
Cubitan panas dibagian roti sobeknya mampu membuat bang Age semakin meringis.
"Aww! Aww! Sakit yang."
"Biarin. Lagian abang tu ngeselin, bisa-bisanya bercanda. Aku tu lagi serius!" Omel Siska dengan wajahnya yang ditekuk.
"Ini juga serius, yang." Timpal bang Age.
"Serius apanya? Orang aku tuh lagi khawatir sama abang. Eh yang diinget abang cuma si nona sama ngobrak ngabrik martabak." Gerutunya.
"Ya ampun ini serius!" Ucap bang Age membuat Siska berdecak dengan memutar bola matanya malas.
"Nih abang kasih tau! Kata orang dulu obat paling ampuh buat pinggang encok itu pake elusan si nona. Kang urut aja gak bakalan mempan." Tutur bang Age membuat Siska tersenyum simpul merasa tengah dilabuhi sang suami.
"Dihh.. Itu mah maunya abang aja! Kardus emang." Protes Siska.
"Ini bukan kardus!" Elak bang Age.
"Terus apa?"
"Kantong kresek." Timpal bang Age membuat keduanya tergelak.
"Udah lah bang. Aku cari dulu kang urutnya!" Siska hendak berdiri namun segera dicegat suaminya.
"Gak usah sayang. Udah kamu aja jadi kang urutnya, biat dapet plus-plus." Tolak bang Age membuat Siska mencebikan bibirnya, apalagi melihat sang suami yang tersenyum dengan menampilkan deretan giginya.
"Ck! Udah deh, gak usah aneh-aneh. Nurut aja! Abang harus diurut." Peringat Siska. "Kalo nggak, ntar tambah parah, mau puasa lagi gegara pinggangnya encok?" Ancamnya.
"Tapi kan-" Belum juga penolakannya keluar telunjuk sang istri sudah bertengger didepan bibirnya.
"Suuut!! Gak ada penolakan. Inget bang! Aku gak mau dianggurin." Tuturnya membuat bang Age melongo, hingga matanya berkedip berulang kali.
Sementara Siska berlenggang kearah dapur, hendak mencari sang Mamih untuk menanyakan kang urut padanya. Bang Age masih mencerna kata-kata sang istri.
'Ternyata istri imut gue pecandu juga' Batinnya.
Bang Age tersenyum, bahkan tertawa sendiri membuat sang putra yang tengah memainkan mobil-mobilannya menoleh, melihat heran kearah Papihnya.
"Papih apa?" Pertanyaan Aska sukses membuat bang Age bungkam menutup bibirnya dan kembali mengembangkan senyumnya.
Ia dekati putranya dan duduk disebelahnya, mengusek kepala sang putra gemas. "Gak sayang! Lagi main apa?" Tanya bang Age mengalihkan perhatian.
"Nih!" Ia memperlihatkan mobil-mobilannya kedepan sang Papih hingga membuat nya manggut-manggut.
"Pih atit ya?" Tanya Aska menatap wajah Papihnya yang tampak meringis.
Sepertinya pinggangnya memang sedikit kecengklak terbukti dari caranya duduk yang tak bisa diam.
"Iya. Pinggang Papih sakit kak." Tuturnya.
Aska mengusap-ngusap punggung sang Papih. "Aka icit ya!" Ucapnya membuat sang Papih tersenyum.
Ia mengusek rambut putranya sayang. "Makasih ya kak!" Ucapnya dan dijawab anggukan sang putra.
Se ngambek apapun putranya itu tak pernah berlarut-larut, apalagi disogok sedikit auto disayang lagi. Entah karena memang masih terlalu kecil atau memang sudah sifatnya seperti itu.
Siska dan Mamih datang membawa kang urut menghampiri kedua pria berbeda generasi itu.
__ADS_1
"Nih bang! Kang urutnya. Diurut dulu ya!" Titah Siska.
"Nggak-nggak! Abang gak biasa diurut." Tolaknya mentah-mentah.
"Ayo dong bang! Biar cepet sembuh." Bujuk Siska.
"Tapi abang gak bisa, yang!" Tolaknya lagi.
"Gak papa abang gak bisa. Kan yang pijit kang urutnya." Timpal Siska tersenyum membuat suaminya berdecak.
"Gak papa den, mari saya urut!" Bujuk kang urut.
"Ntar sakit lagi." Bang Age masih saja protes.
Ia yang pernah melihat tutorial urut mengurut, merasa ngilu sendiri. Melihat tata cara pengurutan yang kurang efisen. Mendengar seperti tulang patah membuatnya bergidik ngeri. Hingga sesakit apapun Ia tak pernah melakukan hal yang namanya diurut.
"Nggak den. Kalo gak dibenerin tambah sakit ntar!" Sangkal kang urut.
"Tuh bang ntar makin sakit pinggangnya." Siska semakin memorovokasi agar sang suami mau diurut.
"Bukan pinggangnya aja neng yang sakit." Ucap kang urut lagi.
"Lah, apa lagi kang?" Tanya Siska.
"Si adik kecilnya juga ikutan sakit." Timpalnya membuat Siska shok.
"Tuh bang, itu bisa bahaya. Entar jadinya komplikasi." Peringat Siska begitu khawatir.
"Nggak gitu juga neng." Selak kang urut.
"Maksudnya kalo dibiarin sakit pinggangnya, ntar adik kecilnya sakit karena gak bisa silaturahmi." Ucapnya cekikikan membuat sang Mamih ikut-ikutan juga.
Siska melongo mendengar ucapan kang urut. Alih-alih Ia begitu khawatir takut masalahnya serius. Eh ternyata kang urutnya lawak juga.
Bang Age menghembuskan nafasnya panjang. Ada benarnya juga. Kalau sampai pinggangnya gak sembuh, gak bisa ngobrak ngabrik martabak. Bisa rugi bandar! Pikirnya.
Akhirnya Ia pun menyetujui untuk diurut. Lebih baik nahan sakit sekali dari pada nahan sakit berhari-hari karena tak bisa gali menggali.
"Adawww!! Sakit!"
"Awww! Awww! Udah woy udah! Mamih sakit!"
Keluhan dan jeritan bang Age membuat Siska cekikikan. Ternyata suaminya ini bisa manja juga. Tangannya sampai terus memeluk kaki Siska yang duduk disampingnya diiringi air yang keluar dari ujung matanya.
Krekekk!! Krekekk!!
"Udah. Sembuh lah!" Ucap kang urut memberi tepukan terakhir dipinggangnya.
Bang Age masih menunduk menyembunyikan wajah basahnya dipaha sang istri. Air mata dan keringat sudah membanjiri wajahnya.
"Udah den. Coba rasain!" Titah kang urut.
Setelah mengelapkan kebasahan diwajahnya pada celana sang istri, Ia pun bangun dan mencoba menggerak-gerakan pinggangnya sesuai intruksi kang urut.
Siska yang melihat kelakuan suaminya hanya menggelngkan kepalanya. Apalagi melihat celananya yang sudah basah membuat Siska tersenyum.
"Gimana den, enakan?" Tanya kang urut.
__ADS_1
"Enak kang. Makasih!" Jawabnya.
Kang urut tersenyum melihat pasiennya yang sudah baikan. "Iya den sama-sama. Sekarang aden gak perlu khawatir, mau silaturahmi juga dijamin aman!" Kekehnya membuat bang Age tersenyum.
"Iya kang akan saya coba." Timpal bang Age.
Setelah kepergian kang urut, kini bang Age memasuki kamarnya untuk beristirahat. Sementara Siska menyiapkan makanan untuk suaminya, dikarenakan harus meminum obat. Selain dapat pijatan dari kang urut, bang Age juga dapat resep obat anti nyeri juga darinya.
Ceklek!
Siska membuka pintu kamar, dengan membawakan nampan berisi makanan dan minumnya. Ia menghampiri sang suami yang tengah berbaring.
"Bang makan dulu ya!" Titahnya, seraya mendudukkan diri ditepi ranjang.
Bang Age bangun dan duduk menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang, dengan menumpu bantal sebagai penyangga punggungnya.
"Suapin!" Titah bang Age dengan manja membuat Siska tertawa dan dengan senang hati Ia menyuapi suaminya dengan telaten.
Sesekali Ia juga menyuapkan sendok berisi nasi itu pada mulutnya. Ternyata makan satu piring bersama seperti ini membuat makan mereka cepat selesai.
"Dah habis, pinter!"
"Gimana gak habis orang kamu ngikut makan." Timpal bang Age membuat sang istri cekikikan.
"Habis gimana dong, lihat abang makan. Jadi pengen juga!"
"Pengen makanannya apa pengen lambe nya?" Goda bang Age.
"Pengen dua-duanya." Timpal Siska membuat keduaya tergelak.
Setelah selesai meminum obat, bang Age sudah kembali berbaring. Siska hendak menyelimutinya, namun tangannya dicekal sang suami.
"Kenapa?" Tanya Siska.
"Makanan penutupnya belum?"
"Emang abang mau makan apa lagi?" Tanya Siska.
"Martabak kacang spesial." Kekehnya dan hanya dapat kecupan manis didahinya.
******************
Ayo dong dikomen! Masih seru gak? Lanjut jangan?
Sepi euyy🙈🤣🤣
Ini yang pasrah diurut😂
Ini si pecandu juga😂
Ini si tampan yang kena sogokan😍
__ADS_1