
"Dia siapa om?" Tanya Kia setelah kini keduanya tengah duduk diarea tunggu didepan bioskop.
Rencananya sepasang kekasih ini akan menonton. Namun mereka menunggu sejenak, karena film yang belun dimulai.
"Siapa?" Tanya Rei yang baru mendudukan diri, setelah tadi mengantri tiket dan popcorn.
"Itu yang tadi sama om." Jelasnya dengan raut wajah menekuk.
Rei tersenyum menanggapi ekspresi sang gadis. "Oh! Itu Desy. Salah satu karyawan kantor." Balasnya.
"Dia cantik kan?" Tanya Kia. Rei kembali tersenyum.
"Iya! Kan dia perempuan." Balas Rei.
"Isshh..!!" Kia semakin memberenggut dan membuat Rei tertawa.
Rei meraih kedua tangan gadisnya dan menggenggamnya erat. "Secantik apapun mereka. Itu gak ngaruh. Om gak akan pernah biasa melihat mereka. Karena mata om, hanya fokus menatap satu dan itu kamu." Tuturnya, lalu mendaratkan bibirnya dipunggung tangan gadisnya.
Kia kembali dibuat tersipu. Pernyataan sang om sungguh membuatnya ingin sekali berjingkrak kegirangan. Namun melihat situasi dan kondisinya membuatnya harus bisa menahannya.
Tak berselang lama, film pun dimulai. Keduanya masuk untuk menonton film bergenre romantis horor. Untuk pertama kalinya mereka memilih genre tersebut. Biasanya mereka akan menonton komedi romantis, namun melihat dari rekomen pasangan kekasih. Akhirnya mereka memutuskan untuk menonton genre itu.
Setelah mendudukan diri dikursi yang berdampingan. Tak berselang lama film pun dimulai. Awalnya nampak biasa saja, namun makin lama, film makin menegang. Hingga jeritan pun terdengar riuh disana dari para kaum hawa. Begitupun Kia, Ia Yang memang penakut tak berani untuk menonton. Ia terus menyembunyikan wajahanya didada bidang sang pacar.
"Aku takut om! Pulang aja yuk!" Ajaknya merengek.
"Bentar lagi juga beres filmnya." Balas Rei mencoba menenangkan.
"Tapi takut." Balasnya.
"Udah. Sekarang kamu buka matanya lihat tuh, udah gak ada setannya!" Titah Rei.
Kia pun mencoba membuka matanya, kala suara-suara menakutkan itu sudah tak dapat Ia dengar. Kia menghembuskan nafasnya panjang dan matanya terbuka lebar kala adegan selanjutanya adalah adegan delapan belas plus-plus.
Ia sampai menelan salivanya kuat-kuat kala bayangan pagi tadi terlintas dibenaknya. Ia menoleh kearah sang om untuk menyembunyikan wajah memerahnya didada sang om. Rei yang melihat itu terkekeh. Hingga terlintas dibenaknya untuk menggoda gadisnya.
"Kenapa ngumpet?" Bisiknya dan sukses mengenai kuping sang gadis.
"Nggak! Aku gak ngumpet." Balas Kia gelagapan. Namun matanya masih saha menunduk.
"Itu kamu ngumpet?" Cecar sang om lagi dan langsung dijawab gelengan kepala oleh Kia.
Rei meragkul pundak gadisnya mengarahkan wajahnya kedepan untuk melihat adegan dilayar itu.
"Lihat! Kita bisa belajar dari sana!" Bisiknya lagi dan sukses membuat Kia menelan salivanya susah payah.
__ADS_1
Kia kembali menoleh untuk menghindari tontonan itu. Namun napasnya semakin tercekat kala hidungnya bersentuhan dengan sang pacar. Mata keduanya kembali bertemu dan saling mengunci. Hingga gangguan dari belakang menyadarkan mereka.
"Film nya selesai woy!" Ucapnya setengah berteriak.
Mendengar suara yang sepertinya familier, membuat Kia menoleh kebelakang serempak didikuti juga oleh Rei.
"Iden? Lu ngapain disini?" Tanya Kia. Pertanyaan aneh, yang seharusnya tak Ia tanyakan. Mungkin karena Ia merasa gugup. Jadi keluarlah pertanyaan tak penting itu.
"Main pingpong. Ya nonton lah!" Balasnya dengan santai.
Terlihat seorang gadis yang bergelayut manja dilengamnya, menunjukan jika Ia pun tengah kencan disana. Hanya saja, dengan kebetulan Ia dibelakang mereka.
"Isshhh! Ngeselin lu!" Umpat Kia.
Entah apa yang membuatnya kesal. Yang jelas sahabatnya itu mengganggu keromatisannya bersama sang pacar.
"Ngapain juga mesti disini. Kalian kan seatap, lakuin dirumah lah! Pulang sana!" Usirnya dan sukses dapat timpukan tas dari gadis didepannya.
"Enak aja lu ngomong. Emang kita lu?" Sungut Kia dan dijawab cebikan bibir oleh Aiden.
"Udah yuk om kita pulang!" Ajak Kia menggandeng tangan sang om untuk berdiri.
"Kita praktekin dirumah." Ucap Kia cekikikan seraya menyeret sang om untuk meninggalkan kursinya.
"Woy! Dasar pasangan gak ada akhlak. Nikah woy! Nikah!" Teriak Aiden. Padahal dia sendiri lebih parah dari itu. Namun mendengar sahabatnya yang hendak berbuat yang tidak-tidak, tetap saja membuatnya khawatir. Meski itu mustahil, karena sudah dipastikan cowok yang bersamanya adalah cowok yang bisa menjaganya.
"Sedekat itu ya, kamu sama dia?" Tanya sang gadis.
"Ya seperti itu." Balas Aiden.
"Dan kamu sampai gak jatuh cinta sama dia?" Tanyanya lagi.
Aiden terkekeh mendengar itu. Kalau boleh jujur dia memang menyukai sahabatnya itu, namun Ia tak ingin bersangkut paut dengn yang namanya cinta. Apalagi membangun sebuah hubungan. Ia juga sadar diri, dirinya yang brengsek tak akan pantas untuk sang gadis yang sangat baik. Cukup jadi sahabat yang selalu ada untuknya, sudah membuatnya bahagia.
"Dia terlalu baik. Teman, itu sudah cukup." Jawabnya.
"Dan aku ingin lebih dari sekedar teman untukmu." Tutur sang gadis dengan tangan yang sudah bergeliyara ditubuhnya.
"Tentu. Kau akan jadi teman ranjangku." Ucapnya dengan seringai diwajahnya.
**
Sementara itu sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta itu sudah herada didalam mobilnya. Rencananya mereka akan mengunjungi suatu tempat lagi sebelum pulang.
Gelak tawa begitu riuh didalam kijang besi itu. Pembahasan kian menarik, kala mereka membicarakan cowok player bertitle cassanova itu.
__ADS_1
"Kalo aku itung ya, itu cewek ke empat puluh sembilan yang aku tau. Tapi entah sebelumnya." Ucap Kia dan kembali tergelak.
Rei terkekeh dengan gelengan kepalanya. Bisa-bisanya gadisnya itu bergaul dengan cowok seperti itu. Terkadang Ia khawatir cowok pemain itu, menyentuh gadisnya. Namun Ia percaya, sepolos-polosnya sang gadis, casaanova itu tak akan mungkin berani berbuat yang tidak-tidak pada gadisnya. Mengingat Kia sendiri bukan orang yang dapat dengan mudah disentuh seorang cowok, kecuali dirinya.
Ia usek poninya lagi gemas. Sepertinya poninya itu sebuah aset favorit yang sangat disukai tangannya.
"Sebenarnya, kita mau kemana om?" Tanya Kia.
"Ke suatu tempat." Balasnya membuat Kia menaikan satu alisnya.
"Udah mukanya biasa aja!" Titah Rei seraya menarik hidungnya gemas.
"Isshh sakit om!" Rengeknya manja seraya mengusap hidungnya. "Main rahasia-rahasiaan, nih?" Tanyanya menyelidik.
"Biar kamu penasaran." Balas Rei terkekeh dan ditimapli cebikan sang gadis.
"Emm om!" Sapa Kia dengan ragu.
"Hem? Apa?" Tanyanya.
"Jika satu minggu ini, kita gak bisa mengubah keputusan papih. Apa yang bakal om lakuin?" Tanya Kia.
Setelah menyatakan perasaaannya, Rei berjanji akan segera menemui ayah sang gadis, sekaligus kakak iparnya itu untuk meminta restu untuk keduanya. Sebelum acara perjodohan itu terjadi.
Rei menghentikan mobilnya ditepi jalan. Ia buka sabuk pengaman miliknya dan sang gadis. Membalikan badan sang gadis untuk meghadap kearahnya.
"Kamu tenang aja, om udah punya cara untuk mendapatkan restu papih kamu." Tuturnya.
"Caranya?" Tanya Kia.
"Kita hanya butuh pawangnya." Balas Rei hingga membuat keduanya menyeringai.
"Timom!!!" Ucap keduanya serentak, lalu tergelak.
****************
Auto keselek si timom🤣🤣
Yuk ramaikan gaisss!!! Jangan lupa jejaknya yaa🤗
ini om pacar yang kalem😂
__ADS_1
Ini dede pacar yang cerewet😂