
"Kamu yakin, kita mau kesana?" Tanya bang Age memastikan.
"Iya bang, aku yakin." Timpal Siska.
"Emang gak bakalan takut?" Goda bang Age melirik sekilas pada sang istri, kemudian kembali fokus kedepan kemudi.
"Gak papa, kan bisa nyelip diketiak abang!" Timpalnya tergelak.
Bang Age tersenyum menanggapi penututan sang istri dan mengusek pucuk kepalanya gemas.
Mobil pun sampai diparkiran sebuah pusat perbelanjaan. Rencananya sibumil menginginkan menonton film bergenre horor. Entah kenapa, Ia yang penakut malah menginginkan menonton film yang menguji adrenalin nya. Biasanya Ia hanya menonton romantis, komedi, bahkan film anak yang sering Ia tonton bersama sang putra.
Tak berselang lama dua kuda besi itu sudah memasuki parkiran. Keempat orang itu pun turun dan memasuki mall dengan berjalan beriringan.
Lia yang beriringan bersama sang bos, berjalan cepat kedepan menyerobot lengan Siska yang tengah digandeng suaminya dan menariknya, jalan lebih dulu.
Bang Age yang kaget, langsung protes. "Eehh! Istri gue tuh!"
"Bentar bang, pinjem dulu!" Timpal Lia yang sedikit menyeret Siska sedikit jauh dari para pria.
"Dikira barang apa? Pake dipinjem." Gerutu bang Age. Namun tak ayal Ia pun membiarkannya.
Ivan hanya geleng-geleng kepala melirik sekilas pria disampingnya. Bisa-bisanya Siska tahan sama pria posesif kek gini? Pikirnya.
"Eh, lu belom jelasin sesuatu sama gue?" Bisik Lia.
"Apa?" Tanya Siska mengerutkan dahinya heran.
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kalian bertiga? Kok gue ngerasa aneh ya?" Tanya Lia mulai mengeluarkan kekepoannya itu.
Siska cekikikan mendengar pertanyaan bestienya itu dan membuat Lia keheranan.
"Napa sih?" Tanya Lia semakin kepo maksimal.
"Lu beneran pengen tau?" Tanya Siska lagi dan dijawab anggukan Lia.
"Dia itu, cengceman gue dulu."
"What?" Lia shok dengan bola mata yang nyaris keluar. Kemudian segera menutup mulutnya, kala atensi semua orang tertuju padanya.
__ADS_1
"Biasa aja sih!" Timpal Siska mengusap wajah sahabatnya itu.
"Terus-terus?" Cecar Lia yang masih belum puas dengan jawaban sahabatnya itu.
"Terus-terus apa?" Tanya balik Siska.
"Terus maksud gue, kalian udah ampe mana?" Tanya Lia lagi.
"Ya gak ampe mana-mana, emangnya gue bisa berpaling dari abang duda gue? Nggak lah! Buat gue bang Age udah paling sempurna." Tutur Siska dan dijawab anggukan Lia.
"Bertepuk sebelah tangan dong?" kekeh Lia dengan matanya melirik kebelakang melihat bosnya itu.
Posisi yang berjauhan, tentu membuat kedua pria itu tak mendengar obrolan keduanya. Ada rasa geli dihati Lia, ingin rasanya menertawakan sang bos yang menyebalkan itu menurutnya. Namun sayang sama gaji, takut kena skip.
Siksa tertawa menanggapi penuturan sahabatnya. "Ya udah, lu jabat tangannya gih, kasihan!" Ledeknya.
"Ogah!" Tolaknya dengan mencebikan bibirnya. Tak tau saja sahabatnya itu, si bos nya itu begitu menyebalkan, senang sekali membuatnya menderita. Dan sekarang diminta berhubungan dengannya, rasanya kiamat mungkin segera tiba.
Siska tergelak mendengar penolakannya. "Biasanya nih ya, yang ogah-ogahan kek gini gampang banget dijodohin sama mak othor. Jadi nikmati aja!" Ledeknya lagi dan hanya ditanggapi cebikan bibir dari Lia.
Sesampainya ditempat yang dimasksud, para pria membeli tiket dan popcorn. Sedangkan para wanita menunggunya. Setelah mendapatkannya merekapun masuk, karena film akan segera dimulai.
"Bener-bener nih si bumil, mau bunuh gue kek nya!" Gerutunya pelan membuat Ivan tersenyum.
"Setakut itu?" Goda Ivan berbisik.
"Ya takutlah!" Lia ikut berbisik, seraya menenggelamkan wajahnya didada Ivan kala melihat adegan yang membuat jantungnya seakan copot. Dan hal itu sukses membuat Ivan tersenyum lebar.
Lia yang sadar buru-buru melepaskan diri dan berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat. "Maaf!" Sesalnya dengan menunduk menyembunyikan pipinya yang terasa panas. Ivan semakin melebarkan senyumnya melihat tingkah gadis disampingnya, tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
Bang Age merasa heran dengan tingkah sang istri yang tak menjerit sama sekali. Ini sungguh luar biasa, sang istri yang begitu penakut mengenai hal mistik berubah seratus delapan puluh derajat hari ini. Apakah ini yang dinamakan ngidam? Sudah dipastikan baby nya kelak akan menjadi seorang pemberani ini mah.
Film pun selesai. Kini keempatnya keluar dan hendak pulang. Hingga lagi-lagi Lia hendak masuk ke mobil bang Age.
"Ehh! Lu mau kemana?" Cegat Siska.
"Pulanglah!" Jawabnya santai. "Bang anterin ya!" Titahnya pada bang Age.
"Enak aja! Pulang sono sama bos lu!" Tolak bang Age.
__ADS_1
"Jangan gitu dong bang! Kasihan sama gue napa?" Ucap Lia memelas.
"Udah lu bareng kak Ivan aja! Gue mau nginep dirumah kak Ay. Terus lagi nih si Aka udah rewel. Kalo kita nganterin lu dulu, bisa ngamuk dia kasihan!" Tutur Siska memperlihatkan layar pipihnya hingga nampak video dede Aska yang tengah menangis, video kiriman dari adik iparnya.
Lia menghembuskan nafasnya pasrah. Ia melirik ke arah bos nya yang tampak diam saja. "Ya udah deh, aku cari angkutan umum aja!" Tuturnya dengan tatapan masih mengarah pada bosnya itu.
Bang Age menghembuskan nafsnya kasar. Kenapa pria yang menjadi bosnya Lia itu tak juga peka? Pikirnya. Gak nyadar ya, si abang! Dianya sendiri juga dulu begitu.
"Van!" Panggilnya membuat Ivan menoleh. "Lu anterin nih Lia! Kalo lu gak mau nganterin? Gue-" Belum selesai ucapannya langsung diselak Ivan.
"Apa? Lu mau nyumpahin gue lagi?" Selaknya. "Tanpa lu suruh, gue bakalan anterin dia. Karena dia emang tanggung jawab gue." Tuturnya membuat ketiganya menaikan sebelah alisnya serentak.
"Dia kan karyawan gue." Ivan yng melihat keheranan mereka kembali menyelaknya. Takut-takut mereka salah paham.
"Bagus kalo gitu. Itu namanya laki-laki sejati." Ucap bang Age membuat Ivan memutar bola matanya malas. "Yuk yang!" Ajaknya pada sang istri.
Setelah berpamitan pada sepasang bos dan karyawannya itu, kini bang Age dan Siska memasuki mobilnya. Hingga kuda besi itu melesat meninggalkan tempat itu.
Dengan terpaksa Lia pun memasuki mobil sang bos. Meski dengan perasaan kesal Ia pun mencoba untuk mengalah.
Hening!
Tak ada percakapan didalam mobil itu, Lia hanya fokus dengan benda pipih ditangannya untuk menghilangkan rasa bosannya. Sungguh, bungkam bukanlah terlihat seperti dirinya. Hingga suara Ivan membuatnya mengalihkan atensinya.
"Kenapa kau memilih bekerja bukan kuliah?" Tanyanya.
"Karena aku gak suka berfikir." Balas Lia dengan jempol yang masih menari diatas benda itu.
"Terus kamu lebih memilih menikah muda kek Siska gitu?" Tanyanya lagi dengan nada sindiran.
"Kenapa kalo nikah muda?" Tanya Lia menoleh. Dan dijawab gedikan bahu oleh bosnya.
Lia menyeringai. "Aku sih mening nikah muda, mumpung masih kuat." Tuturnya membuat Ivan tersenyum. Hingga kalimat terakhir Lia, sukses membuatnya shok dan geram bersamaan.
"Dari pada udah tua gak nikah-nikah! Yakin tuh masih kuat?" Celetuk Lia.
****************
Mak othor mau ngucapin, Minal aidzin walfaizin😇 Mohon maaf lahir dan bathin🙏
__ADS_1
Maaf ya mak othor suka bikin kesel kalian, suka banget bercanda! Mohon dimaafkan! Maaf juga mungkin tulisan mak othor tak sesuai dengan apa yang kalian inginkan, maaf juga suka oleng dari alurnya😁 Tenang kalian semua mak othor maafkan🤭 Makasih buat kalian semua yang selalu setia dengan karya receh aku! Dukungan kalian begitu berharga buat aku🙏🙏🙏