Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 74 Anak ajaib


__ADS_3

Sementara bang Age tengah sibuk dengan pot dan tanaman yang berserakan. Sang istri tengah disibukan dengan ketiga balita yang tengah menggambar sesuatu diatas kertas polos yang disiapakn Mamanya.


Rencananya ketiga balita ini sudah didaftarkan sang Mama untuk mengikuti lomba. Dan sekarang ketiganya tengah latihan menggoreskan pensil warna pada gambar yang sudah timomnya itu buat. Dengan semangat ketiganya melaksanakan perintah timomnya.


"Ayo cepat kalian warnai! Siapa yang bisa mewarnai dengan cepat dan rapih. Timom kasih sesuatu!" Titahnya.


Bahkan latihan ini dibuat ajang perlombaan oleh kedua balita tampan itu. Sedangkan si princess dengan santai dan anggunnya, menggoreskan pewarna pada gambarnya.


"Dede kenapa pelan banget? Ntar keduluan loh sama aka-akanya!" Goda Siska pada balita perempuan satu-satunya disana.


"Nda papa timom. De mau bitin lapi." Celotehnya.


Biarpun usianya jauh dari aka-akanya, namun Sena sudah sedikit lancar berbicara. Bahkan bahasa pelanetnya menyaingi aka-akanya yang kadang masih belum dipahami itu.


Siska tersenyum mendengar celotehannya itu. Ia usap sayang kepalanya dan mencium pucuk kepalanya.


"Timom! Aka dah sewesai." Pekik Shaka dengam heboh menghampiri timomnya.


"Mana coba timom lihat!" Siska meminta kertas yang dibawa Shaka. Hingga Ia pun menyerahkannya.


"Hole! Aka menang!" Jingkraknya dengan riang.


Siska kembali dibuat tersenyum dengan tingkah bocah-bocah menggemaskan ini. Ia lihat hasil karya dari putra sulung bang Ar itu, dan hasilnya membuat Siska terkejut.


"Ya ampun kak!" Pekiknya.


"Napa timom?" Tanyanya tanpa dosa.


"Ini kenapa malah luarnya yang diwarnai? Bukannya gambarnya?" Tanya Siska tercengang dengan hasil gambar balita didepannya itu.


"Itu benel timom. Kan mbe walnana putih. Jadi Aka nda kasih walna. Pintel kan aka?" Penututan Shaka membuat Siska menganga.


Ini sebenarnya bocah ini yang terlalu pinter, atau dirinya yang salah memberi gambar? Pikirnya. Hingga Ia hanya menghembuskan nafasnya pasrah.


"Ya udah lah! Nih!" Siska mengembalikan gamabarnya pada balita tampan didepannya itu.


"Yeye! Aka menang! Mama Aka menang!" Teriaknya berjingkrak sambil berlari kearah dapur untuk menunjukan hasil karyanya pada sang Mama.


Siska hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Putra sulung adik iparnya ini bener-bener luar biasa. Entah seperti apa tanggapan Mamanya itu, melihat hasil karya putranya. Namun sepertinya drama anak ibu itu akan segera dimulai.


"Timom! Aka udah." Aska memberikan kertas hasil karyanya pada timomny itu.


Siska mengambilnya dan tersenyum melihat hasil karya putranya itu. Sungguh luar biasa. Putranya ini sudah banyak menonjolkan kepintarannya dari dini. Selain pandai berhitung dan membaca meski masih cadel. Dalam menggambarpun Ia sama pintarnya.


Diusianya yang masih tiga tahun, tentu membuat kebanggaan tersendiri untuknya. Ia merasa berhasil menjadi guru untuk putranya itu.


"Aka pinter!" Puji Siska mengusek pucuk kepalanya. "Putranya siapa sih?" Godanya menoel hidungnya gemas.

__ADS_1


"Timom!" Balasnya dan langsung mendapat hujaman ciuman diwajah tampannya dari ibu sambung rasa ibu kandungnya itu.


Siska bahkan mendekap tubuhnya, hingga membuat Aska tergelak. Siska melerai pelukannya, namun tanpa diduga Ia mendapatkan kecupan manis dipipinya dari sang putra.


"Ayang timom!" Ucapnya dan tersenyum.


Siska ikut tersenyum dan kembali mengelus pucuk kepalanya sayang. "Timom juga sayang Aka!"


Ternyata interaksi keduanya tengah diperhatikan balita perempuan yang dengan sengaja menghentikan aktifitasnya. Ia menatap heran keduanya dengan mata yang berkedip lucu.


Siska yang tak sengaja melihatnya, beralih bertanya padanya.


"Dede kenapa?" Tanya Siska.


"Aka boweh tium timom?" Tanya Sena.


"Iya boleh dong. Kenapa hem?" Tanya Siska heran.


"Aka Sa nda boweh tuh tium Mama." Timpal Sena membuat Siska menaikan alisnya sebelah.


"Kenapa?" Tanyanya semakin heran.


"Cuka malahin Papa. Katana Aka nda boweh tium Mama" Tuturnya membuat Siska semakin heran.


"Kok gitu?"


Ini sebenarnya ada apa dengan keluarga bang Ar? Kenapa anak-anaknya bisa seluar biasa itu?


Siska sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus menanggapi apa, bocah cantik didepannya itu.


"Ya udah Dede lanjutin lagi mewarnainya ya!" Titahnya mengalihkan perhatian.


Akhirnya balita cantik itu kembali pada aktifitasnya dengan dibantu Aka kesayangannya.


Dan benar saja drama ibu dan anak itu sudah dimulai. Suara Mama Ay dan Shaka yang memasuki ruangan dari dapur, begitu memekik di indera pendengarannya.


"Ya ampun Aka, bukan gini filosofinya." Omel Ayra pada sang putra.


"Aka benel Ma. Timom na kasih mbe." Bela Shaka pada dirinya sendiri.


"Kan mbe juga bisa diwarnai. Mbe juga gak cuma putih. Ada yang item, ada juga yang coklat bulunya." Tutur Ayra.


"Tapi kan tuma putih yang Aka tau." Elaknya lagi tak mau kalah.


"Ya ampun!" Ayra sampai menepuk jidatnya mendengar penuturan putranya.


"Udah-udah! Nanti timom bikinin lagi gambarnya ya! Sekarang Aka main aja dulu ya." Ucap Siska menengahi.

__ADS_1


Akhirnya Shaka berlalu pergi meninggalkan kedua ibunya, menyusul kedua saudaranya yang sudah bermain dihalaman belakang.


Ayra merebahkan dirinya disofa sembari memijit pelipisnya yang terasa berat. "Gue pusing Sis, anak-anak gue makin hari makin ajaib semuanya." Keluhnya.


Siska terkekeh mendengar penuturan adik iparnya itu. "Sabar kak! Namanya juga anak-anak." Tuturnya menenangkan.


"Gue gak habis pikir aja, kenapa gak ada yang menuruni sifat bang Ar. Apalagi Shaka, kenapa dia kek abang sih ngeselin banget. Bingung gue?" Keluhnya lagi.


Siska tertawa mendengrnya. "Ya kan abang Papihnya juga. Lagian karakter mereka kan beda-beda. Ada Aska kan yang sama kek bang Ar." Tuturnya.


Padahal Ia sempat berfikir yang sama tentang kedua putra dan putri adik iparnya itu. Namun Ia juga melihat sisi baik dari keunikan keduanya.


Ayra masih memijit pelipisnya hingga suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Timpal keduanya serentak.


Bang Ar yang baru pulang dari perkebunan menghampiri keduanya. Ayra dengan sigap meraih tangannya dan menciumnya takzim. Tak lupa juga Ia memberikan sun selamat datang untuk sang suami. Bahkan Ia melupakan Siska disana. Sungguh kebucinan yang tak ada obatnya. Pikir Siska dengan gelengan kepala.


"Kamu kenapa? Kok mukanya kusut gitu?" Tanya bang Ar.


"Belum abang setrika." Timpalnya manja dengan memeluk tubuh suaminya.


"Baru juga ditinggal dua hari." Goda bang Age seraya menarik hidungnya.


"Aku tuh gak bisa jauh dari abang. Kangen juga buat ngamer. Mak othor nih tega bener, kita gak dibikinin part ngamer. Fokus mulu sama si abang duda." Protesnya membuat sang suami tergelak.


"Ya udah ntar kita sogok dulu mak othornya pake kopi!" Tuturnya terkekeh. "yuk ngamer!" Ajak bang Ar membuat keduanya tergelak.


Siska hanya menghenbuskan nafasnya panjang. "Inget sikon woy!" Protesnya dan semakin membuat keduanya tergelak.


Bang Age yang baru memasuki ruangan tiba-tiba ditempelin sang istri. Hingga lengannya digelayuti manja olehnya.


"Ada apa yang?" Tanya bang Age heran.


"Kita ngamer duluan, takut keduluan mereka!" Penuturan sang istri sukses membuatnya tersenyum lebar. Tanpa kata lagi, Ia pun menggendongnya dan membawanya keatas ranjang.


**************


Ayo dong jejaknya yang rame, tiga episode ya! No PHP! Kasih apa kek ini mak othor🤭




Lagi disponsori Hape😂

__ADS_1


__ADS_2