Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 130 Maling wajan


__ADS_3

Setelah berziarah ke makam ayah sang gadis. Kini Rangga mengemudikan kijang besinya menuju tempat dimana dirinya bersama sang kekasih akan meminta restu padanya.


Keduanya sudah sampai disebuah halaman luas didepan rumah besar yang dulu menjadi tempatnya bermain. Rumah yang sudah satu tahun ini Ia tinggal, bahkan untuk pertama kalinya lagi Ia menginjakan kaki dirumah yang menjadi saksi bertambahnya usia dirinya.


"Asslamualikum!"


Tak ada sahutan dari dalam. Rangga mencoba mengetuk pintu beberapa kali, namun tak jua ada jawaban. Ia melirik jam dipergelangan tangannya melihat arah jarum yang menunjukan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Jika melihat waktu, ini adalah waktu si ayah pulang dari kantor desa untuk makan siang dan si ibu yang lagi menyiapakan pasakannya.


Namun sepertinya kedua orang tuanya tengah keluar. Ia mencoba membuka knop pintu, dan ternyata pintu tak dikuncinya. Ia nyelonong masuk dengan menyeret lengan kekasihnya yang Ia genggam memasuki rumah.


Sepi.


"Ya ampun! Ini mereka kemana? Keluar rumah kok gak kunci pintu?" Gumamnya heran.


Ia membawa sang gadis menuju kamarnya. Saat hendak membuka pintu, Hanna mencegah pergerakannya. "Ngapain ke kamar?" Tanyanya dengan wajah sedikit panik.


Rangga tersenyum menanggapi itu. "Kenapa?" Tanyanya seraya mendekat Pada telinganya dan mengukung tubuhnya didepan pintu kamar. "Bukankah dulu kita sering main disini?" Lanjutnya.


Hal itu membuat bulu kuduk Hanna meremang seketika. Ia menelan salivanya kuat-kuat, kala bayangan Ia yang sering bertukar saliva dengan sang kekasih didalam sana terlintas dibenaknya. Namun bayangan lain tiba-tiba merusak momen yang sudah lama Ia rindukan.


Ia dorong tubuh tegap didepannya. Kala jantungnya berdegup begitu cepat. Nafasnya mulai tersendat dengan keringat dingin yang membanjiri wajahnya.


Rangga yang sedikit terjengkang merasa shok melihat wajah pucat pasi dari sang kekasih. Ia yang baru menyadari apa yang sudah Ia lakukan menyesali hal itu.


"Han? Maafin aku. Aku gak bermaksud-" Ucapannya terputus kala Hanna mengangkat tangannya dan berlalu hendak pergi tanpa mengeluarkan kata apapun.


Rangga yang melihat itu benar-benar merasa bersalah. Niat hati hanya ingin bercanda, malah membangkitkan lagi trauma yang dirasa gadis itu. Ia segera menarik lengan kekasihnya dan berhambur mendekapnya. Ia usap surai hitamnya dan menciumi kepalanya bertubi-tubi.


"Maafin aku, aku mohon! Kamu harus ingat satu hal, meski nanti sudah saatnya tiba. Aku tak akan memaksamu, sampai kau benar-benar siap." Ucapnya.


Ia semakin mengeratkan dekapannya kala merasakn tubuh ramping itu bergetar tanpa suara. Ia pun terus mencoba menenangkannya dan terus menggumamkan kata maaf ditelinganya.


Hingga akhirnya sang gadis tenang. Ia melerai pelukannya dan menangkup wajahnya. Ada sejalar bekas air yang menghiasi wajah cantiknya. Hingga Ia dengan lembut menghapusnya.


"Maafin aku, ya!" Pintanya. Namun mata sang gadis tetap menunduk.


"Lihat aku!" Titahnya lagi, hingga mata itu menatap matanya. "Aku Rangga! Aku kekasihmu! Calon suamimu! Jangan takut, aku bukan dia!" Ucapnya dan sukses membuat Hanna merespon dan menghamburkan diri, hingga memeluknya erat.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup tenang, Rangga membawa gadisnya menuju sofa dan mendudukannya disana. Sementar Ia berlenggang kedapur hendak mengmbilkan minuman untuk sang kekasih. Namun tiba-tiba saja indera pendengarannya menangkap suara aneh dari dalam kamar mandi dapur.


Rangga memejamkan matanya mendengar suara meresahkan yamg riuh dari balik pintu kamar mandi hingga adik kecilnya ikut terbangun mendengar suara itu.


Ia menarik dan membuang nafasnya berulangkali seraya menenangkan yang kian membengkak dibawah sana. "Tenang jack! Tenang! Okeh rilex!" Ucapnya dengan bersusah payah menelan salivanya.


Ia berjalan mengambil gelas dan dengan sengaja membantingnya ke atas lantai.


Prannnggg!!!


"Menciut-menciut dah seklian!" Gerutunya seraya kembali kedepan.


Ia benar-benar tak habis pikir dengan sang ayah, yang mengalahkan pengantin muda. Padahal ayah sangat lama menduda, dan Ia tak pernah melihatnya bersama seorang wanita. Kadang Ia berfikir mungkin sang ayah sudah tak ingin menyentuh makhluk bernama wanita. Namun melihat ayahnya yang sekarang Ia harus menarik kata-katanya itu kembali. Hingga Ia penasaran setangguh apakah si jack nya itu? Pikirnya.


*


Sementara itu kedua makhluk yang asyik mencari pahala disiang bolong terkejot mendengar suara nyaring yang menghentikan aktifitas mereka yang seketika ambyar.


"Apa itu Yah?" Tanya ibu khawatir.


"Paling kucing." Jawabnya hendak kembali bergerak.


"Gak ada bu. Udah ah kita lanjut!" Ucapnya yang merasa tanggung, karena hampir mencapai puncak.


"Udah Yah! Kita lihat dulu!" Tolaknya dengan melepaskan diri membuat sang suami berdecak kesal. "Kalo maling gimana?" Tanyanya.


"Ya ampun! Kamu tuh ya, mana ada maling siang bolong kek gini?" Sangkalnya.


"Siapa tau aja emang ada. Gak ada yang tau kan? Terus lagi sekarang banyak yang viral maling dengan segala modus. Kemarin aja bu kades sebelah kehilangan wa-" Ia menjeda kalimatnya dengan membolakan matanya.


"Wajan aku!!!" Pekiknya.


Ia segera menyambar kimononya dan berlalu meninggalkan si jack yang masih berdiri mematung. Dan hal itu sukses membuat sang ayah berdecak kesal.


"Ya ampun sayang ini gimana?" Teriak sang ayah frustasi.


Ibu keluar celingukan mencari barang berharga yang menjadi rebutan warga sedesa, yang takutnya hilang digondol si maling. Namun itu hanya kekhawatirannya semata. Namun Ia tetap curiga kala mendengar suara dari depan.

__ADS_1


"Mana ada yang hilang?" Tanya Ayah mengagetkan ibu.


"Suuutt!!" Ibu menempelkan jari telunjuknya didepan bibir mengintruksi agar sang suami diam. "Tuhh!! Malingnya didepan." Lanjutnya membuat sang ayah menautkan alisnya heran.


Ibu mengambil wajan berkaki, membawanya mengendap-endap seperti maling untuk melihat siapa yang ada diruang tamu.


Ayah menghembuskan napasnya panjang. Mana ada maling kerumah pak kades, sungguh mustahil sekali. Pikirnya. Namun tak ayal Ia ikut membuntuti istrinya kedepan.


"Heyy maling!!!" Teriak ibu yang hanya melihat gundukan rambut di kepala sofa yang membelakanginya. Reflek si empunya rambut berdiri dan berbalik.


Ibu dibuat shok melihat siapa yang ada diruang tamunya. Hingga dengan reflek Ia menjantuhkan wajan dari tangannya yang ingin Ia pakai untuk menutup mulutnya.


"Awww!! Awww!!"


Ringisan seseorang dari sampingnya sukses membuat Ia tersadar. "Ya ampun! Ayah! Maaf, maaf! Ibu gak sengaja." Sesalnya seraya melihat kaki suaminya yang kemungkinan memerah.


Lalu Ia teraadar akan penampilannya bersama sang suami yang hanya mengenakan kimono saja. Ia bangkit dan segera menyeret suaminya menuju kamar, lalu berpesan terlebih dahulu sebelum pergi dari sana. "Silahkan duduk nak! Bentar ya, ibu tinggal dulu." Ucapnya dan diangguki gadis yang tengah keheranan itu.


*


"Ya ampun Ayah! Ini malu-maluin banget." Ucap ibu.


"Paan sih yang? Ini kaki Ayah sakit." Rengeknya.


"Oh iya!" Ibu buru-buru mengambil kotak P3K, mencari salep untuk mengolesi lukanya.


"Yah! Ibu gak salah lihat kan?" Tanyanya seraya mengoleskan salep dibagian kaki suaminya.


"Apa?" Tanya Ayah.


"Itu tu beneran Hanna kan? Pacarnya Rangga." Tanyanya.


"Bukan." Sangkal ayah.


"Lah terus siapa?" Tanya ibu heran.


"Calon mantu kita." Balasnya hingga sukses dapat tampolan sang istri, lalu keduanya tergelak.

__ADS_1


*****************


Maaf yaa sekarang up nya dikongsi sama Sensen! Tapi semua insyAlloh kebagian🤭


__ADS_2