
Sepasang kekasih itu berulang kali menarik dan menghembuskan nafasnya panjang dihadapan gundukan tanah dengan batu nisan yang bertengger diatasnya. Tertulis nama wali yang sehatusnya menikahkan mereka. Keduanya berjongkok setelah memberikan salam terlebih dahulu.
"Yah! Ini aku, Hanna." Ucapnya. "Aku kesini membawa seseorang. Katanya sih, dia mau ngomong sama ayah!" Lanjutnya terkekeh.
Ia menyenggol tubuh pria disampingnya seraya memberi kode agar Ia ikut bersuara. Rangga yang mengerti akhirnya bersuara.
"Om! Kenalin saya Rangga. Saya kekasihnya putri om. Saya meminta izin pada om buat nikahin putri om ini. Saya mohon restu pada om untuk membahagiakan putri om ini." Ucapnya dan sukses membuat air mata Hanna kembali jatuh.
Rangga merangkul pundak gadisnya. Membiarkan wajahnya bersembunyi didadanya. "Jangan nangis lagi! Sekarang aku disini. Gak kan ada lagi yamg misahin kita. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku." Ucapnya.
Setelah tau sang putri dapat perlakuan tak senonoh dari pemuda yang Ia percaya membuat penyakit jantungnya kambuh. Sampai Ia harus dirawat berbulan-bulan dan akhirnya meninggal. Dibalik kerasnya didikan yang Ia berikan, tak membuat kasih sayangnya luntur pada anak-anaknya. Terbukti dari kabar duka yang menimpa putrinya membaut Ia begitu terpukul dan merasa bersalah hingga berujung kematian.
*
Rangga melerai dekapannya mengusap jejak kebasahan air dipipinya. Ia raih sesuatu disaku celananya dan menyerahkan kotak kecil kehadapan sang gadis seraya membukanya.
"Hanna Nirmala putri binti almarhum Lukman. Bersediakah kau menikah denganku? Menjadi pendamping hidupku?"
Pertanyaan Rangga sungguh membuat Hanna shok, Ia sampai menutup mulutnya mendengar penuturan itu.
"Hanna. Will you marry me?"
Untuk kedua kalinya, pertanyaan kembali terlontar dari bibir Rangga. Dan kali ini anggukan didapati Rangga dari gadisnya dengan air mata yang kembali jatuh diiringi senyuman yang terukir manis dari bibirnya.
Rangga ikut mengembangkan senyumnya dan dengan cepat mengambil benda melingkar didalamnya dan menyematkan benda itu pada jari manis kekasihnya. Kemudian menarik tubuh sang kekasih kedalam dekapannya. Sungguh kebahagiaan yang akan menjadi sejarah untuk keduanya kenang.
"Sekarang kita mau kemana?" Tanya gadis yang senantiasa menatap benda yang baru saja menghuni jari manisnya seraya memainkannya.
"Ada satu tempat lagi yang akan kita kunjungi." Balas pria yang tengah fokus dengan kemudinya. Dan hanya melirik sebentar kesamping melihat wajah cantik dengan senyum bahagia yang senantiasa mengihiasi wajah gadisnya.
"Emmm biar aku tebak." Ucapnya. "Ketemu ayah Dedes kan?" Tebaknya.
Rangga tersenyum mendengarnya. Ternyata cakon istrinya ini mempunyai panggilan yang sama dengan saudara sambungnya.
"Kamu tuh!" Gemasnya mengusek pucuk kepalanya. "Si timom kok dijadiin guru. Gak benar tuh pengajarannya." Protesnya.
"Paan? Kakak tuh paling the best tau! Banyak pengajaran yang dapat kita ambil dari dia. Apalagi kebucinannya patut diacungi jempol itu." Balas Hanna.
"Iya sih. Tapi awas jangan terlalu nemplok!" Peringat Rangga.
"Kenapa?" Tanya Hanna heran.
"Ntar kamu ketularan penyakitnya. Bahaya!" Balas Rangga.
__ADS_1
"Penyakit? penyakit apa? Emang Kak Siska sakit?" Cecarnya merasa shok.
"Penyakit gesrek yang berendap menjadi somplak dan bermutasi menjadi sengklek."
Penuturannya sukses mendapat tampolan manja dari sang gadis diringi gelak tawa keduanya.
*
"Ha'cciihhh!!!"
"Ya ampun! Ni idung gatel banget dah." Keluh Siska seraya mengusek hidungnya yang memerah.
"Kenapa yang?" Tanya bang Age.
"Gak tau bang. Tiba-tiba aja, idungku gatel." Balasnya seraya mendudukan diri disofa disamping sang suami yang tengah duduk dengan ditemani secangkir kopi dimejanya dan laptop dipangkuannya.
Hari ini bang Age memang tak masuk, Ia kebagian mengecek lapangan. Dan bertugas memantau kebun siang ini. Namun tetap saja benda persegi yang dapat dibuka tutup itu tetap stay menemaninya.
Bang Age menyimpan benda dipangkuannya ke atas meja. Dan menarik sang istri menggantikan benda tadi.
"Mana sini abang lihat!" Ia melihat hidung sang istri yang memerah dan mencium ujungnya.
"Kek nya ya bang, ada yang lagi ngomongin aku nih!" Tutur Siska.
"Mitos dipercaya. Ini tuh fix kamu filek!" Balas bang Age. "Bentar!" Ia mendudukan kembali sang istri kesampingnya dan berlalu meninggalkannya.
"Sini!" Ia kembali menepuk pahanya agar sang istri duduk dipangkuannya.
Siska menurut dan kembali duduk dipaha suaminya sesuai intruksinya. Bang Age membuka tutup hijau yang bertuliskan 'Minyak kayu putih' yang Ia bawa. Mengusapkan cairan dari dalam yang sudah Ia tumpahkan ditelapak tangannya kelehernya mendekatkan benda itu agar dihirupnya. Lalu mengusap lagi kebagian dadanya.
"Gimana udah agak meningan?" Tanyanya pada sang istri yang tengah menghirup aroma menenangkan itu dalam-dalam.
"Udah bang seger." Balasnya.
"Bagus kalo gitu. Jadi kita bisa lanjut." Ucap bang Age membuat sang istri keheranan.
"Ngapain?"
"Acara usap mengusapnya!" Kekehnya. "Tanggung dong! Baru ampe lembahnya, belum nyampe bukitnya."
Pernyataan sang suami membuat Siska berhasil mendaratkan tangam dipipinya yang dilanjut dengan bibirnya.
"Abang ihh!! Mesum banget deh." Protes Siska.
__ADS_1
"Biarin, gak mesum gak enak! Readers aja gak pada mau baca kalo gak ada mesumnya." Balasnya.
"Paan? Readers disini setia. Gak banyak mesum pun mereka tetap stay nemenin kita." Protesnya lagi.
"Ya deh yang setia. Kek abang ya?" Godanya seraya mendaratkan serangan pada bibir ranumnya. Me lu matnya lembut, hingga decapan meriuh diruangan itu.
Tangan nakal nan kekar itu berjalan sampai dikancing kemeja yang tadi sudah terbuka dan semakin melebarkan bukaannya. Hingga dua buah bukit yang ingin Ia jelajahi meluber keluar dari sarangnya. Ia tak menyianyaikan itu. Ia segera melahapnya hingga memenuhi mulutnya. Sungguh bayi besar yang sangat rakus.
Hingga satu tangannya Ia biarkan bermain disaudari kembarnya sampai suara indah terlantun merdu dari bibir sexy nya.
"Banghhh!!"
Suara yang tak pernah bosen Ia dengar bahkan selalu menjadi candunya setiap hari. Mendayu indah di indera pendengarannya. Sampai suara dering ponsel merusak nada indah itu.
"Bangh ada telepon!" Ucap Siska dengan tersenggal menahan gejolak yang kian membara.
Namun bang Age masih tetap diam tak menanggapi, Ia kian asyik dengan dua mainan favoritnya.
"Bang angkat takut penting!" Titahnya.
Dengan perasaan kesal, Ia terpaksa melepaskan sang istri dan meraih benda pipih dari atas meja. Srtelah dilihat tenyata nomor sang bos alias aang adik ipar yang tertera disana. Dengan hati dongkol Ia segera menerima panghialn itu.
"Iya!"
Ia melirik sekilas kearah benda bulat yang tergantung diatas tv dan menghembuskan nafasnya panjang.
"Baiklah! Gue berangkat sekarang!"
Panggilan pun terputus. Ia menyambar sekilas bibir yang menggoda itu. "Abang harus berangkat!" Tuturnya sendu.
Siska yang mengerti menangkup wajah itu dan juga mengecup bibirnya lembut. "Berangkatlah bang! Hati-hati! Kita alnjut ntar malam. Oke!" Pesannya.
"Bentar aja deh. Boleh ya!" Rengeknya.
"Nggak! Bentarnya abang tuh lama. Ntar malam aja." Tolak Siska.
"Serius. Bentar aja!" Bujuknya lagi.
"Malam aja. Ngulang ampe ngempor, siap!" Siska ikut menego.
Akhinya bang Age pun tersenyum. Mendapat nego seperti itu, tentu menjadi jekpot besar-besaran untuknya. Ia mengulurkan tangannya dan reflek disambut sang istri. "Oke! Deal. Sampe ngempor."
*****************
__ADS_1
Oke deal! crazy up🤣🤣🤣
Ayo ramaikan! Jempol mak othor ngempor iniðŸ¤ðŸ˜†ðŸ˜†