Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Mengintai


__ADS_3

Flash back on!


Dua bulan sebelumnya...


"Maaf bu, kak! Aku gak bisa menerima perjodohn ini." Ucap seorang gadis yang tengah duduk dikursi disebuah kafe.


"Tapi kenapa Nak?" Tanya seorang wanita paruh baya yang duduk dihadapannya.


"Aku gak bisa hidup sama orang yang hatinya saja sudah menempat pada orang lain." Balasnya.


"Maksudmu?" Tanya satu wanita lagi didepannya.


"Apa kakak gak sadar? Rei mencintai seorang gadis." Balasnya. Hingga kedua wanita itu mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Gadis? Siapa?" Tanya keduanya serentak.


"Menurut kalian, siapa gadis yang selalu didekatnya?" Bukan menjawab gadis itu malah balik bertanya.


Keduanya terdiam mencerna ucapan sang gadis dan terus berpikir keras. Hingga keduanya membolakan matanya dengan mulut menganga lebar, kemudian saling tatap satu sama lain.


"Dede?!" Pekik keduanya serentak.


Si gadis tersenyum melihat ekspresi kedua ibu yang sepertinya baru menyadari hal itu. Ia memang menyukai Rei, tapi dengan pemuda itu sudah memiliki cintanya sendiri. Dan Ia tak bisa memaksa itu.


"Jadi ibu sama kakak pikirkan lagi tentang perjodohan ini. Saya menolak perjodohan ini. Rei dan Kia, mereka memiliki cinta yang besar." Ucapnya.


Kedua wanita itu serentak menghembuskan napasnya panjang. Kemudian memijit pelipisnya bersama.


"Ya udah kak, bu. Aku pamit dulu!" Pamit sang gadis pada keduanya dan diiyakan mereka.


Setelah kepergian sang gadis keduanya masih hening. Tak ada yang mengeluarkan suara apapun dari mereka. Hanya hembusan nafas dan mata keduanya saja yang seperti mengeluarkan kata-kata. Hingga suara dari sang ibu memulai obrolan serius mereka.


"Sis? Apa bener ya ucapan Vita tadi?" Tanya Ibu masih tak percaya.


"Entahlah bu, aku juga bingung." Balas Siska. "Tapi kalo dipikir-pikir, kek nya emang ada yang janggal deh dari mereka." Lanjutnya.


"Coba deh kita lihat-lihat tingkah mereka, apa bener ada yang janggal atau nggak!" Balas Ibu dan diangguki Siska.


"Oke. Kita pulang sekarang dan mulai mengintai. Sekarang mereka pasti sedang dikamar Rei." Tutur Siska hingga didetik berikutnya mereka membolakan mata.


"Kamar?!" Pekik keduanya serentak.


Dengan tergesa mereka segera meninggalkan kafe dan pulang, setelah membayar minuman mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


**


Sementara itu disebuah kamar sepasang anak manusia tengah merayakan keberhasilannya. Gelak tawa begitu menggema diruangan itu.


"Aku yakin om, dia udah ngebatalin perjodohannya." Ucap seorang gadis pada pria yang Ia sebut om itu disela tawanya.


"Iya. Ide kamu emang jenius. Kamu yang terbaik." Balasnya seraya mengusek pucuk kepala gadisnya.


Rei membukakan minuman kaleng bersoda untuk ponakannya dan dirinya. Tak lupa juga cemilan yamg menemani dua minuamn itu diatas nampan yang Ia ambil dari dapur.


"Nih!" Ia memberikan minuman itu pada sang gadis, hingga Ia segera menerimanya.


"Untuk kemenangan kita!" Ucap Kia mengangkat kaleng minumannya dan diikuti Rei juga. Lalu menyatukan dua kaleng itu untuk bersulang. Hingga keduanya kembali tertawa dan meminumnya.


Saking enaknya tertawa, Kia sampai tersedak air bergelembung itu.


"Uhuk! Uhuk!"


"Ya ampun, pelan-pelan de!" Ucap Rei menepuk-nepuk pundak sang gadis, setelah menyimpan minumannya dan juga minuman sang gadis keatas nampan tadi.


Air mata Kia ikut keluar seiring menahan seret ditenggorokannya. Rei mengambilkan segelas air dan diberikan pada gadisnya itu, dan segera ditegaknya.


"Gimana udah meningan?" Tanya Rei dan dijawab anggukan Kia.


"Makasih ya om!" Ucap Kia tersenyum manis dan dibalas senyuman tak kalah manis oleh Rei dengan terus mengusap lembut pipinya.


Ternyata interaksi keduanya menjadi perhatian kedua ibu yang mengintip diambang pintu. Terdengar hembusan napas panjang dari keduanya. Mereka pun berlenggang menuju sofa dan duduk disana, setelah Siska hampir saja oleng dan beruntung ditahan sang ibu. Kepalanya mendadak keleyengan memikirkan sang putri dan adik sambungnya itu.


"Jadi kita harus gimana Sis?" Tanya Ibu khawatir seraya membelai rambut putrinya.


Siska hanya menggeleng sebagai jawaban. "Entah bu. Aku hanya berpikir, gimana jadinya mereka saat jauh dari kita?" Tanya balik Siska dan hanya dibalas hembusan napas panjang dari ibu.


"Mereka udah dewasa bu. Aku takut terjadi sesuatu sama mereka. Takut tiba-tiba mereka khilaf." Lanjut Siska.


"Apa kita interogasi mereka aja ya?" Tanya Ibu. Sebagai seorang ibu Ia pun mengkhawatirkan hal yang sama.


Mengasuh putra sambungnya itu sedari kecil, tentu membuat Ia serasa putra kandungnya sendiri. Dan sekarang Ia harus mengakui adanya cinta dintara putra dan cucu kandungnya itu. Sungguh Ibu pun tak kalah pusing dengan Siska. Meski keduanya jauh dari ikatan darah, namun tetap saja akan terasa aneh untuk keluarganya.


"Udah, jangan terlalu dipikirin bu. Entar migrain ibu kambuh. Kita bicarakan ini sama abang juga ayah. Kita akan cari solusinya sama-sama ya!" Tutur Siska yang khawatir melihat begitu kerasnya sang ibu berpikir.


"Nggak Sis! Ibu cuma bingung aja. Kalo mereka nikah, mereka panggil ibu apa ya?" Tanya Ibu dan sukses membuat Siska berdecak kesal.


Alih-alih Ia mengkhawatirkannya. Eh si ibu malah mikirin hal yang gak penting. Siska lebih memikirkan, bagaimana mereka bisa tinggal dalam satu atap dengan memiliki perasaan lebih dari sekedar keluarga.

__ADS_1


Ditengah kecemasan kedua wanita itu, para pria yang tengah mereka tunggu kedatangannya, akhirnya datang menghampiri mereka. Dengan cepat mereka pun mengadakan rapat dadakan dikamar ibu. Kebetulan Rangga tengah berada dirumah istrinya jadi hanya keempat orang tua itu saja yang ada disana.


"Sebenarnya ada apa ini?" Tanya ayah heran melihat tingkah istri dan putrinya itu.


Ibu menghembuskan napasnya panjang sebelum memulai ceritanya. "Hari ini, Vita membatalkan perjodohannya." Tuturnya.


"Hah?! Kok bisa? Bukannya Vita udah lama ya suka sama Rei?" Tanya Ayah heran.


"Iya, Vita emang suka sama Rei. Tapi Rei sukanya sama gadis lain." Balas Siska.


"Siapa?" Tanya ayah lagi.


"Dede!" Balas kedua wanita itu serempak.


"What???"


Bukan ayah melainkan bang Age yang mengeluarkan kata yang menggema diruangan itu.


"Yang bener aja? Masa Rei suka sama princess ku." Tanya bang Age, merasa tak terima.


"Emangnya kenapa sama Rei. Putra ayah ganteng kok?" Protes ayah ikut tak terima.


Bang age hendak mengeluarkan kalimatnya lagi, namun jari telunjuk sang istri segera membungkamnya.


"Suuutt!!!"


"Udah. Ini bukan waktunya debat. Ini waktunya cari solusi. Kita gak bisa biarin mereka lama-lama, apalagi mereka satu atap. Kita udah lihat, mereka emamg memendam perasaan yang sama." Tutur Siska.


"Jadi, apa yang harus kita lakuin?" Tanya ayah. "Gak mungkin juga kita paksa mereka menjauh. Tau sendiri, dede yang memilih untuk lanjut sekolah bareng Rei." Lanjutnya.


"Aku bingung, aku terserah kalian aja gimana benarnya." Balas Siska.


"Apa kita nikahin aja?" Tanya Ibu hingga keempatnya saling lirik.


Bang Age menarik satu sudut bibirnya melihat itu hingga ketiganya mengerutkan dahinya heran.


"Oke! Kita nikahin mereka. Tapi-" Bang Age menjeda ucapannya, membuat mereka semakin heran.


"Kita buktiin dulu, keseriusan cinta mereka." Lanjutnya dan dijawab anghukan mereka.


Flash back off


***************

__ADS_1


Dicrazy up ini.. kasih bunga sekebon boleh lahh🤣 ada yang punya vote, boleh juga tuh🤭 Yuk ramaikan!


__ADS_2