
Setelah keberangakatan suami dan juga putranya, kini Siska tengah mengawasi putrinya bermain dengan dirinya yang asyik berghibah dengan bestienya.
"Eh tadi yang dimaksud Kia om. Om siapa?" Tanya Lia pada sahabatnya itu.
"Emm.. Palingan Rei. Dia tuh paling nurut sama Rei. Petuah apapun yang diberikannya pasti masuk diotaknya." Balas Siska dan dijawab oh ria oleh Lia.
"Eh tapi ya, bukannya mereka jarang ketemu? Tapi kok bisa sedekat itu?" Cecar Lia lagi.
"Ya kearena mereka sering VC lah. Itu juga karena Rei menginginkan adik lagi, jadi dia deket banget sama Kia." Balas Siska.
"Kalo emang Rei pengen punya adik, kenapa gak biarin aja ibu hamil lagi?" Pertanyaan Lia sukses membuat si boba melayang tepat diwajahnya.
"Aww!! Kebiasaan deh lu. Main timpuk aja!" Gerutunya seraya memegang hidungnya yang kemungkinan memerah.
"Untung lu tahan banting yaa bob!" Ucapnya pada boneka yang sukses mencium wajahnya.
Siska berdecak kesal mendengar penuturan bestie somplaknya itu. Pemikirannya tentang ibunya yang harus hamil lagi tak terbesit sedikit pun diotaknya. Memiliki adik diusainya yang sekarang tentu ditolaknya mentah-mentah.
"Astagfirulloh!! Amit-amit! Amit-amit!" Siska sampai menepuk sofa dan kepalanya bergantian kala otaknya membayangkan sang ibu menggendong bayi diusianya sekarang membuatnya ketakutan sendiri.
Lia yang melihat itu merasa aneh. Hingga lipatan didahinya begitu kentara terlihat. "Napa sih lu?" Tanyanya.
Siska terkesiap dan menatap tajam sahabatnya itu. "Ini semua gara-gara lu!" Ucapnya membuat Lia kebingungan.
"Kok gue?"
"Ya lu. Coba aja lu gak bahas ibu hamil lagi. Otak gue gak mungkin ngelantur." Protes Siska membuat Lia terkekeh.
"Ya udah sih. Itu kan andai-andai doang." Elak Lia.
"Dasar emang!" Siska kembali menimpuknya dengan si boba.
Kedua ibu itu terus bercanda, bahkan mereka terus melupakan para putrinya yang sudah membuat ruang depan tv itu bak kapal pecah. Hingga suara dari dering ponsel menghentikan gelak tawa mereka.
Siska meraih benda persegi miliknya yang tergeletak diatas meja dan melihat siapa yang memanggilnya. Ia tekan icon hijau itu dan menerima panggilan videonya.
"Hallo bu!"
"Kamu kemana aja? Dari pagi diteleponin juga." Bukan balik menyapa sang ibu malah mengomel disebrang sana.
"Maaf bu. Aku kan abis ngurus dulu suami sama anak-anak aku!" Timpal Siska.
"Ya kan setidaknya kamu telepon balik ibu!" Omelnya lagi.
__ADS_1
"Aku baru pegang Hp bu. Gak ngechek juga." Balas Siska. "Emang ada apa sih? Kek nya urgent banget?" Tanya Siska.
"Tadi pagi tuh Rei panas, dia manggil-manggil dede Kia terus. Ibu khawatir lah, terus ibu telpon kamu. Eh gak diangkat-angkat." Jelas Ibu.
"Duhh kasihan si om." Sesal Siska. "Terus sekarang gimana?" Tanya Siska.
"Sekarang alhamdulillah udah meningan. Panasnya juga udah turun, udah gak ngingau lagi." Balas Ibu dan dijawab anggukan Siska lagi.
"Bentar, kek nya dia bangun deh!" Terlihat dari layar ibu tengah berjalan ke arah sebuah kamar.
"Hallo om! Kenapa sakit? Kangen sama dede Kia ya?" Goda Siska.
Terlihat dari layar, bocah tampan yang sudah duduk dikelas lima itu berdecak kesal. Ia tutupi wajahnya dengan selimut hingga hanya mata dan rambutnya saja yang terlihat. Siska tergelak melihat ekspresi wajahnya.
"Katanya kangen sama dede Kia? Mau ngobrol gak?" Siska semakin gencar menggoda adik sambungnya itu. Rei yang sudah besar tentu sudah merasa malu digoda seperti itu oleh sang kakak.
"Apa sih? Nggak!" Sangkalnya.
"Yang bener? Tadi kata ibu kangen sama dede? Ampe kebawa ngigau segala." Godanya lagi.
"Nggak!" Sangkalnya lagi.
"Ya udah kalo gak kangen, gak mau ngobrol kakak tutup ya!" Ucap Siska.
"Jangan!" Larangnya seraya mrmbuka selimut yang menutup wajahnya hingga membuat Siska tersenyum.
"Ck! Ya udah mana dedenya?" Tanyanya dengan raut wajah cemberut.
Siska tertawa seraya memanggil putrinya yang tengah sibuk bermain boneka bersama Vani di atas gelaran karpet dibawah kursi. Kia mendekat kala sang timom memberitahunya sang om menghubunginya. Ia serobot Hp dari tangan timomnya dan segera menyapa om tampan nya.
"Hai om! Dede tanen cama om." Celotehnya membuat sang timom dan sahabatnya tergelak.
"Hai de! Om juga kangen." Balasnya. Raut muka yang tadi tak bersahabat berubah seratus delapan puluh derajat kala melihat keponakan cantiknya. Hingga lengkung senyum terukir dari bibirnya.
"Om. Kok mbo cih? Om cakit ya?" Tanya Kia yang melihat om nya tengah tidur diatas kasur dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
"Iya! Om sakit. Dede mau jenguk om gak?" Tanya Rei.
Kia menganggukan kepalanya. "He'em ntan dede jenuk om ya. Ama Pih, ama timom, ama Aka juda." Balasnya.
Rei tersenyum disebrang sana mendengar celotehan keponakannya. "Kapan mau jenguknya?" Tanyanya.
"Mmm" Terlihat balita cantik itu tengah berfikir. Hingga Ia pun bertanya pada timomnya. "Mom. Tapan jenuk om na?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ntar ya sayang. Bentar lagi kan libur tahun baru. Ntar kita berliburnya disana." Balas Siska dan sukses membuat balita cantik itu jingkrak kegirangan.
"Yeeaayy! Acik temu om! Yeay!" Pekiknya membuat kedua ibu itu tertawa. Tak terkecuali sang ibu disebrang sana yang juga ikut tertawa.
"Iya de. Ntar liburannya disini sama om ya." Ucap Rei dan dijawab anggukan semangat dari balita cantik itu.
"Om mbo ya! Cepet cembuh!" Pesannya membuat Rei semakin melebarkan senyumnya. "Muuuahh cayang om!" Kiss an dari sang ponakan mampu membuat si om tersipu hingga menutup kembali wajahnya dengan selimut.
Merasa tak dapat balasan, balita cantik itu kembali berceloteh. "Kok nda bayas cih om?" Tanyanya.
Rei sampai berdehem terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa grogi yang tiba-tiba hinggap didirinya. "Iya. Om bobo dulu ya!" Pamitnya.
"Kok nda cium bawik om?" Tanya Kia.
"Sekarang om nya sakit. Ntar kalo ketemu, om cium ya!" Balasnya membuat balita cantik itu cemberut.
"Uhh om ebeyin. Nda cayang dede!" Gerutunya membuat Rei tersenyum.
"Kata siapa? Om sayang sama dede. Sayang banget! Jangan ngambek dong, mana cantiknya, gak kelihatan!" Goda Rei.
"Nda mau cantik. Agi ambek!" Balasnya dengan raut wajah yang sama.
"Ya udah deh iya. Jangan cembrrut ya, om cium nih!" Ucapnya membuat Kia sukses tersenyum kembali. "Nah gitu dong senyum, kan cantik!"
"Mmmuah! Sayang dede Kia banget!"
Penuturan terakhir Rei mampu membuat kedua ibu itu tergelak. Begitupun ibu, sekuat tenaga Ia mencoba menahan perutnya agar tawanya tak pecah.
Akhirnya setelah perdebatan panjang ibu dan anak mengenai liburan panjangnya didesa, panggilan pun terputus. Dan kedua balita cantik itupun kembali bermain.
"Jadi bener, lu mau liburan didesa?" Tanya Lia.
"He'em. Gue udah omongin ini sama abang, sama kak Ay, sama Mamih juga. Kita semua bakal liburan disana." Balas Siska.
"Ya udah deh. Gue juga mau mudik!" Timpal Lia.
"Ikut-ikutan aja lu." Sindir Siska.
"Ya habisnya, kalo kalian pergi. Berasa ada yang aneh gitu." Balas Lia.
"Aneh gimana?" Tanya Siska heran.
"Gak bisa tengok calon mantu pagi-pagi." Balas Lia tergelak. Dan sukses dapat toyoran dari sahabatnya itu.
__ADS_1
*****************
Ayo gaisss kencengin lagi dukungannya! Ramaikan kolom komentarnya dong! Biar gak sepi-sepi amat🙈