Love Abang Duda

Love Abang Duda
ILU OM! Rapat


__ADS_3

Setelah negosiasi dengan sang timom, keduanya benar-benar tak diizinkan bersama meski sekedar mengobrol. Kesepakatan agar hal tadi tak sampai ditelinga yang lainnya membuat mereka tak diizinkan bertemu sampai waktu yang ditentukan. Sekaligus sebagai hukuman dari apa yang mereka perbuat.


Keduanya hanya bisa pasrah dengan keputusan sang timom. Meski membuat mereka tak bersemangat. Namun dibalik semua itu, satu hal membuat keduanya tak henti mengembangkan senyumnya.


Waktu yang ditentukan sang timom, adalah waktu yang sudah ditentukan juga oleh ketiga orang tua mereka. Waktu dimana mereka akan dipertemukan dalam status yang berbeda.


Flash back on


Direstoran.


Setelah kepergian sepasang sejoli itu, keempat orang tua disana siap menikmati makanan yang sudah tersaji.


"Jadi gimana ini?" Tanya Siska memulai obrolan disela makannya.


"Ya gimana lagi, kita nikahin lah mereka." Balas ayah dengan santainya.


"Gak segampang itu lah, Yah!" Protes bang Age.


"Kenapa?" Tanya Ayah.


"Dede tuh masih kecil." Balasnya.


"Ya ampun bang! Putrimu udah gede, bentar lagi memasuki kepala dua." Protes Siska.


"Tapi buat abang, dia tuh masih tetep putri kecil abang." Tuturnya dengan helaan nafas berat. Sepertinya waktu begitu cepat berlalu untuk ayah dua anak ini.


"Ya bang aku tau, abang pasti masih belum rela tanggung jawab abang berpindah. Tapi kan, ini sudah waktunya dede punya kehidupannya sendiri. Memiliki imam yang akan membimbingnya menuju Jannah." Jelas Siska.


"Iya Nak. Kamu harus mengikhlaskan dede untuk menjadi seorang istri. Ibu yakin Rei bisa menjaga dan membahagiakannya." Balas Ibu.


Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. "Iya bu! Sebenarnya bukan itu sih yang aku pikirkan. Aku sangat percaya sama Rei." Jelasnya.


"Terus apa yang abang khawatirkan?" Tanya Siska dengan wajah serius dan menggenggam tanga sang suami.


Begitupun ibu, Ia tampak sama dengan raut wajah putrinya. Berbeda dengan sang ayah, yang sibuk dengan makanannya. Terlihat dari cara makannya sepertinya Ia kehilangan banyak isi perutnya. Mungkin ngeprank anak cucunya begitu menghabiskan energinya, hingga Ia makan dengan begitu lahap.


"Abang tu masih belum ikhlas untuk menua." Celetukan bang Age sukses membuat sang ayah tersedak.

__ADS_1


Dengan segera ibu menepuk-nepuk punggung suaminya dan memberinya minum. Siska melongo mendengar penuturan suaminya. Ia bener-bener dibuat tercengang karenanya. Alih-alih Ia sudah begitu serius, eh tanggapan sang suami membuat Ia tepuk jidat.


"Isshh abang!" Kesal Siska seraya mengeplak tangan suaminya dengan keras, hingga siempunya mengaduh kesakitan.


"Orang lagi serius juga, malah becanda." Omelnya dengan wajah ditekuk menahan kesal.


"Siapa yang becanda. Abang serius ini. Abang beneran menolak tua." Kekeh bang Age tanpa dosa.


"Ck! Au ah, ngeselin emang." Gerutu Siska berdecak kesal seraya melipat tangannya didada.


Bang Age tergelak melihat ekspresi menggemaskan istrinya. Ia merangkul pundaknya, meski sang istri memberontak Ia tetap membujuknya.


"Ck! Kamu tu ya, dikira beli barang dapat tawar menawar?" Gerutu ayah kesal dengan menahan sakit ditenggorokan dan hidungnya.


"Tawar sana sama mak othornya! Minta dimudain, kalo perlu orok lagi sekalian." Lanjutnya dengan air muka tak bersahabat.


Dan hal itu membuat sang menantu tak berhenti tertawa. Ibu terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan tingkah menantunya yang masih saja terselip tingkah absurdnya. Siska pun sedikit menyunggingkan senyumnya mendengar penuturan dari sang ayah.


"Udah! Udah! Sekarang gimana ini? Apa kita percepat aja acaranya?" Tanya ibu memulai kembali ke topik awal pembicaraan mereka.


"Menurut ayah gimana? Kapan waktu yang baik?" Tanya Siska.


"Apa gak terlalu mendadak, Yah?" Tanya Siska.


"Nggak lah. Niat baik itu jangan ditunda-tunda. Apalagi mereka udah gak bisa dipisahin. Kita bisa ikutan berdosa kalo membiarkan mereka tanpa ikatan halal." Balas Ayah dan diangguki ketiganya.


"Aku setuju dengan Ayah! Emang inilah tujuan awal kita. Kita udah melihat keseriusan mereka. Jadi tak ada alasan lagi untuk menundanya." Balas bang Age.


"Tapi kan bang, aka gak ada. Dia gak mungkin bisa pulang dengan cepat. Terus lagi, kita belum menanyakan pendapat dia." Tutur Siska.


"Abang udah bicara sama aka. Dia menyutujui hal itu. Dia gak keberatan kalo harus dilangkahi." Balas bang Age dan dijawab anggukan sang timom dengan helaan napas panjang.


Sebenarnya terasa ada yang mengganjal dihati ibu dua anak itu. Ia merasa tak tega jika putri bungsunya harus melangkahi putra sulungnya. Namun itu sudah menjadi keputusan Aska. Ia memilih untuk mengambil beasiswanya dan masuk di Istanbul university untuk melanjutkan S2 nya. Kecerdasan yang dimilikinya membuat Ia fokus dengan pendidikannya, tanpa ingin segera menikah.


"Udah kamu gak perlu khawatir! Ini sudah menjadi keputusannya." Tutur bang Age menenangkannya.


"Sepertinya ada alasan kenapa aka gak ingin segera menikah." Lanjutnya membuat sang istri menaikan satu alisnya.

__ADS_1


"Masih belum move on?" Tanya Siska. Yang masih meyakini, jika sang putra belum juga move on dari sepupunya itu.


"Kalo itu sih sepertinya udah. Mungkin aja dia sedang menunggu seseorang." Celetuk bang Age hingga membuat keruatan didahi sang ibu itu semakin berlipat.


"Jangan tebak-tebakan deh bang, aku gak ngerti!" Protes Siska.


Bang Age tersenyum dengan kebingungan istrinya. Ia menarik sang istri kedalam rangkulannya. "Udah gak usah dipikirin! Yang jelas aka udah setuju. Ya meski dia gak bisa hadir, tapi abang yakin dia ikut bahagia disana." Jelasnya.


Ketiganya pun mengangguk paham dengan keputusan itu.


"Jadi kapan?" Tanya Ayah.


"Minggu depan." Balas bang Age.


"Hah?!" Ketiga orang tua itu tampak shok mendengar itu.


"Gak kecepetan bang?" Tanya Siska.


"Nggak! Kita sah in aja dulu. Kasihan juga Rei kalo harus ditunda lagi." Jelas bang Age.


"Isshh bang. Mikirnya kesana mulu. Belum tentu mereka udah tau yang gituan. Ya kali abang, pas niakhin aku udah jadi suhu." Protes Siska.


"Kamu tu, bener kata suami kamu. Mereka tu udah dewasa. Dibiarin berdua satu atap, apa yang bakal terjadi." Balas Ibu. Membuat Siska terdiam dan berpikir sejenak.


"Kamu tuh yang otaknya suka traveling. Maksud abang gak kesana juga. Benar kata ibu, kita juga gak bisa biarin mereka tinggal seatap kalo belum sah. Kalo diundur lagi, gimana sama kerjaannya Rei dan juga kuliahnya dede?" Jelas bang Age dan diangguki Siska yang baru mengerti.


"Kita adain resepsinya bulan depan. Nunggu aka pulang dulu." Lanjutnya.


"Ya udah kita siapin semuanya dari sekarang!" Final sang Ayah dan dijawab anggukan oleh mereka.


Acara rapat pun selesai. Keempat orang tua itu memutuskan untuk pulang. Karena waktu masih belum terlalu malam, mereka memutuskan untuk kembali membicarakan segala persiapan dirumah Rangga.


Siska memutuskan untuk mengantarkan makanan untuk sejoli yang sudah pulang terlebih dahulu tadi kerumahnya. Tanpa Ia duga, Ia malah disuguhkan pemandangan yang membuat Ia benar-benar ingin segera menikahkan keduanya. Hingga Ia pun melakukan negosiasi dengan keduanya.


"Sepertinya ini lah jalan terbaik!"


Flash back off

__ADS_1


*****************


Yuk jejaknya jangan ketinggalan yaa🤗


__ADS_2