Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 132 Besok nikah!


__ADS_3

"Maaf!"


Semua orang tercengang mendengar satu kata yang terucap dari mulut sang bunda. Rangga yang tau alasannya hanya membuang nafasnya pelan. Mengingat Ia belum menceritakan kondisi kekasihnya pada sang ayah, akankah ayah dan ibunya tetap merestui?


Rangga mulai pasrah saat sang bunda kembali mengeluarkan kalimatnya, dengan terus memperhatikan ekspresi wajah kedua orang tuanya. Akankah mereka bisa menerima keadaan gadisnya? Pikirnya.


"Jadi begitu, pak, bu! Saya gak ingin ada kebohongan. Saya takut kalian malah tau dari orang lain, dan merasa kecewa pada putri saya." Tutur bunda.


Terdengar helaan nafas panjang dari bibir pria paruh baya yang masih tampak gagah diusianya itu. Rangga menggenggam tangan sang gadis yang duduk disampingnya. Ia benar-benar takut akan kembali kehilangan cintanya itu.


"Itu terserah keluarga Rangga, mau menerima segala kekurangan adik saya atau tidak. Kami tak akan menutup-nutupi, memang seperti inilah kenyataannya." Bang Haris ikut menimpalinya.


Ayah Dedes menatap pada sang putra, hingga mata keduanya terkunci. Ibu menoleh dan mendapati suaminya yang hanya diam, Ia pun menggenggam tangannya agar kembali bersuara.


Lagi-lagi sang ayah menghembuskan nafasnya panjang, seraya menatap sepasang sejoli itu bergantian. "Maaf!"


Satu kata yang sama seperti yang bunda ucapkan kembali terdengar dari bibir Ayah. Semua kembali dibuat shok akan hal itu.


"Tapi Yah-" Rangga hendak melayangkan protesannya. Namun segera disela sang Ayah.


"Ssuutt!" Ayah mengisyaratkan putramya untuk diam dengan mengangkat jari telunjuknya kedepan.


Semua orang tampak pasrah mendengar itu. Bahkan wajah Rangga tampak frustasi dibuatnya. Ia benar-benar tak sanggup jika harus menerima kenyataan pahit lagi.


"Maaf say-" Belum selesai penuturan sang ayah, Rangga kembali menyelaknya.


"Baiklah! Kalo gitu." Ucap Rangga berdiri dengan menggenggam tangan kekasihnya hingga Ia ikut berdiri.


"Tanpa restu kalian, kita tetap akan nikah!" Tegas Rangga membuat kedua orang mereka tercengang.


"Nak!" Peringat sang ibu.


"Maafin aku bu. Kali ini aku menentang keputusan ayah." Ucapnya, lalu Ia beralih berhadapan dengan gadisnya. "Aku gak ingin kehilangan cintaku untuk kedua kalinya." Lanjutnya menatap dalam mata sang gadis.


Ayah menghembuskan nafasnya seraya menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja gatal melihat drama putranya itu.


"Jadi a-"


"Suuuuttt!!!" Dengan keras ayah meninstruksi Rangga agar diam.


"Kamu tu bisa diem gak sih? Ayah belum selesai ngomong." Selak sang Ayah.

__ADS_1


"Bilangnya pengen dilamarin. Kalo kamu bisa lamar sendiri, kenapa ajak ayah?" Omelnya dan langsung dapat penenangan dari sang istri dengan mengusap lengannya.


Rangga terdiam menatap tajam sang ayah yang tengah menggerutu kesal. Si empunya rumah sudah melipat bibirnya melihat tingkah ayah dan putra ini.


"Ngeselin banget ini anak. Orang tua lagi ngomong, bukannya didengerin. Ini main tikung aja. Dikira balapan apa?" Gerutunya.


Ibu yang merasa malu dengan keduanya, terus berusaha menenangkannya. "Udah Yah udah! Jangan ngomel mulu. Lanjutin obrolannya!" Bisiknya.


"Jadi bu," Ayah terdiam sejenak. "Tadi udah sampai mana ya? Lupakan jadinya!" Gerutunya.


Gerutuan sang ayah membuat tuan rumahnya kian terkekeh. Sungguh absurd keluarga calon besannya ini. Begitupun Rangga, Ia dibuat melongo dengan tingkah ayahnya.


"Baru samapi Maaf, Yah!" Bisik ibu lagi mengingatkan.


"Oh iya!" Ayah berdehem terlebih dahulu untuk kembali memulai obrolan.


"Jadi begini bu, saya langsung ke intinya saja. Takut ucapan saya ditikung lagi ya." Kekehnya membuat suasan kian hangat.


"Saya gak pernah mempersalahakan status atau apapun itu, yang penting dia sayang sama putra saya. Dan saya merestui mereka." Ucapnya membuat mereka serempak mengucap syukur.


"Tapi," Ayah kembali memberi jeda membuat mereka kembali tegang. "Kenapa saya tadi bilang Maaf?"


"Maaf ya bu, karena pernikahannya harus digelar besok. Mengingat putra saya yang sepertinya sudah kepepet, pengen cepat halal, jadi kita harus menggelarnya dadakan." penuturan Ayah membuat bunda dan sang abang shok.


"Maaf pak! Apa ini gak kecepetan? Bukannya kita harus mempersiapakan segalanya dulu?" Tanya bang Haris.


"Nggak nak! Soal penghulu dan keperluan dokumen-dokumen sudah saya atasi. Mungkin tinggal tempat dan segala rupanya saja." Balas Ayah dan diangguki sang abang.


"Soal katering makanan, bunda gak perlu kahawatir, emak-emak readers sudah bantu siapin juga." Balas ibu pada sang bunda dan diangguki olehnya.


"Kamu jangan berdiri aja! Buruan sana cari mas kawin sama baju pengantinnya. Katanya pengen cepet-cepet." Titah Ayah membuat mereka tertawa.


Rangga menghembusknan nafasnya panjang. Ternyata sang ayah begitu apik menyusun segalanya dalam sekejap mata. Ia menatap sang ayah kesal sekaligus bangga. Hingga entah tatapan apa yang Ia berikan.


"Baiklah kita akan berangkat sekarang!" Tuturnya. "Yuk Han!" Iapun berlenggang pergi dengan mengagandeng tangan kekasihnya.


Setelah kepergian sepasang calon pengantin itu, kini keempatnya tengah menyusun segala persiapan untuk besok.


*


"Hah?! Serius bu?" Pekik seorang wanita yang tengah bergulat dengan spatula dan wajannya.

__ADS_1


"Iya." Jawab ibu yang tengah ikut memotong sayuran.


"Gercep juga ya? Tapi syukur deh. Kasihan dia tuh bu, dia udah kek mayat hidup." Balas Siska.


"Iya. Tapi ibu bingung nih buat hantarannya gimana ya?" Tanyanya.


"Ibu tenang aja. Habis masak kita tancap gas ke mall." Balas Siska dan diiyakan sang ibu.


Setelah berunding dengan calon besannya. Kini ayah dan ibu mengunjungi kediaman putrinya, untung persiapan besok.


Tak ada undangan resmi seperti biasanya, hanya lewat sambungan telepon semua keluarganya diberitahu.


Setelah selesai memasak, ketiga orang dewasa itu berangkat menuju tempat perbelanjaan tanpa para bocah. Meski sudah pulang dari sekola mereka tak mau ikut pergi dan memilih untuk bermain bersama sang om.


"Om! Yang ini gimana caranya?" Tanya Kia pada samg om.


Kini kedua bocah dan anak remaja itu tengah sibuk dengan buku dan pulpennya. Mereka tengah mengerjakan PR nya masing-masing.


"Mana sini, om lihat!" Pinta Rei.


Dengan cepat gadis kecil yang masih mengenakan seragamnya itu mendekat dengan membawa buku ditangannya. "Nih! Om." Ia menyerahkan bukunya pada pemuda disampingnya.


Rei melihat buku ponakannya hendak melihat PR yang tengah dikerjakan oleh gadis cantik itu, namun atensinya menangkap sesuatu yang membuat Ia menarik satu sudut bibirnya.


"Gimana om?" Tanya Kia.


"De, ini apa?" Bukan menjawab, Rei malah balik bertanya seraya menunjuk tulisan diujung kertas itu.


"Oh ini tu, nama aku sama om." Balas Kia membuat Rei tersenyum.


"Kenapa nama om?" Tanyanya.


"Karena aku mau terus sama om. Sampai nanti." Balasnya membuat sang om tertawa.


"Terus kalo nanti om nikah, dede gimana?" Goda Rei.


"Gak gimana-gimana." Balasnya santai.


"Kok gitu?" Tanya Rei heran.


"Karena om bakal nikahnya sama aku!" Balas gadis cantik itu dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


***************


Yuk ramaikan! Mau nikahin si om Rangga nih😍


__ADS_2