Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 73 Pacaran terus nikah!


__ADS_3

"Whaatt????"


Sekejap penuturan sang bos membuatnya membuka matanya lebar-lebar. Bahkan bola matanya nyaris saja keluar. Mulutnya pun sampai menganga lebar. Dengan pekikan keras, menandakan betapa shoknya dirinya.


"Bukannya kau ingin tau?" Tanya Ivan dengan santainya melihat kearah depan mobil. Lalu Ia kembali menolehkan wajahnya mendekat kearah Lia.


"Kekuatan pria tua?" Ucapnya penuh penekanan.


Lia menelan salivanya kuat-kuat. "Bapak kesindir?" Tanyanya mencoba memberanikan diri.


"Emang kamu nyindir siapa kalo bukan saya?" Tanyanya balik.


"Ya, ya aku gak nyindir siapa-siapa. Kalo emang bapak kesindir, salah sendiri. Kenapa bapak udah tua gak nikah-nikah coba?" Tuturnya dan langsung membekap mulutnya.


Ia merutuki lambenya yang suka asal ceplos. Dirasa mau mengelak, eh malah nyebur.


Ivan tersenyum tipis menanggapi gadis didepannya. "Baiklah! Besok saya akan menikah, dan kamu akan menjadi mempelai wanitanya." Tuturnya.


"Kok aku sih? Nggak! Nggak! Aku gak mau nikah!" Tolak Lia mentah-mentah.


"Bukannya kamu sendiri yang tadi bilang mau nikah muda. Bagus kan? Kamu mau nikah muda, dan saya butuh mempelai wanita. Jadi pas kan?" Tutur Ivan.


"Ya iya sih. Tapi kan bukan berarti sama bapak juga. Aku tuh mau nikah sama pacar aku, sama orang yang mencintaiku. Bukan bapak?" Elaknya.


"Dan kamu sudah punya pacarnya?" Tanya Ivan setengah meledek.


"Ya, ya belum sih. Tapi kan nanti aku mau cari dulu pacarnya." Timpal Lia.


"Ya udah, kamu jadiin saya pacar. Terus kita menikah. Beres kan?" Timpal Ivan membuat Lia tercengang.


"Gak segampang itu bapak Ivan Atmaja yang terhornat. Pacaran tu, butuh dua orang yang saling mencintai. Dan lagi, apa kita saling mencintai? Nggak kan?" Tutur Lia membuat Ivan kembali tersenyum.


"Jika saya bilang kita saling mencintai, apa kamu percaya?" Tanya Ivan kembali mendekatkan wajahnya tepat berada didepan wajah gadisnya.


Lia kembali dibuat terpaku. Tatapan Ivan sungguh membuat dirinya tak berkutik. Jantungnya semakin tak menentu, hingga Ivan memiringkan wajahnya hendak menjangkau bibir yang sedari tadi ngoceh terus itu.


Bagai terhipnotis, Lia tetap bergeming tak mengeluarkan kata ataupun gerakan kala benda kenyal itu bertemu. Darahnya berdesir hebat, merasakan hal yang baru pertama Ia rasakan. Ciuman pertamanya didapati bosnya itu. Hingga ******* lembut dari sang bos, membuat dirinya hanyut dalam ciuman itu.


Tak ada balasan apapun darinya. Karena memang ini pertama buatnya, maka Ia pun hanya diam menikamatinya.


Ivan yang tak merasa dapat balasan tersenyum kecil. Ternyata dirinya menjadi yang pertama untuk gadis didepannya itu. Ia hendak melepaskan pagutan itu, namun rasa manis pada bibir ranum yang belum terjamah itu seolah membuatnya candu. Ia pun sampai hanyut dibuatnya.


Niat hati hanya sekedar menyicipi rasa bibir itu, namun kenyataan malah membuatnya semakin hanyut lebih dalam lagi. Hingga melesakan lidahnya lebih dalam, mengabsen setiap inci rongga mulut yang semakin membuatnya terlena itu.

__ADS_1


Lambat laun, dengan nalurinya Lia mampu membalas ciuman itu. Bahkan tanpa Ia sadari tangannya sudah bertengger dileher pria yang membuatnya merasakn sensasi yang baru pertama Ia rasakan.


Suara decapan begitu riuh didalam mobil itu, membuat suasana yang tadinya hening berubah jadi alunan nada yang mampu membakar jiwa keduanya.


Hingga sesuatu yang sesak dibawah sana membuat Ivan menghentikan aksinya. Tak ingin sampai kebablasan dengan terpaksa Ia pun menjauhkan dirinya.


Setelah keduanya saling melepaskan, kini suasana tiba-tiba canggung. Keduanya hanya terdiam, tak ada satupun yang bersuara dari mereka. Hingga Ivan memulai membuka suara terlebih dahulu.


"Apa yang kamu rasain?" Tanyanya dengan pandangan kedepan mobil untuk mengalihkan perhatiannya.


"Hmm??" Lia jadi kikuk sendiri. Ditanya seperti itu membuat pipinya semakin terbakar.


"Euuu itu. Mmmm!" Lia tak bisa mengungkapkan seperti apa rasa itu. Namun yang jelas Ia sangat menikmatinya.


"Bisakah kita memulainya?" Tanya Ivan lagi.


Lia menoleh mendengar pertanyaan pria disampingnya. Begitupun Ivan, hingga mata keduanya terkunci.


"Bisakah kita memulai hubungan ini? Seperti katamu. Kita akan pacaran, lalu menikah." Tutur Ivan.


Lia masih bergeming tak menjawab apapun mencoba mencerna apa yang bosnya itu ucapkan. Hingga Ivan tersenyum dan memakai kembali sabuk pengamannya.


"Ku anggap itu sebagai jawaban iya darimu. Dan mulai sekarang kita pacaran!" Tuturnya hendak menyalakan lagi mesin mobilnya.


"Aku tak pernah menerima penolakan!" Tuturnya tersenyum lalu mengusap lembut bibir gadisnya dengan ibu jarinya.


Lia kembali terpaku dengan perlakuan pria yang kini sudah mengganti statusnya itu. Ivan hanya tersenyum dan melajukan kembali mobilnya menuju kosan dimana gadisnya itu tinggal.


Keduanya hanya terdiam tanpa suara, menikmati degup jantungnya masing-masing. Hingga tak terasa kijang besi itu berhenti didepan kosan.


"Besok aku akan menjemputmu!" Ucap Ivan membuat Lia menoleh.


"Buat apa?" Tanya Lia heran.


"Menurutmu untuk apa seorang pacar menjemput gadisnya?" Tanya Ivan balik.


"Besok kan kerja. Aku gak bisa! Aku harus kerja." Jawabnya dengan nada tak bersahabat.


Ivan tersenyum menanggapinya. "Kamu mau kerja sama siapa? Sama lalat?" Pertanyaan Ivan sukses membuat lipatan didahi Lia.


Ivan yang mengerti kalau gadisnya itu keheranan menghembuskan nafasnya panjang.


"Besok tanggal merah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat besok." Tutur Ivan dan dijawab oh ria oleh Lia.

__ADS_1


"Ya udah sana! Kamu turun!" Titah Ivan membuat Lia berdecak kesal.


"Ck! Jadi bapak ngusir aku?" Tanyanya.


"Ck! Bisa gak sih, panggilnya gak usah bapak. Aku tu pacar kamu, bukan bapak kamu." Protes Ivan mrmbuat Lia tersenyum. Entah kenapa melihat pria yang mengaku pacarnya itu, membuatnya geli sendiri.


"Bapak emang bukan bapak aku, tapi kan bapak atasan aku. Gak sopan lah!" Elak Lia.


"Ya itu kalo dikantor. Kalo diluar kamu boleh panggil aku apa aja, Kaka atau apa gitu." Timpal Ivan.


"Kalo om boleh?" Goda Lia dan sukses mendapat tarikan dihidungnya dan membuatnya mengaduh.


"Ya gak om juga. Emang aku kelihatan kek om om?" Protes Ivan membuat Lia cekikikan.


"Idih gak nyadar. Emang udah om om kan, selisih kita aja sepuluh tahun om." Lia semakin gencar menggoda pria didepannya.


"Udah dibilang jangan panggil om!" Protesnya lagi.


"Terus apa dong? Paman?" Goda Lia tergelak. Rasanya bikin kesal pria didepannya itu menjadi kesenangan tersendiri untuknya.


"Kau?" Ivan yang geram hendak melayangkan ucapannya lagi. Namun melihat gadisnya itu tertawa lepas, Ia pun mengurungkan niatnya.


Ia terpaku melihat tawa renyah gadisnya itu, melihat lengkung indah bibir itu membuatnya tertarik untuk menyesapnya lagi. Hingga tanpa aba-aba Ia menarik tengkuk sang gadis, mendaratkan bibirnya dibibir ranum yang menggodanya itu dan menyeapnya lembut penuh perasaan. Sungguh benda itu membuatnya mabuk kepayang.


Hingga Ia melepas tautan itu dan menghapus sisa salivanya dengan ibu jarinya. Ia tersenyum setelah menikmati rasa yang sudah membuatnya candu itu.


"Panggil aku dengan sebutan sayang!" Titahnya.


"Nggak ah!" Tolak Lia.


"Kenapa?" Tanya Ivan heran.


"Aku punya panggilan khusus." Balas Lia.


"Apa?" Tanya Ivan semakin keheranan.


"Aa!" Tegas Lia.


*****************


Satu lagi nyusul malaman yaa😊


Terus yang belum mampir ke lapak satunya, yuk ditunggu, jejaknya🤭 Tengokin yang hot jeletot🙈🤣🤣

__ADS_1



__ADS_2