
Ketiga orang dewasa itu tersenyum mendengar penuturan bocah tampan yang sudah mengakui dirinya sebagai om nya bayi cantik itu. Siska mengusek pucuk kepala adik sambungnya itu gemas. Dengan mengakui putrinya sebagai keponakannya, menandakan bahwa dirinya juga mengakui sang ibu.
Ibu ikut duduk dan mengambil cucunya keatas pangkuannya. "Cucu nenek cantik sekali." Ucapnya seraya menciumi wajah merahnya.
"Siapa namanya bu?" Tanya bocah tampan itu yang ikut mencium keningnya.
"Namanya dede Kia om!" Jawab Siska tersenyum pada bocah tampan itu.
Reihan ikut tersenyum, meski ada sedikit ragu. Ia yang jarang bertemu dengan kakak sambungnya tentu masih merasa malu padanya.
"Oh iya bu, Ayah Dedes ikut?" Tanya Siska.
"Ck! Kamu ini. Panggilnya ayah aja udah!" Titah ibu berdecak kesal. Pasalnya sang putri terus saja menyematkan nama itu pada ayah sambungnya.
"Ya udah sii, udah enak panggil gitu. Lagian juga Ibu tadi bilang kakek Dedes." Protes Siska.
"Terserah deh. Susah ngomong sama kamu." Pasrah ibu dan hanya ditimpali cengiran kuda oleh putrinya.
Bang Age tersenyum mendengar perdebatan ibu dan anak ini. "Ya udah, abang keluar dulu ya!" Pamitnya. "Mau nemuin dulu ayah Dedes" Kekehnya dan ditimpali senyuman dari kedua wanita beda generasi itu. Ia pun berlenggang keluar kamar untuk menemui ayah mertuanya.
"Aka tanteng, main yuk ama Sen!" Ajak balita cantik itu pada Reihan.
Reihan hanya terdiam dan menatap sang ibu untuk meminta pendapat.
"Gak papa, sana main sama ponakan-ponakan kamu!" Titah ibu seraya mengelus kepalanya, namun Reihan masih saja terdiam.
"Ayo kak!" Sena menarik tangannya hingga Ia pun terpaksa berdiri mengikuti langkah kecil balita cantik yang menyeretnya.
Aska ikut turun, namun wajahnya sudah ditekuk seratus delapan puluh derajat. Dan hal itu tentu menjadi perahatian Siska. "Aka kenapa?" Tanyanya.
Namun Aka hanya menyedikan bahunya dengan melipat lengannya didada dan berjalan tanpa menengok atau menjawab timomnya.
Siska hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bocah-bocah itu. Membayangkan rumahnya akan ramai dengan gelak tawa mereka membuat Ia tersenyum bahagia.
"Apa Aka senang, dengan kehadiran dede Kia?" Tanya Ibu membuat Siska mengalihkan perhatiannya.
"Iya dong bu! Lagi didalam perut aja diajakin ngobrol mulu." Jawab Siska.
"Tapi kok mukanya kek gitu?" Tanya ibu yang merasa heran dengan tingkah cucu tertuanya.
"Dia kek gitu bukan karena dede Kia." Tutur Siska.
"Terus?" Tanya ibu heran.
"Jeleous dia tuh sama Rei." Kekeh Siska membuat ibu tertawa.
"Ada-ada aja putra kamu itu, apa dia cemburu karena Sensen ngajak Rei main?" Tanya ibu dengan kekehannya.
"He'em. Sensen bilang Rei ganteng aja, udah manyun dia." Timpal Siska membuat keduanya tergelak.
__ADS_1
"Jangankan sama yang baru, tiap hari sama Shaka aja dia kek gitu bu! Sensen udah kek miliknya aja." Ucap Siska disela gelak tawanya.
"Ati-ati aja! Takutnya lama-lama dia baper sama sepupunya sendiri." Peringat ibu.
"Ya, nggak lah bu. Mungkin itu cuma mereka sering bersama aja. Udah kek adiknya sendiri." Timpal Siska.
"Ya juga sih!" Timpal ibu.
Ceklek!
Pintu terbuka hingga nampak satu balita lagi yang sedari pagi baru nampak batang hidungnya.
"Timom!" Pekiknya. Ia berlari dan berhambur kedekapan Siska. Disusul oleh tiga pria dibelakangnya.
"Alhmadulillah! Akhirnya cucu Pipih udah selamat!" Ucap Papih seraya mengambil alih sang cucu dari pangkuan besannya.
"Duhh manisnya!" Ucapnya lagi seraya menciumi wajahnya seraya memberi doa padanya.
"Saya boleh gendong pak?" Tanya ayah Dedes pada besannya dan diiyakannya.
Ayah Dedes mengambil alih cucu barunya dari Papih. Hingga baby itu bergilir sampai dipangkuan bang Ar.
"Pa dede bayina pewempuan pa yaki?" Tanya Shaka pada sang Papa.
"Perempuan sayang. Baby girl!" Balas bang Ar membuat putra sulungnya berdecak kesal.
"Nda asik! Aku mauna yaki Pa. Bian bisa main bowa baweng." Celotehnya membuat sang Papa tersenyum.
Putra sulungnya ini memang menginginkan adik laki-laki. Namun untuk memberikannya lagi, bang Ar tak sanggup. Bukan soal menafkahi, tapi Ia tak mau melihat sang istri dalam perjuangannya lagi. Sudah cukup Ia melihat sang istri berjuang kesakitan untuk melahirkan keturunannya. Sekarang hanya tinggal berjuang membesarkan keduanya saja, bersabar juga dengan tingkah nyeleneh keduanya yang kadang bikin migrain.
"Aku mau kewuan aja Pa, bosen. Mau cayi Aka!" Ucap balita tampan itu seraya lari keluar kamar.
Semua orang tua disana tertawa melihat tingkah bocah tampan sulungnya bang Ar itu. Sungguh tingkahnya berbeda seratus delapan puluh derajat dari sang Papa.
"Kek nya Shaka sama Aska ketuker ya?" Celetuk ibu.
"Kenapa emang?" Tanya Papih.
"Kok saya lihat, Shaka kek lihat abang ya. Begitupun lihat Aska, kek lihat den Ar." Kekeh ibu membuat mereka kembali tertawa.
"Iya. Aku juga heran bu. Kenapa bisa gitu ya?" Tanya Siska.
"Mungkin itu waktu ngidamnya, neng Ayra benci sama abangnya. Jadi miripnya sama abangnya deh." Timpal ayah Dedes membuat suasana semakin riuh.
"Emang iya bisa gitu?" Tanya Siska.
"Kata orang dulu sih gitu." Timpal ayah Dedes lagi.
"Aduh jangan sampe deh! Amit-amit, pait-pait!" Ucap Siska dengan mengetuk kepala dan kasur bergantian.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya ibu heran.
"Aku takut bener terjadi juga sama putriku bu!" Jawab Siska.
"Emang kamu pernah benci juga sama seseorang? Sama siapa?" Cecar Ibu.
"Gak benci sih. Cuma ni orang suka ngeselin aja." Tutur Siska. "Pokoknya jangan sampai putriku mirip kek si Lia somplak. Bisa naik darah aku tiap hari dibuatnya!" Lanjutnya membuat sang ibu tergelak. Ketiga pria disana hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Sementara itu diruang tengah, para bocil tengah bermain mobil-mobilan yang berserakan keluar semua dari tempatnya. Keempat balita itu asyik bermain diatas karpet yang tergelar didepan layar tv.
Hanya ketiga balita itu saja yang bermain. Rei hanya duduk dan memeperhatikan ketiganya. Dirinya yang sudah besar tentu tak ingin gabung dengan mereka yang bahkan bicaranya pun belum Ia pahami betul.
"Aka tanteng. Main yuk!" Ajak balita cantik itu. "Nih!" Ia menyerahkan satu mobil-mobilan box kecil untuk kakak tampannya mainkan.
Namun tanpa diduga Aska merebutnya. "Nda boleh, puna Aka!" Ucapnya dingin.
"Aka nta boweh gitu. Hawus konsi! Kasih aka tanteng cuga!" Omel si cantik, namun Aska masih kekeh dengan pendiriannya.
Rei tersenyum melihat perdebaatn keduanya. Hingga tiba-tiba suara dari luar mengalihkan perhatian mereka.
"Halo boys! Girl!" Sapa seorang wanita dengan menggandeng tangan balita tampan disampingnya.
"Nti Sa!" Pekik Sena. Ia berlari dan mengahampirinya.
Ia merebut tangan bocah tampan itu dari genggaman ibunya.
"Nti, Sen pincam Bi ya!" Celotehnya membuat wanita itu tersneyum seraya mengusek pucuk kepalanya.
"Emang buat apa mau dipinjam?" Canda Aysa.
"Mau Sen acak main! Soan na, meweka nyebewin!" Ucap Sena menunjuk deretan bocah tampan yang tengah duduk ditempatnya.
"Yuk Bi!" Ajaknya seraya menyeret tangan sepupunya.
"Mana?" Tanya bocah itu datar.
"Kewuan, main ucan-ucanan!" Balas Sena dan berlenggang membawa Abi meninggalkan mereka.
***************
Aduh mak othor jadi belibet neh sama bahasa planetnya para bocil-bocil😂😂
Maaf ya, Up nya seingetnya. Beres nulis langsung up! Gak nentu waktunya🤭 Tapi gak papa ya, yang penting up😁
Jangan lupa juga jejaknya yaa!!
Baby Kia😘😘
__ADS_1