Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 131 Meminang


__ADS_3

Rangga menghembuskan nafsanya panjang seraya memijit pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut. Dengan lengnnya Ia tumpu dilengan sofa seraya tatapannya beradu dengan sang ayah yang menyatakan perdebatan disana.


Sungguh kelakuan orang tuanya membuat Ia merasa malu pada gadisnya. Ia yang meminta izin pada sang kekasih untuk ke kekamar sejenak, yang nyatanya malah memasuki kamar mandinya untuk menenangkan si jacknya. Dibuat terkejut dengan teriakan sang ibu. Dan saat keluar dari kamar Ia semakin dibuat tercengang melihat penampilan keduanya.


"Bisa gak sih, ayah tuh kenal waktu? Malu-maluin aja." Protesnya.


"Kenapa mesti malu? Ibu tuh istrinya ayah, salahnya dimana coba?" Sangkal Ayahtak mau kalah.


"Ya salahnya, kenapa harus siang-siang coba? Malam kan bisa. Meresahkan orang!" Protesnya lagi.


"Eh. Emang kamu denger?" Tanya Ayah heran.


"Ya denger lah! Suara kalian itu menembus sampe RT lima." Celetuk Rangga dan langsung dapat timpukan bantal sofa dari sang ayah.


"Kamu jangan praktekin dulu, belom sah. Inget tuh!" Peringat sang Ayah.


"Ini aki mau praktek, makanya aku kesini." Balas Rangga.


"Cih! Emang udah bisa?" Ledek sang ayah. Sejujurmya Ia masih tak menyangka putra sulungnya ternyata sudah dewasa. Dan Ia akan segera mendapatkan seorang menantu darinya.


"Cih! Ayah ngeraguin?" Sangkalnya dan hanya dijawab senyuaman sang Ayah saja.


"Si jack punyaku paling aktif, denger kalian aja dia langsung stay!" Lanjutnya dan kembali dapat timpukan sang ayah lagi.


"Jadi gimana? Maunya kapan?" Tanya sang Ayah mulai serius.


"Sekarang juga boleh!" Balasnya.


"Ya gak sekarang juga lah. Minggu depan deh!" Tawar sang ayah.


"Kelamaan!" Protesnya.


"Ya ampun! Keknya udah gak sabaran banget tuh si jack? Ya udah kapan?" Tanya ayah lagi.


"Besok! Pokoknya aku mau sah besok." Balas Rangga.


"Hah besok?! Kamu kira nikahin kambing main besok aja. Harus ada prosesnya. Lagian masa anak pak kades nikah grasak grusuk gak jelas. Turun pamor dong kita." Protes Ayah.


"Terserah. Pokoknya aku mau besok. Yang penting sah, udah!" Final Rangga.


"MasyaAlloh!" sang ayah sampai mengusap dadanya mendengar sang putra. "Ya udah deh iya-iya!"

__ADS_1


"Eh. Bentar. Terus itu masalah lamarannya gimana? Masa gak ada lamaran gak apa?" Tanya sang Ayah.


"Aku udah lamar dia tadi. Kalo soal ngomong sama bunda, sekarang ayah sama ibu ke kota buat lamar sama nentuin waktunya. Sama persiapannnya." Ucapnya.


Ayah hendak melayangakn protesannya, namun diselak lagi olehnya. "Soal surat-surat, aku percayakan sama ayah." Tuturnya dan berlenggang meninggalkan sang ayah dari ruang sidang khusus makhluk tampan itu.


Hal itu membuat sang ayah berdecak kesal. Kalau saja bukan putra sendiri, pengen nonjok tuh muka ngeselinnya. Ia menghembuskan nafasnya panjang, mulai memutar otaknya untuk persiapan esok. Hingga Ia pun mengambil layar pipih dari atas mejanya dan mulai mengotak atik hp nya. Hingga benda itu Ia bawa kedepan telinganya.


"Hallo. Iya! Saya butuh bantuan anda!"


*


"Kamu makin cantik nak?" Puji ibu ketika kedua wanita beda generasi itu tengah duduk disofa yang sama, setelah ibu mengambil minuman untuknya.


Hanna tersenyum mendapat pujian itu. Sungguh calon ibu mertuanya itu sangat pandai jika memuji. "Makasih bu!" Balasnya.


"Oh iya, maafin ibu ya! Tadi penyambutannya kurang enak." Sesal ibu merasa tak enak sekaligus malu bersamaan.


"Iya bu gak papa! Maaf kita dadakan kesininya, jadi gak bawa apa-apa buat ibu." Sesal Hanna pula.


"Gak papa. Ibu udah seneng, kalian mau kesini." Balas ibu.


Obrolan pun terus berlanjut diantara dua wanita paruh baya itu, hingga seorang pemuda keluar dari ruang kerja sang ayah dan mengalihkan atensi mereka.


"Kemana?" Tanya ibu.


"Ke rumah Hanna bu." Balas Rangga.


"Ngapain?" Tanya ibu semakin heran.


Pasalnya Ia sama sekali tak tau mengenai apa yang terjadi dengan putra dan kekasihnya itu. Rangga hanya berbicara pada ayahnya tadi malam, soal rencana untuk menikahi gadisnya. Tentu tanpa membeberkan fakta yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Besok kita akan menikah bu!" Tutur Rangga.


"Apa? Serius?" Tanya Ibu shok dan dijawab anggukan Rangga.


Ibu sampai menutup mulutnya merasa tak percaya, sampai tangan kekar yang bertengger dibahunya menyadarkan dirinya.


"Iya ini sangat serius! Yuk kita siap-siap!" Ajak ayah pada sang istri.


Tingkah keduanya tentu jadi perhatian calon mantunya itu sampai Ia tersipu melihat perlakuan itu. Entahlah dulu Ia sering melihat hal itu dari keduanya, namun itu tak berpengaruh apapun. Namun sekarang rasanya sangat malu untuk Ia lihat.

__ADS_1


Rangga yang melihat itu merasa greget pada orang tua bucin didepannya. Hingga Ia berdehem keras untuk membuat mereka segera pergi.


Sang ayah yang paham, segera menyeret sang istri untuk bersiap-siap dikamarnya. Sementara sepasang kekasih itu stay menunggunya.


"Sebenarnya ini gak serius kan kita akan nikah besok?" Tanya Hanna.


"Apa kamu pernah lihat aku bercanda?" Tanya balik Rangga.


"Jadi? Benar?" Tanyanya lagi dan dijawab anggukan Rangga. "Kenapa mendadak?"


"Ini gak mendadak. Aku sudah menunggumu sejak lama. Dan sekarang." Rangga menggenggam tangan gadisnya erat dan menatap kedua matanya dalam.


"Aku tak akan mengulamgi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku tak akan mebiarkanmu pergi lagi, meski sejengkal jari pun." Lanjutnya.


Hanna tersenyum menanggapi itu. Sungguh hatinya begitu menghangat mendenagr penuturan kekasihnya. Seperti terasa ribuan kupu-kupu yang berterbangan dari dalam perutnya.


Ia berhambur kedalam dekapan kekasihnya seraya menyembunyikan tangis bahagianya didada pria yang begitu tulus mencintainya. Bahkan mau menerima kekurangan yang mungkin orang lain akan menolaknya mentah-mentah.


Ternyata interaksi keduanya menjadi pusat perhatian kedua orang tua yang ikut mengembangkan senyumnya didepan pintu kamar mereka.


"Akhirnya Yah! Rangga menemukan cintanya." Ucap ibu yang sudah meloloskan air matanya. Meskipun putranya itu tak lahir dari rahimnya, bahkan tak tau kecilnya. Namun ibu sangat menyayanginya, seperti pada putrinya.


Ayah tersenyum melihat itu seraya mengeratkan rangkulannya. "Iya! Ini berkat doa yang selalu kamu panjatkan disetiap sujudmu." Balasnya. Keduanya tersenyum menanggapi itu.


"Jadi gimana siap berangkat?" Tanya Ayah sedikit keras, hingga membuyarkan pelukan mereka.


Keduanya gelagapan terkena cyduk kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya terkekeh melihat itu. Karena tak ingin membuang waktu lagi merekapun segera berangkat dengan sang ayah membawa mobil sendiri.


Jalanan yang cukup renggang mempercepat laju jalan mereka. Hingga tak dibutuhkan waktu yang lama, dua kijang besi itu sampai dihalaman rumah Hanna.


Sebelum sampai Hanna sudah memberitahukan bundanya untuk menyambut tamu yang akan hadir membawa niat baik untuk keluarganya. Bahkan sang abang yang tengah bekerja pun disuruh bundanya pulang untuk menjadi tamu mereka.


*


"Maaf bu! Mengganggu waktunya, kedatangan kami kesini dengan sebuah niat baik. Saya harap ibu dapat menerima kehadiran kami disini." Tutur ayah memulai obrolannya ketika mereka sudah stay duduk dikursi.


"Saya tak akan berbicara panjang lebar dan akan langsung ke intinya saja." Lanjutnya.


"Saya kesini sebagai wali dari putra saya yang bernama Rangga, saya ingin meminang putri ibu untuk putra saya. Bagaimana bu?"


Suasana mendadak tegang. Semua orang disana terlihat tak ingin mengengeluarkan sepatah katanya. Hingga suara bunda membuat suasana kian menegang.

__ADS_1


**************


Besok lagi, mau belok dulu sama yang seger-seger🤭 Jangan lupa jejaknya yaa😘


__ADS_2