Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 66 Bahagia


__ADS_3

"Hamil?" Ucap ketiganya serentak.


Siska menutup mulutnya merasa tak percaya. Penantiannya selama ini ternyata berbuah hasil. Setelah insiden keguguran waktu itu, hampir setahun pasangan suami istri itu menanti kembali buah hati mereka. Dan sekarang penantian itu berujung manis.


Setetes air dari ujung matanya, membuktikan alangkah bahagianya Ia mendapat kabar baik ini. Puji syukur pun Ia ucapkan dengan khidmat dalam hatinya.


Ayra berhambur memeluk kakak iparnya. Ikut pula merasakan kebahagiaannya. "Selamat ya timom! Ikut bahagia." Tuturnya.


Keduanya berpelukan dalam rasa bahagia yang membuncah. Sementara itu bang Age masih terpaku, merasa tak percaya dengan apa yang Ia dengar. Benarkah hasil kerja kerasnya tiap malam mengobrak abrik martabak berbuah hasil? Pikirnya.


Siska yang baru tersadar kalau sang suami belum ada reaksi, melerai pelukannya dengan adik iparnya. Ia menoleh melihat suaminya yang terdiam bagaikan patung.


"Abang!" Panggilan Siska mampu membuat suaminya terkesiap.


"Hah iya!" Jawabnya masih merasa tak percaya. Namun melihat senyum yang mengembang dari sang istri, membuatnya percaya dan ikut tersenyum.


Ia yang masih duduk diatas brankar beralih menghampiri sang istri dan berhambur memeluknya dari belakang.


Mencium pipinya dan menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri, menyembunyikan tangis bahagianya disana. "Kamu hamil. Kamu hamil sayang." Gumamnya menahan isak tangisnya.


Siska tak berhenti menyunggingkan lengkungan bibirnya, Ia usap punggung tangan sumainya yang bertengger dilehernya.


Dokter dan suster disana tersenyum ikut bahagia dengan pasiennya itu. Begitupun Ayra, meski abangnya itu selalu ngeselin. Namun rasa sayangnya begitu besar untuknya. Rasa sakit dan bahagianya sang abang, dirasa pula olehnya. Hingga Ia pun ikut terhura melihat keduanya.


"Maaf pak! Kita periksa dulu baby nya ya!" Ucap dokter setelah sekian lama membiarkan keduanya hanyut dengan kebahagiaannya.


Bang Age dengan terpaksa akhirnya melerai pelukannya. Membiarkan sang istri digiring menuju brankar untuk melakukan pemeriksaannya.


Dokter mulai melakukan tugasnya. Semua tampak melihat ke arah layar monitor. Memperlihatkan bulatan kecil yang dijelaskan sang dokter, bahwa itu calon si jabang bayi. Hingga diperkirakan usia kandungannya sudah memasuki tujuh minggu.


Air mata Siska kembali jatuh, diiringi jantung yang berdebatr merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Begitupun bang Age yang stay disamping istrinya. Ia raih sebelah tangan sang istri mengusapnya lembut. Lalu mencium keningnya lama. Menyalurkan rasa syukur dan bahagianya.


Akhirnya pemeriksaan pun selesai. Kini mereka keluar setelah mendapat resep vitamin dan beberapa pesan dari dokter.


"Timom!" Pekik Aska yang tengah duduk dikursi tunggu bersama Sena dan ditemani Papa Ar. Ia berlari menghampiri timomnya dan mendekap kakinya.


"Sayang!" Siska mengelus rambutnya sayang.


"Timom nda papa?" Tanyanya mendongakan kepalanya menatap timomnya.


Siska tersenyum, putranya itu biarpun masih kecil tapi begitu sayang dan perhatian padanya. Ia menunduk, menggapai pipi gembilnya. Mencubitnya gemas.

__ADS_1


"Gak! Timom gak papa sayang." Jawabnya.


Bang Age ikut berjongkok menekukan kakinya untuk mensejajarkan dirinya dengan sang putra.


"Sekarang Aka jangan minta digendong sama timom ya!" Ucap bang Age seraya mengusap rambutnya sayang.


"Apa Pih?" Tanya Aska.


Bang Age tersenyum dan mengelus perut rata sang istri. "Disini, ada dede bayinya!" Tuturnya membuat sang putra tersenyum lebar.


"Dede Pih?" Tanya Aska lagi dan diiyakan sang Papih.


"Holey! Aka puna dede." Soaraknya dengan girang dan berhambur memeluk perut timomnya.


Semua tersenyum melihat tingkah balita tampan itu. Begitu bahagianya Ia yang akan menjadi seorang kakak lagi. Setelah mengklam balita cantik yang bersamanya menjadi adiknya. Kini Ia benar-benar akan mrndapatkan adik baru dari timom kesayangannya.


Mobil yang ditumpangi mereka sampai dihalaman depan rumah bang Age. Sepasang suami istri itu turun tapi tidak dengan kedua adik iparnya yang memutuskan untuk pulang kerumahnya. Bahkan Aska merengek ingin ikut dengan dede Sena nya. Meninggalkan keduanya dirumah itu.


Setelah menutup pintu depan. Siska hendak berlenggang kekamarnya. Namun langkahnya terhadang kedua tangan yang bertengger diperutnya. Usapan diperut ratanya membuat Siska tersenyum bahagia dengan ikut mengelus punggung tangannya.


"Makasih sayang! Makasih! Abang bahagia. Sangat!" Tuturnya menempelkan dagu dibahu sang istri.


Sebelah tangan Siska membelai lembut pipi suaminya. "Iya bang! Aku bahkan sangat, sangat bahagia." Ucapnya.


Siska tergelak mendenagar penuturan suaminya. "Dedenya sih gak papa. Enatah sama Papihnya?" Sindirnya.


Bang Age mendongak dan tersenyum. Ia tarik tubuh sang istri kedalam dekapannya. Mengelus rambutnya sayang. Menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi.


"Gak papa sayang. Demi kalian abang rela berpuasa." Kekehnya. "Makasih sayang! Udah bersedia melahirkan keturunan abang. Abang gak tau, bagaimana caranya abang mengungkapkan rasa bahagia ini. Yang jelas abang bahagia!" Ungkapanya.


Siska semakin mengeratkan pelukannya mendengar ungkapan suaminya.


"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya!" Titah bang Age dan dijawab angguka istrinya.


Siska hendak berlenggang namun kembali dicegat suaminya. Tanpa diduga, bang Age mengangkat tubuhnya hingga membuat Siska sedikit menjerit.


"Abang!"


"Inget! Kata dokter kamu gak boleh cape!" Ucapnya seraya berjalan menggendongnya ala bridge style.


"Maksudnya gak gini juga bang!" Protesnya.

__ADS_1


"Udha diem. Jangan bawel!" Titahnya.


"Bukan bawel bang. Aku kan berat. Kasihan abangnya." Protesnya lagi.


"Nggak! Kamu gak berat biarpun nanti perut kamu membulat, abang akan selalu siap buat gendong kamu." Tutur bang Age membuat Siska terkekeh.


"Perkasa ya bang?" Goda Siska membuat bang Age tertawa kecil.


"Menurut kamu gimana?" Goda balik bang Age.


"Perkasa! Perkasa banget!" Jawab Siska tegelak.


"Ya lah! Kalo gak, mana mungkin bikin kamu merem melek." Timpalnya tergelak dan sukses dapat pukulan manja didadanya.


Bang Age merebahkan tubuh ramping sang istri diatas kasur dengan hati-hati. Menyelimutinya sampai dada. Bang Age hendak pergi namun dicekal sang istri.


"Abang mau kemana? Disini aja!" Titahnya.


"Bentar ya, abang bikinin dulu susu buat kamu!" Tuturnya membuat Siska tersenyum dab mengiyakan.


Bang Age pun berlrnggang keluar kamar menuju ruang tamu mengambil vitamin dan susu yang direkomen sang dokter. Lalu berlalu menuju dapur. Bang Age yang pernah melakukan hal yang sama dulu, tentu sudah tak asing lagi untuknya. Baginya memanjakan istri adalah kewajiban utamanya.


Setelah susu siap, Ia kembali ke dalam kamar. Memeberikan susu dan vitaminnya pada sang istri dengan telaten.


"Sekarang kamu istirahat ya, abang temenin!" Tuturnya yang duduk ditepi ranjang seraya merapihkan rambut sang istri yang sudah berbaring.


Ia kecup keningnya lama. Beralih ke kedua pipinya dan berakhir dibibirnya, hingga menyecapnya lama.


"I love you timom!"


"Love you too Papih."


Keduanya pun tertawa. Rasa bahagia dihati keduanya membuat mereka tak sedetik pun melepas senyumnya.


"Abang disini aja!" Titah Siska menepuk kasur disampingnya.


"Nggak! Abang diluar aja!" Balasnya.


"Kenapa?" Tanya Siska heran.


"Takut batal. Kan lagi puasa." Balasnya hingga keduanyapun tergelak.

__ADS_1


**************


Jangan lupa jejaknya ya! Maaf akhir-akhir ini cuma bisa up 1bab. Banyak persiapan menyambut lebaran euyy🙈😁


__ADS_2