Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 127 Adegan dramatis


__ADS_3

Siska tergelak mendengar penuturan suaminya. Ternyata dibalik tak akurnya kedua pria itu, ada rasa saling peduli didalamnya. Tanpa Ia minta, sang suami sudah bergerak lebih cepat.


"Uluhhh suami siapa sihh, gumushh deh!" Ucap Siska manja sembari mencubit pipi suaminya gemas.


"Apa sih lebay!" Ledek bang Age.


"Iya aku emang lebay." Jawabnya. Lalu mendekat kearah telinga sang suami seraya berbisik. "Dan suka yang melambai-lambai." Lanjutnya cekikikan.


Hal itu sukses membuatnya mendapat tarikan dilehernya dari sang suami menggunakan lengannya. Hingga keduanya tergelak seraya mendaratkan bokongnya dikursi sebrang anak-anaknya.


*


Sementara itu sepasangan manusia yang tengah meluapkan kerinduannya, sudah melerai pelukannya. Kini mereka tengah duduk dikursi dengan kursi bersebelahan, namun dengan tubuh berhadapan.


Hanna masih menunduk dan enggan menatap pria didepannya. Terlalu malu untuknya menatap seseorang yang telah menetapkan kepercayaan padanya. Rangga menggenggam kedua tangannya, berharap sang gadis akan menatapnya. Namun nyatanya nihil, Hanna masih tak jua mau menatapnya.


"Apa kamu gak merindukanku? Sampai gak mau menatapku?" Tanya Rangga, namun Hanna masih terdiam dengan kepala kian menunduk.


"Lihat aku!" Titahnya seraya menarik dagu sang gadis.


"Aku tau apa yang terjadi padamu." Lanjutnya, dan sukses membuat Hanna mendongak, bahkan menatapnya.


"Ya aku tau semuanya." Lanjutnya lagi.


Hanna memejamkan matanya seraya cairan hangat itu kembali jatuh. Hingga usapan lembut dikedua pipinya dirasakannya, dan kembali membukakan matanya.


"Aku gak peduli itu. Bagiku, melihatmu kembali adalah kebahagiaan terbesar untukku. Kembalimu adalah suatu doa yang selalu kupanjatkan dalam setiap sujudku."


Penuturan Rangga sukses membuat Hanna kembali menetaskan air matanya. Seketika tangannya menyambar tubuh tegap dihadapannya dan memeluknya erat.


"Maafin aku! Maafin aku!" Cicitnya disela isak tangisnya yang kian memilukan.


Entah berapa kubik cairan hangat yang keluar dari ujung matanya. Hal itu menunjukkan betapa dalamnya rasa rindu dan rasa bersalahnya yang Ia pendam selama ini.


"Gak ada yang perlu dimaafkan! Ada kalanya kita harus tersungkur terlebih dahulu sebelum mencapai puncak bahagia yang sesungguhnya." Tutur Rangga.


"Aku tak peduli tubuhmu. Asal hatimu masih tetap sama untukku." Lanjutnya Hingga Hanna semakin mempererat pelukannya.


Setelah mendapat panggilan dari saudara iparnya, Rangga bergegas membawa kuda besinya menuju tempat yang diberitahunya. Ia yang tak ingin acara perjodohan kembali digelar sang ayah segera mengikuti intruksi dari musuh rasa saudaranya itu.


Ia yang setahun ini bekerja dikota, tentu lebih dekat dengan keluarga saudaranya itu. Bahkan sang adik ikut tinggal bersamanya disebuah rumah yang ayahnya siapkan.


Setelah kepergian Hanna, Rangga benar-benar frustasi. Selama setahun Ia seperti orang linglung, kesana kemari mencari keberadaan pujaan hatinya. Hingga sang ayah berinisiatif menjodohkannya dengan putri pak kades dari desa sebelah, namun nyatanya tak membuat Rangga move on. Sampai Ia kabur ke kota dan memilih tinggal disana.

__ADS_1


Dikota ini, Ia kembali memulai hidupnya dengan fokus pada pekerjaannya tanpa ingin mengenal cinta. Dan hari ini Ia dipertemukan kembali dengan cintanya. Hingga Ia berjanji, tak akn melepaskan lagi cintanya itu.


Rangga melerai kembali dekapannya, lalu mengahapus jejak kebasahan dipipi mulus itu untuk kedua kalinya.


"Udah jangan nagis lagi! Matamu udah bengkak tuh, ntar gak bisa lihat aku yang ganteng lagi." Pinta Rangga dengan sedikit candaan.


Hanna mencebikan bibirnya. "Idihh udah bisa bercanda rupanya?" Ledeknya.


"Untuk mengalikan rinduku, aku mencoba ngelawak bareng mereka." Balasnya seraya menunjuk satu keluarga yang tengah bercanda ria dimeja yang jauh darinya.


Hanna tersenyum mendengarnya. Ia memang tak berharap lebih, dimaafkan oleh pria didepannya saja sudah teramat bahagia untuknya. Apalagi kalau Ia bisa diterima kembali, itu adalah suatu keajaiban yang patut Ia syukuri.


"Oh iya, kamu tau dari mana kalo aku-?" Hanna tak meneruskan ucapannya, sungguh terlalu malu untuknya mengungkapkan itu.


Rangga tersenyum melihat ekspresi gadis didepannya. "Kamu sendiri tadi yang bilang. Aku hanya menjadi pendengar aja." Balasnya.


Hanna berdecak kesal seraya menampol lengan pria didepannya. "Ck! Nguping ya?" Kesalnya.


Bukan kesal yang sesungguhnya, namun malu yang Ia rasakan. Ternyata Ia tak membeberkan fakta pada wanita yang sudah Ia anggap kakaknya saja, namun juga pada pria yang menjadi pujaan hatinya itu.


Rangga tergelak seraya mencekal lengan gadisnya. "Kamu tau? Aku tak peduli dengan apapun tentang statusmu. Mau kamu janda sekalipun itu gak masalah bagiku. Lagian aku gak tau gimana cara ngebedain nya." Kekehnya.


Hanna memutar bola matanya malas seraya mencebikan bibirnya mendengar penururan gamblang dari kekasihnya itu. "Cih! Aku gak percaya. Gak ada yang tau kan saat aku gak ada?" Tanyanya.


Lengannya kembali mendapat tampolan manja dari gadisnya. "Dasar emang!"


"Tapi kek nya sekarang mau rajin deh." Celetuk Rangga, dan sukses membuat Hanna menaikan satu alisnya.


"Buat?"


"Buat mandi." Bisiknya ditelinga Hanna.


Hingga kembali mendapat tampolan dari sang gadis. Untunglah itu tampolan manja, coba kalo bukan? Auto benjol-benjol tuh lengan.


"Besok aku akan menjemputmu." Tuturnya.


"Kemana?"


"Ke suatu tempat." Balasnya membuat Hanan kembali menautkan alisnya semakin penasaran.


"Udah mukanya biasa aja. Ntar besok, kamu juga tau." Lanjut Rangga.


Akhirnya keduanya mulai memesan makanan, tentu setelah membersihakn meja yang sudah berantakan akibat ulahnya itu. Ternyata menangis membuat perut keduanya ikut meringis, merasakan perih dari gejolak cacing yang ikut menjerit.

__ADS_1


*


"Gimana adegan live nya, dramatis gak?" Kekeh Siska.


"Ck! Kurang dramartis tuh. Harusnya Rangga jangan langsung murahan, jual mahal dulu. Ini main nyambar aja. Jadi kurang eustetis deh." Komentar bang Age.


Layaknya seorang komentator sepasang suami istri yang sudah menonton adegan live saudara bersama kekasihnya, memberikan masukan pada keduanya dari kursi mereka. Menilai seberapa dramatis adegan itu. Sungguh saudara durjana emang.


"Kalo menurutku nih ya, itu tuh masih ada adegan yang kurang." Balas Siska.


"Apa?"


"Kissingnya kenapa diskip thor. Kan jadi berasa ada yang kurang tuh." Protes Siska.


Bang Age tergelak mendengar protesan sang istri. Tak tau aja istrinya itu wajah mak othor sudah begitu tegang dengan adegan bawangnya. Takut-takut dihujat readersnya!


"Ya udah sii, ntar kita aja yang lanjut adegan itu." Balas bang Age seraya merangkul pundaknya.


"Idiihhh maunya abang itu mah." Protes Siska lagi.


"Kek kamu nggak aja!" Balasnya.


"Emang nggak."


"Kenapa nggak?"


"Nggak mau nolak." Balasan Sika membuat keduanya tergelak.


Kedua putra putrinya hanya menggelengkan kepala mendengar canda tawa keduanya. Meski belum paham dengan apa yang kedua orang tuanya tuturkan. Namun mereka sudah mengerti, kalau kedua orang tuanya itu pastilah tengah membahas keuwuan.


"Kak kita protes yuk sama mak othor!" Ucap Kia.


"Protes apa?" Tanya Aska.


"Kapan kita di gedein?" Tanya Kia balik.


"Kenapa emang?" Tanya Aska lagi heran.


"Gak tahan aku lihat emak bapak yang bucin. Eh kita malah belum bisa ngikutin."


******************


Mau mewek apa ngakak nih?🤭

__ADS_1


Gue diprotesin Mak sama anak euy!! Siap-siap besok gue gede in lu Kiy🤣🤣🤣


__ADS_2