Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 60 Dompet


__ADS_3

Kini sepasang suami istri itu sudah stay didalam mobil. Keduanya berencana untuk mampir terlebih dahulu ke indojuli untuk membeli sogokan buat sang putra yang tengah merajuk. Selain dordorjoy, keduanya juga memilih berbagai cemilan kesukaan putranya. Bahkan mereka juga membeli beberapa barang untuk kebutuhan dirumah.


Bang Age yang tiba-tiba mendapat panggilan alam, keluar terlebih dahulu menuju toilet diluar sana.


"Siska?!" Sapa seseorang.


Siska yang tengah menunggu antrian didepan kasir menoleh. Dilihatnya seorang pria yang tengah berjalan mrnghampirinya.


"Kak Ivan!" Balasnya tersenyum.


"Kamu ngapain disini? Lagi liburan dirumah Ayra ya?" Tanyanya.


Pernikahan yang belum dipublis tentu membuat Ivan tak mengetahui status gadis didepannya itu.


Siska hendak menjawab pertanyaan Ivan, namun terselak ucapan pria didepanya.


"Eh, gimana kalo kita jalan aja? Kakak mau kasih sesuatu buat kamu." Tuturnya.


Siska hendak kembali menjawab, namun dengan semangat diselak kembali oleh Ivan. "Ya udah, cepetan ya. Kakak tunggu diluar!" Tuturnya dan berlenggang pergi begitu saja meninggalkan Siska yang melongo.


Ia menghembuskan nafasnya panjang. Entah apa yang akan dilakukan sumainya, kalo mengetahui hal itu. Ia hanya mengedikan bahunya acuh. Tak ingin dibuat pusing akan hal itu.


"Totalnya lima ratus dua puluh ribu, mba!" Ucap si mbak kasir yang sudah selesai menghitung barang belanjaannya.


Siska mengambil dompet sang suami yang tadi diberikan padanya sebelum keluar. Ia terdiam sejenak kala membukanya, matanya fokus melihat foto yang membuat hatinya melengos. Hingga suara mbak kasir menyadarkannya.


"Mbak!"


"Emm.." Siska mendongak dan baru menyadari dirinya tengah menjadi penghalang pelanggan lain.


"Ehh maaf mbak!" Siska yang merasa malu buru-buru mengambil uang tunai didompet yang Ia pegang, kemudian membayarnya.


Ia mengambil barang-barangnya dan berlenggang keluar dengan membawa sesak didadanya. Entah kenapa, tiba-tiba dompet sang suami membuatnya nyesek. Ingin sekali Ia melempar jauh-jauh tuh dompet, sayang banyak kartu berjejer didalamnya.


Ia hanya menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali, untuk menetralkan desiran panas yang memuncak diubun-ubunnya.


Ketika keluar dari pintu, langkahnya dicegat seseorang yang tadi sempat menyapanya. "Sis!" Panggilnya.


Siska menoleh kearah pria yang tengah duduk di bangku depan indojuli itu. Siska mencoba tersenyum sebiasa mungkin, meski hatinya masih terasa dongkol.


Ivan bangun dari duduknya dan menghampiri Siska. "Sini biar kakak bantu!" Tawarnya hendak mengambil kantong kresek yang dipegang Siska.


"Eh, gak usah kak! Aku bisa sendiri." Tolak Siska dengan halus.


"Udah gak papa. Sini!" Ivan hendak kembali mengambil kantong kreseknya, namun tangan seseorang mencekalnya.

__ADS_1


"Gak usah! Dia gak butuh bantuan lu."


Bang Age yang baru kembali dari toilet, buru-buru menghampiri sang istri. Setelah melihat siapa yang tengah mengajak ngobrol istrinya.


Ivan tersenyum melihat siapa yang sudah mencegatnya. "Hai gung!" Sapanya.


Bang Age tak menanggapi, Ia mengambil belanjaan dari tangan sang istri. Dan sebelah tangannya hendak menarik tangan istrinya. Namun baru saja tangannya menggenggam tangan sang istri, lengannya dicekal Ivan.


"Tunggu! Gue belum selesai ngomong sama Siska." Cegatnya membuat bang Age menoleh kembali dengan kerutan berlipat didahinya.


"Lu izinin lah, gue ngomong sebentar sama dia." Ucap Ivan membuat bang Age tersenyum sinis.


Tanpa melihat raut wajah bang Age, Ivan dengan santainya mengoceh dihadapan keduanya. "Gimana Sis? Kamu mau ya! Besok kakak jemput. Dirumah Ayra kan?" Tanyanya.


Siska melirik ke arah Ivan lalu bergantian kearah sang suami yang hampir saja meledak. Ia hendak menjawab, namun terselak oleh ucapan suaminya.


"Gak bisa!" Tegas bang Age dengan air muka yang semakin tak bersahabat.


"Kenapa?" Tanya Ivan heran.


"Dia gak akan pergi kemanapun tanpa izin dari gue!" Tegasnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Ivan seolah menantang. "Apa kek gini perlalukan lu, sama adek lu sendiri? Mengekangnya, bahkan melarangnya buat bergaul sama orang lain, hah?"


"Kenapa?" Tanya bang Age seolah meledek ucapan Ivan. "Karena dia milik gue!" Tegasnya.


Ivan tersenyum sinis. "Jangan karena dia selalu bersama lu, dan karena lu nganggep dia adik. Lu bisa semena-mena sama dia. Lu gak bisa renggut kebebasan dia." Ucapnya membuat bang Age hendak melayangkan tagannya namun ditahan sang istri.


"Lu mau tau kan apa alasan gue ngelakuin ini?" Tantang bang Age dan dijawab senyum tipis dari Ivan dengan menaikan alisnya sebelah.


"Lu denger baik-baik. Kalo perlu cerna ampe lu kenyang." Tutur bang Age. Lalu menautksn tangannya dan dan tangan sang istri membawanya kedepan Ivan.


"Dia milik gue!"


"Dia gak akan pergi tanpa seizim gue!"


"Dia tanggung jawab gue!"


"Dia!" Bang Age menjeda sebentar kalimatnya dan menatap sang istri penuh cinta. Ia kecup punggung tangan yang berada dalam tautannya.


"Gadis halal gue. Istri imut gue!" Tuturnya tersenyum manis tanpa melepas tatapannya dan dibalas hal yang sama oleh Siska


Ivan shok sampe menganga dan bola mata yang hampir keluar. "Lu?" Ivan tak meneruskan ucapannya merasa tak percaya.


Bang Age kembali menatap Ivan tajam dan menarik sudut bibirnya. "Iya! Siska istri gue! Jadi stop! Ganggu istri gue!" Tegasnya membuat Ivan melengos.

__ADS_1


Bang Age menarik tangan sang istri menyeretnya meninggalkan tempat itu. Siska hanya menghembuskan nafasnya pasrah dan berpamitan pada Ivan. Kemudian pergi mengikuti langakah suaminya.


Keduanya memasuki mobil. Bang Age masih belum menyalakan mesin mobilnya. Siska juga ikut terdiam melihat raut wajah suaminya.


"Kamu seneng banget ya digoda sama si Ivan?" Sindirnya.


"Apa sih bang?" Elak Siska mencoba tenang. Tau kalo suaminya tengah cemburu kebangetan.


Bang Age berdecak dengan memalingkan wajahnya. Siska menghembusakn nafasnya panjang, perasaan Ia yang harus ngambek karena foto itu.


"Biarpun kak Ivan ngedeketin aku. Tapi aku gak pernah tuh nanggepin dia." Tutur Siska, namun sang suami masih terdiam tanpa menatapnya.


"Udah deh, gak usah ngambek kek gitu. Harusnya aku yang ngambek bukan abang!" Tuturnya lagi seraya melipat lengannya didada.


Bang Age menoleh mendengar penuturan istrinya. "Kenapa?" Tanyanya.


Siska memberikan dompetnya keatas pangkuan sang suami tanpa mau melihatnya. Tiba-tiba rasa kesal itu kembali menyinggahi hatinya.


Bang Age mengerutkan dahinya heran, merasa gak ada yang salah dari dirinya. "Kenapa sii?"


"Kenapa? Harusnya aku yang tanya kenapa?" Keksesalannya sudah tak dapat di tahan lagi.


Bang Age merasa semakin bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba aneh menurutnya. Ia yang tengah merajuk karena cemburu, kenapa sang istri ikutan merajuk.


"Sebenarnya kenapa? Kok ikut-ikutan ngambek? Kan abang yang lagi ngambek." Tanya bang Age.


"Tanya tuh sama dompet abang!" Titahnya.


Bang Age yang masih heran mencoba membukanya, hingga nampak sebuah foto. Akhirnya Ia pun mengerti dan menghembusakan nafasnya panjang.


"Maaf! Abang lupa menggantinya." Sesal bang Age.


"Kek nya emang bener, dia gak akan pernah terganti." Tutur Siska dengan menahan bulir air mata yang hampir lolos. "Maafin aku! Aku lupa dengan posisiku." Lanjutnya.


**************


Sepi amat yaa🙈 Yuk atuh ramaikan! Biar mak othornya semangat gitu😁 Jangan lupa yaa jejaknyaa😘



Ini yang cemburu kebangetan😂



Ini yang sama cemburunya😂

__ADS_1


__ADS_2