
Disaat semua anggota kelurganya sudah bersenang-senang, sepasang manusia itu baru nampak batang hidungnya. Entah drama apa lagi yang mereka lakukan, sampai datang terlalu siang.
"Timom!" Pekik seorang gadis menyambut ibunya yang baru datang dan menghampiri kolam air hangat disana.
"Widihh, yang abis honeymoon! Ampe lupa sama buntut." Ledek Ayra.
"Sebenarnya kalian dari mana? Main titip anak aja? Kalian pulang ke kota?" Cecar ibu.
Belum sempat Ia menjawab, suara cempreng sahabatnya ikut menyelak. "Semangat bener yang mau nambah buntut! Ampe cari hotel segala." Ledeknya.
"Ck!" Siska berdecak kesal mendengar ledekan-ledekan mereka.
"Apa sih aku cuma nginep dirumah ibu kok!" Penuturan Siska sukses membuat para wanita itu menganga.
"Jadi lu cuma nginep dirumah ibu?" Tanya Ayra dan dijawab anggukan Siska.
"Dan lu gak kasih tau anak lu? Kalo lu disana?" Tanya Lia dan kembali dijawab anggukan Siska.
"Kenapa gak diajak aja sih, kalo cuma kerumah ? Untung aja gak rewel." Ptotes Ibu.
"Sengaja aku tuh, biar gak ada yang ganggu." Ucap Siska cekikikan hingga sukses mendapat cipratan air dari mereka. Sorakan juga terdengar riuh disana.
Akhirnya Siska ikut menceburkan diri dan bergabung dengan mereka. Ditengah canda tawanya, datang seorang gadis yang mencak-mencak seraya berkacak pinggang.
"Siska! Sini lu!" Teriaknya mengalihkan atensi mereka.
Siska yang melihat siapa orang yang memanggilnya, menaikan satu alisnya merasa heran mendapati gadis yang sepertinya siap meledak disana. "Napa?" Tanyanya.
"Gak usah pura-pura lugu lu. Lu emang wanita maruk! Munafik lu!" Umpatnya.
"Eh! Jaga ya omongan lu, disini ada anak kecil!" Balasnya.
Si gadis tersenyum sinis. "Kenapa? Lu malu kalo anak lu tau kalau emaknya ja lang, hah!" Ucapannya membuat atensi orang-orang mengarah padanya.
"Bukannya kamu Silvi ya pacarnya Rangga? Kenapa kamu datang main maki-maki mantu saya?" Tanya Mamih.
__ADS_1
Silvi kembali tersenyum sinis. "Harusnya tante tanya sama mantu tante. Gak cukup apa anak tante membuatnya puas sampe harus menggoda pacar saya?" Ucapnya membuat semua orang shok.
Para pria yang memang jauh dari tempat itu, belum mengetahuinya. Mereka memang memilih memancing diarea pemancingan dan tak ikut gabung berendam disana. Namun para pengunjung lain sudah berbondong-bondong mendekat.
Siska bangkit dan mendekati gadis yang senang sekali mencari masalah dengannya itu. "Maksud lu apa bilang kek gitu?" Tanyanya.
"Lu masih tanya maksud gue apa?" Tanyanya dengan nada remeh.
"Selama ini gue udah cukup sabar dengan sikap Rangga. Bahkan gue ikhlas jadi pacarnya, meski hatinya bukan buat gue. Gue terima meskipun dia masih juga belum move on dari lu. Tapi apa yang gue dapat?" Tuturnya dengan kembali tertawa sinis.
Ia ambil layar pipih dari tasnya dan memperlihatkannya tepat didepan mata Siska. "Lu lihat! Gimana dia mau move on dari lu? Lu sendiri yang membuat dia makin tergila-gila sama lu." Teriaknya meluapkan emosinya.
Ibu dan Mamih terlihat memegang dadanya kian shok. Begitupun orang-orang disana ikut shok, hingga bisik-bisik terdengar ditelinga Siska.
"Nih! Tante lihat sendiri mantu tante ini. Apa pantas seorang wanita menikah bermanja pada mantan kekasihnya, yang berkedokan saudara?" Tanyanya.
Siska mencoba menarik dan membuang nafasnya teratur. Ia ingat dimana video itu diambil. Setelah perdebatannya dengan sang gadis pagi itu, malamnya Ia memang sempat mengobrol dengan Rangga digazebo samping. Namun Ia tak sendiri, ada anak-anaknya dan juga Rei disana.
Video ketika dirinya bercanda dan memukul bahu saudaranya itu, terlihat biasa saja menurutnya. Itu terlihat normal-normal saja. Namun itu dibuat begitu dramatis oleh si pembuat. Hingga Ia berfikir, siapa yang merekam itu?
"Nggak! Gue gak akan ngelak. Itu emang gue sama Rangga." Jawabnya membuat Silvi tersenyum menang.
"Tapi rekaman lu kurang lengkap. Coba lu geser dikit, disana ada anak-anak gue sama Rei juga." Jawaban Siska membuat Silvi tersenyum sinis.
"Malam itu emang kita lagi ngobrol, lagi bercanda juga sama anak-anak. Terus yang lu maksud gue goda Rangga nya dimana?" Tanya Siska.
"Cih! Kalo lu gak goda Rangga, gak mungkin dia putusin gue." Timpalnya membuat Siska menarik satu sudut bibirnya.
"Ya ampun! Silvi, Silvi. Ngapain juga gue goda Rangga, yang jelas-jelas sekarang saudara gue? Kalo gue mau, dari dulu aja gue terima dia, bukan milih suami gue sekarang." Balasnya. "Lagian buat apa lagi coba, udah mah punya suami yang bucinnya gak ada obat. Udah dibuat kek ratu. Masa iya mau nyari lagi?" Tanyanya.
"Kalo tentang perasaan Rangga, lu tanya sendiri sama orangnya! Kenapa dia mutusin lu." Titahnya. Silvi hanya terdiam, mencerna ucapan Siska.
"Sekarang gue tanya sama lu, siapa yang rekam itu, hem?" Tanya Siska seolah sudah tau siapa yang melakuakn itu.
"Gak usah muter-muter buat cari pembelaan. Ini udah jelas. Dasar ja lang!" Silvi hendak melayangkan tampran pada Siska, namun dicekal tangan kekar seseorang.
__ADS_1
"Berani lu nyakitin istri gue?" Tanyanya dengan sorot mata tajam dan dengan kasar menghempasakn tangan itu.
"Kenapa? Istri lu emang ja lang kan?" Tantangnya.
"Cih! Lu baru tau, istri gue emang ja lang. Dan dia hanya ****** sama gue, suaminya. Lu mau tau seja lang apa istri gue?" Tanyanya. "Nih! lu lihat!" Bang Age hendak membuka kancing kemeja atasnya namun segera dicekal sang istri.
"Eehh!! Jangan bang! Keenakan dong dia, lihat-lihat tubuh abang." protesnya. "Enak aja, tubuh abang cuma punya aku ya!" Lanjutnya, membuat sumainya tersenyum dan mengusek pucuk kepalanya.
"Lu harus tau! Jangankan ada yang berani menyentuhnya. Menatapnya saja, gue colok matanya." Tutur bang Age.
"Terus apa kabar wanita yang dengan suka rela membiarkan pria lain menyentuh tubuhnya, Sebutan apa yang pantas buat orang kek gitu?" Ucapnya seraya menyindir.
"Sekarang lu tanya tuh cowok lu, kenapa dia mutusin lu? Yang jelas, istri gue gak ada sangkut pautnya dengan masalah kalian. Dua puluh empat jam dia disisi gue, jadi gue pastiin dia gak akan belok atau nyelip sama cowok manapun." Lanjutnya dan langsung dapat pelukan hangat dari sang istri.
Setelah dapat ceramahan panjang kali lebar dari bapak dua anak itu, akhirnya Rangga menyeret Silvi untuk meninggalkan tempat itu. Sorak sorai dari semua pengunjung disana begitu riuh seraya membubarkan diri.
Para anak-anak sudah dibawa pergi oleh Ayra dan Lia dari mulai Silvi mengeluarkan kata-katanya. Kedua ibu yang melihat suasana semakin tak kondusif, memilih membawa para bocah keluar dari sana untuk membeli makanan diluar tempat itu.
"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya Ayah Dedes.
"Nggak ada apa-apa Yah! Cuma kehilangan calon mantu doang." Balas Siska cekikikan.
Semua orang disana hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala dengan drama beberapa menit yang lalu. Mereka memutuskan akan membahas ini lagi nanti dirumah. Kemudian mereka kembali pada aktifitasnya masing-masing.
"Jadi, aku ja lang nih?" Goda Siska seraya berbisik pada sang suami, kala keduanya tengah berendam.
"Emang iya kan? Nih, dada abang ja lang semua, kamu cakar." Timpalnya membuat keduanya cekikikan.
"Ya udah, ntar malam abang siap-siap!"
"Buat apa?" Goda bang Age.
"Aku mau tunjukin, ja lang yang sesungguhnya." Ucapnya menyeringai.
***************
__ADS_1
Masih ada up nya yaa, stay tungguin okee😉 Mumpung lagi semangat ini🤠Yuk ramaikan! Jangan lupa jejaknya yaa🤗