hingga terdengar suara yang mengejutkan semua orang.
Brukkkk!!!
"Astagfirulloh!!!"
Pekikan seorang wanita menandakan betapa shok dirinya melihat keadaan didepan matanya.
"Abaaannggggg!!!!" Suara Ayra begitu menggema didepan halaman rumahnya, kala melihat pot besar berisi tanaman bonsai terjungkal dan berserakan disana tertubruk kijang besi sang abang.
Sementara itu didalam mobil. Bang Age dengan sigap menahan jidat sang istri yang hampir mencium dashbord didepannya.
"Kamu gak papa sayang?" Tanya bang Age khawatir dengan melihat seluruh tubuh istrinya yang alhamdulillahnya masih utuh.
"Nggak bang! Aku gak papa." Timpal Siska memegang dadanya.
"Lagian kamu kenapa sih teriak-teriak, abang kan jadi kaget?" Tanyanya.
Ia yang mendengar jeritan tiba-tiba dari sang istri dengan reflek menginjak pedal remnya mendadak. Namun tanpa diduga pula, Ia malah membanting stirnya kesamping hingga menubruk seseuatu yang tengah anteng berdiam disana.
"Ini gara-gara Lia." Gerutunya.
"Lia? Kenapa dia?" Tanya bang Age heran.
"Masa iya, dia nanyain gimana rasanya punya pria dewasa? Sampe nanyain kekuatannya segala lagi." Penuturan Siska sukses membuat bang Age menganga dengan mata berkedip cepat.
Kedua bestie ini benar-benar somplak. Bisa-bisanya mereka membahas masalah ranjang dalam chat. Apalagi yang membuat Ia tercengang, Lia seorang gadis. Bukan wanita dewasa atau sudah menikah. Namun pembahasan mereka sudah melebihi usia dan statusnya. Jangan-jangan rahasinya didalam kamar dibeberkan sang istri? Pikirnya.
"Terus kamu jawab apa?" Tanya bang Age khawatir.
"Aku jawab, coba aja!" Timpal Siska dengan santainya. Bang Age kembali dibuat tercengang olehnya.
"Emangnya barang bisa dicoba? Kalo dia beneran ngelakuin gimana?" Cecar bang Age.
"Biarin aja sih bang. Khawatir banget deh sama Lia." Kan, kan jadi salah paham.
__ADS_1
"Emang kamu gak khawatir?"
"Tapi khawatirnya abang tuh mencurigakan!" Timpalnya dengan raut muka yang baru bang Age mengerti.
"Astagfitulloh! Mencurigakan gimana sih?" Tanyanya seraya memegang kedua bahunya.
"Tau ah!"
"Ya ampun dengerin abang sayang. Abang gak peduli sama siapapun. Wanita manapun. Abang cuma peduli sama kamu dan orang-orang terdekat kita." Tuturnya. Namun sepertinya sang istri masih dimode jeleousnya.
"Kalo abang peduli sama Lia, itu karena dia sahabat kamu. Coba kamu fikir baik-baik. Kalo sampai dia berbuat yang nggak-nggak dan sampai kenapa-napa terus kelurganya tau, dan mereka tau dia tinggal disini, ada kita disekitarnya. Keluargnya pasti ikut kecewa sama kita, karena gak mau nasehati dia. Lagian kalo kita biarin, ntar kita juga ikut berdosa." Tuturnya lagi panjang kali lebar.
"Udah dong jangan ngambek! Masa jeleous sama Lia? Katanya kalian udah kek saudara?" Bujuknya, namun Siska masih memanyunkan bibirnya.
"Udah ya, abang kan gak ngelakuin apa-apa." Belanya. "Atau mau abang comot bibirnya?" Goda bang Age menaik turunkan alisnya.
"Isshhh!!! Abang mah." Siska memukul dada sumainya dan membuat bang Age tertawa.
Ia cekal lengannya dan hendak menyambar bibir yang meminta dicomot itu. Namun konsentrasinya buyar kala gedoran dari jendela mobilnya begitu bising memekik ditelinganya.
Bang Age menoleh melihat siapa yang mengganggunya, hingga Ia menangkap wanita yang tengah berkacak pinggang didepan pintu mobilnya. Keadaan yang kedap suara tentu tak membuat keduanya mendengar omelan ibu dua anak itu sejak tadi.
"Udah bang, ayo turun! Keknya bentar lagi bakal ada perang dunia." Ajak Siska.
Ia yang baru ngeuh dengan apa yang terjadi memberi himbauan pada sang suami. Bahkan Ia melupakan mode ngambeknya, setelah melihat air muka adik iparnya.
Dengan pasrah bang Age membuka pintu mobilnya dan turun, diikuti sang istri juga.
"Lu napa sih?" Tanya bang Age menatap heran pada sang adik.
"Napa abang bilang? Noh lihat. Tanaman gue!" Tunjuknya pada tanaman kesayangannya.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. "Ya udah sii, ntar gue ganti." Ucapnya enteng.
"Enak banget tuh ngomong. Eh asal abang tau. Tananan itu gak bisa abang ganti, meski pake seluruh duit abang sekalipun." Sungut Ayra.
"Lebay banget lu. Emang berapa harganya? Ampe gue gak mampu beli." Tanyanya.
__ADS_1
"Ini bukan masalah harganya. Tapi soal artinya. Abang mah sii gak bakalan tau, karena gak pernah peka." Omelnya, membuat sang abang mencebikan bibirnya.
Siska mendeakt mencoba menenangkan adik iparny itu. "Maafin kita ya, kita gak sengaja!" Bujuknya.
"Tapi itu udah kek anak gue sendiri. Itu hadiah aniversary pertama dari bang Ar. Gue udah susah payah jagain dia dari orok." Tutur Ayra sendu dengan isakan kecil dari bibirnya.
Siska hanya mengusap punggung adiknya itu, seraya menenangkannya. Ia juga memberi kode pada sang abang untuk ikut menenangkannya. Bang Age akhirnya pasrah, mencoba mengalah dengan membujuk adiknya itu.
"Ya udah gue minta maaf! Gue gak sengaja juga. Sekarang mau lu kek gimana? Gue turutin deh." Tuturnya.
"Pokoknya aku mau tuh tanaman kek semula, gimanapun caranya abang harus benahi lagi. Dan inget, jangan ganti sama yang baru! Kalo sampe gak beres juga, aku tahan istri abang!" Titahnya dengan penuh ancaman. "Yuk kita masuk!" Ayra menggandeng tangan kakak iparnya, menyeretnya dan berlenggang memasuki rumah.
"Lah kok gue ditinggal sendiri. Istri gue jangan lu bawa woy!" Teriaknya. Namun kedua wanita itu berlalu tanps menoleh lagi.
"Ck! Sialan tuh bocah. Dia sengaja ngerjain gue, apa gimana?" Gerutunya dengan berkacak pinggang didepan pot yang berhamburan.
"Tapi ini lebih baik dari pada lihat istri imut gue ngambek, bisa-bisa dapet skip buat ngobrak ngabrik martabak gue. Kan rugi." Tuturnya bermonolog sendiri.
"Ini semua gara-gara si Lia somplak. Bodo amat dah, mau dia kek gimana juga. Sekarang gue harus cepet beresin ini. Kalo nggak, bisa-bisa si Ay gak bakal lepasin istri imut gue lagi." Gerutunya. Dengan pasrah bang Age mencoba membereskan kekacauan yang sudah Ia buat.
Sementara itu, si pelaku yang sudah membuat kekacauan sepasang manusia itu tengah menatap waspada pada pria yang kini tengah menatapnya tajam.
Setelah celetukan yang Lia lontarkan, Ivan menghentikan mobilnya ditepi jalan. Ia buka sabuk pengamannya, dan beralih menghadap gadis disampingnya. Bahkan mendekatinya membuat Lia reflek mundur hingga pergerakannya terkunci pada pintu mobil, hingga keduanya mengkis jarak.
Jantung Lia kembali berdegup kencang. Sungguh berada sedekat ini, membuatnya mati kutu. Keberaniannya luntur seketika. Ia sampai suasah payah menenelan salivanya kala aroma mint dari nafas sang bos menerpa wajahnya.
Ivan menyeringai tipis melihat ekspresi wajah gadis didepannya.
"Kenapa? Bukannya kamu mau coba kekuatanku?" Tanyanya dengan nada menggoda.
"B-bukan gitu pak. A-aku, aku." Lia gelagapan menjawabnya. Apalagi wajah sang bos yang semakin mendekat.
"Mau pake gaya apa?" Godanya lagi berbisik tepat ditelinganya.
"J-jangan pak! Kita bukan mahrom!" Ucapnya memejamkan mata seraya menahan dada bosnya.
"Baiklah! Besok akan kubuat kita menjadi mahrom!" Balas Ivan menyeringai.
__ADS_1
*****************
Yuk gaiss kencengin jejaknya, mau up tiga episode ini🤭 Jangan lupa like dan komennya. Yang punya hadiah buat mak othor boleh lah ditunggu😂