Love Abang Duda

Love Abang Duda
Bab 36 Deui


__ADS_3

"Bang?! Boleh buka matanya?" Tanya Siska. Setelah sedari tadi Ia memejamkan matanya, mengikuti intruksi yang diberikan sang suami.


Entah apa alasan suaminya menyuruhnya menutup mata, ia pun tak mengerti. Namun Ia berusaha belajar menuruti semua perintahnya, sesuai yang diajarkan sang ibu padanya.


"Udah! Buka aja." Titah sang abang.


Secara perlahan, Siska membuka matanya dan pemandangan yang pertama Ia lihat wajah tampan sang suami yang begitu dekat dengan wajahnya. Senyum terukir indah diwajah yang kian hari kian membuat hatinya bergetar itu, hingga membuat dirinya tertular senyum manis itu.


"Napa sih bang lihatinnya gitu banget?" Tanya Siska malu-malu menundukan matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Hingga terlihat begitu sexy dimata sang suami.


Sang abang mengelus lembut pipi mulus istrinya dan satu tangannya dibiarkan menumpu bobot tubuhnya. "Apa kamu bahagia?" Tanyanya menatap intens wajah sang istri.


Siska kembali menatap mata suaminya. "Apa ada alasan untuk aku gak bahagia?" Tanyanya balik.


"Emm.. Gak ada sii. Karena abang akan berusaha buat kamu bahagia." Timpal bang Age membuat keduanya tersenyum.


"Apa itu sakit?" Tanyanya.


"Apanya?" Tanya Siska balik malu-malu.


"Itu, martabaknya?" Kekeh bang Age.


"Ya sakit lah."


"Sakit banget ya? Ampe merem melek?" Goda sang abang.


"Isshh abang! Paan sih. Gak kok! Gak terlalu sakit." Timpal Siska memukul pelan dada sang Abang.


"Enak ya?" Godanya lagi dan langsung dapat cubitan manja pada roti sobeknya, membuat sang abang tertawa kecil.


"Kalo gak terlalu sakit, ngulang boleh ya?" Tanyanya, namun Siska hanya menggigit bibir bawahnya. Bingung mau jawab apa. Mau bilang nggak, masih penasaran. Mau bilang iya, malu juga.


Bang Age yang mengerti kembali memulai pemanasan. Dimulai dari bibir ranum yang dari pertama sudah menjadi candunya itu. Tangannya menjelajah dibukit kembar yang kian menantang. Bibirnya berjalan menyusuri setiap pahatan indah tubuh istrinya. Meninggalkan banyak mahakaryanya disana sini.


Menyesap sumber kehidupan untuk penerusnya kelak, hingga membuat sang istri men de sah merasakan sensasi luar biasa. Apalagi kala satu tangan suaminya sudah menjamah maratabknya, membuat tubuhnya kembali bergetar hebat. Menginginkan lebih dari sekedar sentuhan.


"Abanghhhh!!!"


"Yesss honey!!"


"Deuii"

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat sang suami bersemangat, apalagi si junior yang sudah turn on dari tadi ingin memakan martabak kacang favoritnya.


Hingga sejoli pun kembali bertemu, menyatukan rasa yang membawa keduanya mencapai nirwana. Menggali kelegitan, disetiap tempo yang memabukan. Mencari kenikmatan yang ditandai peluh bercucuran. Sampai AC kamar tak mampu mendinginkan hawa panas yang membakar tubuh keduanya.


De sa han dan lengu han silih bersahutan didalam kamar temaram itu. Seolah tak memperduliakn sekitarnya, keduanya begitu menikmati dunia mereka sendiri.


Hingga entah dimenit keberapa, sesuatu dari dalam diri keduanya serasa akan meledak.


"Sekarang! Lepaskan!"


"Eughhhhhh"


Erangan panjang keduanya, menandakan permainan yang luar biasa. Sampai keduanya tumbang bersamaan. Sang abang masih membiarkan juniornya melesak dan menyemburkan cebong-cebong calon penerusnya dirahim terdalam sang istri.


"Makasih sayang!" Ucapnya mencium dalam kening yang masih bercucur peluh itu.


Siska tak sanggup untuk berkata-kata hanya anggukan yang Ia berikan, dengan nafas yang ngos-ngosan.


Bang Age menarik juniornya dan membersihkannya. Tak lupa juga membersihakn martabak yang sudah acak-acakan ulah si juniornya itu. Si empunya hanya pasrah, membiarkan sang abang melakukan apapun padanya saking kelelahnya.


Setelah selesai, sang abang menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya. Mendekap erat tubuh sang istri yang sudah tak berdaya dan menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi. Membiarkan keduanya terlelap dengan kenangan malam terindah yang tak terlupakan.


Fiuuhhh~


"Sayang! Bangun!" Tangan nakal sang abang menangkup salah satu bukitnya membuat Siska kembali bergumam.


"Mandi berjamaah yuk!" Ajaknya seraya menciumi punggung mulus sang istri.


"Bentar bang. Masih ngantuk!" Timpalnya yang bener-bener tak bisa membuka matanya.


Bang Age tak kehabisan akal, Ia terus memberikan serangannya untuk membuat sang istri terbangun.


"Abanghhh"


Sang abang bangun dan tanpa mendapat persetujuan dari istrinya, Ia menggendongnya ala bridge style. Membuat mata Siska terbuka sempurna dan menjerit kaget. Hingga membuat sang abang tertawa. Siska berusaha berontak, memukuli dada sang suami namun tak dihiraukannya.


Sang abang malah menyambar bibirnya, sampai membuat sang istri diam dan menikmati luma tan dan sesapan lembut sang suami. Bahkan Ia sampai mengalungkan tangannya dileher suaminya. Sang abang membawa tubuh sang istri memasuki kamar mandi tanpa melepas pagutannya.


Ia menurunkan tubuh istrinya, dibawah shower. Memutar kran dan membiarkan air mengguyur tubuh keduanya. Mengulang candu menggali rasa dengan gaya baru. De sa han dan erangan kembali memenuhi kamar mandi. Menadakan penggempuran hebat yang tak pernah terasa cukup baginya.


"Abang doyan banget ya?" Tanya Siska ketika Ia duduk didepan meja rias dengan sang abang yang tengah mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Doyan apa?" Tanyanya seraya tersenyum.


"Itu martabaknya!"


"Bukan abang yang doyan."


"Terus?"


"Si junior." Timpal sang abang membuat keduanya tergelak.


"Suka banget ya ngulang?" Tanya Siska lagi.


Bang Age menghembuskan nafasnya kala mengerti arah ucapan istrinya. Ini memang bukan yang pertama buatnya. Namun untuk mengenang masalalu, akan menyakitkan untuk sang istri maupun dirinya.


Ia peluk tubuh istrinya dari belakang, menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri. "Bisakah kita melupakan masalalu? Biarkan kenangan itu ditempatnya, tanpa harus membawanya." Tuturnya.


"Abang gak ingin membuat kamu tau masalalu abang, dan abang juga gak mau mengingatnya. Susah payah abang menyimpan kenangan itu, tanpa mau membawa ke kehidupan abang sekarang." Lanjutnya.


Siska mengelus tangan sang abang yang bertengger diperutnya. "Maafin aku bang! Bukan maksud aku mengingatkan abang. Apalagi mengungkit luka yang sudah tertutup." Tutur Siska.


Sang abang membalikan tubuh sang istri, Ia menekukkan satu kakinya dilantai. Menggenggam tangan kanannya. "Maafin abang ya! Abang gak sesempurna yang kamu lihat." Tututnya tertunduk. Ia melupakan statusnya yang pasti masih jadi ganjalan untuk istrinya itu.


"Nggak bang!" Siska menangkup rahang suaminya dengan tangan kirinya hingga wajah sang suami mendongak menatap dirinya.


"Abang adalah sosok sempurna yang aku miliki. Walaupun aku tak tau apa arti sempurna itu. Tapi percayalah, hatiku, jiwaku dan seluruh hidupku hanya milik abang. Hanya untuk abang." Tuturnya dengan menyunggingkan senyuman termanisnya.


"Makasih! Makasih udah mempercayakan hati dan hidupmu pada abang! Makasih udah menerima abang yang jauh dari sempurna ini! Kamu memang bukan yang pertama buat abang. Tapi abang janji, kamu terakhir buat abang!" Tuturnya seraya mencium tangan sang istri.


"Love you abang Duda."


"Ck! Gak duda lagi dong."


"Terus apa dong?" Goda Siska.


"Abang Hubby!" Balas bang Age.


Siska berhambur memeluk tubuh tegap suaminya dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


***************


Sahur-sahur-sahur🤭

__ADS_1


Semangat ngamer cenah! Ini mak othor beneran gadang nemenin yang deui deui😂 Coba atuh kasih bonus biar tambah semangat ni mata🙈🤣🤣


__ADS_2