
Aska masih terdiam, Ia tak menyangka gadis disampingnya benar-benar harus pergi meninggalkan mereka. Vani berdiri hendak pergi namun lengannya dicegat bocah tampan disampingnya.
"Kapan kamu pulang?" Tanyanya.
Vani menggelengkan kepalanya. "Entah!" Balasnya.
"Terus ini?" Tanya Aska memperlihatkan benda ditangannya pada gadis disampingnya.
"Itu buat Aka! Supaya aka inget terus sama aku." Balasnya.
Kemudian Vani pergi meninggalkan Aska disana. Ia lihat isi dari benda digenggamannya dan hal itu sukses membuatnya membolakan matanya. Ia melihat beberapa foto dirinya dan gadis kecil itu dari mereka kecil disana. Gambar yang diedit dengan menggunakan suara dan filter yang menggemaskan.
Apalagi Ia melihat foto keduanya yang diubah seperti bentuk pernikahan, dengan caption! 'Aku dan Aka menikah.'
Aska tersenyum menanggapi itu. Ia tak tau bagaimana caranya gadis kecil itu mengotak atik benda persegi itu dan mengubah gambarnya. Perkara menikah memanglah mama Lia sering mengatakan hal itu. Tentu gadis kecil itu hanya mendengarnya saja dari sang Mama tanpa tau arti sesungguhnya.
*
Sementara itu kedua ibu tengah melakukan rapat dadakan di dalam kamarnya.
"Kenapa mesti pindah Li?" Tanya Siska.
"Gue juga kurang paham betul, yang jelas a Ivan dipindahin sama pak Rendi ke anak perusahaan diluar pulau. Katanya buat bantu yang disana." Jelas Lia.
Siska menhembuskan nafasnya panjang. Sungguh Ia tak ingin kehilangan sahabat satu-satunya itu. Namun apalah daya, sekarang mereka mempunyai prioritasnya masing-mading dan kehidupannya masing-masing.
"Apa Vani juga mau lu bawa?" Tanya Siska.
"Ya iyalah. Ngaco lu! Mana mungkin gue tinggalin putri gue disini." Balas Lia.
"Ya kali, lu izinin dia tetap disini. Gue siap kok jagain dia." Saran Siska.
Lia menghembuskan nafasnya panjang. Sebenarnya terlalu takut untuknya mengajak sang putri ketempat baru. Mengingat putrinya yang begitu introvert, pasti akan terlalu sulit untuknya beradaptasi kembali.
"Gue tau itu. Tapi kan suami gue gak bakal ngizinin." Balas Lia.
"Ya deh serah lu. Dimanapun lu berada semoga lu selalu bahagia." Ucap Siska mendoakan.
Lia berhambur memeluk sahabatnya itu. Tak pernah terpikir olehnya akan berjauhan lagi dengan sahabatnya itu. Tak akan bisa lagi mengganggu keluarga itu pagi-pagi.
"Gue cuma pesen satu hal sama lu." Ucap Lia seraya melerai pelukannya. Dengan keduanya sama-sama menyeka air mata yang memaksa untuk keluar.
"Apa?" Tanya Siska.
"Gue gak tau kapan gue kembali. Dan gue cuma pengen lu jagain Aka, jangan sampai Ia jatuh kepelukan perempuan lain. Cukup Vani yang akan jadi istrinya kelak." Tuturnya serius.
__ADS_1
"Ishhh paan sih lu!" Siska menampol lengan sahabatnya, merasa tengah dikerjai.
"Gue serius Sis. Gue gak percaya lelaki manapun kecuali Aka, buat jagain dan ngebimbing putri gue kelak." Tutur Lia.
Siska menghembuskan nafasnya panjang. "Gue gak bisa pastiin itu. Tapi gue akan coba. Gue lihat mereka memang cocok. Ya smoga aja mereka memang berjodoh." Balasnya.
"Makasih ya Sis!" Ucap Lia memeluk kembali tubuh sahabatnya.
"Gue seneng banget kalo Aka jadi calon mantu gue. Terus kita bisa besanan. Kek nya seru banget tuh." Lanjutnya.
"Jangan dulu seneng, kita gak tau jalan kedepannya. Biarin mereka dewasa dengan sendirinya. Kita jangan memaksa, cukup mengarahkan!" Ucap Lia dan dijawab anggukan Lia.
Ditengah drama perpisahan dua ibu itu, seorang gadis yang jadi bahan pembicaraan mereka datang memasuki kamar. Ia memanggil keduanya untuk kembali ke acara. Hingga keduanya pun kembali ketengah ramainya pesta.
*
"Van! Kamu kenapa diam aja?" Tanya Kia, kala mereka tengah duduk digazebo dengan melingkar bersama saudara-saudaranya.
"Nggak!" Balasnya mencoba tersenyum.
"Vani mau kak Sha ambilin buah-buahan?" Tanya Shaka yang duduk disebelahnya dan dijawab anggukan Vani.
Shaka mengambil beberapa buah stroberi yang ada ditengah mereka. Namun Aska menghentikannya. "Vani gak suka stroberi." Ucapnya dan mengambil pisang yang tersedia disana.
"Nih! Kesukaan Vani." Lanjutnya seraya memberikan buah itu pada gadis disampingnya.
Tiba-tiba saja buliran hangat dari ujung matanya keluar dengn isak lirih dari bibir mungilnya. Ternyata kebersamaan seperti itu yang akan Ia rindukan dari teman-temannya.
"Vani kenapa?" Tanya Shaka merasa shok, mendapati gadis disampingnya yang tiba-tiba saja menangis.
Aska ikut menoleh, mendengar penuturan saudara sepupunya. Ia yang melihat tubuh bergetar disampingnya, langsung memeluknya.
"Kenapa? Jangan nangis!" Ucap Aska.
Sena dan Kia ikut shok melihat itu dan segera berhambur mendekat kearahnya.
"Vani kenapa?" Tanya Kia.
"Ada apa kak?" Tanya Sena.
Bukannya reda tangisnya kian keras. Akhirnya Shaka berinisiatif memanggil Mamanya yang tengah mengobrol diruang keluarga bersama orang tua yang lainnya. Acara yang sudah selesai, menyisakan beberapa keluarga saja disana. Para orang tua tengah membahas pindahnya Ivan dan keluarga.
Hingga ketika mendengar putrinya menangis, Lia berlalu menemuinya.
"Ya ampun sayang! Kamu kenapa?" Tanyanya ketika Ia mendekat.
__ADS_1
Aska melepas dekapannya dan membiarkan sang gadis berhambur kepelukan mamanya. Lia berusaha menenangkannnya dengan mengusap lembut rambutnya.
"Cup! Cup! Udah sayang, jangan nangis lagi ya!" Titahnya dan akhirnya bocah cantik itu tenang dan menghentikan tangisnya.
"Onty, sebenarnya Vani kenapa?" Tanya Kia.
Lia tersenyum mendengar pertanyaan sahabat putrinya itu. "Vani sedih, soalnya besok kita mau pindah." Ucapnya
"Pindah? Pindah kemana onty?" Tanya Sena.
"Ke kota X, keluar pulau." Balasnya.
Semua bocah itu shok seraya menutup mulutnya, kecuali Aska. Ia yang sudah tau, hanya menghembuskan nafasnya panjang mendengar hal itu adalah benar.
"Tapi kenapa onty? kenapa harus pindah?" Tanya Kia yang sudah ikut terisak dengan deraian air matanya.
"Om kan harus pindah kerja kesana, jadi Vani sama onty harus ikut." Balas Lia.
"Vani!!!" Kia dan Sena berhambur memeluk tubuh sahabatnya dengan isak tangisnya. Hal itu membuat Vani juga ikut terisak kembali.
"Udah-udah kalian jangan sedih, lagian kan kita masih bisa VC an. Jangan pada nangis lagi ya!" Ucap Lia mencoba menenangkan.
"Terus aku mainnya sama siapa, kalo kamu pergi?" Tanya Kia disela isak tangisnya itu.
Lia menghembuskan nafasnya panjang, melihat hal itu. Pasti ini tak akan mudah untuk para bocah ini. Ia mendekap ketiganya dan mencoba menenangkannya.
Sementara itu, Shaka yang melihat itu hanya terdiam memperhatikan. Sedangkan Aska berlenggang begitu saja, memasuki rumah. Ia berjalan dan memasuki kamarnya, tanpa permisi pada para orang tua disana.
Siska yang melihat itu segera menyusul putranya kedalam kamar. Ia melihat sang putra tengkurap dengan punggung yang bergetar, menandakan Ia tengah menangis dalam diam.
Siska mengusap punggung itu seraya menenangkannya. "Aka kenapa hem?" Tanyanya.
"Apa karena Vani yang akan pergi?" Tanyanya lagi.
Aska bangkit dan berhambur memeluk tubuh timomnya. Memeyembunyikan wajah berantakannya didada wanita kesayangannya.
"Kenapa Vani harus pergi mom?" Tanyanya.
"Ada sedikit masalah, om Ivan harus menanganinya."
"Terus kalo dia pergi, siapa yang akan memberikan bahu untuknya, kalo dia mau tidur?"
Pertanyaan Aska sukses membuat Siska tersenyum lebar. "Entah! Emang dia suka tidur dibahu siapa?" Tanyanya pura-pura tak tau.
"Aka. Tempat favioritnya untuk tidur siang." Balas Aska.
__ADS_1
****************
Jangan lupa like dan komennya yaa!! Para bocil mau pisah dulu. Ketemu lagi ntar, pas gede yaaš¤