
Setelah melalui berbagai drama, kini sepasang orang tua bersama putri cantiknya tengah berada diruang tunggu didepan poli anak. Rencananya hari ini dede Kia akan melakukan imunisasi pertamanya, yakni vaksin BCG.
Tak lupa juga mereka akan konsultasi dengan dokter kandungan mengenai alat kontrasepsi yang aman untuk keduanya.
Mereka hanya bertiga dengan bayi cantiknya. Ibu dan keluarganya sudah pulang terlebih dahulu sebelum mereka berangkat. Sang kakak sengaja mereka titip bersama Mama Ay. Mengingat Aska sendiri yang memilih untuk main bersama sang adik tersayangnya, Sena.
"Bang! Kita nomor berapa? Masih lama ya?" Tanya Siska.
"Dinomor dua belas. Bentar lagi giliran kita!" Balas bang Age dan dijawab anggukan Siska.
Keduanya asyik mengobrol tanpa tau kedua ibu-ibu muda tengah membicarakan mereka.
"Eh! Bukannya itu Agung ya?" Tanya seorang ibu yang tengah menggendong anaknya.
Si wanita satu menoleh dan memperhatikannya. "Iya! Itu dia. Ngapain dia disini?" Tanyanya heran. Ia tak menyadari seorang wanita tengah duduk disisinya.
"Kek nya dia bareng istrinya deh, Key?!" Timpalnya dengan menunjuk seseorang yang tengah duduk disana.
Keyla melihat dan menyunggingkan senyumnya. "Udah punya buntut lagi dia?" Sinisnya.
"Udah lah Key, masih aja lu. Move on dong!" Balas wanita yang menggendong bayinya.
"Bukan move on lagi, gue benci banget sama dia. Gue gak akan lupa gimana dia nolak gue demi cewek yang mengaku sahabat tapi tega nikung dari belakang." Ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Udah lah Key, lagian Icha udah pergi! Bukan salah mereka juga kalo mereka bersama. Mereka saling mencintai, lu harus akui itu." Nasihatnya.
"Iya gue tau itu. Yang bikin gue sakit itu, perkataan pedasnya. Dan itu bener-bener buat gue benci sama dia." Timpalnya dengan terus menatap pria yang Ia bicarakan dari kejauhan.
"Lu kek gak tau Agung aja. Dia kan kalo ngomong emang kek gitu. Suka bikin nyesek!" Timpalnya.
"Kok lu jadi belain dia sih Nad?" Tanyanya dengan nada kesal.
"Gue bukan belain. Emang kenyataannya kek gitu. Bukan lu aja yang pernah kena semprotan pedas dia." Sangkal Nadia dengan menunjuk bang Age dengan dagunya. "Gue juga pernah!" Tuturnya.
"Tau ah! Nyebelin lu." Balas Keyla dengan raut wajah semakin ditekuk.
"Ya elah lu. Emang kalimat apa yang buat lu gak bisa lupain perkataan dia?" Tanya Nadia.
Keyla terdiam mengingat kembali perkataan pria yang pernah Ia kagumi beberapa tahun silam. Kala dimana Ia mengungkapkan perasaannya pada lelaki tampan didepannya. Ia meringis merasa malu sendiri mengingatnya. Lalu ingatannya tepat pada ucapan lelaki tampan itu.
"Harusnya lu cantik dulu. Baru gue terima!"
Nadia tergelak mendengar kalimat yang pernah diterima temannya ini dari lelaki yang memiliki lidah tajam setajam silet itu. Hingga toyoran didapatinya dari teman disampingnya.
__ADS_1
"Itu sih fix nyesek ampe tulang-tulang." Tutur Nadia disela tawanya dan dibalas decakan kesal oleh Keyla.
"Cuma itu doang? Dan lu ampe benci sama dia?" Tanya Nadia.
"Gak cuma itu, dia kan kalo ngomong cerewetnya ngalahin cewek. Panjang kali lebar bikin gue nyesek! Tapi cuma kalimat itu yang paling gue inget!" Balasnya.
"Ya udah lah! Lupain gak usah diinget-inget. Udah bertahun-tahun juga." Timpal Nadia.
"Gue cuma pengen, membalas ucapan dia satu kalimat aja yang bikin dia sakit hati. Tapi gak pernah berhasil." Ucap Keyla membuat Nadia kembali tertawa.
"Tu anak emang udah ditakdirkan ngomongnya kek gitu. Jadi udahlah lupain!" Balas Nadia dan hanya dibalas hembusan nafas panjang olehnya.
*
Sementara itu, si korban yang tengah mendapat ghibahan terus memegang daun telinganya yang terasa terbakar.
"Kenapa bang?" Tanya Siska yang heran melihat sang suami yang sepertinya tengah resah.
"Kuping abang panas banget yang!" Ucapnya dengan memperlihatkan telinganya.
Siska melihatnya dan terkekeh. "Iya bang. Dower!"
"Napa ya? Panas bener?" Tanya bang Age terus memegang daun telinga yang semakin memerah.
"Mana sini aku tiupin!" Siska menarik pelan kepala sang suami agar sedikit menunduk dan meniupinya.
"Mitos dipercaya." Sangkalnya.
"Ya siapa tau aja emang bener." Balas Siska.
"Ya udah lah tiupin lagi!" Titahnya yang sudah merasa tak nyaman dengan daun telinganya.
Siska kembali meniupinya, namun hal itu justru membuat bang Age menengang. Hembusan nafas hangat sang istri yang mengenai lehernya membuat bulu kuduknya meremang seketika.
"Cukup! Udah!" Bang Age menghentikan aktifitas sang istri hingga membuatnya mengerenyitkan dahinya heran.
"Kenapa bang?" Tanyanya.
"Udah ntar lagi dikamar! Disini takut khilaf." Penuturan sang suami sukses membuatnya tertawa.
"Apa sih bang!" Ucapnya menepuk pelan bahunya dengan menggelengkan kepalanya.
Ditengah candaanya, giliran mereka pun tiba. Keduanya memasuki ruang dokter untuk melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
Bayi cantik itu sudah ditidurkan diatas brankar setelah melakukan penimbangan terlebih dahulu. Siska ikut tegang kala melihat jarum suntik yang siap ditusukan pada paha sebelah kanan putrinya.
Ia sampai tak sanggup untuk melihatnya. Ia pun memegang erat lengan suaminya dengan menempelkan wajahnya dibahu sang suami.
Jeritan tangis sang bayi beriringan dengan jeritan dari Papihnya. Membuat sang dokter terlonjak kaget.
"Ada apa pak?" Tanya sang dokter.
"Nggak papa bu. Maaf!" Sesal bang Age.
"Kenapa bahu abang digigit sii?" Tanya bang Age meringis mengusap bahunya.
"Maaf bang aku reflek!" Jawab Siska mengusap bahu yang Ia gigit. Lalu mendekati putrinya yang masih menangis.
"Cup! Cup! Sayang. Jangan nangis ya!" Ucapnya seraya mengusap rambutnya sayang.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang seraya mendekatinya. Sang dokter terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.
"Saya akan meresepkan obat patacetamol. Jika nanti tiba-tiba dedenya panas jangan khawatir ya, itu biasa. Tinggal kasih aja obatnya!" Jelasnya.
"Baik dok!" Balas bang Age.
Siska masih sibuk menenangkan putrinya yang masih menangis dengan memberinya mimi. Hingga tangis bayi cantik itu reda dan akhirnya tertidur.
Setelah selesai, mereka keluar meninggalkan ruangan pemeriksaan dan hendak melanjutkan pemeriksaan ke poli kandungan. Namun tiba-tiba langkahnya terhadang oleh dua wanita didepannya.
Bang Age hendak berjalan kekanan, namun keduanya juga nganan, Ia hendak berjalan kekiri, namun mereka melakukan hal yang sama.
"Ck! Lu mau kemana sii? Mau kanan apa kiri?" Tanya bang Age pada wanita didepannya dengan nada yang tak bersahabat.
"Ya elah biasa aja kali gak usah nge gas!" Balas Nadia membuat bang Age kembali berdecak.
Siska menahan lengan sumainya untuk tak mengeluarkan kata-katanya lagi seraya menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya mbak!" Ucapnya merasa tak enak.
"Gak papa. Udah biasa kita mah!" Timpalnya dan dijawab senyuman manis Siska.
"Gue heran deh, kok bisa lu tahan sama lakik kek dia? Sama cewek aja galak." Tanya Keyla dengan sindiran.
Bang Age hendak mengeluarkan katanya namun telunjuk jari sang istri, mampu membungkamnya.
"Iya. Suamiku emang galak. Galak banget sama cewek!" Tutur Siska. "Itu kenapa aku milih jadi istrinya bukan jadi ceweknya!" Lanjutnya.
__ADS_1
****************
Ayo gaiss ramaikan lagi! Jangan lupa like dan komennya yaa😊 Gak ada yang mau nambah vote gitu? hari senin nihðŸ¤