Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 114 Bau candu


__ADS_3

Pasangan suami istri itu tengah merebahkan diri diatas sofa, setelah acara jemur menjemur tempat tempur yang hampir saja basah kuyup. Kini benda berbentuk balok itu sudah stay didalam kamar, diatas ranjang.


"Ya ampun bang, cape banget!" Keluh Siska dengan nafas yang sudah senen kemis.


"Baru juga nyiapin tempatnya, belum kita pake tempur, tapi udah cape banget." Lanjutnya membuat sang suami tersenyum seraya menarik kepala sang istri disampingnya, dan menempelkan didadanya.


"Ihh! Bang gerah!" Siska memberontak hendak melepaskan kepala dari dekapan suaminya.


Dengan jahilnya, bang Age semakin melesakan kepala sang istri kedalam ketiaknya, dan memeluknya semakin erat. Siska semakin berontak dan sukses membuat dirinya tergelak.


"Bang Ihhh!!" Siska akhirnya bisa keluar dari dekapan suaminya, kala gelak tawa membuatnya memegang perut.


"Asyeeemm!!" Rengekan sang istri semakin membuat bang Age tergelak.


"Udah ah, mandi sana! Abang bau." Ledeknya seraya menjauh dan tergelak.


"Bau ya? Sini cium yang bau!" Bang Age hendak mendekat, namun Siska semakin menjauh.


"Nggak mau, bau! Wlekk!" Ejeknya berlari.


"Awas ya!" Bang Age ikut berdiri dari sofa dan berdiri disebrang sang istri yang terhalang kasur. "Sini! Sini!" Ucapnya seraya menggerakna tangannya.


"Nggak mau, paling dikasih yang asyem. Moh ah!" Tolaknya terkekeh.


"Kamu gak tau aja, yang asyem tu lebih enak!" Balasnya.


"Masa?" Ledek Siska.


"Buktinya, masih banyak tuh yang makan baso pake cuka. Itu yang asam kecut aja, digemari. Lah ini, asyemm legit. Masa gak mau?" Jelas bang Age.


"Udah cepet sini!" Titahnya lagi dan hanya dijawab gelengan kepala oleh sang istri.


"Wah bener-bener nih! Minta dihajar ya?!" Bang Agr pun mendekat, namun Sisa kembali mengelak.


Hingga aksi kejar-kejaran pun tak dapat dihindari keduanya. Gelak tawa begitu renyah dari dalam kamar, kala bang Age dapat menangkap tubuh sang istri dari belakang dan membantingkan tubuh keduanya ke atas kasur yang baru saja keduanya benahi.


"Beneran gak mau yang bau?" Goda bang Age.


"Nggak!" Timpal Siska disela gelak tawanya.


"Yakin? Ini bau bikin candu? Beneran gak mau?" Godanya lagi seraya menggelitiki perut istrinya. Namun Siska hanya tergelak tanpa mampu mengucapakan kata-katanya.


"Udah bang! Udah!" Pintanya dengan suara tertahan, yang dapat diyakini kalau perutnya sudah kram.


Bang Age menghentikan aksinya dan membalikan badannya. Hingga posisinya berbalik, dan dirinya berada diatas istrinya.


"Masih mau nolak yang bau?" Goda bang Age dan hanya dijawab gelengan kepala sang istri.


"Good girl."


Tanpa aba-aba Ia menyambar bibir ranum sang istri, melu mat nya lembut. Menghasilkan decapan yang menjadi irama merdu ditengah guyuran hujan.

__ADS_1


Bang Age menghentikan sekejap aktifitasnya, menarik kaos yang melekat ditubuhnya. Untuk kedua kalinya Ia harus mengulang aktifitas itu. Kemudian membuangnya kesembarang arah. Lalu tangannya bergerak juga menarik kaos sang istri dan melemparnya pula.


Hawa kian memanas dari aktifitas yang tengah mereka lakukan didalam sana. Guyuran hujan begitu mendukung ritual mencari pahala yang sangat sulit untuk keduanya tolak.


Hingga entah dimenit ke berapa keduanya dapat menghentikan acara pengobrak abrikan martabak sepesial yang masih saja utuh meski si jack sudah menyantapnya.


Napas keduanya terdengar sudah senen kemis, peluh membanjiri tubuh keduanya. Menandakan betapa dahsyatnya ritual mencari pahala itu.


"Mau ngulang?" Tanya bang Age dan dijawab gelengan kepala oleh sang istri.


Bang Age terkekeh seraya menarik tubuh sang istri kedalam dekapannya. Dan menciumi rambut basahnya. Hingga suara dering dari layar pipihnya, mengalihkan atensi mereka.


"Ada telepon bang!" Ucap Siska yang sulit sekali untuk bangun, bahkan hanya sekedar membuka matanya.


"Udah biarin aja!" Balasnya yang kian mengeratkan dekapannya.


"Angkat bang, takut anak-anak rewel!" Titah Siska.


Dengan terpaksa, Ia pun mengambil layar pipih yang sedari tak berhenti berdering di atas nakas. Ia melihat siapa yang menelpon hingga sebelah alisnya terangkat. Ia membolak balikan benda ditangannya, ternyata itu milik sang istri.


Siska yang masih juga mendengar nada dering dari layar pipih miliknya membuka matanya. "Duh bang, angkat dong berisik!" Omelnya namun sang suami masih saja terdiam dan menatap layar itu.


Siska yang heran ikut terbangun dengan menarik selimut keatas untuk menutupi dua buah kembarnya. "Bang! Siapa sih?" Ia rampas Hp miliknya dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Rangga?" Heran Siska.


"Kenapa mau diangkat?" Sindir bang Age.


Bang Age mengambil kembali layar itu dan menekan icon merahnya disana. Siska dibuat melongo karenanya. Sang suami sepertinya cemburu melihat siapa yang menghubungi dirinya.


"Kok ditolak bang?" Tanya Siska polos.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. "Terus mau diangkat gitu? Ngapain? Mau dengerin gombalan recehnya? Mau-" Belum selesia ucapannya, bibirnya sudah kembali disambar istrinya.


"Berisik deh bang! Udah yuk tidur, aku ngantuk! Ngomel mulu." Protesnya.


"Mancing nih?" Goda bang Age


"Nggak! Aku gak punya kail." Jawabnya hingga terdengar decakan kesal dari sang suami.


Suara dering kembali terdengar. Sepertinya si penelpon tak mau ngalah, hingga terus mencoba menghubunginya.


"Ini pasti anak-anak deh, bang. Angkat gih, takut penting!" Titah Siska.


Akhirnya bang Age pasrah dan menekan icon hijau itu. Hingga wajah seorang pemuda nampak memnuhi layar itu. "Ada apa?" Tanyanya.


Rangga yang melihat kakak iparnya yang hanya telanjang dada, hingga memamerkan dada bidang berotot dan roti sobeknya tersenyum kecut. Tau apa yang sudah kakaknya itu lakukan membuat Ia menghembuskan nafasnya panjang. Apalagi Ia melihat cakaran-cakaran manja dibagian dada itu, sungguh hal itu masih sedikit menyentil hati kecilnya.


"Kalian dimana? Tadi dede minta nelpon timomnya." Ucapnya.


"Emang kalian udah pulang?" Bukan menjawab, bang Age malah balik bertanya dan dijawab anggukan pemuda disebrang sana.

__ADS_1


"Terus mana dedenya?" Tanya bang Age lagi.


Rangga memanggil sang ponakan yang sepertinya keluar kamar. Hingga layar itu penuh dengan putri kecilnya.


"Pih ana?" Tanyanya.


"Disuatu tempat!" Balasnya.


"Timom ana?" Tanyanya lagi.


"Timom lagi dikamar mandi." Balasnya dan dijawab anggukan balita cantik itu.


"Papih sama timom malam ini gak pulang ya. Gak papa kan?" Izinnya pada sang putri.


"Nda papa Pih. Dede juda mau mbo cama om. Boweh ya!" Izin sang putri


"Sama om yang mana?" Tanya bang Age merasa khawatir.


"Cama om yey!" Balasnya.


"Kalo itu gak papa. Asal jangan sama om Rangga ya!" Jelas bang Age


"Kenapa emangnya kalo sama gue?" Bukan Kia tapi Rangga yang menjawab.


"Takut lu apa-apain." Ledek bang Age.


"Enak aja. Emang gue pedofil kek lu." Ledek Rangga balik.


"Sialan. Maksud lu, gue pedofil gitu?" Sungut bang Age tak terima dan disambut kekehan Rangga.


"Buat yang merasa aja." Balasnya lagi membuat bang Age berdecak kesal.


"Sebenarnya gue takut lu baper kalo tidur sama putri gue." Jelas bang Age.


"Kenapa?" Tanya Rangga heran.


"Kan dede fotocopyan timomnya!" Penuturan bang Age sukses membuat pemuda disebrang sana geram, hingga tanpa persetujuan Ia pun memutuskan sambungannya secara sepihak.


*****************


Yuk yang mau ngasih kopi bolehlah, buat gadang malam jumatan🤭



Si abang makin hot🙈🤣🤣


.



Timomnya makin sexsoy🙈🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2