Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Menaklukan


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu, sepasang kekasih itu berencana akan melakukan kencan. Setelah tanya terlebih dahulu pada si mbah google. Akhirnya mereka tau apa yang harus dilakukan oleh sepasang kekasih untuk memulai kencan. Tak ada pengalaman sebelumnya membuat mereka harus menonton segala tutorial terlebih dahulu.


"Jadi, kita kemana dulu hari ini?" Tanya Kia girang.


"Emm mau nya kemana dulu?" Tanya Rei balik.


"Emm..." Kia tampak berpikir keras. Dan hal itu membuat sang om terkekeh.


Tangannya dengan sigap mengacak poni sang gadis, yang kian menggemaskan dimatanya. Dan hal itu membuat sang gadis ikut tertawa.


"Ya udah, kita berangkat sekarang!" Ajak Rei menggenggam sebelah tangan gadisnya.


"Kemana?" Tanya Kia heran. Pasalnya mereka belum menentukan tempat yang akan mereka datangi untuk acara kencan pertama mereka.


"Kemanapun asal bersamamu." Balasnya dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya.


Blush!


Lagi dan lagi, dengan tak tau malunya rona pipi itu kembali hadir menghiasi pipi putihnya. Sungguh kata manis itu membuat jiwanya melayang entah kemana.


"Ommm!!!" Rengeknya seraya menunduk menyembunyikan semburat merah dipipinya dengan menggigit bibir bawahnya, menahan jeritan tertahan dihatinya. "Aku malu!" Lanjutnya.


Rei terkekeh melihat ekspresi itu. Sungguh hal itu membuatnya semakin gemas. Ia tarik tubuh sang gadis kedalam dekaapnnya. Membelai sayang rambutnya dan menciumi pucuk kepalanya. "Kenapa harus malu? Kita jalani seperti biasa. Meski dengan status berbeda. Jangan berubah! Tetaplah seperti ini. Kesayangan om." Ucapnya membuat lengkungans neyum terukir dari keduanya.


**


"Kenapa ngajak kesini sih om?" Tanya Kia, ketika mereka sampai di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.


"Kenapa emang? Kamu kan paklling suka kesini?" Tanya Rei balik merasa heran.


Kia menghembuskan napasnya panjang. "Itu dia masalahnya." Balasnya.


Rei menautkan kedua alisnya merasa heran. "Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Aku suka kalap!" Celetuk Kia dan sukses membuat sang om tergelak.


Ia tentu tau, gadisnya ini type cewek gila belanja. Dibawa shoping tentu tak ada kata malas untuk gadis cantik ini. Tak memiliki teman perempuan, bukan berarti gadis cantik ini membatasi pergaulannya untuk tau soal fashion. Jika kebanyakan teman sebayanya akan menghabiskan hange out dengan teman-temannya di mall, maka Ia pun melakukan hal yang sama. Namun tanpa teman permpuan tentunya. Ia hanya akan pergi sendiri, atau bersama sang om, atau juga akan meminta traktiran sahabat cassanova nya, si Aiden.


Rei merangkul pundak gadisnya. "Belilah apapun yang kamu butuhkan!" Titanya membuat Kia menutup mulutnya.


"Hah?! Serius om?" Tanyanya memastikan dan dijawab anggukan omnya.


"Aaa! Maaksih om." Pekiknya girang seraya memeluk tubuh tegap itu.

__ADS_1


Sungguh Kia begitu kegirangan medapat izin dari sang om. Biasanya omnya itu, selalu membatasi apa yang Ia inginkan. Dengannya Ia hanya akan mendapatakan tiga sampai lima barang saja. Dan sekarang mendapat perintah seperti itu, tentu seperti jekpot untuknya.


Kia mulai menjelajah memilah memilih barang yang Ia suka, senyum begitu nampak jelas dibibirnya. Hingga diakhir pembayaran wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat dari ekspresi awalnya.


"Ya! Makasih!" Ucap Rei mengambil credit cardnya setelah selesai melakukan transaksinya.


"Yuk!" Ajaknya mengulurkan tangannya pada sang gadis, yang tengah duduk disofa tunggu.


Kia menghembuskan nafasnya kasar. Dengan terpaksa Ia menerima uluran tangan sang om, dengan wajah yang kian ditekuk. Tanpa dosa sang om menyunggingkan senyuman manisnya seraya berjalan keluat dari toko menggandeng sang pacar.


"Udah lah om, jangan ngeledek!" Ucapnya dengan sinis.


"Kenapa? Om gak ngeledek." Balasnya.


"Ishhh itu tu, om ngeledek aku!" Sungutnya. "Bilangnya aja, beli apapun yang aku mau. Eh tetap aja, aku gak bisa beli yang aku mau." Gerutunya.


"Etss, ralat ya! Om gak bilang beli apapun yang kamu mau. Tapi bilang beli apapun yang kamu butuhkan. Nah ini barang-barang yang kamu butuhkan. Terus salahnya dimana?" Jelas Rei dan dijawab decakan kesal gadisnya.


"Tapi gak harus pelit juga om, ihh!" Kesalnya.


"Pelit apanya ini om beliin." Protes Rei.


"Au ah, ngeselin emang. Udah jadi pacar, tetap aja pelit." Geturunya membuat Rei tergelak.


Hal itu membuat Kia mendongak kesamping untuk melihat sang sang pacar. "Apa?"


Rei menunduk menatap mata gadisnya. "Kamu!" Ucapnya.


Kia tersenyum seraya menunduk salah tingkah. "Apa hubungannya coba, aku sama pelitnya om?" Tanyanya.


Rei menghentikan langkahnya. Ia raih kedua bahu sang gadis, membalikan badannya menghadap kearahnya. "Tentu ada." Balasnya membuat Kia menautkan alisnya.


"Butuh banyak uang untuk dapat menghalakanmu." Lanjutnya.


Kia menatap tak percaya dengan penuturan om pacarnya. Benarkah, hubungan mereka akan sampai tahap itu? Pikirnya.


"Gak akan mudah buat dapetin kamu." Kekehnya.


"Kenapa? Bukannya sekarang kita pacaran? Dan lagi om udah berhasil naklukin hati aku." Tanyanya.


Rei merangkul pundaknya, seraya mengusek pucuk kepalanya dan mengajaknya berjalan kembali. "Hatimu emang udah om taklukin. Tapi kan, menaklukan hati papih kamu. Rasanya akan sedikit sulit." Balasnya.


"Jadi om harus siap-siap." Lanjutnya.

__ADS_1


"Harus ya om?" Tanya Kia, yang belum ngeuh.


"Iyalah. Tetiba papih kamu minta mahar fantastik, gimana coba?" Jawab Rei memberi penjelasan.


"Tenang ajalah. Gaji om kan gede." Celetuk Kia dan langsung dapat usekan kembali dari sang pacar. Hingga keduanya tergelak.


"Ya udah. Mulai sekarang aku juga mau nabung." Tutur Kia membuat sang om terkekeh.


"Buat apa?" Tanyanya.


"Buat nyogok si papih. Biar dapat restu." Celetukan Kia sukses membuat keduanya kemabli tergelak.


Kedunya terus bercanda ria. Bahkan kini Kia sudah melupakan julukan om pelit pada sang pacar. Ia pun mengerti apa yang tengah omnya pikirkan. Ternyata pelitnya untuk menyogok restu sang papih.


Hingga keduanya sampai di sebuah stand eskrim. Ritual wajib yang dilakukan gadis cantik itu kala memasuki mall.


"Coklat!" Jawaban serempak dari sepasang manusia itu membuat si penjual tersenyum.


Keduanya tertawa. Tentu hal itu sudah menjadi hal biasa untuk mereka. Hingga tiba-tiba suara seseorang menglihkan atensi mereka.


"Selamat siang pak?" Sapanya.


Keduanya menoleh, melihat siapa yang menyapa mereka.


"Desy!" Sapa balik Rei.


Seorang wanita cantik tersenyum ramah pada keduanya. Wanita dewasa dengan berpenampilan anggun, terlihat berjalan seorang diri disana.


"Kamu sendiri?" Tanya Rei.


"Iya pak. Ada sesuatu yang harus saya beli." Balasnya kian melebarakn senyumnya.


Tentu hal itu berbeda terlihat dimata Kia. Senyuman itu, seperti senyum wanita penggoda. Dengan sigap Ia merangkul manja lengan sang pacar untuk mengajaknya pergi dari sana.


"Eskrimnya udah tuh om!" Selak Kia, kala wanita dengan makeup tebal itu hendak berbicara.


Rei segera mengambil eskrimnya dan berpamitan. "Des, kita duluan!" Pamitnya dan diiyakan sang wanita dengan senyumnya.


Kia memutar bola matanya malas dan segera menyeret om pacarnya pergi.


"Sepertinya menaklukan ponakanmu, akan memberiku jalan untuk lebih dekat denganmu." Gumam sang gadis menyeringai.


***************

__ADS_1


Jangan lupain jejaknya yaa🤗


__ADS_2