
Pagi ini, senyuman tak pernah lepas dari seorang gadis yang tengah merapihkan poninya didepan kaca. Ia terus memainkan poninya itu, dengan bersenandung ria. Wajah bahagia nampak jelas tergambar disana. Mengingat Ia dapat status baru pagi ini, tentu membuatnya bersemangat untuk segera menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang pacar.
Cie.. Pacar? Kata itu membuat gadis berusia sembilan belas tahun dengan body mungil itu bahagia. Untuk pertama kalinya Ia memiliki seorang pacar, satu atap pula. Sungguh kebahagiaan yang berkali-kali lipat.
Setalah dirasa cukup, Ia bergegas keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Ia dibuat terpana kala pria yang sudah menguasai hatinya itu tengah bergelut dengan alat pembuat kopi. Layaknya seorang barista, dengan memakai celemek yang menempel ditubuhnya. Ia begitu telaten dalam menyajikan kopi buatannya.
Ia mendudukan diri diatas kursi, didepan bar mini didapur itu. tanpa sepengetahuan sang pria, Kia terus memperhatikan gerak geriknya dengan menyangga dagunya dengan kedua tangannya diatas meja. Ia semakin melebarkan senyumnya melihat ketampanan yang tersorot mentari yang memauki jendela.
Rei terus fokus memperhatikan kopi yang tengah Ia buat. Atensinya fokus pada sebuah bentuk yang ingin terlihat sempurna diatasnya. Hingga Ia benar-benar tak menyadari kedatangan sang gadis yang sudah stay memperhatikannya.
Ia berbalik dan dikejutkan dengan sang gadis yang sudah cantik, dengan senyuman lebar dan tatapan mengarah padanya tanpa berkedip. Rei tersenyum melihat sang gadis yang terlihat konyol dimatanya itu. Ia mendekat ke arahnya. Menyimpan kopi sepesial yang Ia buat untuk sang gadis disamping alat pembuatnya.
"Pagi, dede pacar!" Sapanya mendekatkan wajahnya dengan sang gadis, disertai senyuman manisnya.
Hal itu tentu membuat Kia terkesiap. Ia sampai beristigfar seraya mengusap dadanya. "Om ihh!! Ngagetin aja deh." Omelnya dengan wajahny Ia alihkan kemana saja untuk menyembunyikan rona pipinya yang tiba-tiba saja muncul.
Rei terkekeh melihat ekspresi menggemaskan gadisnya. Hingga dengan gemas Ia menarik hidung mancungnya.
"Awww! Sakit om!" Rengekan sang gadis membuat omnya kian gemas. Dengan tega Ia mengusek poni yang sudah berjam-jam gadis itu rapihkan.
"Om!! Ihh poniku." Rengeknya lagi dan sukses membuat sang om tergelak.
Dengan wajah cemberut, Ia rapihkan kembali rambut depannya itu. Rei ikut merapihkannya, kemudian menangkup kedua pipinya. Ia pandangi lekat-lekat wajah cantik, yang menggetarkan hatinya itu dan mendaratkan kecupan di dahi yang tertutup poninya itu.
Deg!
Jantung Kia kembali berdegup kencang mendapat perlakuan hangat itu. Hatinya kembali bergetar, merasakan rasa sayang yang tersalur dari kecupan itu.
"Maafin om ya!" Sesalnya sudah membuat gadisnya itu cemberut. "Lagian, kamu tu gemesin banget." Lanjutnya seraya menoel hidung mancung gadisnya.
Kia tersipu lagi, mendengarkan ucapan sang om. Lengkungan bibirnya tak dapat disembunyikan, dan sukses mengalahkan wajah cemberutnya tadi. "Gak maafin!" Ucapnya pura-pura merajuk.
"Yakin gak mau maafin?" Goda Rei.
"Nggak!" Tegasnya.
__ADS_1
"Maafin dong!" Bujuk Rei.
"Gak ada sogokan! Gak maafin!" Tuturnya. Membuat sang om tersenyum.
"Mau yang biasa apa yang spesial?" Tanya Rei memberi penawaran.
"Menurut om, aku biasa aja apa spesial?" Tanyanya balik
Rei tertawa mendengar pertanyaan darinya. Ia kembali ke tempatnya tadi membuat kopi. Membawa satu cangkir dengan tatakannya ke atas meja didepan gadisnya.
Kia membelakakan matanya melihat hasil karya sang om. "Ya ampun om! Cantik banget." Pekiknya begitu terpesona dengan creamy foam yang ditaburi coklat berbentuk hati diatas kopi tersebut.
"Kopi spesial, buat orang yang spesial." Tutur Rei.
Blush
Merah sudah kedua pipinya. Mendapat pujian nan manis, tentu membuatnya tersipu. Ia raih layar pipih, didalam sakunya dan mengotak-atiknya.
"Ngapain?" Tanya Rei heran.
Beberapa gambar Ia ambil dari layar pipih yang dipegangnya. Sungguh rasanya sayang jika harus meminumnya.
"Jangan diminum ya om! Sayang tau, keindahannya ntar hilang." Celetuknya.
Rei tersenyum menanggapi hal itu. "Minum aja de! Bentar lagi juga hilang coklatnya." Ucapnya memberi saran.
"Iya kah?" Tanyanya polos seraya memperhatikan bentuk tersebut.
Rei dibuat tertawa dan kembali mengacak poninya. Kebiasaan yang sudah seperti candu baginya itu. Seolah tanganya itu berkewajiban melakukannya.
Dan benar saja bentuk itu perlahan pudar, seiring goyangan dicangkir yang digerakan oleh Kia. Ia pun tersenyum melihatnya. "Benar ini pudar." Ucapnya seraya menyesapnya sedikit. Hingga noda putih sari foam menempel dibagian atas bibirnya.
"Tapi, aku harap cinta kita gak akan pudar." lanjutnya dengan senyum yang mampu membuat pertahanan Rei runtuh seketika.
Satu tangannya Ia tumpu dimeja menahan bobot tubuhnya. Mencondongkan wajahnya kearah sang gadis dengan satu tangannya terulur meraih tengkuknya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Rei menyambar bibir yang selalu menarik perhatiannya itu. Matanya terpejam, meresapi manis dari bibir ranum itu seiring merasakan degup jantungnya yang kian beradu. Menyesap lembut bibir atasnya, menghapus noda putih yang menghiasi benda kenyal itu.
Kia dibuat mematung karenanya. Matanya membola sempurna dengan nafasnya yang ikut tercekat. Jantungnya berdegup tak beraturan merasakan hal yang baru pertama Ia rasakan. Lambat laun, Ia ikut memejamkan matanya. Meresapi kelembutan yang diberikan pria yang kini membuat Ia terbang melayang.
Hanya dengan mengikuti naluri keduanya dapat bertukar saliva. Menyalurkan rasa, yang selama ini keduanya pendam. Berselimutkan kata keluarga, membuat keduanya harus mengubur dalam rasa itu. Namun kian hari, rasa itu bukan terkubur, namun tumbuh kian subur. Sampai akhirnya, mereka tak mampu mengendalikannya lagi.
Lama keduanya berpagut dan sulit untuk saling melepaskan. Hingga keduanya kehabisan oksigen, barulah pagutan itu terlepas.
Rei menghapus jejak saliva dibibir ranum itu dengan ibu jarinya. Memandang lekat wajah cantik yang tak mampu Ia hindari lagi.
Flash back on
Semalaman Rei bergulat dengan hati dan pikirannya. Mengingat kembali sang gadis yang sudah dijodohkan papihnya, membuat Ia tak dapar tidur memikirkan hal itu. Awalnya Ia mencoba untuk mmbiarkan keputusan kakak iparnya, namun hatinya kian resah membayangkan sang gadis yang akan bersanding dengan pria lain.
"Apa yang harus aku lakukakn?" Ucapnya seraya menumpu tangan untuk menutup matanya.
"Nggak! Aku gak bisa biarin itu." Lanjutnya membuka matanya lagi kala bayangan tangan gadisnya digengaman pria lain.
"Jangankan untuk memilikinya, aku gak akan rela siapapun menyentuh sehelai rambutnya saja."
"Benar, aku gak akan tau sebelum aku mencobanya." Tuturnya seraya memegang dadanya. "Dan aku gak akan menghindarinya lagi. Aku akan memperjuangkannya!" Lanjutnya dengan menyungggingkan senyumnya, kala senyum manis sang gadis menari diotaknya.
Flash back off
*
"Kita lewati ini bersama. Om gak akan menghindarinya lagi." Tuturnya tersenyum membuat sang gadis ikut menyunggingkan senyum termanisnya.
"Love you too. Dede pacar!" Lanjutnya.
*****************
Maafin yaa baru up, kemarin beneran sibuk! Moga hari ini bisa crazy up yaa🙈 Jangan bosen nunggu yaa🤠Yuk hari senin, yang punya vote bagi dong🤗
__ADS_1
Si om siap bucin😂