
Hari ini adalah hari keberangakatan Vani dan juga kedua orang tuanya. Bang Age dan istri beserta kedua putra putrinya ikut mengantar sahabatnya itu sampai dibandara.
"Aku bakal kangen banget sama kamu!" Pekik seorang gadis kecil pada sahabatnya itu, seraya memeluk erat tubuhnya.
"Iya, aku juga. Jangan lupain aku ya!" Balasnya dengan pelukan tak kalah erat.
"Gak akan. Sampai kapanpun aku akan selalu mengingatmu. Vanilla sahabatnya Askia." Balas Kia hingga membuat keduanya tergelak.
Keduanya pun melerai pelukannya. Vani menatap bocah tampan disamping sahabatnya dengan senyumnya yang mengembang. Ia berhambur memeluknya.
"Aku juga bakal kangen banget sama aka. Jangan lupain aku ya kak!" Ucapnya.
Aska tersenyum, lalu membeali rambut panjangnya. "Iya! Aka juga. Gak akan ada lagi yang ganggu pagi-pagi. Dan mungkin itu akan terasa aneh." Ucapnya membuat keduanya mengembangkan senyumnya.
Aska melerai pelukannya dan mengusek pucuk kepalanya gemas. "Inget! Jangan tidur disembarang tempat lagi ya! Bahu aka gak ikut." Ucapnya membuat keduanya tertawa dan dijawab anggukan bocah cantik itu.
Ternyata interaksi keduanya menjadi pusat perhatian kedua orang tua mereka yang tengah duduk diruang tunggu. Mereka tersenyum melihatnya. Hingga Lia pun mengeluarkan komentarnya.
"Uhh so sweet yang mau LDR!!!" Ucap Lia dramatis.
"Paan sih lu Li, masih kecil juga." Balas Siska terkekeh.
"Eh! Lu mah gak tau, itu tuh calon-calon bucin." Timpal Lia.
"Iya deh gue percaya." Balas Siska membuat mereka tergelak.
"Siap besanan?" Goda Ivan.
"Cih! Gak banget gue besanan sama lu. Dan gue juga gak mungkin nolak gadis cantik yang kalem kek Vani, udah type calon mantu banget itu mah." Balas bang Age membuat mereka tergelak.
"Cari yang kalem ya bang, bosen sama yang cerewet mulu?" Ejek Lia dan langsung dapat tampolan sahabatnya.
"Asyeemm lu! Kalo ngomong suka bener." Timpal Siska dan kembali membuat mereka tergelak.
*
"Satu lagi. Bertemanlah dengan siapapun! Jangan terus menutup diri!" Pesan Aska pada sang gadis.
"Siaap aka!" Balas Vani seraya memberi hormat padanya. Aska tersenyum dengan mengusek pucuk kepalanya kembali.
Hingga tiba saatnya satu keluatga itu pun menghilang dari pandangan mereka.
__ADS_1
*
Lambaian tangan terakhir dari gadis kecil itu terus terngiang dipikiran Aska. Entah kenapa rasa kehilangan itu srmakin terasa.
"Kenapa kak?" Tanya Siska menoleh dari bangku samping kemudi. Ia yang melihat sang putra menatap kosong ke arah jendela, mencoba bertanya padanya.
"Hah?! Nggak!" Jawabnya gelagapan.
"Aka sedih ya, kehilangan Vani?" Goda Kia.
"Apasih de." Balasnya
"Cie cie, kehilangan! Cieee" Kia semakin gencar menggoda sang kakak.
"Kamu tu ya, so tau!" Sangkal Aska, lalu tanpa aba-aba Ia menyerang dan menggelitiki sang adik, hingga keduanya tergelak.
Canda tawa begitu riuh dibangku belakang mobil dari kedua kakak beradik yang duduk disana. Kedua orang tuanya hanya tersenyum melihat itu.
Bang Age yang terus fokus kedepan, melirik sebentar ke arah sang istri. Ia raih tangan lembut itu dan membawanya kedepan bibirnya, lalu menciuminya bolak balik.
Siska tersenyum mendapati perlakuan itu. Meskipun usianya mereka terus bertambah, namun kebucinannya juga bertambah berkali kali lipat.
Bang Age melirik kearah sang istri yang juga menatapnya. Ia menggumamkan tiga kata yang mampu membuat sang istri tersenyum lebar. "I Love you."
*
Tak berselang lama kijang besi yang ditumpangi mereka sampai di parkiran sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sedikit keperluan mereka.
Kedua kakak beadik itu berlarian mendahului kedua otang tuanya. Bang Age merentangkan tangannya agar sang istri masuk kedalam dekapannya. Siska memeluk tubuh tegap itu dari samping, hingga rangkulan hangat dan ciuman dipucuk kepalanya Ia dapat dari suaminya.
Keduanya berjalan mesra menuju tempat belanja. Sungguh keduanya terlihat seperti anak abege lagi. Bahkan mereka tak memperdulikan tatapan sekitarnya.
"Udah bang, lepasin! Malu ih dilihatin orang." Ucap Siska.
"Ngapain mesti malu, kamu kan istri abang." Balas bang Age dengan santainya seraya mencium pipinya.
Hal itu membuat Siska merasaakn geli dan malu bersamaan. Ia sembunyikan semburat merah dipipinya kedalam dada suaminya kala atensi semua orang mengarah padanya.
"Cie, cie! Papih sama timom, cie cie!" sorakan dari sang putri menambah hawa panas dibagian wajahnya.
"Apa sih de, ihh" Rengek Siska yang merasa malu pada putrinya sendiri itu.
__ADS_1
Gelak tawa terdengar begitu renyah dari keluarga itu. Dulu gadis kecil yang selalu jadi cctv keduanya, akan merajuk jika melihat kedua orang tuanya berdekatan. Berbeda dengan sekarang, Ia sangat menyukai adegan mesra kedua orang tuanya. Katanya sih, biar nanti dia mempunyai pasangan seperti Papih dan timomnya.
Ditengah canda tawa mereka, Siska tak sengaja menabrak seorang wanita yang tengah berdiri dibelakangnya. Hingga membuat Ia terjatuh.
Brukk!!!
"Awww!!" Ringisnya.
"Maaf! Maaf! Aku gak sengaja." Sesal Siska dengan segera menjulurkan tangannya untuk membantunya berdiri.
Wanita itu mendongak dan betapa terkejutnya Siska melihat siapa wanita yang Ia tabrak. Seseorang yang sudah lama tak pernah Ia lihat. Bahkan Ia berfikir, dia tak akan kembali.
"Hanna!!" Pekik Siska menutup mulutnya merasa tak percaya.
"Kak Siska!!" Pekiknya tak kalah shok.
Siska segera membangunkan tubuh tinggi nan modis itu. Kemudian berhambur memeluknya erat. Begitupun sebaliknya, Hanna ikut mengeratkan dekapannya.
"Kamu apa kabar? Kenapa baru kembali?" Cecar Siska.
Dulu, setahun setelah pertemuannya bersama Rangga. Selama itu pula keduanya menjalin sebuah hubungan. Waktu itu Hanna masih duduk dikelas sebelas. Jadi Rangga berencana untuk menunggunya sampai lulus sekolah. Namun takdir tak ada yang tau. Saat Hanna memasuki kelas dua belas, Ia dibawa paksa oleh ayahnya entah kemana tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya secarik surat yang menyatakan dia pergi bersama sang ayah.
Perceraian antara Ayah dan bundanya, membuat Ia selalu menjadi perebutan keduanya. Hingga pada saat itu, Hanna kembali dibawa oleh sang Ayah tanpa ada kontek sama sekali. Sampai Rangga ikut mencari diberbagai tempat yang pernah ayah Hanna singgahi, namun nyatanya nihil. Sang bunda pun sampai sakit-sakitan hingga dibawa putra sulungnya kembali ke kotanya.
Dan sekarang tiba-tiba saja takdir mempertemukan lagi Hanna dengan Siska disana. Hanna yang sudah terlanjur dekat dengan keluarga Rangga tentu dekat juga dengan Siska, bahkan Ia sudah mengklaim wanita didepannya sebagai kakak iparnya.
.
"Sebenarnya apa yang terjadi Han?" Tanya Siska pada gadis yang tengah duduk disebarang meja.
Kini keduanya tengah berada disebuah kafe, disebrang mall. Mereka memilih untuk mengobrol berdua, tanpa bang Age dan para bocah disana.
"Ceritanya panjang kak." Ucapnya sendu.
"Apa kamu baik-baik aja?" Tanya Siska lagi dan dijawab anggukan Hanna.
"Apa kamu masih mengingat Rangga?" Tanyanya lagi hati-hati.
"Tentu. Tak terlewat sedetik pun, untuk mengingat dia." Lirihnya sendu.
****************
__ADS_1
Jangan bingung, kita belok dulu ke bang Rangga! Kasihan dia belum dikawinin🤣🤣
Yuk jejaknya jangan lupa yaa🤗