Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 80 En caul birth


__ADS_3

Hari berganti hari, kini perut si bumil kian membulat. Tak hanya perutnya saja, pipinya pun kian terbentuk layaknya bakpao. Kadang Ia menjadi sasaran ledekan adik ipar lucknutnya.


"Ihhh!!! Kak Ay!!" Pekik Siska kala Ayra menjewel kedua pipinya dan tergelak sambil berlalu meninggalkan kamarnya menghindari lemparan boba dari si bumil.


Siska berdecak kesal kala tak dapat mendaratkan siboba pada tubuh adiknya.


"Emang iya, gue makin bulet?" Tanyanya bermonolog sendiri.


Ia berjalan kearah meja rias. Memindai dirnya dari pantulan cermin didepannya. Ia berlenggkok kanan kiri melihat bulatan perutnya. "Iya sih, makin bulet. Tapi gak papalah, makin aktif juga dedenya." Ucapnya tersenyum.


Ia kembali memperhatikan wajahnya. Ia kembang kempiskan pipinya yang ternyata benar saja sudah seperti bakpao. "Ini sih endapan baso yang tiap hari gue makan." Tuturnya memegang kedua pipinya.


Kehamilannya tak membuat si bumil ini pantang dalam makanan. Ia akan memakan apapun yang Ia inginkan. Bahkan tak ada makanan yang membuatnya tak berselera, apapun akan masuk kedalam mulutnya.


Hingga hasilnya tak dapat diragukan lagi, selain pipinya yang membulat. Dagunya pun berlipat menjadi beberapa lipatan. Hilang sudah body goals kebangggaannya. Dan demi si kecil, Ia benar-benar tak memperdulikan itu.


"Lagi ngapain yang?" Tanya bang Age yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri tengah berkutat didepan cermin.


"Apa benar ya bang, aku makin bulat?" Tanyanya seraya melirik sang suami dari arah cermin dengan tangan yang sibuk dengan terus memegang pipinya yang Ia kembang kempiskan.


"Emm nggak! Biasa aja tuh." Balas bang Age, Ia tak mau sampai sang istri minder.


"Jujurlah bang! Ini emang bulet kan?" Tanya lagi dengan aktifitas yang sama.


"Nggak! Buat abang tak ada yang berubah dari kamu." Balasnya lagi seraya memakai pakaiannya.


Siska membalikan tubuhnya dan menghampiri suaminya. "Abang jangan bohong dong! Aku makin bulet kok!" Tuturnya dengan ekspresi wajah sendu.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Ia mengelus pipi chuby istrinya. "Iya deh. Ini emang makin bulet!" Tuturnya tersenyum.


"Ck! Tu kan, abang bohong. Aku makin bulet kan?" Rajuk Siska membuat sang suami gelagapan.


Kan, kan, jadi salah lagi. "Nggak gitu sayang maksudnya." Bang Age mencoba meraih pipinya, namun sang istri semakin cemberut.


"Gak gitu gimana? Jelas-jelas abang bilang aku bulet." Sungutnya.

__ADS_1


"Yang kan kamu yang nanya, abang harus jujur juga?"


"Au ah abang ngeselin. Pasti abang udah ga mau sama aku yang kek gini. Mau cari yang lebih cantik, lebih sexy, lebih-" Ucapannya terhenti kala bibir suaminya membukam bibirnya.


"Mungkin banyak diluar sana yang lebih cantik, lebih sexy, lebih-lebih lagi. Tapi itu bukan kamu. Karena abang hanya ingin kamu." Tuturnya membuat sang istri terdiam.


"Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain. Karena dirimu memang berbeda, kamu istimewa buat abang." Lanjutnya seraya menarik sang istri kedalam dekapannya.


"kamu harus inget satu hal. Mau kamu bulet, mau kamu oval, mau kamu kotak, jajargenjang sekalipun. Cinta abang tetap hanya untukmu. Only you! Istri imutku." Lanjutnya lagi seraya membelai sayang rambutnya.


Siska tersenyum dan membalas pelukannya. Hatinya begitu menghangat. Jarang-jarang kan dirinya digombali seperti itu. Semakin hari kebucinan sang suami semakin kentara padanya. Bayangannya kembali ke beberapa tahun yang lalu, dimana suminya begitu bucin dengan istri sebelumnya.


Ia yang sempat berfikir mustahil membuat pria didepannya, bisa mencintainya bahkan bucin padanya. Kini terjawab sudah, nyatanya waktu dapat mengubah seseorang bahkan segalanya. Dan itu tak lepas dari takdir yang Tuhan rencanakan.


Ia begitu bersyukur Tuhan memberikannya jodoh yang berbeda dari yang lain. Jika wanita lain mengingkan jodoh pria lajang nan mapan yang bahkan seumuran dengannya, Siska memilih abang duda dengan buntutnya menjadi suaminya.


"Awww!!!"


Siska meringis merasakan sesuatu pada perut bulatnya.


"Gak bang. Aku muleus, pengen buang air." Jawabnya seraya ngibrit memasuki kamar mandi.


Bang Age tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Ia berjalan kearah meja rias dengan menggosok rambutnya yang masih basah. Ketika Ia tengah sibuk dengan handuk dikeplaanya, suara jeritan sang istri membuatnya terlonjak.


Ia berlari menuju kamar mandi, Ia dibuat shok dengan kondisi istrinya.


"Y-yang K-kamu?" Ia sampai tergagap melihat pemandangan didepan matanya.


"Bang?!" Lirihnya lemah.


Dengan perasaan campur aduk dan kaki gemetar Ia mencoba mendekat, Ia ambil makhluk kecil dari tangan sang istri yang terduduk diatas kloset. Kondisi bayi yang masih berselimutkan benda seperti jelly membuat bang Age semakin tak menentu.


"Sa-sayang! Ka-kamu? I-ini, ini?" Ucapnya semakin tergagap karena shok.


"Mamih! Panggil Mamih!" Titah Siska semakin melemah.

__ADS_1


Bang Age yang tersadar, akhirnya berteriak memanggil bantuan. "Mih! Mamih! Mamih sini Mih!" Teriaknya.


Untung saja teriakan bang Age sukses menggema keseluruh ruangan, hingga melengking memasuki dapur. Membuat aktifitas orang-orang terhenti dan segera menghamburkan diri menuju kamar bang Age.


"Astagfirulloh Sis?" Bukan Mamih saja, Ayra yang ikut masuk pun tak kalah shok.


"Mih. Gimana ini Mih?" Tanya bang Age dengan suara dan seluruh organ tubuhnya yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


"Tenang bang. Kita semua harus tenang. Ya!" Ucap Mamih mencoba menenangkan.


"Ay! Cepat panggil Bu dewi!" Ucap Mamih pada putri bungsunya dan diiyakan oleh Ayra dengan berlenggang keluar untuk memanggil bidan yang kebetulan tetangga rumah disana.


"Sini!" Mamih mengambil alih bayi mungil yang masih berselimutkan kantung ketuban itu. Kondisi langka yang disebut juga dengan en caul birth ini terjadi sekali dalam tiap 80.000 persalinan. Dan Siska menjadi salah satunya.


"Kamu gendong istri kamu, kita kekamar!" Titahnya pada bang Age.


Dengan hati-hati bang Age menggendong sang istri yang sudah tak bersuara itu menuju kamar, dan Mamih mengikutinya dengan membawa sang bayi dengan ari-ari yang belum diputus dan plasenta yang masih tertinggal dirahim sang ibu.


Ia rebahkan tubuh lemah itu keatas kasurnya. Hingga beberapa saat kemudian, bu Dewi pun datang bersama Ayra. Bu dewi yang diberitahu kondisi Siska langsung saja berlari menuju rumah tetangganya diikuti sang asisten yang membawakan alat medisnya. Bahkan Ia melupakan dirinya yang hanya mengenakan daster pendek dan rambut yang masih acakadul belum sempat Ia rapihkan.


Dengan sigap Ia mengambil alih bayi mungil itu dari tangan Mamih Asti. Memotong ari-arinya dan melepaskannya dari kantung ketubannya itu dengan hati-hati, hingga suara bayi terdengar dan menggema dikamar nan luas itu. Ia biarkan sejenak sang bayi bersama asistennya untuk dibersihkan dan beralih pada ibunya untuk mengeluarkan placentanya.


Dan akhirnya placentanya pun keluar. Setelah selesai membersihkan sang ibu dan memasang infus untuknya, bergilir bu Dewi pun memberikan suntikan HB dan salep mata untuk bayi mungil itu. Suasana haru begitu menyelimuti keluarga itu, bang Age sampai terduduk lemas diatas lantai didekat kepala sang istri. Kejadian luar biasa ini akan menjadi sejarah baru dalam hidupnya.


Ia ciumi wajah cantik istrinya. Dengan air mata yang tak henti keluar dari matanya, dengan terus menggumamkan kata terimakasih. Siska tersenyum simpul dengan wajah pucatnya.


"Selamat ya! Bayinya perempuan, dengan berat 3000 gram." Ucap bu Dewi membuat semua orang disana tersenyum.


"Tapi ada sesuatu yang harus kalian tau." Ucapan bu Dewi membuat senyum dari mereka pudar, perasaan khawatir terpampang jelas dari mereka.


"Apa?" Tanya mereka serempak.


"Bayinya cantik! Buat ibu aja ya!" Canda sang bidan dan sukses membuat mereka melongo.


***************

__ADS_1


Cuma mau ngingetin buat gak lupa sama jejaknya yaa😁 terus juga kasih kado lah buat dede cantik yang baru launching🤭 Mana lahirannya spesial lagi😂 Bang Age aman yaa, gak dapet jambakan manja🤣🤣


__ADS_2