Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 109 Pasangan abege


__ADS_3

Seorang pria menghampiri para bocah yang tengah fokus dengan kertas putih dan pensil ditangan mereka. Mendengar sapaan darinya membuat para bocil itu menoleh.


"Kakak!" Sapa Rei.


"Kalian lagi apa?" Tanyanya.


"Kita agi gamban om! Om cendiyi, nty na ana?" Balas balita cantik putri kesayangannya bang Age seraya menanyakan perempuan yang mereka ketahui akan menjadi onty nya itu.


"Gak ikut!" Balas Rangga tersenyum seraya mengelus rambut gadis kecil yang harus Ia akui keponakannya itu.


"Om mau gamban juda?" Tanya Kia.


"Emm gak ah! Om gak bisa gambar." Balasnya.


"Om payah! Kek om yey don. Pinten gamban!" Ledek balita cantik itu membuat Rangga tertawa seraya mengusek kepalanya gemas.


"Eh! Ga! Lu disini?" Tanya Siska yang baru datang menghampiri dan dijawab anggukan olehnya.


Ia letakan nampan yang berisikan susu dan buah diatasnya ke atas meja. "Sayang! Kalian minum dulu susu nya ya!" Titahnya. "Entar gambarnya sambung lagi. Biar apa de?" Tanyanya pada sang putri.


"Bian pinten!" Balasnya dan sukses dapat usekan dikepalanya dari sang timom.


"Pinter princess nya timom!" Pujinya seraya tersenyum.


Merekapun mengikuti intruksi sang timom untuk meminum susunya.


Hal itu tentu menjadi perhatian Rangga. Ia tersenyum miris melihatnya. Kenapa begitu sulit melupakan perasaan itu? Bohong jika Ia bilang ikut bahagia melihat wanita didepannya bahagia. Melihat Ia bersama pria yang dicintainya tentu membuat Rangga tak baik-baik saja. Namun Ia berusaha terlihat sebaliknya dan berusaha melupakan rasa itu, meski itu masih membutuhkan banyak waktu Ia harus bisa.


"Woy! Ngelamun aja lu."Tepukan tangan Siska dibahu Rangga membuatnya terlonjak kaget. "Masuk yuk! Gabung sama yang lain." Ajaknya.


Rangga tersenyum menanggapinya seraya menganggukan kepalanya. Ia berlenggang pergi mengikuti langakah saudara sambungnya kedalam rumah.


"Rangga? Sini nak!" Sapa Papih Alan seraya mengajaknya duduk.Rangga tersenyun mengiyakan seraya mendudukan diri disamping bang Age.


Bang Age yang melihat pria yang kini tengah duduk disampingnya menaikan satu alisnya kala melihat sang istri berjalan didepan pria yang harus Ia akui iparnya itu.


Siska ikut duduk dilengan sofa disamping suaminya. "Kenapa bang?" Bisiknya.

__ADS_1


Melihat raut wajah sang suami yang sepertinya kembali ke mode garangnya membuat bibirnya gatal ingin menanyainya. Ia yang tak mau mengganggu pembahasan para pria paruh baya yang tengah membahas pertambakan ikan ayah Dedes yang akan mereka serbu hanya mampu berbisik saja.


"Ngapain sama dia?" Bukan menjawab bang Age malah balik bertanya dengan ikut berbisik.


"Siapa?" Tanya Siska tak mengerti.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Tak mau membuat orang-orang ikut bertanya, Ia pun hanya terdiam.


Siska sedikit menggoyang lengan sang suami pelan untuk kembali bertanya. "Bang!" Namun bang Age masih mengunci mulutnya dan hanya sedikit menyunggingkan seyumnya. Siska hanya menghembuskan nafasnya panjang seraya berfikir apa yang sudah Ia lakukan, hingga membuat suaminya seperti itu.


Ia pun terus berfikir keras mengenai perubahan raut wajah suaminya. Namun Ia tak menemukan titik salah pada dirinya. Hingga suara sang suami berpamitan menyadarkannya dari pikiran kerasnya.


Ia segera menyusul sang suami yang sudah berlenggang kedepan pintu keluar. Hingga langkahnya dapat menyusul sumainya diteras depan.


"Abang mau kemana?" Tanya Siska mencekal tangan suaminya.


"Mau cari angin." Balasnya membuat Siska melipat dahinya berkali kali lipat.


"Tadi tuh siapa maksud abang?" Tanyanya.


"Emang kamu gak nyadar? Rangga ngikutin kamu?" Tanyanya balik.


"Ck! Bukan itu." Bang Age berdecak kesal menyelak penuturan istrinya.


"Lah terus?"


"Kamu gak nyadar? Dia tuh masih mengharapkan kamu." Timpal bang Age.


Melihat dari gerak gerik Rangga semenjak mereka disana dan satu atap dengannya, membuatnya kian yakin. Pria yang sempat Ia beri bogeman mentah dulu, masih menyimpan apik perasaannya pada sang istri.


Siska menghembuskan nafasnya panjang. Bukan hanya suaminya saja, dirinya pun merasakan hal yang sama. "Iya bang. Aku tau itu. Tapi ya mau gimana lagi kita gak bisa maksa buat dia gak suka kan?" Jelas Siska sreraya menyenderkan kepalamya dilengan sang suami.


Bang Age mnghembuskan nafasnya panjang. Benar juga yang dikatakan sang istri, Ia tak bisa mengendalikan itu. Ia usap kepalanya sayang, lalu mengecup dahinya. "Kita jalan yuk!" Ajaknya.


"Kemana?" Tanya Siska.


"Kemana aja. Lihat pemandangan hijau!" Balas bang Age.

__ADS_1


"Terus gimana sama anak-anak?" Tanya Siska. Tentu Ia mengkhawatirkan putra putrinya kalau harus ditinggal.


"Gak papa biarin aja. Ada Mamih, ada Ay juga! Lagian ibu juga ada. Apalagi dede kan ada Rei." Tuturnya. "Jadi, kita habiskan waktu kita berdua." Lanjutnya seraya merangkul pundak sang istri.


Siska tersenyum menanggapinya. Kemudain mengangguk mengiyakan keinginan sang suami. Ia menautkan tangannya dengan tangan suaminya, lalu keduanya berlenggang pergi meningglkan rumah itu.


Senyum tak luntur dari keduanya. Dengan berjalan bergandengan tangan, membuat pasangan ini kian uwu. Bukan seperti pasangan menikah, namun terlihat seperti pasangan abege yang tengah dimabuk cinta.


Bang Age menggenggam erat tangannya dan memasukannya kedalam saku jaketnya. Mengingat betapa dinginnya udara disana, mereka sampai harus memakai kain tebal untuk membungkus tubuhnya, seperti hoodie yang tengah mereka pakai.


"Kita mau kemana nih?" Tanya Siska, ketika mereka sampai dikebun teh bang Ar.


"Kita temui dulu seseorang." Balas bang Age.


"Siapa bang?" Tanya Siska dengan menaikan satu alisnya.


Bang Age tak menjawab. Ia hanya berjalan dan membuat Siska juga ikut terseret. Keduanya berjalan melewati jalan kecil bebatuan yang hanya bisa dilalui kaki saja.


Siska yang akhirnya mengerti kemana arah tujuan mereka, tersenyum bahagia. Ia sungguh bangga pada suaminya yang kian dewasa ini. Bahkan kian hari, suaminya kian perhatian padanya.


"Assalamualaikum!"


"Ayah! Maaf kita baru berkunjung lagi kesini." Ucap Siska seraya berjongkok diringi sang suami disampingnya.


Ia taburkan bunga yang sempat Ia beli terlebih dahulu dari penjual dijalan masuk kesana, diatas nisan berlumut namun begitu bersih itu. Ibu selalu menjaga dan merawat makam sang ayah, meski kini statusnya sudah bukan suaminya lagi.


"Kita gak bawa anak-anak, Yah! Abang lagi manja, lagi pengen dua-duaan." Curhatnya membuat sang suami tersenyum.


"Ayah tau, abang ini bukan hanya suami aku. Dia juga Ayah, kakak, bahkan teman aku. Dia adalah partner segalanya bagiku. Jadi Ayah jangan khawatir, ayah harus benar-benar tenang disana. Karena aku punya abang yang menggantikan tugas Ayah." Tuturnya. Hingga setetes bulir hangat dari ujung matanya memaksa keluar seiring sayatan kecil dibagian dadanya yang sedikit menyesakan.


Bang Age yang mengerti, segera menarik tubuh ringkih sang istri dan membawanya kedalam dekapan. Mungkin ini cara istrinya meluapkan rasa rindu pada sosok cinta pertamanya.


Ia usap surai hitam dan punggung yang sedikit bergetar itu, mencoba menenangkannya.


"Menangislah! Jika itu akan mengobati rasa rindumu. Namun kembalilah tersenyum, karena kebahagiaanmu ada didepan matamu!"


***************

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaa gaisss!!! Ayo ramaikanšŸ¤—


Ini kira-kira kita loncatin aja, bocil-bocilnya gede? Apa masih pengen bocil aja dulu? Yuk dikomen yaa!!


__ADS_2