
Sapaan seseorang membuat mereka menoleh. Mereka yang asyik bercanda tak menyadari sebuah mobil bertengger disisi sebuah tanaman pagar atau orang sana biasa menyebutnya kembang wera. Hingga mobil sekilas tak terlihat karena terhalang tanaman itu.
"Mama!" Pekik salah seorang bocah itu seraya menghampirinya dan diikuti pula mereka.
"Lu ngapain disini?" Tanya Siska dengan nada meledek.
"Ck! Lu gak lihat? Nih mobil gue mogok!" Balas Lia dengan berdecak kesal membuat Siska dan suaminya terkekeh.
"Napa gak telepon bengkel?" Tanya bang Age.
"Disini mana ada bengkel bang!" Balas Lia. "Gue udah minta bantuan Rangga, eh dia cuma lihat doang. Ngeselin tuh anak!" Gerutunya.
"Mana gue lihat!" Ucap bang Age seraya medekat kearah Ivan yang sudah belepotan dengan oli ditangannya.
Bang Age mendekat. Ia yang sedikit tau mengenai teknisi bengkel mencoba membantu. Ia gulung kaos panjangnya sampai sikut dan mulai mengotak atik mesinnya.
Siska tersenyum melihat tingkah suaminya. Sepertinya dirinya sukses memanjakan si jack dan suaminya. Terbukti, sang suami yang biasanya cuek, mendadak begitu perhatian pada siapapun.
"Kak! Kita main disana ya!" Ucap Rei seraya menunjuk taman yang terdapat ayunan disana.
"Iya. Hati-hati ya om! Jaga mereka!" Pesan Siska dan diangguki Rei, membuat merkea bersorak kegirangan seraya berlarian ketempat yang dituju.
"Kek nya si abang lagi seneng ya?" Bisik Lia pada sahabatnya itu.
Siska tersenyum dengan mata yang tak lepas dari wajah tampan suaminya. "Bukan lagi. Pinter kan gue?" Bangga Siska.
"Idihh.. Emang lu apain si abang, ampe kek gitu?" Tanya Lia lagi.
"Napa? Lu mau juga bikin mood suami lu up, kek si abang?" Tanyanya balik.
"Emang ada rahasianya?" Pertanyaan kembali dilontarkan oleh Lia.
"Ada lah!" Balas Siska, hingga membuat Lia penasaran. Dengan antusias Ia pun bertanya kembali.
"Apa? Apa?"
"Caranya gampang! Manjain aja si jacknya, gue jamin moodnya up terus, dan lagi dia bucin tiap hari sama lu." Penuturan Siska membuat sahabatnya terdiam seraya berfikir keras.
"Ntar dulu! Si jack siapa?" Tanyanya keheranan.
"Ya elah lu, masa gak tau si jack?" Tanya Siska dan dijawab gelengan kepala olehnya.
"Emang siapa?"
"Itu adik kecilnya kak Ivan." Balas Siska.
__ADS_1
"Ohh!!!!" Lia ber oh panjang membuat Siska tersenyum.
Ternyata tak lama membuat sahabatnya ini mengerti. Pikirnya.
"Berarti gue harus manjain si Alvin ya?" Penuturan Lia membuat Siska menoleh, ketika dirinya tengah memperhatikan suaminya.
"Kok Alvin? Lu punya panggilan sendiri?" Tanya Siska.
"Yey, lu mah! Itu emang namanya. Lagian napa lu panggil si jack? Nama adiknya si aa tuh Alvin, bukan jack." Penjelasan Lia sukses membuat Siska melongo.
Ini sebenarnya siapa yang gak nyambung? Pikirnya. Ia toyor jidat sahabatnya yang kian somplak itu hingga hampir membuatnya terhuyung kebelakang.
"Apa sih lu? Ini kepala tiap tahun mak gue fitrahin woy!" Protesnya. "Main toyor aja lu." gerutunya seraya mengusap jidatnya yang melebar. Eh! Emang sudah melebar sedari orok itu.
"Lagian sih lu. Gak nyambung banget. Gue ngiri lu nganan." Protes Siska membuat Lia mencebikan bibirnya.
"Maksud gue bukan adik yang itu oneng!" Ucap Siska gereget.
"Terus?" Tanya Lia masih belum juga ngeuh.
"Ya ampun!" Siska sampai menepuk jidatnya. Sepertinya selain somplak, sahabatnya ini juga menjadi kurang tanggap.
"Maksud gue tuh, punyanya suami lu." Ucap Siska lantang, membuat kedua pria yang tengah sibuk dengan oli dan kunci-kunci menoleh serempak.
"Ini si Lia bang!" Elak Siska sembari menyenggol lengan sahabatnya dengan memberi kode padanya.
Lia tergelak karena baru ngeuh, pada maksud ucapan sahabatanya itu. Ia yang merasa frustasi karena mobil yang sedari tadi tak kunjung membaik, ternyata berdampak pada konsentrasinya.
Kedua pria disana dibuat keheranan dengan kelakuan para istrinya. Namun itu sudah terasa tak aneh lagi untuk keduanya. Tau kalau para istrinya, istimewa dan beda dari yang lain. Mereka pun memutuskan untuk kembali fokus pada benda didepannya.
"Isshh, lu mah!" Ucapnya seraya menyenggol lengan sahabatnya dan semakin membuat Lia tergelak.
*
Sementara itu para bocah yang tengah sibuk bermain ditaman, terlihat begitu asyik bermain diatas ayunan. Kedua balita cantik itu tertawa lepas diatas ayunan yang didorong pelan oleh bocah tampan yang dengan senanng hati membawa mereka bermain.
Jeritan bahagia terdengar begitu merdu dari bibir mungil keduanya. Terdengar renyah, membuat siapa saja yang mendengarnya ikut tersenyum. Dan hal itu pula yang kedua bocah tampan itu lakukan.
"Om! Kencenin om!" Pinta Kia.
"Jangan de, ntar jatuh!" Balas Aska.
"Nda bakanan!" Sangkalnya. "Om! Ayo om!" Pintanya lagi.
"Bener de kata Aka. Ntar jatoh! Pelan-pelan aja ya!" Bujuk Rei.
__ADS_1
"Nda om! Kencenin bian seyu!" Rengeknya lagi.
"Aku mau tunun aja. Nda mau kencen!" Protes Vani.
"Tuh kan! Vani aja takut. Udah pelan aja ya! Atau om gak mau dorong lagi." Tolak Rei.
Kia memanyunkan bibirnya merasa kesal. Hingga panggilan dari sang om tak membuat Ia menoleh.
Rei menghentikan ayunan itu. Namun hal itu membuat balita cantik itu turun dan berlalu kedepan kolam ikan. Rei menghembuskan nafasnya panjang. Pastilah ponakannya itu tengah merajuk, maka dengan cepat Ia pun harus segera membujuk.
Ia pun mendekati gadis kecilnya disana untuk membujuknya. Sementara itu Vani juga hendak ikut turun, namun ditahan Aska.
"Udah kamu disana aja! Biar aka dorong ya!" Ucapnya dan diangguki Vani dengan senang.
Aska mulai mendorong ayunan itu pelan, membuat Vani tergelak. Balita cantik itu tertawa senang. Ia sampai melupakan sahabatnya yang tengah merajuk. Begitupun Aska, melihat tawa gadis kecil itu membuatnya ikut tertawa juga.
Ditepi kolam, Kia cemberut seraya melempar sebuah batu kecil kedalam kolam, Rei datang dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Ia mendekat dan ikut berjongkok disamping gadis kecil itu.
"Dede?" Sapanya, namun Kia masih enggan menatapnya.
"Duhh cantiknya om kok ngambek sih?" Goda Rei seraya menjewel pipinya, hingga dapat tampolan ditangannya.
"Jangan ngambek dong! Ntar cantiknya ilang loh!" Godanya lagi membujuk.
"Nda! Om nebeyin." Balasnya dengan wajah yang masih ditekuk.
"Iya deh, om yang nyebelin. Dede yang baik jangan ngambek lagi ya!" Bujuknya lagi. Namun balita cantik itu masih terdiam.
"Mana sih cantiknya om? Kangen nih, pengen lihat yang cantik?" Rayunya.
Rei menyunggingkan senyumnya seraya menjewel kedua pipi ponakannya membuat Ia ikut tersenyum.
"Nah gitu dong! Ini baru cantiknya om!" Tutur Rei seraya mengusek pucuk kepalanya.
"Ya udah, main lagi yuk!" Ajaknya. "Tuh lihat Vani sendiri. Dede temenin lagi diayunan ya!"
"Nda om!" Tolak Kia.
"Kenapa?" Tanya Rei heran.
"Bianin Vani cama Aka. Bendua cie cie an!" Balasnya. Rei dibuat terkekeh dengan penuturan ponakannya. Dari mana gadis sekecil itu tau hal itu? Pikirnya merasa heran.
*************
Jangan lupa, like dan komennya ya!😊 Ramaikan seramai-ramainya!!
__ADS_1