Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Kangen


__ADS_3

Kia mengeplak lengan suaminya. Hingga Ia mengaduh kesakitan. "Ihh om ya. Siapa juga yang akan malam pertama?" Protesnya.


"Kata bu bidan om tu harus banyak istirahat." Lanjutnya. "Nih! Minum obatnya!" Titahnya seraya mengambil obat dari atas nampan.


Ketika tak sadarkan diri, Rei memang diperiksa bidan yang menjadi tetangganya itu. Sang bidan yang tengah menghadiri acara tersebut segera memeriksa sang mempelai. Rei disarankan untuk banyak istirahat dan meminum obat yang diresepkan olehnya.


Rei tersenyum mendapati omelan dari istrinya. Ia hanya pasrah saat sang istri memberikan obat padanya. Ia pun segera menegaknya dengan air yang diberikan olehnya.


Kia membaringkan tubuh suaminya dan menyelimutinya. "Om istirahat ya! Aku keluar dulu." Titahnya.


Kia hendak berdiri, namun tangannya dicekal sang suami. "Jangan pergi! Temenin om disini." Titahnya.


"Iya ntar aku temenin. Aku keluar bentar ya!" Balas Kia dan dijawab gelengan kepala oleh suaminya.


Rei menarik tangan sang istri hingga menubruk dadanya. Lalu mendekap tubuh ramping itu. "Udah jangan keluar! Kita tidur aja!" Ucapnya seraya menarik sang istri untuk memasuki selimut bersamanya.


Hingga Kia pasrah dan ikut terlelap didalam dekapan suaminya.


**


Sementara itu diluar suasana masih begitu ramai. Acara foto-foto pun tak dapat dilakukan karena sang mempelai yang mendadak tak sadarkan diri itu. Namun keluarga merasa ada yang kurang, jika tak ada acara foto-foto bersama saat berkumpul seperti ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk foto bersama meski tanpa mempelainya. Semua tampak heboh dengan keluarganya masing-masing.


Ditengah kehebohan itu, seorang wanita hanya menatap mereka dari balik tirai. Ia tersenyum tipis melihat kehebohan diluar sana. Nampak ke khawatiran yang terpampang jelas diwajahnya. Hingga pelukan dari belakang berhasil membuatnya terlonjak.


"Lagi ngapain? Hem?" Tanya seorang pria dengan menenggerkan dagu dibahunya.


"Nggak bang! Lagi pengen sendiri aja." Balasnya seraya mengusap rahang suaminya.


Ia balikan tubuh yang masih saja ramping diusianya itu, kemudian menangkup wajahnya. "Gabung gih! Malu sama besan." Kekehnya, lalu tertawa.

__ADS_1


"Ishhh paan sih bang!" Balasnya berdecak kesal.


"Timom kenapa sih? Gak seneng putrinya nikah?" Tanyanya lagi.


"Siapa bilang? Aku tuh paling bahagia disini bang." Protes timom tak terima dengan tuduhan suaminya.


"Kalo bahagia, kenapa malah ngerem disini coba?" Tanya bang Age


Siska menghembuskan napasnya panjang. Ia peluk tubuh tegap didepannya melesakan wajahnya didada bidang itu. Bang Age membalas mendekapnya. Tau pasti lah ada yang tengah dipikirkan istrinya itu.


"Aku kangen sama aka bang." Lirihnya.


Bang Age tersenyum mendengar itu. Kasih sayang sang istri pada putra sulungnya itu benar-benar luar biasa. Meski tak terlahir dari rahimnya, namun kasih sayangnya melebihi dari seorang ibu kandung. Bagi istrinya Aska tetaplah putra sulungnya.


"Sama, abang juga." Balasnya.


Ditengah plukan hangtnya, tiba-tiba dering ponsel mengalihkan atensi mereka. Siska melepaskan pelukannya dan meraih benda bersuara itu dari atas nakas. Senyumnya mengembang kala tau siapa yang menghubunginya. Ia pun segera mengangkat panggilan itu, hingga wajah tampan terpampang jelas dilayar itu.


Siska tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Waalikumsalam aka!" Balasnya. Hingga air matanya lolos begitu saja.


"Timom kenapa nangis?" Tanyanya.


"Timom kangen sama kamu." Balasnya lagi dengan isakan dari bibirnya.


Aska tersenyum disebrang sana. Ia pun mengalami hal yang sama pada wanita hebat yang begitu tulus menyayanginya itu. "Iya, aka juga kangen sama timom." Balasnya.


"Sama Papih gak kangen nih?" Tanya bang Age yang tiba-tiba nimrung disamping istrinya.


Aska semakin melebarkan senyumnya. "Kangen! Banget."

__ADS_1


"Udah timom jangan nangis. Bentar lagi aku pulang! Timom harus bahagia buat dede." Pintanya.


"Timom cu,cuma sedih aja. Ha,hari spesial kek gini. Ka,kamu malah jauh." Ucapnya sesegukan, hingga sang suami terus menenenangkannya seraya merangkulnya.


"Gak papa mom! Aku ikut bahagia meski jauh. Aku selalu berdoa smoga dede selalu bahagia." Balasnya.


"Iya. Kamu juga harus bahagia! Pulang nanti, pastikan bawa calon istri." Pesan bang Age.


"Ishhh abang ya!" Protes Siska yang sudah bisa mengendalikan tangisnya seraya mencubit roti sobeknya hingga sang suami tergelak.


Siska tak ingin membahas masalah pribadi putranya. Tak ingin ikut campur dan membiarkan itu menjadi urusan putranya sendiri.


Aska hanya tersenyum menanggapi itu. "Maaf, tadi gak bisa virtual acara ijabnya!" Balasnya.


"Gak papa kak. Kamu kan udah bilang kemarin. Kalo ada tugas pagi." Balas timom dan diangguki putranya.


"Aka hubungi dede kok gak diangkat, apa masih ada acara?" Tanyanya.


"Ah itu." Siska dan bang Age saling lirik sebentar, kemudian memilih menceritakan kejadian yang menimpanya hari ini.


Lama panggilan itu berlangsung, hingga Aska pun memutuskan untuk mengkhiri panggilannya terlebih dahulu.


"Ya udah pih, mom. Aku tutup dulu ya, ntar sambung lagi." Pamit Aska dan diiyakan kedua orang tuanya.


Aska menghembuskan napasnya panjang. Masih teremenung diatas kursi didepan meja belajarnya. Ucapan sang papih masih terngiang dibenaknya. "Bahagia?" Tanyanya tersenyum tipis.


Ia buka laci mejanya, mengambil benda persegi dari dalam sana. Ia menekan tombol dari pinggir benda tersebut. Hingga layar yang tadinya gelap menjadi terang. Ia mengembangkan senyumnya kala melihat gambar didalam sana.


"Apa terlalu sulit untuk Tuhan mempertemukan kita kembali?" Ucapnya seraya mengusap gambar tersebut.

__ADS_1


*******************


Jangan lupa jejaknya yaa🤗


__ADS_2