
"Tapi tunggu lulus dulu lah! Nanggung juga." Ucap Siska membuat mereka menghembuskan nafasnya panjang karena sudah dibuat waswas.
"Ya udah, sementara Siska belum lulus. Abang gak boleh nemuin dia!" Tutur Mamih membuat bang Age menganga.
"Gak bisa gitu dong Mih!" Protes sang abang.
"Kenapa gak bisa? Kalo kalian tetap bertemu, kalian pasti membuat pelajaran baru. Bahaya!" Peringat sang Mamih membuat bang Age terdiam. Tapi tidak dengan si bumil yang sudah cekikikan.
"Mampus! Dipingit lu bang." Ledek Ayra tergelak. Keempat orang disana ikut tersenyum bahkan tertawa kecil mendengar ledekan si bumil, berbeda dengan sang abang yang sudah menekuk wajahnya dengan decakan kesal.
"Ya sudah, ini sudah malam. Siska mau nginep lagi apa mau pulang?" Tanya Papih.
"Aku harus pulang Pih. Besok harus masuk sekolah." Timpal Siska.
"Ya udah belajar yang rajin, cepet lulus! Kasihan putra Papih, takut juniornya jamuran." Ledek Papih membuat mereka tergelak. Siska hanya menunduk menyembunyikan rona dipipinya, entah kenapa membahas soal junior Ia selalu dibayangi pemandangan dipagi itu. Belalai yang melambai seolah meminta untuk dibelai.
"Ck. Paan sih Pih! Jangan ngajarin yang gak bener deh, Siska masih dibawah umur." Selak bang Age.
"Idihh siapa yang ngajarin siapa? Gak nyadar pak?" Sindir Ayra dan dijawab cebikan sang abang.
"Kalo tau Siska masih dibawah umur, jangan kamu ajarin yang nggak-nggak! Ntar ajarinnya kalo udah halal." Timpal Mamih.
"Itu juga gak aku ajarin nggak-nggak kok, malah aku ajarin yang iya-iya." Timpal bang Age dan sukses dapat timpukan bantal dari sang adik dan sikutan keras dari gadis disampingnya.
"Abang tu ya, emang dumes!" Ucap Ayra.
"Dumes paan?"
"Duda mesum!" Ayra tergelak dan hampir kena timpukan bantal kalau tak dihadang suaminya.
"Enak aja, bukan duda mesum." Timpal sang abang.
"Apa dong?"
"Duda gemesss."
Suasana semakin riuh dengan perdebatan dua bersaudara yang tak pernah mau kalah dalam adu argumennya itu. Tak terasa obrolan mereka ternyata semakin memanjang, dari mulai ledekan dan obrolan serius mereka bicarakan. Hingga tanpa disadari waktu sudah menunjukan jam sembilan.
"Bang udah malam nih!" Ucap Siska seraya melirik jam ditangan kirinya. "Mih, Pih, kak! Aku pamit dulu ya! Udah malam, takut juga dijalannya." Pamitnya.
Siska bangkit dari duduknya, menyalimi satu persatu orang disana. "Beneran gak mau nginep lagi aja, ini udah malem?" Tanya Mamih memastikan.
"Nggak Mih! Lain kali aku main lagi kesini." Timpalnya dan dijawab anggukan sang Mamih.
__ADS_1
"Inget Sis! Jangan mau diajarin yang aneh-aneh sama abang!" Peringat Ayra membuat Siska tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Dan sukses membuat sang abang mencebikan bibirnya.
"Belajar yang bener! Jangan mikirin abang mulu. Kamu tenang aja kalo dia berani macem-macem, nikahnya diskip sampe sepuluh tahun mendatang!" Ucap bang Ar yang sukses kena timpukan bantal sofa dari kakak iparnya.
"Sialan! Aki-aki dong gue." Protes sang abang membuat mereka kembali tergelak.
"Hati-hati dijalan! Salam juga buat ibu kamu dari kita disini." Ucap sang Papih dan dijawab anggukan Siska.
Setelah berpamitan untuk yang kedua kalinya, pasangan yang memiliki hubungan spesial tanpa pacaran itu kembali memasuki mobilnya. Kali ini sang abang langsung mengemudikan kijang besinya, meninggalkan kediamannya.
**
"Jadi bener nih kita mau LDR?" Tanya Siska memecah keheningan.
"Kamu kan gak mau abang nikahin." Timpal bang Age yang fokus kedepan.
"Bukan gak mau bang! Aku kan udah bilang gak bisa nolak. Tapi kan aku harus nyelesai in sekolah dulu."
Bang Age terdiam merasa bingung sendiri, Ia yang awalnya menolak untuk segera dinikahkan sekarang malah ingin segera disah kan. Mengingat dirinya yang harus jauh lagi dengan sang gadis, tentu membuat hatinya gundah gulana. Bayangan akan gadisnya yang masih labil, sampai nanti berubah pikiran dan tak mau menerima dirinya ternyata memenuhi otaknya.
Aaplagi syarat dari kanjeng Mamih yang tak mengizinkan untuk menemuinya, apakah dirinya bisa sanggup menjalani harinya yang mungkin akan terasa hampa? Padahal ini bukan kali pertama mereka jauh, bahkan keduanya baru bertemu kembali setelah satu semester berlalu.
Namun setelah keduanya mengungkapakan isi hatinya masing-masing dan pemberian pelajaran pertamanya, membuat dirinya tak bisa merelakannya menjauh begitu saja.
"Bang?!" Sapa Siska memegang bahunya, membuat sang abang terlonjak dan menoleh.
"Apa abang marah sama aku?" Tanya Siska takut-takut. Ia sampai menggigit bibir bawahnya melihat sang abang yang masih terdiam. Ia yang merasa diacuhkan sejak tadi, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Sang abang mendongak menatap intens wajah cantik gadis imutnya, kemudian tersenyum kala melihat wajah yang menggemaskan itu. Tangannya terulur mengelus pipi mulus gadis didepannya. "Banyak hal yang mengganggu pikiran abang, tentang hubungan kita." Tuturnya.
"Apa?"
"Masa depan kita."
"Apa soal pernikahan?" Tanya Siska, sang abang hanya tersenyum seraya menghela nafasnya panjang.
"Apa abang ingin kita segera nikah?" Tanyanya lagi.
"Gak juga."
"Terus? Apa? Emm... itunya! Apa? Juniornya udah gak bisa ditahan ya?" Tanya Siska ragu-ragu seraya menunduk.
Pletakk!!!
__ADS_1
"Awww!!" Sentilan mulus dijidatnya sukses membuat Siska meringis seraya mengusapnya.
"Kamu jangan meragukan keimanan abang ya! Gini-gini abang bukan penjelajah yang haus belaian." Tutur sang abang
"Ya lagian sih abang, kek gak sabaran banget pengen gitu." Timpal Siska menggerutu dengan terus mengusap jidatnya.
"Gitu apa? Hah?" Goda sang abang.
"Ya gitu!" Jawab Siska dengan wajah yang tiba-tiba terasa terbakar.
"Gitu apa? Hem?" Godanya lagi seraya mendekatkan wajahnya. Ternyata menggoda gadisnya itu semakin membuatnya greget.
"I-ya ya gitu." Jawab Siska gugup.
"Apa sih? Emang udah ngerti ya?" Sang abang semakin gencar menggodanya.
"Ihh.. Abang jangan gitu dong! Aku masih polos, belum ngerti." Timpalnya semakin menunduk membuat sang abang tertawa dan memcium jidat yang Ia sentil tadi.
"Biar ngerti, ntar abang ajarin!" Ucap sang abang dan langsung dapat timpukan manja dari gadisnya.
"Issshh! Abang mah." Rengek sang gadis membuat abangnya semakin tergelak.
Bang Age meghentikan tawanya dan menggenggam kedua tangan sang gadis seraya menatapnya, hingga Siska pun ikut menatapanya.
"Sebenarnya ada hal yang membuat abang takut." Tuturnya membuat Siska mengangkat sebelah alisnya.
"Apa?"
"Apa penantian abang gak akan sia-sia?"
"Maksudnya?"
"Abang takut kamu berubah. Akan banyak yang pantas bersanding denganmu. Sedangkan abang?" Ucapnya tertunduk. Ia merasa insecure karena statusnya itu.
Siska melepaskan genggaman sang abang, lalu menangkup kedua pipinya. Hingga wajah sang abang mendongak. Tanpa kata, Siska menyambar bibir sang abang. Mencoba mempraktekan apa yang abangnya ajarkan. Sang abang tak tinggal diam, satu tangannya terulur meraih tengkuk sang gadis. Pagutan semakin dalam, hingga suara decapan meriuhkan keheningan malam.
Ciuman yang awalnya lembut kian menuntut. Tubuh sang gadis melayang hingga terduduk dipaha sang abang. Kedua tangan Siska sudah bertengger dileher abangnya. Satu tangan sang abang kembali menahan tengkuk gadisnya, dan satu tangannya memeluk pinggang ramping sang gadis.
Lama keduanya berpagut. Menyalurkan rasa yang semakin meluber, membuat kenangan indah untuk menumbuhkan rindu yang akan segera hadir.
"Abang harus ingat satu hal. Hatiku cuma buat abang. Abang pertama dan terkahir untukku!" Balasnya dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Love you Abang Duda!"
__ADS_1
***************
Mari-mari ramaikan😊 Jangan lupa kasih jejaknya juga yaa😙