
Siska yang shok melihat darah, langsung tak sadarkan diri. Bang Age yang melihatnya, langsung berhambur mendekatinya. Ia turunkan sang putra dari gendongannya dan beralih mengambil kepala sang istri dan memangkunya.
"Sayang bangun! Sayang!" Dengan panik Ia mencoba menepuk pipinya berulang kali.
Ibu yang mendengar jeritan putrinya langsung menghampiri bersama pak kades dan Rangga.
"Ya ampun! Sis. Kamu kenapa?" Tanya ibu menghampiri, hingga netra ibu teralihkan pada kaki bawah putrinya yang terbuka.
"Astagfirulloh. Darah!" Pekik ibu.
Bang Age yang panik tak berkata lagi, Ia gendong tubuh langsing istrinya membawanya kedalam mobil. Disusul ibu dengan menggendong dede Aska dan pak kades. Mobil dikemudikan pak kades, dengan ibu dan dede Aska didepan. Dan keduanya dibelakang. Sedangkan Rangga tak bisa ikut, karena masih ada urusan disana.
Mobil berlalu meninggalkan parkiran sekolah, menuju klinik. Tak butuh waktu lama, karena memang jaraknya yang dekat. Mobipun sampai didepan klinik.
Bang Age kembali menggendong sang istri membawanya memasuki klinik. "Bu tolong! Tolong periksa istri saya." Dengan nafas yang terengah-engah karena sedikit berlari. Ia pun menidurkan sang istri diatas brankar.
"Baik saya perikasa dulu! Kalian tunggu diluar!" Titahnya dan dijawab anggukan ibu dan pak kades.
"Gak bu! Saya mau disini, saya suaminya!" Tutur bang Age.
Akhirnya bu bidan membiarkan bang Age menemani istrinya disana. Sedangkan kedua paruh baya itu sudah keluar membawa dede Aska juga.
Sementara bidan tengah memeriksa Siska, Bang Age tak melepaskan genggamannya dari tangan sang istri dengan terus menggumamkan doa dan kata penyemangat ditelinganya. Pikirannya melayang pada dua tahun silam, dimana Ia dalam keadaan yang sama.
'Aku mohon! Jangan lagi!' Batinnya. Ia kembali merasakan kekhawatiran yang teramat luar biasa. Ketakutan yang masih terlukis jelas didalam memory otaknya, membuat Ia tak kuasa menahan air yang memaksa keluar membasahi pipinya.
"Maaf pak!" Ucap bidan membuat bang Age yang tertunduk mendongakan kepalanya.
"Sepertinya janin dalam kandungan neng Siska tak bisa diselamatkan!" Tuturnya.
Bagai tersambar petir disiang bolong. Penuturan bidan begitu menghunus tajam kedasar hatinya. Ia harus kembali merasakan kehilangan, seseorang yang sama sekali belum mereka ketahui keberadaannya.
"Istri saya hamil bu? Dan sekarang?" Ia tak meneruskan ucapannya, hingga tubuhnya seakan limbung dan hampir terjatuh kalau tak ditahan sang bidan.
"Bapak yang sabar!" Tuturnya menepuk pundak pria yang kini tengah merasakan kembali duka dihidupnya itu. "Usianya baru sekitar sepuluh hari, masih gumpalan darah. Mungkin karena benturan terlalu keras, membuatnya keluar dengan sendirinya." Timpal bu bidan membuat bang Age menghembuskan nafasnya panjang, dengan memejamkan matanya seraya air mata yang kembali luruh.
"Terus bagaimana keadaan istri saya?" Tanya bang Age.
"Neng Siska gak papa, dia hanya shok saja. Sebentar lagi Ia bisa bangun. Bapak tenang aja, neng Siska tak perlu di kuret. Saya akan memberikan resep obat untuk membersihkan kandungannya." Tuturnya dan dijawab anggukan bang Age.
__ADS_1
Setelah bidan selesai dengan pemeriksaannya, Ia pun keluar menyisakan sang pasien dan suaminya disana.
Bang Age genggam sebelah tangannya dan mencium keningnya. "Sayang! Bangun! Jangan bikin abang khawatir! Bangun ya, abang takut!" Tuturnya dengan menundukan kepalanya. Air matanya kembali jatuh seiring sakit yang menyesakan dadanya.
Perasaannya benar-benar tak karuan. Pikirannya melayang terombang-ambing dengan rasa takut dan khawatir. Hingga tangan seseorang yang memegang bahunya. Membuat Ia mendongakan kepalanya.
"Yang sabar ya nak! Ibu tau ini berat untuk kalian. Kalian harus kuat menghadapi semua ini. Kadang sesuatu yang menurut kita itu musibah, namun itu yang terbaik menurut Tuhan." Tutur Ibu.
Sebelum masuk, ibu sudah diberitahu dulu sama bidan tentang kondisi putrinya.
"Maafin aku bu. Aku belum bisa menjaga Siska dengan baik. Aku belum bisa menjaga mereka!" Ucap bang Age disela tangisnya.
Ibu mengusap punggungnya mencoba menenangkannya. "Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri! Ini sudah menjadi takdir. Kamu harus percaya akan ada hikmah dibalik segala musibah." Tuturnya dan dijawab anggukan bang Age.
Ketika ibu tengah menguatkan menantunya. Tiba-tiba saja Siska menggerakan jarinya dan mencoba mengerjapkan matanya. Hingga mengalihkan atensi mereka.
"Sayang! Kamu baik-baik aja? Apa yang sakit?" Tanya bang Age.
Siska tersenyum kearah suaminya yang tampak begitu khawatir. "Aku gak papa bang!" Jawabnya.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Ia sedikit lega melihat lengkung senyum dibibir manisnya itu. Ia kecup dahinya menyalurkan rasa bahagia dan sedihnya.
Hal itu membuat Siska merasa aneh, Ia seolah mengerti dengan kegundahan suaminya. Mungkin itu yang dinamakan ikatan batin suami istri.
"Hem!" Bang Age hanya menjawab dengan deheman, berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Abang kenapa?" Tanya Siska mendongak menatap sang suami yang sepertinya tengah menguceuk matanya.
Bang Age mendekat dan menggelengkan kepalanya. Namun mata merahnya tak dapat Ia sembunyikan.
"Abang nangis?" Tanya Siska mengusap pipi suaminya.
Bang Age memegang tangan sang istri dan menciuminya bolak balik. Siska sampe mengerutkan dahinya heran.
"Abang kenapa?" Tanyanya lagi dan bang Age tak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi Ia bendung.
"Maafin abang sayang. Maafin abang!" Sesalnya.
"Maaf kenapa? Ada apa sih? Abang ngomong dong!" Titah Siska.
__ADS_1
"Kita kehilangan dia." Tutur bang Age mengusap perutnya.
Siska terdiam sejenak, lalu mengusap perutnya. "Dia?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya! Kita sudah kehilangannya sebelum kita mengetahuinya." Tutur bang Age mencoba tegar.
Air mata Siska lolos begitu saja. "Aku. Aku?" Siska tak meneruskan ucapannya. Sang suami langsung mendekapnya, mencoba menenangkannya. Siska menangis histeris didalam dekapan suaminya.
Ibu tak mengeluarkan katanya. Ia lebih memilih keluar terlebih dahulu, membiarkan keduanya meluapkan kesedihannya. Apalagi ibu mengingat cucu sambungnya yang Ia titipkan pada pak kades diruang tunggu.
**
"Maaf pak! Jadi merepotkan." Tutur Ibu mengambil alih dede Aska yang tertidur dipangkuan calon kakek sambungnya.
"Gak papa! Saya seneng kok. Dedenya anteng." Tutur pak kades disambut senyum ibu.
"Makasih pak!"
"Kamu jangan sungkan lagi sama saya. Bentar lagi, hal apapun itu berbagilah dengan saya!" Tuturnya dan dijawab anggukan ibu. Hingga keduanya terus mengobrol, menceritakan tentang Siska dan bang Age yang belum pak kades ketahui.
**
Sementara itu kedua orang tua yang baru saja kehilangan calon buah hatinya itu, sudah mulai bisa menenangkan diri. Mulai mencoba mengikhlaskan apa yang terjadi. Bang Age terus memberi semangat pada sang istri, meskipun hatinya juga terluka.
"Bang! Dede mana?" Tanya Siska yang baru mengingat putranya itu.
Kini Ia sudah duduk dan bang Age yang tengah berusaha menyuapinya meski hanya masuk beberapa sendok.
"Dia sama pak kades, sama ibu juga."
"Emang gak rewel sama pak kades?" Tanya Siska.
"Nggak! Malah anteng kek nya."
"Kok bisa?" Tanya Siska heran.
"Lagi gladi resik biar jadi kakek sama cucu." Balas bang Age, hingga membuat senyum tipis terukir dari bibir istrinya.
*************
__ADS_1
Maaf ya baru up🙏 Hari ini begitu banyak drama, mak othor mendadak sibuk. Baru bisa nulis sekarang😪 Besok kita lanjut yaa!
Jangan lupa jejaknya juga😊