Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 106 Move on!


__ADS_3

Sepasang manusia yang baru saja melaksanakan ritual mencari pahala akhirnya selesai membersihkan diri. Kini keduanya tengah mengeringkan rambut secara bergantian.


"Bang kita kek lagi honeymoon ya?!" Kekeh Siska.


Ia yang baru menyadari tengah berada dirumah sang Ayah, merasa malu sendiri. Bahkan Ia melupakan putrinya yang entah sedang apa. Dirumah, jangankan buat ngamer mencari pahala. Berduaan dengan sang suami saja rasanya sulit. Sang bodyguard kecil terus mengawasi mereka. Hanya ada waktu malam, yang mereka bisa habiskan berdua.


Bang Age ikut terkekeh seraya menggosok gemas rambut basah sang istri. "Iya! Biarin lah, jarang-jarang kan kita lepas dari cctv?" Jawabnya membuat keduanya tergelak.


"Iya bang, disini dede punya pawangnya!" Timpal Siska disela tawanya.


Setelah selesai dan rapih, Siska keluar terlebih dahulu. Ia hendak memasuki dapur, hingga langkahnya terhenti kala netranya menangkap seorang gadis yang tengah duduk disofa sembari memainkan layar pipih ditangannya.


"Wihh ada tamu?!" Sapa Siska seraya mendudukan diri disofa.


Si gadis mendongak seraya menatapnya tajam, namun tak membuat Siska gentar. Ia duduk dengan santai membuat si gadis tersenyum sinis.


"Jadi lu? Pacarnya KAKAK gue?" Tanya Siska seraya menekan kata terakhirnya.


"Ck! Kalo iya kenapa?" Tanyanya balik seraya berdecak kesal.


"Gak usah ngegas, gue kan cuma nanya." Balas Siska santai.


"Cih! Lu sirik karena gue bisa sama Rangga?" Pertanyaan Silvi membuat Siska melongo.


"Set dah! Gue mesti sirik sama lu. Siapa lu? Seleb?" Tanyanya setengah meledek.


Ditengah ketegangan dua wanita yang sepertinya memiliki dendam kesumat yang belum terselesaikan itu, datanglah seorang pria yang menjadi alasan mereka adu mulut.


"Ada apa?" Tanya Rangga.


Silvi hanya mengedikan bahunya seraya memutar bola matanya malas. Siska menatap jengah gadis yang senang sekali mencari masalah dengannya itu.


Hingga atensinya teralihkan pada sang suami yang tengah berjalan menuju kearahnya. Ia berdiri dan memeluk posesif lengan suaminya. "Kalo punya yang eurrgh kek gini, ngapain mesti sirik sama orang, ya gak bang?" Tanyanya pada sang suami.


Bang Age menaikan satu alisnya dan menarik satu sudut bibirnya. Ia menarik kepala sang istri, lalu mengecup dahinya sayang. Dan tentu hal itu membuat Siska tersenyum lebar.


Tapi tidak dengan pasangan itu. Keduanya memutar bola matanya malas melihat adegan itu.

__ADS_1


"Dari pada sirik, mening dinikmati. Sesempurna apapun milik orang, tetaplah milik orang. Tak akan bisa digapai, apalagi dinikmati." Penuturan bang Age sukses membuat Rangga melengos.


Tak dapat dipungkiri, Ia masih menyimpan rasa itu. Masih menunggu digarda terdepan kalau saja sang abang meninggalkan wanita yang harus Ia akui saudaranya itu.


"Siap jalan?" Tanya Siska dan dijawab senyuman sang suami.


Siska menarik tangan suaminya menyeretnya berlenggang meninggalkan keduanya. Rangga menghembuskan nafasnya panjang seraya mendudukan dirinya disamping gadisnya.


"Kenapa? Masih tetap mau ngarepin dia?" Tanya Silvi namun Rangga hanya terdiam tak mau menanggapi.


"Ga!" Sentaknya kala Rangga tak mau menjawabnya, dan sukses membuat Rangga menoleh.


"Sebaiknya lu pulang!" Titahnya seraya kembali berdiri dan berlenggang meninggalkannya.


Melihat sang kekasih yang masih saja dingin padanya, membuat Silvi geram. "Lu lihat aja! Kalo Rangga masih aja dingin sama gue? Lu juga gak bisa bahagia!" Ucapnya dengan seringai dan kepalan ditangannya.


Ia pun berlenggang keluar dari rumah itu dengan perasaan kesal. Tanpa berpamitan pada siapapun, Ia memutuskan untuk pulang. Biarpun Ia bisa berpacaran dengan pemuda yang sudah sekian lama menjadi incarannya itu, tetap saja sikap hangat tak pernah Ia dapatkan. Kadang Ia brfikir untuk apa pemuda itu mengencaninya, kalo dia tak mencintainya?


Namun karena ini memang keinginannya, Ia hanya tetap bersabar menghadapinya dan tetap mempertahankannya. Dan sekarang Ia semakin yakin bahwa sang kekasih masih belum move on dari masalalunya.


*


"Mereka tuh aneh ya, bang? Kek bukan pasangan kekasih." Tanyanya.


"Udah lah biarin aja! Gak usah ngurusin urusan orang lain!" Balas bang Age.


"Iya deh. Mening juga ngurus si jack ya?" Goda Siska terkekeh.


Bang Age ikut terkekeh mendengarnya. "Kenapa? Masih baper ya?" Godanya balik, membuat Siska tertawa.


"Iya bang! Gak bisa move on." Ucapnya disela tawa.


"Jangan dong! Bahaya!" Keduanya tergelak sampai tak terasa langkah mereka sampai disamping halaman. Hingga atensi mereka menangkap deretan bocah yang duduk anteng digazebo halaman.


"Kalian lagi ngapain?" Tanya Bang Age dan sukses membuat mereka menoleh.


"Pih!" Pekik gadis kecil itu seraya berdiri dan berhambur memeluknya.

__ADS_1


Vani yang melihat siapa yang datang segera bersembunyi dibelakang Aska. Melihat ayah dari lelaki tampan didepannya masih saja membuatnya takut. Lebih tepatnya bukan takut, tapi malu pada pria dewasa yang jarang memberikan senyumnya itu.


Itulah kesan pertama bang Age dimata siapapun yang melihatnya. Terlihat judes dan tak bersahabat.


Siska yang melihat itu tersenyum. Ia mendekat kearah gadis dibelakang putranya. "Vani jangan takut! Sini sama timom!" Ajaknya.


Vani masih terdiam dibalik punggung Aska, dengan tangan yang mencekal erat baju bagian belakangnya.


"Ya ampun! Segitu menyeramkannya nih abang! Sampe anak orang dibikin parno." Kekeh Siska kala bang Age ikut mendekat dengan sang putri digendongannya.


Aska berbalik dan menatap wajah memerah Vani yang tengah menunduk. "Vani kenapa takut sama Papih?" Tanyanya dan dijawab gelengan gadis kecil itu.


"Jangan takut! Papih, baik kok!" Bujuk Aska.


"Hai gadis cantik! Sini lihat!" Titah bang Age hingga membuat Vani mendongak dengan ragu.


Bang Age menyunggingkan senyuman manisnya. "Gimana masih takut sama om?" Tanyanya seraya tak melepaskan senyumnya.


Vani tersenyum simpul seraya menggeleng. Hingga usekan dikepala didapatnya dari pria yang masih saja dirinya takuti itu.


"Pinter! Jangan takut lagi ya!" Ucap bang Age dan dijawab anggukan pelan dari gadis kecil itu.


"Ya udah, yuk berangkat! Kita kerumah Mama Ay!" Ajak Siska membuat balita cantik digendongan bang Age kegirangan.


"Vani mau ikut, apa mau pulang?" Tanya Siska.


Vani kembali terdiam seraya menunduk. Aska yang mengerti menggenggam tangannya seraya mengajaknya berdiri. "Vani ikut, ya!" Ajaknya membuat balita itu mendongak dan tersenyum.


Akhirnya mereka berangkat menuju rumah bang Ar. Rumah dimana menjadi awal pertemuan Siska dan sang suami. Tempat yang menjadi saksi, dimana dirinya begitu mengagumi sosok pria yang mengakui dirinya sudah beristri itu. Dan sekarang, dirinya lah istri yang begitu dicintainya.


Keempat bocah itu berjalan beriringan dengan gelak tawa yang begitu riuh dari mereka. Siska dan bang Age menggiring mereka berjalan dari belakang. Karena jarak yang tak terlalu jauh mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja.


"Sultan kok nyeker? Mobilnya mana?" Tanya seseorang dan sukses membuat mereka menoleh dan menghentikan langkahnya.


***************


Maaf baru up, kemarin libur dulu yaa🤭 Jangan lupa jejaknya! Tunggu up selanjutnya yaa😁

__ADS_1


__ADS_2