Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 119 Rangga


__ADS_3

Sisa satu hari lagi waktu liburan mereka. Hari ini seluruh keluarga itu berencana akan pergi keperkebunan bang Ar. Mereka akan menggelar piknik ditengah hamparan hijau disana.


Kini mereka sudah berjalan melalaui jalan bebatuan yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Gelak tawa begitu terdengar riuh dari para bocah disana. Hingga tiba-tiba dipertengahan jalan mereka, seorang pria paruh baya menghadang jalan mereka. Dengan bertolak pinggang dan wajah yang terlihat begitu sangar.


"Berhenti!"


Semua orang ikut berhenti, kala mendengar intruksi darinya. Semua menatap aneh pada pria yang sepertinya tengah menahan emosinya itu.


"Ada apa pak?" Tanya Ayah Dedes khawatir.


Tiba-tiba saja si bapak merubuhkan tubuhnya, hingga kakinya ditekuk didepan kaki ayah Dedes. Semua orang shok melihat itu hingga menutup mulutnya.


"Saya mohon pak, maafkan putri saya. Tolong bilangin sama nak Rangga, jangan putusin dia. Saya gak sanggup harus lihat dia nangis terus semalaman!" Ucapnya dengan menangkup tangan seraya memohon.


Ayah hendak membangunkannya, namun si bapak masih saja diam ditempat dengan terus memohon. Ayah ikut berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka.


"Jangan kek gini Pak! Ayo bangun!" Ajaknya.


"Nggak pak! Sebelum bapak memaafkan anak saya!" ucap si bapak dengan tangisan lirih.


"Pak Samsul, saya mohon jangan kek gini. Gak enak dilihat orang. Soal itu, kita bicarakan dirumah ya!" Bujuk Ayah Dedes.


Akhirnya pak Samsul mau dibujuk dan ikut berdiri.


Acara pikinik masih terus berlanjut, tanpa ayah Dedes dan ibu. Sepasang orang tua itu, mengikuti pak Samsul menuju kediamannnya untuk membicarakan hal itu. Ayah juga mengirim pesan pada putranya untuk menyusulnya.


"Maafkan saya pak kades sudah mengganggu waktu bapak dan keluarga. Saya hanya bingung dengan putri saya yang semalaman menangis, bahkan mengamuk tak jelas. Saat saya tanya, ternyata dia baru diputusin sama Nak Rangga." Jelasnya.


"Saya hanya ingin tau, kenapa putri saya diputusin secara sepihak?" Tanyanya.


Ayah dan ibu saling lirik, mereka bingung harus menjawab apa. Bahkan mereka tak tau alasan putranya memutuskan kekasihnya itu.


"Jadi begini pak, sejujurnya saya kurang tau apa alasan putra saya memutuskan putri bapak. Supaya lebih jelas, saya sudah memanggil Rangga untuk datang kesini. Biar dia sendiri yang akan menjelaskannya." Balas ayah Dedes.


Terdengar helaan nafas panjang dari pak Samsul. "Saya harap hubungan mereka terus berlanjut dan kita bisa terus menjalin silaturahmi. Agar kita bisa jadi satu keluarga, gitu pak!" Ucapnya membuat sepasang suami istri itu kembali saling lirik dengan senyum yang dipaksakan.


Hingga suara seseorang mengalihkan atensi mereka.


"Assalamualaikum?!"

__ADS_1


"Waalikumsalam!!"


Tenyata Rangga lah yang datang. Ia mendudukan diri setelah menyalimi kedua orang tua dan si empunya rumah bergantian. Keadaan hening sejenak, tak ada yang mau memulai obrolan terlebih dahulu.


"Maafkan saya pak!" Akhirnya Rangga pun memulai obrolannya.


Semua tampak tegang melihat ekspresi Rangga, melihat dari raut wajahnya sepertinya itu sangat serius. Tak ada yang mau menyelak ucapannya.


"Maaf karena saya harus mengakhiri hubungan ini!" Lanjutnya.


"Tapi kenapa, Nak? Apa kesalahan Silvi?" Tanya pak Samsul.


"Apa Silvi gak bilang apa-apa sama bapak?" Tanya Rangga dan dijawab gelengan oleh pak Samsul.


"Saya akan menjelaskan alasannya, tapi dengan satu syarat." Ucapnya.


"Apa?"


"Bapak harus janji satu hal sama saya. Bapak harus menuruti satu permintaan saya!" Ucapnya dan dijawab anggukan kepala oleh pak Samsul.


Rangga meraih layar pipih disaku celananya dan mengotak atik benda tersebut. Kemudian memperlihatkan itu kehadapan pak Samsul. Seperti ekspresi Silvi kemarin, pak Samsul ikut shok melihatnya. Beberapa gambar putrinya bersama temannya yang tengah beradegan mesra tanpa busana terpampang jelas dilayar itu. Ia kepalkan sebelah tangannya seraya menggertakan giginya melihat itu.


"Apa?"


"Jangan apa-apakan Silvi! Biarkan dia bahagia bersama pilihannya!" Ucapnya.


Pak Samsul menarik dan menghembuskan nafasnya panjang, menetralkan amarah yang hampir saja meledak. Bagaimana mungkin putrinya bisa berbuat seperti itu? Dan dia sudah dipermalukan didepan pria yang sudah Ia klam calon mantunya itu.


Sungguh Ia merasa bersalah, seklaigus malu sekali pada pria beserta keluarganya yang ada dihadapannya itu. Melihat orang yang berada dihadapannya adalah orang nomor satu didesanya ini, seorang pimpinan mereka.


Ayah dan ibu yang tak mengerti hanya saling lirik dengan kerutan yang berlipat didahinya seraya kebingungan. Keduanya hanya memilih diam, dan tak ikut berkomentar apapun.


"Baiklah pak! Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Dengan hormat saya mengakhiri hubungan ini. Gak ada ikatan apa-apa lagi antara saya sama Silvi. Dan untuk bapak, saya berterima kasih atas perhatiannya selama ini." Tutur Rangga membuat pak Samsul menghembuskan nafasnya panjang.


"Yah! Bu! Kita pulang!" Ajaknya pada kedua orang tuanya dan dijawab anggukan oleh mereka yang sempat melongo mendengar penuturan putranya yang begitu dewasa.


"Mari pak!" Pamitnya seraya berdiri dan diiyakan pak Samsul.


Ketika Rangga sudah sampai depan pintu bersama kedua orang tuanya. Pak Samsul kembali menceagatnya.

__ADS_1


"Tungu, Nak!"


Ketiganya kembali menoleh mendengar panggilan pak Samsul.


"Maafkan putri saya ya! Saya gak tau harus bilang apa lagi. Sebagai orang tua, saya terlalu malu mengakui itu." Ucapnya seraya menunduk.


Rangga tersenyum simpul menanggapinya. "Saya sudah maafin dia, pak! Hanya satu yang perlu bapak ingat, penuhi janji bapak!" Balasnya.


Pak Samsul mengangguk seraya terus mengucapkan terima kasih, untuk tak menyebarkan aib sang putri.


Akhirnya ketiga keluar dan berlenggang meninggalkan tempat itu. Ayah dan ibu memilih jalur untuk kembali bergabung dengan keluaga yang lain. Sedangkan Rangga memilih untuk kembali pulang kerumah. Merekapun akhirnya berpisah dipersimpangan.


Rangga berjalan dengan pikiran yang benar-benar tenang. Bahkan udara siang ini terasa begitu segar diindera penciumannnya. Ia sampai memejamkan matanya merasakan hembuan angin yang menerpa wajahnya. Dengan kedua tangan yang Ia masukan kedalam saku celananya.


Brukkk!!!


Tiba-tiba saja tubuhnya tersungkur kedepan kala seseorang menabraknya dari belakang. Ia terjatuh dan wajahnya sukses mencium aspal.


"Astagfirulloh!!"


"Maaf bang! Maaf! Gak sengaja." Sesal si penabrak.


Rangga masih menunduk dengan kedua kaki yang ditekuk, Ia mengusap dahinya yang terasa sakit dan perih bersamaan.


"Sini bang, aku bantu!" Ucapnya lagi, seraya menyodorkan tangannya.


Rangga mendongak mendengar suara gadis yang menabraknya tadi, suara yang terdengar familier ditelinganya.


Si gadis terlihat shok melihat siapa orang yang Ia tabrak. "L-Lu?" Pekiknya seraya menutup mulutnya.


Rangga berdiri seraya menepuk tangannya yang kotor dan lututnya juga. Ia beralih menatap wajah sang gadis yang terlihat khawatir. Dengan wajah penyesalan dan kuku jari yang Ia gigit, menandakan bahwa Ia merasa sedikit takut.


Rangga menarik satu sudut bibirnya melihat itu. "Apa perlu kita berkenalan?" Tanyanya seraya menyodorkan tangannya.


Si gadis masih terdiam seraya memperhatikan wajah dan tangan pria didepannya bergantian. Hingga suara seseorang membuat keduanya menoleh. "Hanna!"


**************


Jejaknya jangan lupa yaa😊

__ADS_1


__ADS_2