
Hari yang dinanti pun tiba. Dikediaman calon mempelai wanita, ruangan keluarga sudah disulap dengan berbagai macam bunga yang menghiasi setiap sudut ruangan luas itu. Semua keluarga sudah berkumpul untuk menyambut calon mempelai pria. Tak banyak tamu dari luar yang hadir disana, hanya sedikit tetangga saja yang diundangnya.
Didalam kamar pun nampak sama, kasur king size brerlapiskan kain putih sudah tertata rapih dengan taburan kelopak bunga berbentuk love ditengahnya. Terlihat pula dua orang wanita yang tengah berkutat di depan meja rias.
Sentuhan terakhir dibibir mungil sang calon mempelai wanita, menandakan pekerjaan sang make over sudah selesai. Kia mengembangkan senyumnya, kala cermin dihadapannya menampilkan sosok yang terasa asing untuknya. Sentuhan dari sang make over benar-benar membuatnya terlihat berbeda.
"Wow amazing!"
Kia berdecak kagum dengan hasil yang didapatnya. Sang make over tersenyum mendapati kepuasan dari pelanggannya. Hingga Ia pun keluar setelah menyelesailan tugasnya.
Kedua wanita yang menemaninya pun bangkit dari duduk santainya diatas sofa. Mereka menghampiri sang mempelai yang sudah selesai didandani.
"Wow! manten kita cantik banget nih." Puji salah satu sepupu yang menemaninya itu.
"Udah deh kak Sen jangan ngeledek." Balas Kia.
"Kamu beneran cantik kok Kiy." Balas satu sepupunya lagi. "Lihat! Aku yakin kak Rei gak akan bisa berkedip." Kekehnya merangkul pundaknya.
"Ihh.. Kak Jinjin bisa aja deh." Ucapnya tersipu.
"Ahh! Akhirnya bestieku yang manja ini nikah juga!" Celetuk Sena seraya menepuk pundaknya.
"Ck! Kak Sen nih, bisa banget ya bohongi aku. Bilangnya om Rei mau dijodohin, eh ternyata aku yang jadi jodohnya." Balas Kia yang masih kesal dengan sepupu yang merangkap jadi cctv nya itu.
"Eitthh, aku gak bohong ya! Kak Rei kan emang dijodohin. Kalo soal dengan siapa Ia dijodohkan, ya aku emang gak tau." Balas Sena tak terima jika Ia disalahkan.
__ADS_1
"Ya kan setidaknya kakak cari tau lah, siapa wanitanya." Timpal Kia.
"Itu kan aku udah cari tau. Merekanya aja yang terlalu pinter nyembunyiin." Balas Sena lagi.
"Udah-udah! Kalian ini." Lerai Jingga. "Lagian kan udah terjawab. Kamu yang jadi jodohnya Kiy!" Lanjutnya.
"Ya tuh, orang mah bersyukur juga." Protes Sena.
Kia tersenyum dan merangkul pundak kedua sepupu rasa bestienya itu. "Ya deh, makasih ya beib! Sayang kalian." Ucapnya.
Kedua sepupunya tersenyum dan membalas mendekapnya. "Iya. Kita doain kalian selalu bahagia." Ucap Sena, diiringi tawa bahagia dari ketiganya.
**
Sementara itu dikediaman calon mempelai pria, Rei tengah duduk disofa dengan wajah tegangnya. Entah sudah berapa kali Ia menghapal kalimat ijab yang akan segera Ia lantunkan. Berulang kali Ia menarik dan menghembuskan napasnya teratur. Hingga gerak geriknya menjadi perhatian sang kakak.
"Tegang ya?" Tanyanya, yang terdengar seperti ledekan ditelinga si calon mempelai pria ini.
Rei hanya menghembuskan napasnya panjang. "Nggak!" Jawabnya singkat.
"Cih! Kalo mau ngelak tuh, muka ajak kompromi." Ledek Rangga.
"Ck!" Rei hanya berdecak kesal mendengar ledekan sang kakak. Tak tau saja sang kakak, tangannya begitu dingin menahan keresahan dihatinya.
"Udah! Tenang aja, semuanya pasti lancar kok." Tutur sang kakak menyemangati seraya menepuk-nepuk pundaknya.
__ADS_1
Ditengah pembicaraan singkat kakak beradik itu, suara panggilan dari sang ibu mengalihkan atensi keduanya.
"De, ayo! Kita berangkat sekarang." Ajaknya.
Rei mengangguk dan berdiri diiringi sang kakak juga. Keduanya berjalan mengikuti langkah sang ibu menuju luar rumah yang sudah disambut keluarga dan iring-iringannya.
"Gimana udah siap?" Tanya ayah dan diangguki Rei seraya menghembuskan napasnya panjang.
Ayah pun tersenyum melihat raut wajah putra bungsunya itu. Ia menggandeng sebelah lengannya, diikuti ibu juga yang menggandeng sebelah lengannya lagi.
Merekapun siap berjalan diikuti iring-iringan seserahan. Karena jarak yang hanya beberapa meter saja, membuat perjalanan tak membutuhkan waktu lama untuk sampai dikediaman mempelai wanita.
Semua nampak terpana melihat sang mempelai yang begitu gagah dan juga tampan dengan setelan pengantin berwarna putih. Ia diarahkan untuk masuk dan menemapti tempat yang sudah disediakan.
Rei duduk dihadapan pak penghulu dan kakak ipar yang sebentar lagi akan menjadi ayah mertuanya.
Bang Age menarik satu sudut bibirnya melihat raut muka calon menantunya. "Rei!"
"Hah, iya?" Balasnya sedikit gugup.
"Kamu sudah siapin, apa permintaan saya?" Tanyanya dengan wajah tegas.
Seketika wajah Rei kian tegang. 'Permintaan?' Batinnya. Apa Ia melupakan permintaan calon mertuanya?
*******************
__ADS_1
Jejaknya jangan lupa yaa gaiss, siap halalš¤