
Hari ini adalah pernikahan Feby dan Rio. Siska yang tak berencana untuk pergi karena tak ada yang menjemput tentu tengah santai rebahan saja diatas kasur didalam kamarnya.
Ibu juga tak bisa hadir karena kesibukannya mendapatkan banyak pesanan untuk besok. Hingga Siska memutuskan untuk menyaksikan secara virtual saja akad tikah teman rasa kakaknya itu.
Ia yang meminta jemput sang abang dari kemarin tak indahkannya, hingga membuat Ia tak mau mengangkat panggilannya. Ia masih asyik bergulat dengan selimutnya dan tak menghiraukan panggilannya. "Biar tau rasa! Ngeselin emang!" Gerutunya.
Beberapa panggilan tak terjawab, hingga akhirnya benda pipih itu berhenti berdering. Siska kembali menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tububnya. Berhubung ini hari minggu Ia ingin menghabiskan harinya didalam kamar, bahkan Ia tak menghiraukan panggilan sang ibu dari sejak pagi untuk membantunya.
Ia sampai terlelap lagi, namun ketika baru saja Ia terbuai dialam mimpi. Tiba-tiba hembusan angin hangat membukakan matanya. Ia yang masih setengah sadar tersenyum melihat wajah tampan yang selalu Ia rindukan.
"Kenapa sih, abang selalu ganggu tidur aku? Sehari aja abang gak usah datang ke mimpiku! Aku tuh suka gak kuat nahan rindu ini kalo abang selalu ngehantui tidurku kek gini. Pengen peluk!" Tuturnya sendu.
Hingga tiba-tiba sebuah dekapan menyadarkannya dari alam mimpinya. Ia terkerpaku dengan mata membulat kala menghirup aroma maskulin yang selalu Ia rindukan.
"Udah cepetan bangun! Mimpinya diterusin dialam nyata aja!" Titahnya melepas dekapan dan mengusek pucuk kepala Siska.
"Abang?!" Siska menggigit bibir bawahnya dan kembali menarik selimutnya menutupi wajahnya yang sudah seperti tomat.
"Katanya rindu? Kok malah sembunyi?" Goda bang Age dengan senyum dibibirnya.
"Siapa juga yang rindu? Abang ngapain coba disini?" Tanya Siska dengan degupan jantungnya yang tak karuan.
"Ya udah, kalo gitu gue pulang lagi." Timpal bang Age hendak pergi namun tangannya segera dicekal gadis itu membuat Ia yang sudah berbalik akhirnya tersenyum.
"Jangan pergi! Abang kesini jemput aku kan?" Tanya Siska ragu hingga menundukan pandangannya merasa malu pada abangnya itu.
Bang Age membalikan badannya menatap wajah malu-malu gadisnya itu. "Iya. Cepetan gih mandi! Gue tunggu!" Titahnya dan dijawab anggukan cepat oleh Siska dan keluar dari balik selimutnya.
Bang Age kembali dibuat shok melihat penampilan gadisnya itu, Ia sampai menelam salivanya susah payah kala kaki jenjangnya terekspos nyata didepan matanya. Dan sialnya gadisnya itu tanpa dosa nyelonong gitu aja kedalam kamar mandi. Bahkan pagi ini lebih parah dari sebelumnya, Bagian atasnya tak menggunakan kaos hanya tangtop saja yang Ia pakai dengan hotpans sebagai bawahan.
"Tuh bocah bener-bener ya!" Gerutunya seraya keluar dari kamar dengan mengibas-ibaskan tangannya didepan wajahnya. "Dibilangin pake gamis juga!"
'Untung gue kuat!' Batin si junior.
Sebelumnya bang Age yang mendapati sang gadis tak mengangkat panggilannya jadi kelimpungan sendiri. Ia tau pasti gadisnya itu tengah merajuk. Ia pun memutuskan untuk menjemputnya, walau Ia tau butuh waktu lama untuknya sampai diacara pernikahan Feby nanti. Setidaknya gadisnya itu tak kecewa karena tak bisa menghadirinya.
Saat panggilannya kemarin, Ia tak bisa menjemputnya karena pekerjaannya yang belum tentu bisa Ia tinggalkan. Ia juga tak berencana menghadiri acara Feby. Namun karena pekerjaannya selesai lebih awal, Ia pun memutuskan untuk hadir dan menjemput gadisnya terlebih dahulu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Siska pun keluar dari kamarnya dengan penampilannya yang begitu girly. Ia yang biasa tampil sederhana dan lebih memilih memakai kaos dan jeans, sekarang Ia menggunalan gaun selutut dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai.
Bang Age terpaku melihat penampilan adek imutnya itu. Dan sepertinya Ia harus mengganti panggilannya menjadi adek cantik. Yang dilihat sekarang Siska lebih terlihat dewasa melebihi usianya.
"Bang ayo!" Ajak Siska melambaikan tangan dihadapan wajah abangnya itu membuat bang Age terkesiap.
"I-iya ayo!" Jawabnya dan berlenggang pergi kedapur untuk meminta izin pada sang Ibu. 'Gue kenapa sih?' Batinnya.
Bang Age yang selalu berfikir untuk setia pada mendiang sang istri terus menyangkal apa yang ada dihatinya. Ia tak mau mengakui perasaan yang kian hari kian aneh baginya itu. Ia terus berusaha menghindar, namun sepertinya takdir tak berpihak padanya. Sekuat apapun Ia menghindar, Tuhan selalu memberikannya jalan untuk menumbuhkan perasaan itu.
**
Keduanya berjalan keluar, hingga seorang pemuda datang pas bertemu diteras rumah.
"Hai Sis! Bang!" Sapa Rangga.
"Rangga, ada apa?" Tanya Siska tersenyum, berbeda dengan bang Age Ia menatap dingin kearah keduanya.
"Tadinya mau ngajak jalan. Tapi kek nya, lu mau pergi ya?"
"Oh ya udah. Gue pulang dulu! Minggu depan kita jalan ya!" Pamit Rangga menampilkan senyum manisnya.
Siska tersenyum kaku, Ia bingung harus menjawab apa, apalagi melihat air muka abangnya itu, sungguh membuatnya tak berkutik.
"Ya udah gue pulang! Mari bang!" Pamit Rangga sekali lagi.
Setelah kepergian Rangga, Siska masih mematung disana. Ia tak juga bergerak, membuat bang Age kembali membalikan badannya.
"Ayo! Ngapain masih berdiri disitu?" Ajaknya dengan nada tak bersahabat.
Siska menghampiri mobil yang terparkir apik dihalaman rumahnya itu, karena takut Ia hendak membuka pintu belakang namun suara bang Age kembali membuatnya terlonjak.
"Gue bukan sopir!" Cetusnya.
Baru kali ini Siska melihat ekspresi menakutkan abangnya itu. Ia segera membuka pintu depan penumpang dengan sedikit tergesa. Ia duduk dan hendak memakai seltbelt nya, namun sial seltbelt nya terasa susah untuk Ia pakai.
Hingga tiba-tiba hembusan nafas sang abang mengenai wajahnya membuat Ia terpaku, bahkan Ia lupa cara menghembusakn nafasnya kala jarak yang begitu dekat dari wajah keduanya. Bahkan tatapan keduanya terkunci, membuat Siska seperti patung.
__ADS_1
Bang Age menarik seltbelt itu tanpa melepaskan tatapannya. Hingga terpasang sempurna ditubuh gadisnya itu.
"Gue udah bilang sama lu, jangan pacaran dulu! Apa lu lupa?" Tanyanya masih dengan nada yang sama.
Siska hanya menggeleng kecil sebagai tanggapan.
"Kalo gitu, jauhin cowok itu! Jangan deket-deket sama dia!" Titahnya dan segera dijawab anggukan cepat oleh Siska.
Bang Age menjauhkan wajahnya dan tersenyum, seraya mengusek pucuk kepalanya. "Good girl!"
Mobil pun berjalan keluar dari halaman rumah, Siska masih terdiam mencerna ucapan abangnya ini. Ia masih tak mengerti apa yang sebenarnya abangnya ini inginkan. Hingga Ia meminta untuk menghentikan mobil ditepi jalan.
"Kenapa?" Tanya bang Age.
"Sebenarnya apa arti aku buat abang?" Bukan menjawab, Siska malah balik bertanya.
Bang Age terdiam sejenak. "Lu kan adek imut gue." Jawabnya.
"Adek ya? Hem." Siska tersenyum kecut mendengarnya. "Gak bisakah abang anggap aku sebagai seorang wanita?"
"Entahlah! Bagiku dia takan terganti."
"Dan aku tak akan jadi pengganti!"
"Karena aku akan jadi pelengkap!" Lanjutnya hingga netra keduanya bertemu dan saling menatap dalam.
*************
Ayo readerss tunjukan jejakmu! Episode berikutnya siap-siap bucin yaa🤣
Ini yang otewe bucin kedua kalinya🤣
Ini yang siap dibucinin🤣
__ADS_1