
Seorang wanita paruh baya, datang menghampiri keduanya. Dilihat dari penampilannya, sepertinya wanita itu adalah seorang wanita karier. Dengan memakai rok span dan blazer, dapat dipastikan kalau Ia adalah pegawai PNS atau seorang guru.
"Jalannya pelan-prlan dong! Bunda kan pake heels, gak bisa jalan cepat." Omelnya, ketika Ia sampai disana.
"Ini? Siapa?" Tanyanya.
"Saya Rangga bu." Ucapnya seraya mengulurkan tangannya dan disambut sang ibu.
"Perkenalkan saya orang baru disini. Nama saya Dini dan ini putri saya Hanna." Ucapnya memperkenalkan diri dan disambut senyuman pria didepannya.
Hanna yang melihat itu hanya menghembuskan nafasnya panjang. Ia yang tak berniat berkenalan dengan pria yang menyebalkan didepannya itu, malah ambyar karena sang bunda malah memperkenalkannya terlebih dahulu.
"Oh iya, Nak Rangga. Saya mau mencari rumah pak kades, mau buat laporan pindah kesini. Saya sudah kebale desa, mungkin karena ini libur disana gak ada siapa-siapa. Terus kata warga, saya disuruh langsung menemui pak kades dirumahnya." Jelasnya.
"Jadi, Nak Rangga. Bisa bantu kami menunjukan jalannya?!" Pintanya.
"Apa sih bu. Kita gak perlu bantuan dia." Ucapnya seraya melirik pria didepannya. "Kita bisa cari sendiri."
"Tapi kan Han, kalo nak Rangga mau bantu. Kita bisa cepat sampai dirumah pak kades. Bunda cape dari tadi muter-muter terus, kaki bunda lama-lama lecet ini." Ucapnya membuat Hanna menghembuskan nafasnya panjang.
Memang sedari tadi mereka hanya muter-muter tak juga sampai dirumah pimpinan desa disana.
Rangga tersenyum mendengar itu. "Mari bu, biar saya antar ke rumah pak kades!" Ajaknya.
"Beneran nak Rangga mau ngantar?" Tanya bu Dini dan dijawab anggukan Rangga.
"Mari!" Ajaknya, mempersilahkan berjalan seraya melirik kearah sang gadis dengan menarik satu sudut bibirnya.
Bu Dini dengan antusias segera berjalan paling depan. Sementara Hanna menatap kesal pada pria yang menurutnya banyak modus itu. Namun Ia tak punya pilihan lain, dengan pasrah Ia pun ikut berlenggang mengikut langkah sang bunda. Rangga tersenyum dan mengikuti keduanya dari belakang.
*
Tak berselang lama mereka sampai didepan rumah besar itu. Terlihat sepi disana, karena memang si empunya rumah dan keluarga sedang tak ada dirumah.
"Kok sepi ya? Kek nya pak kadesnya gak ada dirumah ya?" Cecar bu Dini.
"Iya, mereka lagi liburan diperkebunan." Jawab Rangga sembari membuka pintunya. Namun lengannya dicekal gadis disampingnya.
"Jangan!" Larangnya membuat Rangga tersenyum tipis.
"Lu, jangan main masuk aja kerumah orang sembarangan! Gak sopan tau!" Omelnya membuat Rangga mengembangkan senyumnya tanpa Hanna tau. Apalagi Ia merasakan tangan lembut yang bertengher dilengannya membuat hatinya berdebar tak karuan.
__ADS_1
"Lu bisa ketuk dulu pintunya atau apa gitu. Jangan main nyelonong aja!" Lanjutnya.
Rangga tak menanggapi ucapan sang gadis, Ia membuka paksa pintu itu dan masuk. Hanna melepaskan lengan Rangga dan berdiri mematung diambang pintu bersama bundanya.
"Kenapa diem? Ayo masuk!" Ajaknya membuat dua wanita beda generasi itu keheranan.
Kenapa Rangga bisa nyelonong gitu aja? Kek dia yang punya rumah? Apa memang rumah pak kades bebas dimasuki siapa aja? Pikir kedua wanita yang masih mematung diambang pintu itu.
"Han? Bu?" Panggilan dari Rangga sukses membuyarkan lamunan mereka.
"Hah?! Iya!" Balas Hanna gelagapan.
"Ayo masuk!" Ajaknya lagi dan dijawab anggukan keduanya.
Keduanya pun masuk dan dipersilahlan duduk disofa oleh Rangga. Rangga berlenggang kedapur untuk membuatkan minuman untuk kedua tamu ayahnya.
Keduanya semakin dibuat heran kala Rangga membawakan minuman untuk mereka dan mempersilahkannya untuk minum.
"Ntar dulu! Lu sebenernya siapa sih?" Tanya Hanna.
Rangga hendak menjawab, namun salam dari luar membuat Ia mengurungkan niatnya. Ternyata yang datang adalah ayah dan ibu. Rangga sengaja menghubungi ayahnya untuk segera pulang, mengingat ada tamu yang tengah menunggunya.
"Maaf bu, sudah membuat anda menunggu!" Sesal ayah seraya mendekat kearah sofa diiringi sang istri disampingnya, membuat ibu dan putrinya itu berdiri untuk menyambut.
"Iya gak papa. Perkenalkan saya kepala desa disini dan ini istri saya!" Ucap ayah Dedes memperkenalkan diri.
"Saya Dini pak, bu. Dan ini putri saya Hanna." Ucapnya ikut memperkenalkan diri dan disambut senyum ayah dan ibu.
Rangga pun ikut mendudukan diri disamping sang ibu.
"Oh iya, kenalin ini Rangga, putra sulung kami." Ucap ibu memperkenalkan sang putra disampingnya.
Rangga menyunggingkan senyumnya semanis mungkin. Berbeda dengannya, sang gadis disebrang sana sampai menganga lebar mendengar itu. Kemudian otak kecilnya mengingatkan Ia sesuatu. Satu keluarga yang pernah Ia potret kemarin, memanglah kedua orang tua dihadapannya itu.
"Ya ampun! Kenapa nak Rangga gak bilang, kalo ini rumah nak Rangga sendiri? Pantes dari tadi terasa aneh, saya sampai bingung sendiri." Kekeh bu Dini.
Ayah dan ibu tertawa kecil mendengar itu. Kemudian atensi ibu beralih memperhatikan gadis didepannya. "Eh! Bukannya kamu yang kemarin potoin kita ya?" Tanyanya dan dijawab anggukan gadis itu.
"Ya ampun! Akhirnya ketemu lagi. Kita belum sempat ngucapin makasih loh sama kamu. Makasih ya, Nak!" Ucap ibu tulus.
"Iya sama-sama bu!" Balas Hana kikuk dan disambut senyuman ketiganya.
__ADS_1
"Oh iya pak. Kedatangan kita kesini, mau mengurus surat perpindahan kita kesini." Bu Dini pun menjelaskannya panjang kali lebar.
Ditengah obrolan mereka, suara dering ponsel mengalihkan atensi mereka. Hanna keluar untuk mengangkat pangilannya. Tanpa Ia tau Rangga mengikutinya dari belakang.
"Ya bang!"
"Udah nih. Udah ditempatnya. Abang udah nyampe?"
"Iya. Jangan lupa abang jaga kesehatan ya!"
"Oke! Love you abang!"
Hanna tergelak diakhir kalimatnya. Entah dengan siapa Ia mengobrol, namun dari kalimat-kalimat yang Ia lontarkan. sepertinya itu orang yang spesial untuknya.
Rangga menghembuskan nafasnya panjang. Apa Ia tak akan memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat gadis yang kini tengah cekikikan dengan mata yang terus fokus pada benda ditangannya.
Namun hatinya berkata untuk mencoba mendekat dan mengenalnya. Ia takan pernah tau, jika tak mencobanya.
"Maaf ya!" Ucapnya ikut duduk di bangku panjang, diteras samping dan sukses membuat sang gadis mendongak.
"Untuk apa?" Tanyanya seraya tangannya kembali sibuk dengan benda pipih itu.
"Untuk yang kemarin. Udah buat kamu jatuh sampai celana kamu kotor." Balasnya.
Hanna menarik satu sudut bibirnya seraya tatapannya tetap fokus pada layar. "Gak papa. Santai aja! Lagian aku juga udah buat kamu jatuh tadi." Balasnya.
Hal itu membuat Rangga tersenyum, bukan karena sang gadis memaafkannya tapi kata 'aku-kamu' menjadi alasan utamanya.
"Jadi impas ya!" Lanjutnya seraya menoleh dengan senyum yang sukses membuat jantung Rangga berpacu dua kali lebih cepat.
"Boleh kita berkenalan?" Tanya Rangga.
"Bukannya kita udah kenal?" Tanya balik Hana dengan heran.
"Ada satu hal yang belum kita kenalkakan!" Tutur Rangga.
"Apa?" Tanya Hanna heran.
"Hatiku dan hatimu."
****************
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yaa😊 Masih ada beberapa episode menuju tamat nih! Mau lanjut bocah-bocahnya gede ya🤗