Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 34 Tahan!


__ADS_3

Sepasang manusia itu akhirnya sampai dirumah Siska dan disambut Ibu khawatir. Ibu sedikit keheranan melihat Siska yang sedikit berantakan dan abangnya yang hanya memakai kaos putih.


"Kalian dari mana? Kok malam sekali? Terus ini?" Pikiran langsung tertuju pada hal yang tidak-tidak.


"Isshh Ibu jangan berfikiran yang nggak, nggak!" Selak langsung Siska. "Udah kita duduk dulu!"


Ketiganya duduk disofa, menenangkan sang ibu yang sepertinya shok melihat penampilan anaknya. Takut diiya-iyain, tau kalo lelaki yang bersamanya adalah lelaki yang sudah berpengalaman.


"Ada yang mau aku bicarakan bu!" Ucap bang Age membuat ibu semakin tegang.


"Aku akan menikahi Siska besok."


"Apa???" Itu ibu pastinya shok bukan kepalang. Tiba-tiba saja calon menantunya meminta izin padanya untuk menikahi putrinya.


"Kenapa mendadak? Apa kalian?" Ibu tak meneruskan pertanyaannya dan hanya menutup mulutnya.


"Isshhh ibu jangan lebay deh. Kita gk pernah ngelakuin hal yang aneh-aneh. Aku tuh masih real perawan. Biarpun abang duda udah berpengalaman, tapi dia gak sampe ngajarin aku yang gak bener." Selak Siska yang tau kemana arah tujuan sang ibu.


"Sebenarnya ini gak mendadak bu, aku udah rencanain ini jauh-jauh hari. Besok mungkin waktu yang tepat buat kita melakukan itikad baik." Timpal bang Age dan dijawab anggukan sang ibu.


"Ibu izinin kita nikahkan bu? Kan kan?" Tanya Siska, namun ibu masih terdiam.


"Kasihan bu sama abang. Kalo kelamaan juniornya bisa karatan!" Bisik Siska ditelinga sang ibu, hingga sukses membuat mata ibu membola sempurna.


"Isshhh kamu tuh!" Sang ibu hendak menceramahi sang putri. Namun melihat sikon Ia kembali menarik kata-katanya.


Bang Age yang tak mengerti dengan kelakuan dua wanita beda generasi dihadapannya itu hanya mengerenyitkan dahinya heran. "Bagaimana bu?" Tanyanya takut-takut.


Walaupun ini bukan yang pertama buatnya namun tetap saja, Ia merasa waswas. Kala harus kembali melamar, seorang gadis belia pula. Bahkan perbedaan umur keduanya begitu jauh, terpaut sepuluh tahun. Namun itulah cinta, tak melihat segala perbedaan.


"Ibu sih terserah Siska aja. Tapi gimana urus-urusannya? Siska kan belum menerima ijazah, terus umurnya masih kurang beberapa hari?" Tanya ibu.


"Ibu tenang aja, aku udah atur semuanya. Kita akan nikah dikota aja. Soal resepsi, kita tunggu Siska wisuda dulu. Yang penting sah dulu dimata hukum dan agama." Tutur bang Age dan dijawab anggukan ibu.


"Terus itu kan daftar perlu KTP atau KK, gimana itu? Emang bisa dadakan." Tanya ibu lagi.


"Itu sudah aku urus bu, minggu kemarin aku minta Siska buat foto KK dan semua sudah clear!"


Ibu dan Siska dibuat tercengang dengan penuturan sang abang. "Jadi waktu abang minta foto itu buat?" Tanya Siska.


"Iya, buat pendaftaran pernikahan kita." Ibu dan Siska menghembuskan nafasnya bersama serasa tak percaya.

__ADS_1


"Ya udah kalian segera istirahat. Abang tidur di kamar Siska, biar Siska sama ibu. Kita pasti harus pagi-pagi berangkat kan?" Titah ibu dan diiyakan keduanya.


Bang Age berlenggang menuju kamar gadisnya diikuti Siska, namun sang ibu segera mencekalnya. "Ehh kamu mau kemana?"


"Aku mau ke kamar bu!"


"Gak boleh. Ntar kalo udah sah boleh sekamar. Sekarang kamu sama ibu dulu!"


"Ya ampun bu! Pikirannya gitu ihh.. Aku cuma mau ambil baju aja. Mau ganti baju, gerah ini." Timpal Siska.


"Ck! Ini sih gara-gara kamu, pikiran ibu jadi melanglang buana kan?" Gerutu ibu.


"Kok aku?"


"Ya kamu. Gara-gara kamu bilang punya abangmu tadi, pikiran ibu jadi gak karuan. Waswas gitu kalo lihat kalian berdua." Timpal ibu.


"Ya udah sih bu, percaya sama aku kita gak akan ngapa-ngapain!" Ucap Siska. Ibu pun pasrah dan membiarkan sang putri mengambil keperluannya.


Setelah perdebatan panjang dengan sang ibu, Siska memasuki kamarnya dan mendapati sang abang tengah telentang dikasurnya.


"Bang?!"


"Hemm!"


"B-bang?!" Sapa Siska gugup, apalagi ketika nafas hangat menerpa ceruknya.


"Apa?"


"Jangan kek gini, ntar dilihat ibu!" Timpal ibu.


"Gak! Abang cuma mau ngucapin selamat malam."


Siska berbalik menatap sang abang, begitu pun sang abang. Tanpa menyia-nyiakan waktu sang abang langsung menyambar bibir yang sudah beberapa bulan ini tak dapat Ia raih. Menyesap rasa yang kian hari kian menantang kerinduannya. Hingga satu tangannya menahan tengkuk sang gadis dan satu tangannya lagi memeluk pinggangnya.


Bang Age benar-benar tak melepaskan gadisnya, bahkan Siska yang belum terbiasa menyeimbanginya ikut terhanyut dengan permainan abangnya. Hingga keduanya benar-benar melepaskan pagutannya setelah merasa kehabisan oksigen.


Dengan nafas yang memburu sang abang masih mengeratkan pelukannya dan enggan melepas gadisnya.


"Sabar ya bang! Besok malam abang bebas mau lakuin apa aja sama aku." Ucap Siska. Ia tentu tau apa yang tengah ditahan mati-matian sang abang. "Sekarang abang tahan dulu ya! Kalo gak kuat, solo aja dulu." Ledeknya dan langsung dapet sentilan dijidatnya dari sang abang.


"Awww!!!"

__ADS_1


"Abang kebiasaan deh. Ini tu namanya KDRT! Aku laporan kak Seto ntar." Gerutu Siska membuat sang abang tertawa.


"Dikira anak SD, mau laporan sama kak Seto?" Tanya bang Age geleng-geleng kepala.


"Aku kan emang masih dibawah umur." Timpalnya.


"Dibawah umur, tapi udah pinter ya!" Ledek sang abang membuat Siska cekikikan.


"Ya udah cepetan sana. Atau mau abang terkam. Ergghhh!" Sang abang mempraktekan apa yang gadisnya lakukan tadi. Hingga membuat Siska tergelak dan segera kabur setelah mengambil piyamanya. Takut benar-beanr kena terkam dan juga tercyduk sang ibu.


**


Pagi menjelang siang ini ketiganya sudah siap untuk pergi kekota. Kedua wanita beda generasi itu juga menyiapkan segala keperluan untuk disana.


"Gimana udah siap?" Tanya bang Age dan diiyakan gadisnya.


Ketiganya memasuki mobil dan segera berangkat. Paginya mereka juga ziarah terlebih dahulu ke makam sang Ayah untuk meminta restu. Karena tak ada keluarga lain disini, mereka tak memberitahu mengenai pernikahan itu pada siapapun disana. Dan mobilpun melesat meninggalkan kediaman sang Ibu.


Tak berselang lama, mobil sampai dihalaman kediaman sang abang. Ternyata sang Mamih sudah mempersiapkan semuanya. Ruang tamu sudah disulap sedemikian rupa untuk acara sakral yang akan diadakan sore nanti.


Tak banyak yang diundang memang, hanya keluarga inti saja yang akan menghadiri acara tersebut.


Kini Siska sudah mulai didandani sang make over, karena waktu sudah melewati jam makan siang jadi Ia harus siap-siap. Ia tak sendiri sang kakak yang akan berubah status menjadi adik iparnya itu tentu stay menemaninya.


"Sis?! Eh maksud gue kakak?!" Ayra cekikikan sendiri dengan sebutan barunya itu.


"Ck. Jangan gitu dong kak! Kita kek biasa aja." Timpal Siska yang tengah dipakaikan bunga melati dikepalanya.


"Emang gak papa gitu? Ntar kena ghosting abang lagi."


"Tenang aja sekarang abang udah jinak."


"Kenapa emang? Karena udah punya pawangnya yah?"


"Bukan itu aja."


"Terus?"


"Dari euurrggh, sekarang jadi meoww!" Penuturan Siska membuat kedua wanita itu tergelak.


*************

__ADS_1


Udah hari senin yaa, kasih vote nya dong! Biar semangat buat ngamer nya🤭 Ramaikan juga kolom komentarnya! Akutuh suka sekali, sama komenan kaleann😊 jadi tambah semangat💪


__ADS_2