
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Rangga Darmawan bin Rama Darmawan dengan ananda Hanna Nirmala putri binti almarhum Lukman, dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
Suara lantang dari pak penghulu menggema diruangan nan luas itu. Suasana begitu khidmat terasa. Lantunan kata terakhir ijab yang keluar dari bibir pak penghulu, bersamaan dengan jabatan tangan yang dipererat dengan sang mempelai pria.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Hanna Nirmala putri binti almarhum Lukman. Dengan mas kawinnya tersebut tunai!"
Rangga membalas ucapan pak penghulu tak kalah lantang, hingga membuat pak penghulunya sedikit terkesiap mendengar suara Rangga dan genggaman erat darinya.
"Bagaimana saksi SAH?"
"SAH!!!"
"Alhamdulillah!!"
Puji syukur terlantun dari semua orang disana. Dilanjutkan dengan lantunan doa dari pak ustadz yang menjadi saksi disana. Suasana haru mengiringi acara sakral nan sederhana itu. Karena memang hanya dihadiri keluarga dari dua belah pihak.
Permohonan doa restu pada kedua orang tua mereka, dilakukannya. Setelah melakukan penandatanganan buku nikah dan surat-surat lainnya.
Sepasang pengantin yang nampak serasi itu terus mengembangkan senyuman terbaiknya. Keduanya dibanjiri ucapan selamat dan doa-doa dari keluarganya. Semua orang ikut bahagia dengan menyatunya sepasang manusia dengan kisahnya yang penuh lika liku itu.
Acarapun berlanjut, sampai di acara makan bersama. Para bocah begitu rame kala sudah ada acara kumpul-kumpul seperti itu.
"Aku mau itu! Aku mau itu!" Rengek bocah terkecil disana.
"Iya! Iya de, bentar! Timom ambilin dulu." Tutur Siska.
Siska mengambil makanan untuk putri cerewetnya itu sesuai porsinya, namun hal itu diprotes gadis cantik itu.
"Yang banyak Mom!" Pintanya.
"Ya ampun! Ini udah sesuai sama porsi kamu." Balas Siska.
"Tapi aku gak makan sendiri."
"Lah. Emang mau makan sama siapa?" tanya Siska heran.
"Sama om! Mana sini, aku mau makan sepiring berdua. Biar kek om Rangga sama onty Hanna." Balas Kia seraya megambil piring yang sudah terisi dari sang timom yang melongo.
Sungguh pernyataan sang putri membuatnya tepuk jidat. Bukan sekali Ia mendengar sang putri yang menginginkan untuk melakukan hal apapun dengan omnya. Sudah berulang kali Ia mengatakan itu. Hingga ada sedikit khawatir dihatinya, takut ada rasa ketergantungan dari putrinya pada sang om.
Ia takut sang putri akan terus menghalangi aktifitas omnya hingga kemudian hari. Bahkan Ia takut sang putri akan menghalangi kisah asmara sang om.
"Timom!!"
Suara seseorang sukses menyadarkannya. "Hah?! Iya?" Tanyanya gelagapan.
__ADS_1
"Yang aka mana?" Tanya Aska. "Yang double ya mom!" Titahnya membuat sang timom menautkan alisnya.
"Berdua sama dede Sen." Lanjutnya yang melihat sang timom keheranan.
Siska kembali tercengang hingga menghembuskan nafasnya panjang. Sampai Ia berpikir, sebenarnya ada apa dengan putra putrinya ini?
Dengan terpaksa Siska mengikuti keinginan putranya dan mengambilkan makanan untuknya.
Terlihat dari tempat mereka makan, si pelaku yang menjadi figur untuk para bocah tengah menikmati makanan mereka. Aksi suap suapan dari sepasang pengantin itu ternyata diikuti para bocah yang serba ingin mencoba hal baru darinya.
"Ga!" Panggilan Hanna membuat Rangga berdecak kesal.
"Kenapa?" Tanya Hanna heran.
"Sekarang kamu istri aku, jadi panggilnya jangan nama lah! Lagian pas pertama ketemu kamu panggil aku abang. Eh makin sini malah panggil nama." Balas Rangga.
Hanna terkekeh mendengar keluhan pria yang beberapa jam lalu sudah sah menjadi suaminya. "Iya dulu gimana ya? Suka aja gitu panggil nama. Gak kaku, berasa akrab. Tapi kalo sekarang aku punya panggilan buat kamu." Tuturnya.
"Apa?"
"Hubby. Boleh?" Tanya Hanna membuat Rangga tersenyum.
"Tentu." Balasnya membuat Hanna ikut tersenyum lebar.
"Terus, kamu mau panggil aku apa?" Tanya Hanna.
"Isshh kamu tuh! Masa nanya lagi." Balas Hanna membuat suaminya tertawa.
"Ya udah aku udah enak panggil Han."
"Isshh itu kan nama aku." Protes Hanna.
"Bukan Hanna."
"Terus apa?"
"Honey." Balas Rangga membuat keduanya tergelak hingga Hanna tersipu mendapat panggilan manis itu.
"Udah siap?" Bisikan Rangga ditelinga Hanna, hingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Buat apa?" Tanya Hanna kian tersipu. Tentu Ia tau apa maksud suaminya.
Rangga tersenyum melihat ekspresi itu. Tentu Ia tak akan terburu-buru. Mengingat kejadian kemarin, sepertinya Ia harus siap untuk bisa menahannya. Ia tarik bahu sang gadis kedalam dekapannya. "Makasih! Maksih kamu bersedia menjalani harimu bersamaku!" Ucapnya.
Hanna tersenyum mendengar itu. "Iya. Aku juga makasih, kamu masih setia menungguku." Balasnya.
__ADS_1
*
Hanna keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama pendek dengaan celana setengah paha dan handuk kecil yang Ia gosokan dirambutnya. Dengan santainya ia berlenggang menuju meja rias tanpa mempedulikan sang suami yang begitu intens memperhatiakan gerak geriknya.
Rangga menarik satu sudut bibirnya, lalu bergerak dari sofa yang didudukinya menuju kearah sang istri. Ia ambil alih handuk dari tangan istrinya dan menggosok kepalanya.
"Kamu gak mau mandi?" Tanya Hanna.
"Gak ah! Males!" Balasnya membuat Hanna terkekeh.
Hanna berdiri dan memeluk tubuh suaminya erat. Menghirup aroma menenangkan dari tubuh tegap yang setiap malam Ia rindukan.
Rangga membalas mendekapnya seraya mencium dalam-dalam aroma mint dari shampo yang istrinya pakai. Hingga membangkitkan jiwa kelelakiannya.
Ia segera menyadarkan dirinya dan hendak melepaskan dekapannya. Namun tangan sang istri kian erat memeluknya.
"Bantu aku, untuk menghilangkan rasa takut itu!" Ucapnya seraya mendongak menatap suaminya.
Rangga tersenyum dan tanpa aba-aba Ia sambar bibir ranum yang sudah lama tak Ia rasakan. Menyecapnya lembut penuh perasaan. Satu tangannya menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman lembut yang kian menunntut itu.
Rangga bergerak maju, hingga sang istri mundur dan keduanya sampai disamping kasur. Dengan pelan Rangga menidurkan tubuh ramping itu disusul olehnya dengan tangan Ia tumpu untuk menahan bobot tubuhnya tanpa melepas pagutannya.
Ia buka pelan kancing piyama sang istri sampai dua buah bercangkang terpampang jelas. Tangannya bergeliyara mencari pengaitnya hingga kain bagian tubuh keduanya sudah terlepas dari tempatnya.
Dengan nalurinya Rangga bermain didua buah yang baru pertama Ia rasakan. Hingga de sa han manja dari sang istri terdengar merdu ditelinganya. Membuat dirinya semakin menggila.
Dengan cepat tangannya membuka sisa kain dari tubuh keduanya. Hingga keduanya benar-benar polos. Rangga siap kembali menyerang bibir ranum itu. Namun tiba-tiba deruan nafas sang istri terasa aneh.
Ia pandangi lekat-lekat mata sang istri dengan pandangan yang entah kemana. Ia tau pasti ini akan terjadi. Ia usap keringat yang tiba-tiba membanjiri wajahnya.
"Jangan takut! Ini aku, aku Rangga suamimu!" Bisiknya.
Tatapannya kembali pada Rangga hingga Ia pun memeluk tubuh suaminya erat. "Maafin aku!" Sesalnya.
"Gak! Gak ada yang perlu dimaafkan." Balas Rangga. "Aku akan menunggu sampai kamu siap." Lanjutnya hendak bangkit dari atas sang istri. Namun tangannya dicekal istrinya.
"Kita bisa mencobanya!" Ucap Hanna.
Rangga tersenyum seraya mencium keningnya lama. "Jangan dipaksakan! Masih banyak waktu untuk kita melakukannya." Balasnya.
"Tapi kita harus menaklukan itu. Aku gak mungkin terus begini." Ucapnya lirih.
"Baiklah kita coba!" Final Rangga. Dan merekapun melakukannya.
**************
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa gaisss!! Ini si om udah nikah yaa, kita loncat gedein Kia okeeš¤