
Bang Age benar-benar membawa Siska berziarah ke makam Icha sebelum pergi ke kediaman sang abang. Keduanya berhenti di pintu masuk TPU untuk membeli bunga terlebih dahulu. Kemudian keduanya berjalan memasuki gang kecil untuk sampai diperistirahatan terakhir Mamihnya baby Aska.
"Cha! Maaf abang baru bisa berkunjung lagi kesini." Tuturnya mengusap batu nisannya setelah berjongkok diikuti Siska juga disampingnya.
"Abang kesini gak sendiri. Abang membawa dia, gadis imut yang selalu abang keluhakan sama kamu." Tuturnya seraya menggenggam tangan Siska dengan sebelah tangannya.
"Dia gadis baik, dia sangat menyayangi putra kita." Bang Age menjeda kalimatnya sebentar. "Apa boleh dia jadi ibu buat putra kita?" Tanyanya membuat Siska bergeming.
Otaknya tiba-tiba bleng. Ibu? Apa benar abangnya itu menginginkan Ia menjadi bagian dari mereka? Apa benar abangnya tengah meminta izin pada mendiang istrinya?
"Sis?" Tanya bang Age hingga membuatnya terkesiap.
"I-iya bang!" Jawabnya gagap.
"Apa kamu mau menyapanya?" Tanyanya dan dijwab anggukan Siska.
Siska bergilir posisi dengan sang abang. Kemudian mengusap batu nisannya. "Assalamualaikum kak Icha?!" Sapanya.
"Aku Siska, adek imutnya abang." Tutur Siska tersenyum. "Maafin aku ya kak! Dengan tak tau malu, aku udah mencintai dua orang berhargamu." Lanjutnya tertunduk.
Bang Age kembali menggenggam sebelah tangan Siska hingga membuatnya mendongak. Sang abang tersenyum kearahnya. Meyakinkan Siska kalo ini akan baik-baik saja.
Siska ikut tersenyum melihatnya. "Tapi kakak jangan khawatir. Aku gak akan jadi pengganti kakak, aku akan jadi pelengkap untuk mereka. Karena sampai kapanpun kakak akan jadi bagian terpenting untuk mereka. Aku juga akan menjaga dan menyayangi mereka." Tuturnya panjang kali lebar.
"Jadi izinkan aku buat mencintai mereka!" Lanjutnya membuat keduanya tersenyum.
Keduanya melantunkan ayat suci dan doa-doa untuk almarhumah, tak lupa juga menaburkan bunga disana. Setalah selesai mereka kembali memasuki mobil untuk menuju ke kediaman sang abang.
Didalam mobil keduanya kembali hening. Pengungkapan perasaan mereka didepan makamny Icha tentu membuatnya kembali canggung.
"Mmm bang!"
"Iya." Jawabnya melirik sekilas dan kembali fokus kedepan.
"Apa keluaraga abang bisa nerima aku?" Tanya Siska. Entah kenapa ada perasaan ragu mengenai keluarganya. Takut mereka tak bisa menerimanya yang seorang yatim.
Bang Age tersenyum. "Kamu bukannya sudah tau ya, gimana keluarga abang. Mereka sudah sangat menyayangimu, bahkan kan sebelumnya kamu sudah seperti keluarga buat kami." Tuturnya.
"Tapi kan aku cuma dianggep adek." Sindirnya.
Bang Age yang gemas menyentil jidat gadis disampingnya.
"Awww!!"
"Ihh abang mah, kebiasaan deh. Sakit tau!" Protes Siska mengusap jidatnya.
Bang Age tersenyum, Ia menarik kepala gadisnya dan mencium kening yang Ia sentil tadi. Ia menyandarkan kepala gadisnya dibahu dan mengelus rambutnya.
"Kau tau? Wajah ini yang selalu abang kangenin!"
__ADS_1
Sudah dapat ditebak, bagaimana perasaan Siska saat ini. Wajahnya begitu memerah bagai kepiting rebus, hatinya berdebar merasakan bahagia yang tiada tara.
**
Beberapa menit kemudian, mobil sampai dihalaman rumah sang abang. Kedatangan keduanya sudah disambut antusian baby gemas yang sudah bisa berjalan itu.
Siska berjongkok dan merentangkan tangannya kala sang baby berlari menghampirinya yang baru keluar dari dalam mobil.
"Ahhh gantengnya Onty!" Siska mendekap tubuh gemuk yang menggemaskan itu.
"Ti de." Celoteh balita yang belum bisa bicara dengan jelas itu.
"Kangen gak sama Onty?" Tanya Siska melerai pelukannya dan menciumi pipi gembulnya.
"Anen."
"Kalo kangen cium dong Onty nya!" Titah Siska menyodorkan pipinya serata menunjuknya. Tanpa diduga balita itu mencium kedua pipinya bergantian dan terakhir mencium bibirnya. Membuat Siska tertawa.
Bang Age ikut berjongkok mengusek kepala putranya gemas. "Kamu enak ya jatah Papih kamu ambil duluan." Tuturnya menciumi wajahnya seraya menggelitikinya membuat balita itu ikut tergelak.
Mamih yang berdiri didepan pintu tersenyum melihat ketiganya yang tertawa begitu bahagia. Terlihat keutuhan sebuah keluarga disana membuat hati sang Mamih begitu menghangat.
"Masuk yuk!" Ajak Mamih.
Ketiganya masuk, dengan baby Aska digendongan sang Papih.
"Kamu nginep kan Sis?" Tanya Mamih.
"Emmm" Siska melirik kearah sang abang untuk meminta jawaban.
"Gak papa kan Mih, Siska nginep semalam aja disini?" Tanya bang Age membuat Mamih tersenyum.
"Ya nggaklah. Lagian ngapain juga kamu nanya sama Mamih, ini kan rumah kamu?" Tanya Mamih dengan nada sindiran.
Siska hanya menunduk malu didepan sang Mamih, begitupun abangnya yang hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mamih tersenyum dengan tingkah keduanya.
"Boleh Mamih tanya sesuatu?" Tanyanya.
"Hemm?"
"Apa kalian pacaran?" Tanya Mamih hati-hati. Membuat Siska semakin menunduk karena malu.
"Nggak!" Jawaban bang Age tentu membuat Siska mendongak seketika.
"Kita gak pacaran." Jawabnya tersenyum menatap Siska. Yang ditatap sudah berkaca menahan sesak didadanya.
"Terus?"
"Kita hanya sedang saling menjaga hati, saling percaya, dan saling meyakinkan untuk memulai sebuah ikatan suci, disuatu hari nanti."
__ADS_1
Jawaban bang Age sukses meloloskan air mata yang sudah Siska bendung. Dengan tak tau malu, Ia menghamburkan dirinya memeluk tubuh kekar sang abang dengan isakan kecil dari bibirnya. Bang Age membalas mendekapnya mengelus rambutnya yang tergerai indah itu dan menciumi kepalanya berkali-kali.
Mamih ikut meneteskan air matanya. Ia membawa baby Aska keluar dari sana. Membiarkan keduanya menumpahkan rasa yang selama ini keduanya pendam.
"Udah gak usah nangis. Sesuai janji abang, kamu gak abang izinin buat pacaran." Tuturnya membuat Siska mengurai pelukannya.
"Terus kita ini apa?" Tanya Siska sedikit protes.
"Manusia." Canda bang Age dan langsung dapat tabokan dilengannya dari Siska membuat sang abang tergelak.
"Maksudku statusnya. Ihh abang mah."
"Statusnya, abang duda, kamu perawan."
"Ihh abang mah ngeselin!" Siska terus memukul bahunya gemas.
"Iya! Iya ampun." Bang Age mencekal lengan gadisnya dan langsung dihempaskan Siska.
"Tau ah! Abang ngeselin." Siska cemberut denga melipat tangannya didada.
"Jangan marah dong! Kalo marah tambah imut!" Goda bang Age namun Siska makin memajukan bibirnya. "Tu bibir minta dicomot kali ya!" Bang Age bener-bener mencomot bibirnya membuat Siska kembali memukul tangannya.
"Ihh kok beneran dicomot sih!" Protesnya.
"Lagian kamu tuh gemesin!" Timpalnya mencubit hidungnya gemas.
"Gak etis banget pake dicomot."
"Terus maunya diapa?" Tanya bang Age mendekatkan wajahnya, membuat Siska seketika terdiam. Hingga tatapan keduanya terkunci.
Ia tarik tengkuk sang gadis, menjangkau bibir yang tadi sudah didahului putranya itu hingga kedua benda itu menempal. Keduanya memejamkan mata, merasakan hal yang baru mereka lakukan. Jantung keduanya kembali berpacu cepat. Padahal ini bukan pertama untuk bang Age, namun rasanya berbeda. Ini lebih dari yang pernah Ia rasakan dulu.
Ia menyesap sedikit bibir manis itu, menyecapnya lembuut membiarkan sang gadis merasakan pengalaman pertamanya. Memberi kesan manis untuk pengajaran pertamanya.
Hingga Ia melepaskan tautan itu dan membuat keduanya membuka mata. Menghapus jejaknya dibibir ranum itu seraya tersenyum manis.
"Gak apa-apa yaa nyicil dulu!" Kekehnya.
***************
Jangan lupa tinggalkan jejak kalean rederss😉 Otewe bucin😂
Abange bucinnn😂
Adeke melehoy😂
__ADS_1