
"Lagian kalian sih, sibuk kok ribut! Sibuk tuh uwu-uwuan! Lihat nih, belajar dari suhunya!" Ledek Siska dengan mengecup bibir suaminya lalu tergelak.
Lia hanya mencebikan bibirnya, kala mendengar ledekan bestie somplaknya. Ia bangun seraya menarik tangan pria disampingnya.
"Yuk a! Kita kesana. Kita habisin waktu BERDUA!" Tutur Lia dengan menekan kata terakhirnya seraya berlalu menghindari lemparan sendal jepit dari bestienya dan tergelak.
"Kurang asem lu! Gue sumpahin lu bakal cepat punya anak!" Teriak Siska seraya melempar sendal jepit yang Ia pakai.
"Udah yang! Gak usah ditanggepin." Titah bang Age.
"Tapi tu anak ngeslin banget bang!" Omelnya.
"Bertahun-tahun sahabatan, baru nyadar kalo dia ngeselin?" Tanya bang Age membuat sang istri cemberut.
"Tadi kita titipin aja ya Aka sama Mamih?" Tanya bang Age merasa tak enak pada sang istri yang mungkin saja menginginkan waktu untuk berdua.
Siska menoleh mendengar penuturan suaminya dan mengerutkkan dahinya. "Paan sih bang? Jangan ikutan ngeselin deh! Aku akan bawa Aka kemana aja, gak ada ya titip menitip, kecuali urgent." Protesnya.
Bang Age tersenyum mendengar tanggapan istrinya. Ia lupa sang istri terlampau beda dari wanita pada umumnya. Ia usap pucuk kepalanya gemas. Menariknya kedalam dekapannya.
"Iya abang tau. Udah jangan marah-marah mulu. Kasihan dede bayinya!" Bujuk bang Age dan dijawab anggukan Siska.
"Timom!"
Panggilan dari putra kesayangannya membuat keduanya menoleh.
"Aka udah bangun? Sini!" Tanyanya seraya merentangakan tangannya.
Aska bangun dari tidurnya dan menghampiri kedua orangtuanya. Ia ikut duduk diatas pangkuan Papihnya, dan menyandarkan dirinya didada papihnya. Sepertinya kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
Siska mengambil sesuatu dari dalam tas khusus yang Ia bawa dan menyerahaknnya pada sang putra.
"Nih! Aka mimi dulu ya!" Ucap Siska menyerahkan tumbler berisi susu didalamnya yang telah Ia buka tutupnya.
Aska menerimanya dan mulai meminumnya. Bang Age kembali tersenyum melihat interaksi anak dan ibu ini. Hingga tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.
"Hai! Maaf, apa boleh aku meminta tolong?" Tanyanya.
Siksa menoleh memindai penampilan si wanita. Sepertinya Ia type wanita penggoda, terlihat jelas dari penampilannya yang hanya memakai hotpants ketat nan pendek dengan tanktop tipis ketat hingga dua buah semangkanya sedikit menyembul terlihat.
Bang Age tak menjawab, Ia hanya fokus pada putra dipangkuannya seraya mengajaknya bercanda.
__ADS_1
"Mas! Saya disini loh! Saya mau meminta tolong!" Tuturnya sedikit menunduk untuk melihat pria tampan didepannya.
"Maaf mbak! Apa yang bisa kami bantu?" Tanya Siska sebiasa mungkin dengan menampilkan senyuman termanisnya.
"Maaf de. Saya hanya butuh bantuan mas nya!" Jawabnya.
Siska menghembuskan nafasnya kasar, sudah dapat Ia duga. Pastilah wanita sexy itu ingin menggoda sumainya.
"Bantuan seperti apa yang hanya bisa dilakukan abang saya?" Tanya Siska yang sengaja memancing si wanita tanpa menyebutkan status keduanya.
"Ihh, adek mana ngerti. Ini tuh masalah orang dewasa." Jawabnya dan dijawab oh ria oleh Siska.
"Mbaknya pengen PDKT ya?" Tanya Siska dan dibalas senyuman yang entah lah dari si wanita.
"Sini saya bisikin, triknya!" Titah Siska dan si wanita menunduk ingin mendengar penuturan wanita didepannya.
"Ikut saya kesana yuk!" Ajaknya menunjuk tepi pantai.
"Ngapain?" Tanya si wanita heran.
"Saya lelepin!" Teriaknya membuat si wanita shok mendengar teriakan yang memekik ditelinganya.
Siska berdiri dari duduknya seraya berkacak pinggang. "Kalo mbak nya butuh healing, disini emang tempatnya. Tapi kalo mbaknya butuh buat otak traveling, noh cari diclub malam. Dipinggir jalanan juga banyak." Teriak Siska lagi, membuat atensi orang-orang mengarah pada mereka.
"Udah yang jangan teriak-teriak terus, kasihan sama dede bayinya!" Ucap bang Age seraya merangkul pundak istrinya dan mengelus perutnya.
Si wanita membelakakan matanya melihat perlakukan pria yang tengah menjadi incarannya itu. Apalagi mendengar penuturan pria didepannya, seketika membuatnya pergi menahan malu.
"Yang kek gitu biarin aja, anggap aja angin lalu. Kamu tuh wanita berharga, jangan sampai penuturan kasar menjadikanmu sama sampahnya dengan wanita yang mengobralkan harga dirinya." Penuturan pedas dari bang Age mampu mengusir ulat bulu yang tengah kepanasan itu.
Siska tersenyum kearah suaminya. Ia baru mengingat suaminya bukanlah type pria manis dengan segudang rayuan atau gombalannya. Suaminya adalah pria yang memiliki sejuta kosa kata yang mampu menaklukan lawan bicaranya dengan kalimat pedasnya.
Ia peluk tubuh tegap itu, merasa dirinya paling dicintai sungguh membuatnya teramat bahagia. Aska ikut berhambur memeluk kaki keduanya.
"Foto-foto disana yuk bang!" Ajaknya menggandeng tangan suami dan putranya menuju tepi pantai. Dan diiyakan suaminya.
Aska pun ikut kegirangan dan berjalan cepat menyeret timomnya. Hingga ketiganya sampai diatas pasir yang terkena deburan ombak menyentuh kakinya.
Gelak tawa begitu riuh dari keluarga yang nampak manis itu. Ikatan darah tak membuat anak dan ibu ini memiliki benteng untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Bahkan keduanya tak terlihat seperti anak dan ibu sambung. Dilihat dari wajahnya, ada beberapa kemiripan dari keduanya.
Hal itu mengingatkan bang Age ke beberapa tahun silam. Dimana dirinya dan sang istri pertama kali bertemu. Siska yang pernah mengeluarkan sumpah serapahnya, menginginkan calon putra sang abang yang akan mirip dengannya ternyata terkabul sudah. Kian hari, sang putra kian banyak kemiripan dengan timomnya. Bang Age tersenyum mengingat hal itu. Dan inilah yang disebut takdir yang tak dapat dihindari.
__ADS_1
"Bang!" Sapa Siska kala ketiganya tengah membangun kastil pasir, keinginan sang putra.
"Hem? Apa?" Tanya bang Age.
"Abang inget gak? Dulu abang gak akan mungkin suka sama bocil kek aku?" Tanya balik Siska mengingatkan kenangannya dulu.
"Emmm!" Bang Age tampak berfikir. "Emang iya pernah bilang gitu?" Tanyanya.
Padahal Ia tentu mengingat jelas, betapa kerasnya Ia menolak pesona sang istri. Hingga akhirnya egonya runtuh dan lebih memilih memperjuangkannya.
"Ihh abang mah pelupa! Dulu kan abang ampe nolak aku mentah-mentah. Dan abang tau? ini tuh adalah karma baik buat kita." Titur Siska membut sang suami tersenyum.
"Ya ini karma khusus buat abang, karena nganggurin gadis imut, penyemangat dan pelengkap abang." Tuturnya membuat Siska tersenyum. "Dan ini karma baik yang patut abang syukuri." Lanjutnya.
Siska menubrukan dirinya hingga kastil yang tengah dibuat berhamburan lagi.
"Timom!" Pekik Aska kala melihat timomnya merusak maha karya dirinya dan sang Papih.
"Aduh maaf sayang timom gak sengaja!" Ucapnya merasa bersalah. Apalagi melihat mata mungilnya yang sudah berkaca-kaca.
"Ntar Papih bikinin lagi. Ya gak Pih?" Bujuknya dan diiyakan olehnya.
Akhirnya dengan segala bujuk rayu Aska kembali ceria, timomnya paling bisa membuat mood putranya itu up kembali. Hingga tak terasa waktupun semakin sore. Keluarga kecil itu pun berlenggang pergi meninggalkan pantai.
Anak dan ibu itu terus mengobrol meramaikan keadaan mobil dengan bahasa planetnya.
"Tadi seru gak?"
"Sewu timom. Tal Aka mau acak dede main pasin"
"Dede bayi ini?" Tanya Siska megusap perutnya.
"Butan." Balasnya.
"Terus?" Tanya Siska keheranan.
"Dede Sensen tayang!" Celetukan putranya sukses membuat calon ibu itu terkekeh.
***************
Dedenya udah bucin dari orok yaa😂
__ADS_1
Yuk ramaiakn lagi, baby timomnya mau segera launching!! Pantengin terus jangan lupa like dan komennya yaa😊