
Hari berganti hari, satu bulan sudah semenjak kunjungan waktu itu Siska belum sempat lagi berkunjung menemui baby gemas kesayangannya. Namun Ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan VC dengannya.
Ia mengharapkan Papih sang baby yang menghubunginya, namun nyatanya neneknya lah yang setiap saat menghubunginya. Sampai sambungam terakhirnya, Siska tak pernah melihat orang yang selalu meresahkn hatinya itu.
Katanya Ia tengah menyibukan diri dengan pekerjaannya, untuk melupakan luka yang belum juga mengering dihatinya.
Siska memaklumi itu, mungkin itu caranya untuk bisa bangkit kembali. Walau tak dapat dipungkiri Ia begitu merindukan sosok itu, bahkan Ia mengaharapkan dia menghubunginya.
Ingin rasanya Ia meminta nomornya pada sang Mamih untuk menghubunginya terlebih dahulu, namun Ia terlalu malu untuk itu dan memilih menikmati rindu yang kian hari kian berat. Kek dylan ya Sis?
Seperti malam ini, Siska tengah mengeluh, mengadu, menangis, mencurahkan isi hatinya yang tengah merindukan seseorang yang setiap saat memenuhi otaknya pada bestienya itu. Bahkan pelajaran hari ini saja bleng. Tak ada satupun yang masuk diotaknya.
"Huaaaaa...
Lia, gue harus gimana? Kenapa bang Age tega banget sama gue? Kenapa dia gak hubungi gue?" Siska menangis dipundak sahabat serasa saudaranya itu.
Kini keduanya tengah duduk diatas ranjang dikamar Siska, karena besok weekend jadi Lia sengaja menginap dirumah bestienya ini.
"Ya udah sii, telepon! Ribet banget dah!" Timpal Lia.
"Gue gak punya nomornya."
"Lu mintalah sama Mamihnya!"
"Gue malu." Timpal Siska semakin histeris.
"Omeegaatt!!!" Lia sampai menepuk jidatnya. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya ini.
"Gue heran deh sama lu, lu suka sama dia tapi gak diungkapin. Jangankan ngungkapin, ngechat duluan aja gak mau. Terus taunya darimana kalo lu suka sama dia? Darimana coba dia tau kalo lu kangenin dia?" Tutur Lia geleng-geleng kepala.
"Ya mungkin aja, malaikat kasih tau dia. Kalo gue rindu." Timpal Siska membuat Lia menepuk lagi jidatnya.
"Astagfirulloh! Malaikat apa yang bisa nyampein rindu? Malaikat Jibril aja tugasnya cuma nyampein wahyu, woy!" Saking gemasnya Lia sampai menoyor kepala Siska. Membuat Siska duduk tegak.
"Mungkin ada malaikat cinta." Timpal Siska semakin ngawur.
"Ya ampun Sis. Gue takut sama lu lama-lama! Apa gue panggil mbak Rara aja ya?" Timpal Lia.
"Mbak Rara siapa?"
"Ituloh yang lagi trending dijalanan babang marques."
__ADS_1
"Itu mah pawang hujan woy!"
"Ya kali aja bisa ngusir rindu lu juga." Timpal Lia tergelak dan langsung dapat timpukan bantal boba dari Siska.
Siska berdecak kesal mendengar ledekan sahabatnya itu. "Udah deh, jangan ketawa mulu! Nasib gue gimana ini?" Tutur Siska merasa frustasi.
"Ya gimana-gimana? Tinggal lu ungkapin. "Bang aku cinta kamu." Ucap Lia dengan dramatis. "Gitu aja ribet lu!"
"Isshhh ngomong lu gampang. Jangankan ngomong kek gitu, natap dia aja gue gak bisa." Timpal Siska.
"Lah napa emang?"
"Gue nya nunduk." Lia melempar si boba yang tadi menimpuknya.
"Dasar lu! Lagian apa sih istimewanya abang duda lu itu-" Belum selesai ucapannya langsung diselak Siska.
"Gak usah pake duda, abang Age aja." Selak Siska Ia tak mau sampai terdengar sang ibu, tentu hanya memberi nama itu untuk menyebut namanya. Malu juga sama ibunya, kalo tau Ia menyukai abang-abangannya itu.
"Iya, iya abang Age maksud gue. Dia kan udah gak ori, terus lagi udah pake buntut satu. Spesialnya dimana coba? Ya, Kecuali ganteng ya!" Tanya Lia keheranan.
"Ini nih yang lu gak tau. Dia tuh udah ganteng, dewasa, penyayang, setia. Dia begitu setia sama istrinya, susah buat dia move on. Lu bayangin gimana jadi istrinya, terharu banget kan?" Tutur Siska.
"Idih ogah gue jadi istrinya."
"Gue belom mau mati." Timpal Lia dan langsung dapat toyoran Siska.
"Itu mah sih udah takdir."
"Ya lagian dud gitu Sis, dud? Kenapa gak Rangga aja? Seumuran juga sama kita, masih perjaka lagi." Lia masih merasa aneh dengan sahabatnya yang satu ini, yang suka sama pria yang usianya jauh diatasnya.
"Terus salahnya dimana kalo dia dud? Yang single belom nikah aja belom tentu perjaka." Timpal Siska membuat Lia sedikikt berfikir mencerna ucapannya.
"Ntar! Ntar, kok otak gue gak nyampe ya?" Tanya Lia lagi.
"Gini ya, tuh si Rangga ngaku single kan?" Tanya Siska dan dijawab anggukan Lia. "Belom nikah kan?" Tanyanya lagi dan dijawab anggukan Lia lagi. "Terus dia masih perjaka gak?" Tanya Siska lagi membuat Lia berfikir sedikit lama.
"Kalo gue sih gak yakin kalo dia masih perjaka." Timpal Siska membuat Lia melongo.
"Tau dari mana lu?"
"Ya kali aja suka maen sama sabun sama tangannya juga!" Celetuk Siska dan kembali mendapat timpukan boba dari Lia. Kasihan juga ya itu si boba!
__ADS_1
"Wah otak lu. Benar-benar nih. Inget umur woy!" Teriak Lia tepat didepan telinganya. Membuat Siska segera menutup telinganya.
Tiba-tiba Hp Siska berdering. Dengan semangat Ia segera menekan icon hijau dilayarnya, tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Hallo bang!" Sapanya dengan girang. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat.
"Iya. Ga."
"Hem"
"Oke!"
Hufffhhhh
Siska menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata bukan orang yang Ia harapkan yang meneleponnya.
"Siapa? Rangga?" Tanya Lia dan dijawab anggukan Siska.
Lia ikut menghembuskan nafasnya panjang. "Udah sekarang gini aja. Lu mau maju apa mundur?" Tanyanya membuat Siska menaikan alisnya sebelah.
"Kalo lu mau maju, lu harus cepet deketin dia. Chat duluan gak papa lah! Kalo lu gak bisa? Gue saranin lu mundur aja. Ngarepin yang gak pasti itu, ibarat lu beli seblak online. Digambar begitu menggiurkan, eh pas datang pucet pasi gak ada cabe-cabenya. Kan ambyar! Nah lu juga gitu, yang ada lu bakal terluka ntar." Tutur Lia meemberi penjelasan.
Siska kembali menghembuskan nafasnya panjang. Egonya terlalu tinggi, untuk memulai terlebih dahulu.
"Aduhhh! Gue bingung. Kalo gue maju takut tisuksruk. Kalo gue mundur ntar kejengkang. Gimana dong?" Tanya Siska frustasi.
"Seraaaahhh!!" Lia ikut frustasi, Ia yang sudah susah payah merangkai kata buat nyamangatin, auto ambyar mendengar penuturan Siska.
Ia langsung merebahkan dirinya dan memeluk si boba yang tadi sempat menjadi bahan pelampiasan, eh sekarang disayang-sayang.
"Eh lu jangan tidur dulu! Gue gimana ini?" Siska menari-narik bahu Lia untuk membangunkannya.
"Udah lu tidur aja dulu. Ntar besok fikirin lagi. Berfikir juga butuh mimpi buat jadi refrensi." Ucap Lia yang sudah memejamkan mata.
Siska menghela nafasnya pasrah. Ia ikut merebahkan diri dan menatap langit-langit. Pikirannya melayang jauh sampai dirumah sang pujaan.
'Apa rindu ini salah?' Lirihnya dalam hati.
**************
Maaf yaa, ini bukan kelanjutan🙏😅 Bab ini kehapus, jadi sengaja up ulang🤭
__ADS_1
Lanjutannya ntar malam lagi yaa😉