Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 83 Jeleous


__ADS_3

"Jangan ujan-ujanan, ntar sakit!" Teriak Aysa.


Kedua balita itu tetap keluar diikuti Aska yang mengekori keduanya dari belakang. Keadaan diluar yang benar saja gerimis, tak dihiraukan Sena. Ia menarik sepupunya yang berwajah datar itu menuju guyuran hujan.


Keduanya berlarian, saling kejar dengan tubuh yang sudah basah kuyup. Gelak tawa begitu renyah dari balita cantik itu kala Abi mengejarnya.


Aska hanya melihat kedua sepupunya dari kursi teras depan. Wajahnya semakin tak bersahabat melihat canda tawa keduanya. Ingin sekali Ia ikut bergabung dibawah guyuran air yang kian deras itu. Namun Ia tak ingin menentang aturan timomnya yang melarang keras dirinya untuk main hujan.


"Ya ampun Sensen. Kenapa ujan-ujanan? Cepetan masuk ntar masuk angin!" Teriak Mama Ay.


"Abi udah bi! Ayo cepet masuk!" Ajaknya pada ponakannya itu.


Tak menghiraukan omelan sang Mama, keduanya terus asyik bermain disana.


"Bocah-bocah ini, ampun deh! Udah tau suka masuk angin, masih aja bandel." Gerutunya.


"Kenapa yang?" Tanya bang Ar yang keluar menghampirinya.


"Itu bang princess kamu, lihat dia ujan-ujanan lagi!" Adunya pada sang suami.


Bang Ar terkekeh melihat ekspresi sang istri, atensinya beralih pada dua balita yang terus bercanda disana. Ia tersenyum melihat keduanya. Hal yang mampu membuat balita tampan itu tersenyum hanya dengan guyuran hujan, tanpa hujan dirinya bagaikan patung yang begitu kaku. Walaupun Ia tau sang putri yang tak bisa dalam kondisi dingin, namun Ia biarkan sebentar keduanya bermain.


"Boy! Girl!" Panggil bang Ar membuat keduanya menoleh.


"Ayo! Udahan ya! Kita makan dulu." Ajaknya.


Mendengar panggilan sang Papa, Sena kembali menarik tangan sepupunya untuk segera berteduh. Akhirnya keduanya pun kembali memasuki rumah. Digiring Papa Ar dan Mama Ay juga.


"Aka!" Panggil Mama Ay yang melihat sepupu rasa putranya, masih duduk ditempat yang sama.


"Kenapa masih disana? Ayo masuk! Disini dingin!" Ajak Mama Ay.


Dengan wajah yang sama, Ia ikut berlalu memasuki rumah. Ayra yang melihat tingkah putranya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Tau kalo sepupu rasa putranya itu merajuk karena menginginkan untuk ikut bermain air diluar sana.


Setelah kedua bocah itu kembali dengan berpakaian kembali rapih, mereka akan mengadakan makan malam bersama. Kedatangan Aysa dan keluarganya membuat keadaan dimeja makan semakin ramai.


Saat semua tengah menikmati makan siangnya, sepasang orang tua baru itu masih stay didalam kamar tak ikut makan bersama keluarganya. Keduanya asyik mengajak bermain bayi cantik yang tengah membuka matanya itu.


"Bang matanya lucu banget. Gemes deh!" Ucap Siska seraya memainkan jarinya dipipi merah itu.


"Iya. Apalagi bibirnya manis, kek punya kamu." Goda bang Age mencubit hidungnya gemas membuat keduanya tergelak.

__ADS_1


"Bang udah siap ya!" Ucap Siska.


"Siap ngapain?" Tanya bang Age.


"Buat puasa. Empat puluh hari loh bang!" Goda Siska dengan kekehannya.


Bang Age berdecak kesal, Ia hampir melupakan itu. "Ck! Jangan lama-lama dong!" Keluhnya dengan wajah frustasi.


"Itu gak lama bang. Empat puluh hari emang masa nifasnya ibu melahirkan. Lagian abang pernah ngalamin lebih dari itu kan, masa segitu aja udah ngeluh?" Tutur Siska.


"Beda yang. Dulu jangankan mikirin hal kek gitu. Mikirin Aka kecil aja abang bingung." Timpal bang Age.


"Dan sekarang martabak kacang abang spesial, bisa rugi kalo lama-lama gak junior makan." Lanjutnya membuat Siska kembali tertawa.


"Ya deh iya. Abang tenang aja, segitu mah cuma bentar. yang sabar aja ya bang!" Ucap Siska menyemangati mebuat keduanya kembali tertawa.


Sementara keduanya masih sibuk mendiskusikan perihal puasanya sang abang. Si cantik masih terbangun, matanya terus terbuka lebar. Sepettinya sang bayi begitu menikmati dunia barunya. Hingga tiba-tiba pintu terbuka mengalihkan atensi mereka.


Ceklek!


"Kalian lagi ngapain? Nih makan dulu!" Ibu masuk dengan membawa nampan keatas meja didepan kursi dipojok ruangan diikuti bocah tampan, putranya itu.


"Apa dede nya bangun?" Tanya ibu seraya mendekati ranjang.


"Apa udah dikasih mimi?" Tanya ibu.


"Udah! Malah aku mau kasih lagi biar bobo. Eh malah gak mau." Ucap Siska membuat ibu tersenyum.


"Ya udah, jangan dipaksa! Lagian bagus juga kalo meleknya siang. Kalo meleknya malam, baru khawatir. Jadi kalian bisa istirahat." Tutur ibu dan dijawab anggukan keduanya.


"Kalian makan dulu gih! Tuh ibu udah siapin. Biar ibu sama Rei yang ngajak si cantik main." Titah ibu.


"Emang ibu sama Rei udah makan?" Tanya bang Age.


"Udah. Kita udah makan tadi. Udah gih! Cepetan! Keburu sore!" Titahnya lagi dan dijawab anggukan keduanya.


Mereka berpindah dan duduk diatas sofa untuk makan siang bersama. Bang Age menggendong sang istri ala bridge style hingga keduanya stay diatas kursi dan memulai makan siangnya.


Ibu dan Rei pun merebahkan diri diatas ranjang mendekati sang bayi.


"Hai cantik, kenapa gak bobo?" Tanya ibu menoel pipi merah cucunya.

__ADS_1


"Dede bayinya gak mau bobo ya bu?" Tanya Reihan.


"Iya de. Kek nya lagi pengen main nih sama omnya." Goda ibu pada putranya itu.


Reihan tersenyum mendengar ucapan ibunya itu. "Dede kenapa gak bobo? Mau main ya sama om?" Tanyanya seraya ikut menoel pipi bayi cantik didepannya.


Balita cantik itu hanya mengerjapkan matanya lucu, seolah sudah paham dengan apa yang omnya katakan.


"Jangan lama-lama ya mainnya. Cepet bobo!" Celoteh bocah tampan itu seraya mengelus lembut bedongan bayi cantik didepannya.


Hingga lama kelamaan sentuhan lembut itu mampu membuat mata yang sedari tadi berbinar terang itu terpejam.


"Eh! Akhirnya bobo juga ya?!" Heran sang ibu melihat cucu cantiknya sudah tertidur hanya dengan sentuhan om nya saja.


Ibu tersenyum dan mengusek pucuk kepala putranya gemas. "Kamu pinter deh! Dedenya seneng banget diajak main omnya." Tuturnya.


Reihan hanya tersenyum seraya memperhatikan wajah cantik keponakan barunya. Ia yang berharap sang ibu memberikannya adik perempuan, tentu begitu senang mengajak main bayi cantik itu.


"Ya udah kita keluar yuk! Biarin dedenya bobo!" Ajak ibu pada putranya dan dijawab anggukan olehnya.


Setelah berpamitan pada sepasang orang tua itu, keduanya pun keluar. Mereka berjalan menuju ruang tengah yang tengah asyik mengobrol dan bergabung disana.


"Ini si bungsu ya pak?" Tanya bang Ar.


"Iya. Ini yang bungsu. Si sulung lagi kuliah diluar kota." Jawab ayah Dedes seraya mengajak sang putra duduk dipangkuannya, dan dijawab anggukan mereka.


Obrolan pun terus berlanjut, gelak tawa begitu riuh memenuhi ruang tengah itu. Balita cantik yang tadi hujan-hujanan itu sudah tertidur setelah selesai makan siang. Menyisakan ketiga balita dan bocah tampan tadi disana, yang kini sudah bersiap akan bermain bola dihalaman samping.


"Aka sama Shaka." Ucap Aska, ketika tengah membagi grup.


"Ya udah om sama?" Rei menjeda kalimatnya seraya memperhtikan Abi.


"Dia Abi." Jawab Shaka. Tau sepupunya itu takan mengeluarkan katanya Ia pun menyelaknya dan dijawab anggukan Reihan.


"Aka napa sama aku? Aku kan mau sama om Yey?" Protes Shaka.


"Aka nda suka." Jawab Aska dengan raut wajah yang tak berubah.


"Napa?" Tanya Shaka.


"Meleka lebut dede dali aka!" Balas Aska dengan melipat tangannya didada, hingga Rei yang sudah menegerti pun tergelak.

__ADS_1


**************


Jangan lupa jejaknya ya😊 Episode kedepannya bakalan banyak celotehan para bocil yang bikin mak othornya pusing sendiri🤣🤣


__ADS_2